Minggu, 07 November 2010

Skandal di Rumah 2: Pelampiasan Lily

Setelah mengintip persetubuhan Linda dengan Ujang (lihat eps.1), Lily masih ada ada di depan kamar tidur Ujang. Dia masih melihat apa yang terjadi di dalam kamar itu. Dilihatnya Ujang masih tidur di ranjangnya, masih telanjang dan Linda ke kamar mandi membersihkan vaginanya dari tumpahan sperma Ujang. Yang diperhatikan Lily adalah batang penis Ujang yang masih tetap besar, meskipun sudah agak menyusut. Sambil menunggu Linda, Ujang mengambil rokok dan menyulutnya. Rasanya nikmat sekali si Ujang ini, mendapat bonus yang luar biasa menarik. Tidak lama kemudian Linda keluar dari kamar mandi, masih dalam keadaan polos bugil. Tidak ada rasa canggung dari Linda saat itu, Ujang terus menatapi keindahan tubuh telanjang nyonyanya.
“Jang, enak banget ngewe sama kamu. Luar biasa!” kata Linda memuji Ujang seraya menghembuskan asap rokok dari mulutnya, “kontolmu nikmat, Jang”.
“Ah nyonya, kalo nikmat, upahnya dong?” rupanya Ujang meminta upah.
“Kan gajimu sudah kunaikkan 3X lipat. Masih kurang?” kata Linda agak kesal pada jongosnya ini
“Minta ongkos makan juga dong! Kan kalo habis ngewe, jadinya lapar lalu buat beli rokok juga” kata Ujang pada Linda.
“Iya, nanti dikasih juga ongkos makan deh. Ntar aku ambil yah” ujar Linda.
“Asyik, terima kasih nyonya seksi” kata Ujang sambil mengusap payudara Linda yang montok. “Nyah, jembutnya jangan dicukur yah! Seru deh lihat jembutnya, lebat!” Ujang pun mengelus bulu kemaluan Ujang.
“Sama ah, jembut kamu juga banyak nih. Tapi yang pasti kontolmu cuma untuk aku yah, hihihihi” begitu permintaan Linda.
“Beres deh” kata Ujang. “Kita sudah berapa kali ngentot yah, nyah?” Ujang bertanya pada Linda.y


Disahut oleh Linda: “Wah lupa deh. Memang kenapa? Sudah bosen.”
Ujang menyahut: “Nggak bakal bosen nyah. Cuma….cuma…”.
“Cuma apaan say?” Linda bertanya pada jongosnya.
“Cuma itu tuh…. Ada aja” ujar Ujang. “Itu tuh apaan Jang? Ngomong dong?”Linda bertanya-tanya apa keinginan Ujang.
“Ntar deh nyah, kalo kita ngentot lagi, nyonya pasti tau”:

“Apaan sih? Ayo dong kasih tau? Jangan bikin penasaran.” Linda kembali bertanya
“Pokoknya kalo nyonya ngewe lagi sama Ujang, pasti tau deh.”
Rupanya Linda sangat penasaran akan maksud Ujang. Ia melihat penis Ujang yang sudah ngaceng keras sekali. Sebenarnya Linda masih capek setelah persetubuhan tadi, tapi ia ingin tau apa kemauan Ujang.
“Sudah ah, aku turun dulu yah. Mau bobo?” Linda mengatakan itu, yang sebenarnya dia berpura-pura.
“Nyah, kontol saya nganceng lagi nih! Ngewe lagi yuk!” Ujang memintanya pada Linda.
“Capek ah, cukup segini dulu hari ini!” kata Linda pura-pura menjauh dari Ujang, tapi bahasa tubuhnya mengatakan lain.
Buktinya Linda menyentil pelan dan meremas penis Ujang. Linda mengingini Ujang yang berinisiatif menyetubuhinya. Kelihatan Linda pun masih siap untuk bersetubuh lagi.
“Ogah ah”kata Linda berpura-pura, tetapi malah terus menggoda Ujang.
Masih di depan Ujang, Linda membetulkan rambutnya, sehingga terbukalah ketiaknya yang putih bersih dan payudaranya semakin ia busungkan. Karena sudah nafsu lagi, maka Ujang menarik tangan nyonya majikannya yang cantik dan memeluknya dengan begitu erat. Lalu mulutnya menyosor ke mulut Linda untuk berpagutan
“eghh egghh, sudah ah!” Linda meronta
“Kalo nyonya nggak mau, saya perkosa lho!” ancam Ujang dengan penuh canda.
“Diperkosa…ehmmm. Kamu nakal yah? Jongos koq berani perkosa nyonya nya?” begitu ucapan Linda yang penuh canda.
“Habis, nyonya juga mau kan? Ini buktinya nggak berontak. Hehehehe…jadi yang nakal nyonya dong” ujar Ujang.
“Hehehe lepasin Jang, jangan cuma dipeluk dong?” goda Linda kepada Ujang.
“Koq jangan cuma dipeluk nyah, habis diapain?” Tanya Ujang.
“Dientot lagi deh hehehehe. Aduuuhhh jadi mau lagi nih”.
Ujang pun mendekap tubuh bugil nyonyanya dan kembali dibaringkan ke ranjang, ia terus memeluk Linda sambil menggerayangi tubuhnya. Mereka masih terus berciuman dengan panas. Tangan Ujang bergerilya menjamah tubuh Linda yang putih mulus tak ada celanya. Digesekan jarinya ke vagina Linda. Kembali Linda mendesis sambil terus meremas penis Ujang.
“Yuk nyah, Ujang entot lagi. Nyonya nungging yah!”.
Linda yang horny mengikuti saja kemauan kacungnya itu.
“Yuk, aku nungging yah. Entot aku yah Jang. Aku juga dah sange lagi nih!”.
Ujang pun memegang penisnya yang sudah tegak lalu digesek-gesekkan ke vagina Linda. Tidak lama kemudian….blleeesss….
“Eeeggghh Jang. Kontolmu keras banget. Eehhh ennnaaakkk Jang!!” erang Linda

Kontol Ujang kini sudah masuk sempurna, menembus liang vagina Linda yang sedang nungging. Setiap sodokan Ujang membuat Linda menggelinjang kenikmatan.
“En…tttoott aku Jjjannngg. Tttee….kkaannn yang….da….lhammm. Egghhhh”. Linda merasakan sesak di vaginanya, rasanya penis Ujang menembus, membentur dinding rahimnya.
“Enak nyah? Dientot Ujang”
Linda menyahut “oohhggg enh…..aaak se….kalih…. Jjjaanang”.
“Ntar saya mau yang lebih nikmat ah. Tenang aja nyah”. Kata Ujang sambil terus mengenjot vagina nyonya Linda
Ujang mengulurkan tangannya ke arah payudara Linda lalu meremasnya sambil dipelintir puting susu Linda. Hal ini membuat Linda geli, terangsang luar biasa dan nikmat. 15 menit setelah persetubuhan itu berlangsung Linda terlihat lemas, rupanya dia sudah keluar dan ia tetap membiarkan Ujang memompa vaginanya. Jari-jari tangan Ujang lalu menekan dan membuka pantat Linda. Dilihatnya lubang anus Linda yang merekah dan sangat mungil. Ujang terus meremas pantat Linda yang sudah terlihat lemas dalam keadaan nungging. Lalu Ujang menyetop kocokan penisnya di lubang vagina Linda.
“Lho koq distop sih Jang?” Linda bertanya pada Ujang.
“Tenang aja nyah. Ujang juga nikmat koq. Nyonya tenang aja yah” Ujang menimpali pertanyaan nyonyanya.
Lalu Ujang mengeluarkan penisnya dari liang senggama Linda. Kelihatan di mata Lily, benda itu begitu besar dan tegak siap memangsa Linda. Sambil terus menekan pantat Linda dan membuka belahan pantatnya. Ujang mengarahkan penisnya yang besar itu ke lubang anus Linda.
“Ujang, gila yah. Jangan di situ. Aku belum pernah. Jangan Jang, sakit”
Ujang tetap menempelkan kepala penisnya ke lubang anus Linda.
“Ini yang Ujang mau… Ujang mau entotin pantat nyonya. Pantat nyonya, Ujang perawanin”
Linda terkejut akan perkataan Ujang, tapi ia tidak bisa buat apa-apa karena pantatnya sudah dibuka oleh Ujang dan penisnya sudah menempel dan siap menerobos analnya.
“Eeggghh….pee…lllaaann-pelan Jaannng”.
kepala penis Ujang sudah masuk ke lubang anusnya. Ujang pun mendorong perlahan-lahan supaya lebih masuk. Kelihatan sekali mata Linda sebentar menyipit, sebentar mendelik, karena merasakan lubang anusnya dijejali penis jongosnya, sambil mulutnya mendesah menahan sakit.

“Luar biasa sempit nyah… Pantat nyonya enak, lebih sempit daripada memeknya”.
“Iya…tapi…pe…lllaaannn dooonngg, aaadduuuhhh sssaaakkkiiittt”.
“Tenang nyah. Ntar juga nikmat” Ujang menimpali komentar majikannya.
Akhirnya masuklah seluruh penis Ujang ke dalam anus Linda. Itulah kali pertama bagi Linda dimana lubang anusnya disetubuhi seorang laki-laki. Bukan suaminya yang menganalnya, tetapi jongosnya lah yang pertama kali menyodominya.
“Ooogghhh akhirnya pantat nyonya, Ujang perawanin” ujar Ujang dengan bangga
Dipegangnya dan diremasinya buah pantat Linda yang sekal. Terlihat ada wajah kemenangan dari Ujang yang berhasil membobol anus Linda. Lengkaplah sudah kenikmatan yang dialami Ujang. Ia menggerakkan penisnya di dalam anus Linda. Akhirnya anus Linda terbiasa dengan penis besar Ujang. Rasa sakit itu kini berubah menjadi nikmat. Apalagi kini Ujang kembali mengorek lubang vagina Linda dengan jari-jarinya. Kelihatan kini, Ujang sudah memasukkan kedua jarinya ke lubang kemaluan Linda. Hal itu membuat Linda tambah menggelinjang. Sesuatu yang dahsyat terpampang di hadapan Lily, yang mulai bangkit nafsunya. Lily melihat, betapa luar biasanya persetubuhan kakak iparnya itu dan Ujang. Terlihat betapa kontras keadaan mereka. Linda yang putih mulus bak pualam putih tanpa cela sedang disetubuhi dan disodomi oleh Ujang yang hitam legam, yang adalah pembantunya. Luar biasa nikmatnya Linda, dan tentu saja Ujang. Ujang pun seolah lupa akan siapa yang disetubuhinya itu. Ia terus mengenjot, memompa lubang pantat Linda dengan penuh nafsu. Linda pun akhirnya bertekuk lutut di bawah penis Ujang yang mampu mendobrak birahinya itu. Hanya lenguhan nikmat dan erangan penuh nafsu keluar dari mulut Linda dan Ujang. Sampai akhirnya 10 menit kemudian, kelihatan tanda-tanda Ujang akan melakukan ejakulasi. Sambil terus menggasak lubang anal Linda dengan buas dan menekan penisnya semakin dalam dan jarinya mengobok liang vagina Linda, akhirnya Ujang pun sampai pada puncaknya:
“Eeggghh, saya mau keluar nyah…oohhh nikmatnya.” Ujangpun kembali menumpahkan spermanya di lubang pantat Linda.

Linda sudah tidak kuat lagi menahan desakan penis Ujang, dia pun lemas terkulai tengkurap di ranjang itu. Tubuh bugilnyanya ditindih Ujang dari atas. Terlihat juga raut kenikmatan yang luar biasa pada wajah Linda. Ia tampak lemas, tidak berdaya ditindih oleh tubuh jongosnya. Tampak butiran keringat membasahi tubuh keduanya. Perpaduan yang begitu kontras, namun penuh luapan birahi. Rupanya telah terjadi skandal di rumah itu antara nyonya Linda dengan jongosnya. Linda sudah menyerahkan tubuhnya dan membiarkan Ujang menikmati tubuh indah, mulus dan montoknya. Apa yang dilihat Lily barusan, membuatnya makin hanyut terbakar dalam birahi. Ia juga ingin merasakan penis yang besar dan panjang seperti punya Ujang. Tapi bagaimana ia bisa merasakannya? Setelah dirasa cukup melihat persetubuhan terlarang itu, Lily memutuskan untuk pulang. Ia tidak mau mengganggu mereka apalagi ketahuan mengintip. Lily pun beranjak meninggalkan rumah kakak iparnya. Dia masuk ke dalam mobilnya lalu melaju pulang ke rumahnya di Kota Wisata. Dalam perjalan pulang, dia mampir sebentar mengisi bensin di Cibubur. Tampak petugas pom bensin menatap Lily yang cantik dan lumayan seksi. Lily tetap berada di dalam mobil dan meminta petugas itu mengisi bensinnya:
“Isi pertamax, full yah bang!”
Si abang itu menjawab:”Beres non… Dari angka nol yah…”
Lily menyahut dengan memberi senyuman. Kelihatan dari sudut mata Lily yang mengenakan kacamata hitam, betapa petugas itu menatap pangkal lengan Lily dan pahanya dari kaca mobil yang terbuka itu.
“Sudah non, total Rp. 272rb.”
Lily mengambil uang sebesar Rp 280rb dan diberikannya kepada tukang itu.
“Ambil aja semua bang. Nggak usah kembali. Buat jajan abang.”
“Wah terima kasih non” petugas itu mengambil uang yang disodorkan Lily dan tanpa sengaja ia menyentuh jari tangan Lily.
Lilypun memberikan senyumannya, lalu pergi. Di tengah jalan pun ia mampir sebentar ke salah satu warung kecil untuk membeli ayam goreng kesukaannya dan Michael, suaminya. Warung itu memang laris dan biasanya ramai, tetapi saat itu kelihatan sepi. Lily pun keluar dari mobilnya dan menghampiri penjualnya

Lily

Lily

“Ayam gorengnya 2 yah bang!”.
Si abang itu bertanya:”Dada atau paha non?”
“Dadanya 2 deh”jawab Lily.
“Koq sepi bang? Oh iya sudah jam 3 sore. Sudah selesai jam makan yah.”
“Iya non, sudah sepi. Tadi sih ramai, tapi sebentar lagi ramai sih. Tinggal di mana non?” tanya tukangnya.
“Di Kota Wisata, oh iya bang, kalo pesan di sini katanya bisa diantar yah? Siapa yang anter nih?” tanya Lily.
Saat itu keluarlah seorang pemuda berusia 20 tahunan dengan baju lusuh tanpa lengan yang sudah robek dan bercelana pendek. Kelihatan badannya yang kurus, dekil dan kerempeng membawa beberapa ekor ayam yang belum digoreng dan diletakkan di dekat penggorengan.
“Biasanya yang nganter si Mamat ini. Dia ngerti koq daerah sekitar sini. Asal alamatnya jelas aja dan pesannya jangan 2 potong. Minimal 10 potong” kata tukang itu.
Sambil meletakkan potongan-potongan ayam itu, Mamat memperhatikan Lily yang memang cantik dan berpakaian seksi itu. Memang saat itu Lily memakai kaos santai tanpa lengan dan rok yang agak mini. Mamat pun melihat paha Lily yang putih mulus dan pangkal lengannya yang juga putih.
“Iya deh bang, lain kali saya pesan lewat telepon lalu diantar yah. Kalo gitu minta no teleponnya dong?” Lily bertanya ke tukang ayam itu.
“Beres non, ini no HPnya. Begitu ditelepon, 30 menit lagi sampai deh ayam gorengnya. Sekalian saya minta alamatnya yah non, nanti kalo pesan, kami sudah tau tempatnya” sahut si penjual ayam goreng
Lily menuliskan alamat rumah sekaligus nomor teleponnya di atas buku tulis yang diberikan oleh tukang ayam itu.
“Nggak tambah lagi ayamnya non?”
“Oh iya, tambah 1 lagi yah, yang paha yah” kata Lily.
Biar bagaimanapun Lily tetap ingat si Otong pembantunya yang tolol itu. Toh dia sudah bekerja tekun di rumahnya, biar dia bisa makan ayam goreng deh. Akhirnya ayam gorengnya sudah jadi dan diberikannya bungkusan itu ke Lily
“Ini non. Ayamnya jadi 3, 2 dada dan 1 paha. Total jadi Rp 25ribu.”
“Iya bang, terima kasih.”
Lily pun beranjak meninggalkan restoran kecil itu, ketika ia mau naik mobil, kembali ia melihat Mamat, pesuruh anter ayam goreng itu, sambil menenteng ember dan pel. Kembali mata Mamat melihat Lily yang cantik dan berpakaian seksi itu, matanya tak berkedip menatap kemulusan pahanya. Betapa bening dan bersih, apa yang ditatap oleh Mamat. Lily pun masuk ke dalam mobilnya, menstarternya lalu meninggalkan tempat itu.

Rupanya belum lama Lily meninggalkan restoran itu, ada yang tertinggal yaitu kacamata hitamnya. Si penjual ayam goreng itu menelpon HP Lily, tetapi kelihatannya tidak diangkat. Ini karena Lily sibuk nyetir mobil. Akhirnya, Mamat disuruh mengantar kacamata itu. Mamat pun tentu saja senang mendapat perintah itu. Dan itu dilakukan setelah Mamat selesai membersihkan ruang makan restoran itu. Satu jam kemudian, Mamat menjalankan perintah atasannya itu untuk mengantar kacamata yang tertinggal ke rumah Lily. Sesampainya di depan rumah, Lily menglakson mobilnya untuk memanggil Otong membukakan pintu rumahnya. Otong berlari-lari dari kebunnya untuk membukakan pintu. Otong adalah pemuda desa berusia 23 tahun yang bekerja di rumah Lily. Tampangnya kampungan, tubuhnya kurus, dekil, hitam dan kelihatannya tidak bisa merawat diri. Otong adalah seorang kacung yang hanya sekolah sampai 3 SD. Dia sama sekali tidak menarik dari segi penampilan. Setelah menutup pintu pagar, Otong berdiri dengan penuh hormat untuk membukakan pintu mobilnya. Ketika pintu mobil itu terbuka, Lily siap untuk keluar, tetapi tiba-tiba ia ingat ada sesuatu yang sepertinya tidak ada. Ia pun sadar bhw kacamata hitamnya tidak ada padanya. Ia berusaha mencari, sementara kaki kanannya sudah menjulur keluar. Tanpa sengaja Otong melihat pemandangan itu. Sebuah betis mulus dengan sebagian pahanya yang terbuka, apalagi saat itu Lily mengenakan rok mini. Lily tidak menyadari hal itu, apalagi ketika dia pun mencari ke jok bagian belakang mobil itu. Dengan agak merebahkan dirinya, Lily berusaha mencari kacamatanya. Tapi bagi Otong, ini merupakan pemandangan yang langka. Ia bisa melihat betapa mulusnya paha Lily. Apalagi ketika Lily mulai mengubah posisinya. Kaki kanannya sudah diselonjorkan keluar dan kaki kirinya tertumpu dipijakan sebelah kanan. Kini Otong dengan jelas melihat celana dalam Lily yang tipis menerawang. Warnanya pink dan agak transparan. Otong melihat suguhan itu begitu jelas dan ia pun terus menatapnya. Mumpung Lily masih mencari di jok bagian belakang. Lily pun tanpa disadari agak mengangkan kakinya. Kini Otong bisa melihat dibalik CD Lily, nyonya majikannya, ada rimbunan bulu hitam yang menerawang di balik CD berwarna pink itu. Wah bukan main tegangnya penis Otong saat itu. Ingin sekali ia meraba paha mulus yang bening dan putih itu, tapi apa daya, dia hanya bisa melihat dan membayangkan saja.

Otong

Otong

Setelah mencari dan tidak menemukan, akhirnya dia ingat kalau kaca matanya tertinggal di restoran kecil tukang ayam. Dan ia pun mengikhlaskannya bila tidak kembali. Toh masih bisa dibeli lagi dan harganya murah. Menyadari hal itu Lily membalikkan badannya, dan tanpa sengaja ia melihat Otong yang sedang mengintip paha mulusnya dan CDnya. Tadinya Lily mau marah, tetapi ia mengurungkan hal itu. Ia berpikir, karena ini bukan salahnya Otong, dan itu pun tidak disengaja oleh pembantunya itu. Lily terdiam dengan wajah memerah dan mengikhlaskan Otong mendapat pemandangan indah tadi.
“Kamu kerja apa Tong?” Lily bertanya padanya mencairkan suasana.
“Itu non ngeberesin kebun di pekarangan depan” ujar Otong.
Lily lalu menyerahkan bungkusan ayam goreng pada Otong.
“Ini ada ayam goreng, ditaruh di meja makan yah. Yang ini dua dada untuk saya dan koh Michael. Nah yang ini paha untuk kamu. Kamu suka paha kan?” Lily mengatakan hal ini sambil tersenyum pada Otong.
“Iya non, terima kasih. Saya sukanya paha” jawab Otong.
“Wah hawanya panas yah. Pantas kaosmu seperti itu. Lusuh banget” ujar Lily.
“Iya non, memang hawanya panas. Kaos ini enak untuk kerja non” jawab Otong yang memang menyukai kaosnya itu yang sudah tidak berbentuk, juga celana pendek yang dipakai Otong, kelihatan lusuh sekali, memperlihatkan kakinya yang gelap ditumbuhi bulu-bulu jarang.
Lily juga melihat lengan Otong yang legam yang lumayan kokoh. Sehingga Lily berpikir bagaimana bila bulunya itu menyentuh tubuhnya, terasa nikmat pastinya. Lalu timbul niat isengnya untuk menggoda Otong.
“Tong, coba aku mau lihat pohon yang kamu rawat tadi” kata Lily kepada Otong.
Lily berjalan di belakang Otong, dan tanpa sepengetahuan Otong, ia menaikkan rok mininya agak tinggi. Yang tadinya kaitan rok itu di bawah puser, kini agak di atas puser, sehingga pahanya makin terlihat jelas. Sengaja ia mau memperlihatkan pertunjukan menarik pd Otong.
“Tanamannya sudah disiram Tong?” Lily bertanya padanya.
“Sudah non. Itu masih basah” sahut Otong.

“Oh iya, ini bunga sutera bombaynya juga bagus yah” kata Lily dengan membungkukkan badannya.
Deg…betapa terkejutnya Otong saat itu, bukan hanya melihat bunganya, tetapi celah kaos yang dipakai oleh Lily itu begitu terbuka. Apa yang terjadi? Tidak salah lagi, Otong melihat sepasang payudara montok yang segar, mulus dan putih terbungkus oleh bra berwarna pink. Tampak begitu terawat payudara itu di balik celah kaosnya yang agak terbuka. Lily tau akan hal itu, tetapi ia membiarkan saja. Ia sepertinya sengaja memamerkan payudaranya yang masih terbungkus bra itu kepada Otong. Sebenarnya Lily ingin memperlihatkan lebih daripada itu kepada Otong, tapi pelan-pelan dulu, yang penting membuat Otong nafsu.
“Wah kamu jago yah merawat rumput dan pohon ini. Bagus Tong” puji Lily pada Otong.
“Iya non, terima kasih” sahut Otong.
Lalu Lily menuju pada sebuah pohon bonsai yang nampak lucu, sengaja Lily mengelus pangkal pohon itu dengan membungkuk. Apa yang terjadi? Wah Otong kembali di suguhi sepasang paha mulus, putih, bening dan berisi dan jenjang milik Lily. Bahkan CDnya ikut terlihat. Ini karena Lily memakai rok yang mini dan memang tadi sengaja dinaikkan ke pinggangnya, sehingga Otong mendapat suguhan luar biasa itu. Dari belakang tubuh Lily, Otong terus memandanginya. Luar biasa mulusnya sepasang paha itu. Begitu indah luar biasa untuk orang seukuran Otong. Akhirnya, si otong kecil jadi memberontak. Lily juga menunjukkan kebinalannya dengan memamerkan sebagian tubuhnya pada Otong. Bahkan Lily yang sudah terbakar nafsu menyaksikan persetubuhan kakak iparnya dengan Ujang, ingin menggoda Otong lebih berani lagi.
“Sebentar lagi akan ada pertunjukkan menarik dari aku. Tunggu sebentar lagi Tong” begitu jalan pikiran Lily.
“Wah hawanya benar-benar panas yah, mesti pakai baju santai nih. Kamu taruh dulu deh ayam gorengnya. Ambil yang jatah kamu. Aku mau tukeran dl, lalu lihat tanaman di ruang tengah” kata Lily.
Mereka pun masuk ke dalam rumah itu. Otong menuju dapur, mencari piring untuk meletakkan ayam itu. Dan di taruhnya di atas meja makan. Setelah meletakkannya di atas meja makan dan menutupnya dengan tudung saji, Otong mau mengambil sapu di gudang belakang. Untuk sampai ke gudang itu, Otong mesti melewati kamar Lily yang letaknya bersebelahan dengan gudang tempat sapu itu diletakkan.

Apa yang dilihat Otong ketika ia melewati kamar Lily? Rupanya Lily tidak menutup pintu kamar itu dengan rapat. Apa yang kemudian dilihat Otong di antara celah pintu yang agak terbuka itu? Di lihatnya sekilas Lily di dalam kamarnya sudah melepas kaos dan roknya. Tubuhnya hanya di tutupi bra dan CD yang berwarna pink. Lily juga sengaja tidak menutup pintu kamarnya dengan sempurna, tentu ada tujuan tertentu, yaitu supaya Otong bisa mengintipnya. Apa yang terjadi ketika Lily masuk ke kamarnya? Ia memang ingin menggoda Otong supaya tambah nafsu. Dia sengaja memperlihatkan tubuhnya yang dibalut bra dan cd untuk diintip Otong. Karena itu, begitu masuk ke kamarnya, ia sengaja tidak menutup rapat pintu kamarnya dan memang akhirnya Otong melewati kamarya dan bisa melihat sebagian tubuhnya yang masih tertutup bra dan cd. Bagi Otong yang adalah orang ndeso, apa yang dilihatnya, meskipun sebentar adalah sesuatu yang luar biasa. Rupanya Otong termasuk orang yang lugu, ia tidak berani melihat lebih lama. Buktinya dengan agak takut Otong menjauh dari pintu kamar itu. Lily tersenyum dalam hati:
“Otong… Otong, sebentar lagi pasti menyaksikan pemandangan luar biasa, hihihi”.
Di kamar itu Lily lalu melepas bra dan cdnya. Dia kini bugil. Dia lalu memandangi tubuh bugilnya dalam sebuah cermin dengan payudara yang montok, mulus, bersih dengan putingnya yang menonjol, sedap untuk dipandang. Lalu ia memandangi bulu kemaluannya yang lebat dan celah vaginanya yang mengintip sedikit, menantang untuk dilihat. Siapapun yang melihatnya pasti akan diliputi nafsu yang luar biasa, apalagi Lily masih muda dan segar, cantik, menarik, seksi dan berkulit putih bersih. Terlintas dalam pikiran Lily: tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada suami, jongos pun ok. Tapi, apakah ia akan keluar dalam keadaan bugil? Tentu saja tidak. Ia ingin menaikkan nafsu Otong pelan-pelan. Akhirnya ia mencari pakaian apa yang baik ia kenakan. Yang pasti, Lily tidak akan memakai bra dan cd. Ia akan membiarkan dalamnya polos. Di ambilnya kaos putih bertuliskan “Sweet” di dadanya. Bila mengenakan kaos itu, memang sebaiknya ditutup dengan semi jas, karena belahan dadanya di bagian depan amat rendah, bisa memperlihatkan setengah dari payudaranya. Dan celah kaos di samping lengan kiri dan kanan yang begitu lebar, sehingga bisa memperlihatkan bongkahan utuh payudaranya. Biasanya kalau mengenakan kaos itu, Lily pasti mengenakan bra, tapi kali ini ia sengaja tidak mengenakannya.

Bisa dibayangkan betapa puting susu itu bisa tercetak jelas menonjol di balik kaos tipisnya itu. Dari depan atau dari samping, Otong pasti kenyang melihat payudara utuh yang mengkal dan sekal itu. Putingnya yang berwarna merah muda, pasti dengan jelas dapat dilihat jongosnya itu. Dan hal itu, akan diperlihatkan gratis kepada Otong. Kaos tipis itu tidak begitu panjang, sekitar 25an cm di atas lutut. Tentu saja sebagian paha mulus Lily akan terpampang di depan Otong. Biasanya kaos itu dipadukan dengan rok mini atau hotapants. Tapi kini Lily tidak memakainya, bahkan lebih gilanya lagi, ia tidak memakai cd. Tampak ada bayangan hitam yang menerawang di bagian selangkangan kaos itu, menandakan lebatnya bulu kemaluan LiLy. Bila Lily membungkuk ke depan, maka sepasang payudara montoknya dan pantatnya yang sekal akan utuh terlihat. Tanpa membungkuk pun, puting payudaranya akan bisa terlihat dari belahan kaos depan dan samping lengannya. Bila Lily mengangkat tangannya ke atas atau bertolak pinggang, maka pemandangan luar biasa indah bisa dilihat, yakni pangkal paha dan bulu kemaluan serta bibir vaginanya. Kalo Lily sedang duduk lalu membuka pahanya, maka vaginanya utuh akan bisa dilihat. Lily tersenyum membayangkan Otong yang pasti nganceng melihat suguhan luar biasa ini. Mudah-mudahan penisnya Otong besar, supaya tidak sia-sia pertunjukan darinya. Ada perasaan gemetar dalam diri Lily, tapi ia akan maju terus. Kini Lily sudah siap dan memberi rangsangan ke Otong. Waktu menunjukkan pk 4.15 sore, suaminya Michael, biasanya pulang pk 9 malam lewat. Berarti masih ada waktu panjang untuk menggoda Otong, jongos kampungan itu. Begitu Lily membuka pintu kamarnya, dilihatnya Otong sdg menyiram rumput di halaman dalam rumahnya.
“Nah gitu dong rajin kerjanya, jangan males-malesan Tong. Kalo tanamannya subur, kan enak memandangnya” ucap Lily masih membelakangi Otong.
Dengan masih tetap menyiram pohon-pohon itu Otong menjawab:
“Iya non, ba….egh…bagus…bagus non.” Otong begitu gugup begitu menengok ke belakang menyaksikan penampilan nyonya majikannya.
Bagaimana tidak, pakaian Lily tidak biasa dari biasanya, begitu seksi dan menggairahkan. Matanya terus memandangi tubuh Lily yang mengenakan kaos super mini itu. Luar biasa seksinya non Lily sore hari ini. Tapi Otong nggak berani menatap Lily lebih lama lagi. Dia sadar akan dirinya yang hanya seorang jongos dan yang ada di hadapannya adalah majikannya.

Otong sampai bingung melihat penampilan Lily, tetapi ia juga tidak tahan untuk tidak memandang keseksian yang begitu dahsyat yang ada di hadapannya.
“Ini bunga mawarnya bagus Tong. Kamu kasih pupuk apa?” Lily bertanya pada Otong dengan sengaja membungkukan tubuhnya.
Otong kelihatan gelisah menjawab dan menyaksikan apa yang ada di hadapannya:
“Pupuk biasa non, beli di pasar”.
Kini Otong disuguhi sepasang “bukit kembar” milik Lily yang menyembul dari belahan kaosnya yang amat rendah itu. Sepasang payudara yang tanpa bra, terpampang jelas dengan putingnya yang kemerahan. Lily pun sengaja lebih membungkukan badannya. Dia pun dapat melihat, kalau Otong begitu nafsu memandangi payudaranya. Ketika Lily berjalan ke bunga yang lain dekat kolam ikan, kelihatan jelas payudaranya ikut bergerak di balik kaosnya dengan tonjolan putingnya yang begitu indah. Lily mempersilahkan Otong terus memandangi payudaranya dengan membungkukkan badannya. Atau Otong pun bisa melihat dengan jelas payudara tanpa bra itu, ketika berada di samping Lily. Dari belahan kaos di bagian lengannya, Otong tersuguhi ranumnya gumpalan susu majikannya. Hal ini membuat Otong pusing menahan gejolak birahinya, krn melihat tubuh molek dan indah dari majikannya ini. Penis Otong pun sudah tegang sekali, tapi ia tetap tidak berani apa-apa. Bukan saja suguhan payudara Lily, Otong pun bisa melihat sepasang paha jenjang dan mulus padat berisi milik Lily. Bahkan ketika Lily menaikkan kaki kanannya ke atas batu, Otong melihat bongkahan pantat Lily. Dan astaga…. Otong jg sempat melihat bulu-bulu kemaluan, bahkan belahan vagina itu, saat Lily mengambil kaitan kawat pada pohon anggreknya. Lilypun sangaja berlama-lama menjinjitkan tubuhnya, untuk mengambil tanaman anggreknya. Tetapi, bukan tanaman itu tujuan Lily, yang diingininya supaya Otong melihat bagian-bagian vital tubuhnya yang indah sekali. Suguhan yang spektakuler itu, membuat Otong luar biasa dikuasai oleh nafsu birahinya. Payudara, pantat, jembut dan sebagian kemaluannya pasti sudah dilalap oleh mata Otong. Hari ini nampaknya Otong mendapat rejeki nomplok. Pikiran Otong menjadi kacau, kalau saja orang yang ada di hadapannya bukan majikannya, pasti sudah disikat habis. Dan meski diberi suguhan yang begitu merangsang, Otong tidak berani bertindak lebih jauh. Dia takut dipecat. Setelah menyiram rumput dan pohon-pohon di halaman tengah itu, Otong minta pamit mau membersihkan kamarnya. Lily tersenyum dalam hati, rupanya perangkap yang sudah dipasang siap mengenai sasarannya.

Kini ia merencanakan jurus pamungkas dari godaannya itu. Apa yang akan dilakukan Lily? Di satu pihak dia pun sudah terbakar birahi yang begitu hebat. Ingin rasanya ia bersetubuh sore ini, dan Otong yang lugu dan ndeso itulah sasarannya. Dia pergi ke kamarnya dan mengambil sebuah vcd BF. Dia ingin menonton film bokep itu, tetapi tidak di kamarnya. Tempat yang enak adalah di ruang keluarga, karena ada tv dan perlengkapan sound sistem yang bagus. Letak ruang keluarga itu di samping kamar tamu. Dinyalaknnya tv lalu disiapkannya alat itu. Ia pun duduk sambil agak rebahan di sofa empuknya. Ketika film sudah mulai, nafsu Lily pun mulai muncul. Tampak di layar tv itu pasangan Jepang dan negro yang sedang memacu birahi. Sedang enak-enaknya nonton, lewat si Otong, jongos lugunya itu. Lalu dipanggilnya jongosnya itu:
“Tong pernah nonton film bokep?”
Otong menjawab: “Belum non!”
Lily menimpalinya:”Ah masa sih, umur kamu kan sudah 23 tahun. Masa belum pernah sih?”
Otong menjawab:”Benar non. Otong belum pernah.”
Karena kasihan kepada Otong dan ingin supaya Otong ada pemanasan, maka Lily mengajak Otong menonton film bokep itu:
“Kalo gitu, sini nonton bareng yuk!!”
Otong pun akhirnya duduk di lantai, krn dia merasa sebagai seorang pembantu dan Lily duduk agak rebahan di sofa panjang itu. Lily sudah melihat bahwa Otong begitu terangsang dan gairah nafsunya naik melihat film bokep itu untuk pertama kalinya. Kelihatan mata Otong tidak berkedip memandangi tubuh mulus aktris Jepang yang sudah bugil itu. Pemain lawannya yang pria negro pun sudah kelihatan telanjang bulat dengan penis yang luar biasa besar. Ketika Otong sedang enak menyaksikan film itu, Lily bertanya padanya:
“Bagus nggak Tong, badan tuh cewek Jepang?”
“Bagus non, teteknya montok yah, badannya putih mulus, jembutnya banyak yah” dengan polosnya Otong mengatakan hal itu.
“Tapi lihat tuh Tong, memeknya sudah agak longgar tuh! Habis kebanyakan main sih. Hehehe” ujar Lily.
“Iya non, dia ngentot melulu sih, jadinya agak memble” sahut Otong.
“Memang kamu pernah melihat yang ok atau nggak memble, Tong?” Lily bertanya.
“Belum non, belum pernah.”

Lily memang menyadari keluguan Otong, padahal sebelumnya tadi dan sekarang, Otong sudah melihat payudara dan kemaluannya, cuma hanya sekedar memandang saja.
“Tong, kalo aku punya bagaimana?” Lily dengan berani bertanya demikian ke Otong.
“Ehhh… maaf non…. I-iiya non, maaf. Ta…-di Otong sem-…pat lihat non” Otong menjawab dengan penuh takut.
“Hayo jujur. Tadi kamu lihat apanya aku?” Lily bertanya ke Otong.
Dengan lugu dan takut, Otong menjawab:”Tetek…ehhh paha….eehhh”.
Lily kemudian melanjutkan jawaban Otong: “Memek dan jembut juga kan….oh iya…pantat juga kan?”
Otong sepertinya ditelanjangi oleh pertanyaan dan jawaban Lily.
“Jangan takut Tong. Aku nggak marah koq. Malah senang, ada orang yang masih senang sama tubuhku”.
Lily pun berdiri di hadapan Otong, perhatian Otong tidak lagi pada adegan persetubuhan di film, tapi pada Lily yang mau menunjukkan sesuatu padanya.
“Otong, lihatlah ini” kata Lily yang berdiri di hadapan Otong.
Lily lalu dengan senyum menggoda, menurunkan kaos di pundak sebelah kanannya, dan kelihatanlah payudara utuh sebelah kanan Lily. Lalu ia menurunkan kaos sebelah kirinya…astaga sepasang payudara indah dengan putingnya yang menantang, terpampang bebas di hadapan Otong. Setelah melewati kedua lengannya, dikepitnya kaos itu di ketiaknya. Otong kelihatan bernafsu memandang sepasang payudara yang indah itu. Setelah itu, Lily mengangkat tangannya seolah merapikan rambutnya, ia memperlihatkan ketiaknya yang indah merangsang. Dadanya dibuat membusung, dan yang lebih hebat lagi…kaos itu melorot melewati paha dan kakinya dan akhirnya jatuh ke lantai. Apa yang kini ditatap Otong? Tak lain adalah tubuh polos bugil non Lily. Lily kemudian, mengambil kaosnya yang sudah terlepas bebas dari tubuhnya dan disingkirkannya jauh-jauh. Lily kini sudah telanjang bulat di hadapan jongosnya itu. Mata Otong seakan tak mau berkedip menyaksikan tubuh bugil Lily di hadapannya. Lily lalu mengajak Otong berdiri, di ambilnya ke dua tangan Otong dan diletakkannya pada payudaranya. Kelihatan sekali tangan Otong yang gemetaran. Dengan suara yang agak lembut Lily meminta Otong untuk meremas payudaranya. Otong memegang payudara itu dengan kedua telapak tangannya lalu meremasnya mengikuti perintah Lily majikannya.

“Tetek nyonya bagus sekali, pentilnya juga indah” ujar Otong, diusapnya lembut lalu diremasnya putting itu.
“Remasnya yang kuat Tong. Kaya gini” Lily meminta Otong untuk meremas payudaranya dan menjepit putingnya di antara jari-jari Otong.
Diikutinya perintah nikmat dari Lily. Otong meremas begitu kuat payudaranya, sehingga Lily melenguh nikmat:
“Oggghhh Tong, enak banget. Remas lebih kenceng lagi….aaahhhssss enaknya….”
Kini Otong meminta pada Lily: “Non, Otong mau isep tetek non yah.”
Lily menanggapinya:”Oh Ujang mau nenen, aku tiduran yah.”
Lily lalu tiduran telentang pada sofa itu. Diambilnya bantal sofa itu lalu diletakkannya di kepalanya. Tubuh bugil Lily sudah berbaring di sofa itu, kedua tangannya dibukanya ke atas memperlihatkan ketiaknya yang mulus. Otong tidak berkedip menatap tubuh telanjang bulat majikannya yang sebentar lagi akan dia nikmati.
“Otong mau nyusu? Nih!” terdengar ajakan Lily kepada Otong.
Otong pun mendekatkan bibirnya yang tebal, agak monyong itu ke puting payudara Lily. Lalu dihisapnya lembut, tetapi makin lama, makin terlihat ganasnya. Dikenyotnya payudara Lily dengan penuh nafsu, sambil dielus-elusnya ketiak Lily yang terbuka ke atas.
“Ooogghh enak banget Tong.” Sepasang payudara indah itu sudah dikuasai Otong. Bergantian payudara kiri dan kanan dihisap oleh Lily yang terpejam marasakan nikmat. Setelah cukup lama menciumi dan mengenyot payudara Lily, Otong lalu mencium bibir Lily. Di sambutnya bibir Otong dan mereka pun saling berciuman dengan begitu mesra sekali. Sampai terdengar suara berkeciplak karena begitu buasnya mereka melakukan hal itu. Sambil melakukan ciuman pada bibir Lily, Otong menggerayangi tubuh mulus dan bening nyonya majikannya yang cantik. Dirasakan oleh Otong, betapa mulus dan halusnya tubuh Lily. Dielusnya permukaan kulit perut Lily, sambil sekali mengusap dan meremas payudaranya. Lalu Otong juga meraba bulu-bulu kemaluan Lily yang lebat sambil terus berciuman.

Lily merenggangkan kakinya, agak mengangkang. Itu dilakukan dengan maksud supaya Otong mudah mengelus atau meraba vaginanya. Kelihatan dengan penuh nafsu, Otong mengelus bulu kemaluan Lily, sambil sekali-sekali dijambak lembut oleh Otong.
“Nyonya bulu jembutnya lebat yah.”
Setelah puas mempermainkan bulu jembut itu, Otong meraba bibir kemaluan Lily.
“Nya, Otong mau lihat memeknya yah?”
Lily mengangguk mempersilahkan Otong melakukan hal itu. Lily lalu membuka lebar pahanya. Hanya ada nafsu membara yang mengalahkan rasa malu pada dirinya, meskipun vaginanya sedang dilihat oleh jongosnya.
“Bagus sekali memeknya” kata Otong, lalu diusapnya bibir vagina Lily yang sudah terbuka.
Otong adalah orang kedua yang melihat dan meraba vaginanya, selain suaminya. Diusap dan diperhatikan terus vagina Lily. Tidak puas hanya mengusap, Otong lalu membentangkan paha Lily lebar-lebar. Maka makin kelihatan vagina Lily yang merekah berwarna pink. Vaginanya masih bagus, tidak seperti aktris BF dari Jepang tadi. Otong makin gemas mempermainkan vagina Lily, lalu dengan menggunakan jari tengahnya, Otong memasukkan jarinya menyusuri liang vagina Lily yang melonjak menahan nikmat. “Ooogghh Otonnnggg…eehhggg” Lily mengerang, tubuhnya mengejang hebat ketika liang senggamanya disusupi jari tengah Otong.
Masih terasa betapa kencengnya jepitan vagina Lily, bahkan Otong juga merasakan ada kedutan-kedutan yang begitu nikmat.
“Oogghh Oottoonngg, en..nhnaaakk se…ka.lih” Lily mengerang kenikmatan.
Jari Otong kemudian dikocokkannya ke lubang kenikmatan Lily. Tampak Lily mengerang kenikmatan, membiarkan vaginanya dimasuki oleh jari Otong. Otong terus mengobok-obok vagina Lily, sampai akhirnya daerah sensitif itu banjir. Namun begitu, masih terasa jepitannya.
“Ooohhh Ooottt…hhhttoongg. Aku ke…lluu..arr Tong, egggghhhh”.
Tampak badan Lily menegang, bertanda ia sudah sampai pada klimaksnya atau orgasme pertamanya. Setelah itu agak melemah dan lemas tubuh Lily.
“Enak sekali Tong. Sekarang kamu buka dong semua pakaian kamu.”
Otong menyahut:”Beres non”.
Otong pun berdiri dan melepaskan seluruh pakaiannya yang kumel dan lusuh sampai bugil.

Lily kelihatan mendelik seketika:”Gila Otong, kontol kamu besar dan panjang sekali. Aduh…muat nggak yah ke memek saya”.
Rupanya penis Otong masih lebih besar dan panjang dibandingkan penis Ujang. Di satu pihak hal itu menyeramkan bagi Lily, karena selama ini dia hanya bersetubuh dengan suaminya yang ukuran penisnya standart saja. Tapi penis Otong, luar biasa, dibalik badannya yang kurus, krempeng dan hitam legam itu, tersimpan penis yang amat mantap. Lily begitu terkesima pada penis jongosnya itu.
“Sini Tong, kontol kamu mau aku pegang”.
Otong lalu tiduran telentang di atas karpet ruang tv, dengan penisnya teracung tegak sekali. Lily mendekatkan tangannya pada penis itu. Agak geli dan bingung juga bagi Lily untuk memegang penis jongosnya yang bersunat dan hitam itu. Bonggol kepalanya nampak besar dan begitu mantap. Bulu-bulu kemaluan yang lebat di sekitar penisnya dan kedua biji penisnya yang mantap menambah gejolak birahi Lily. Dengan getaran nafu yang begitu tinggi, Lily lalu memegangnya, terasa nikmat mengenggam kemaluan yang besar itu dan diremas dengan begitu mesra penis itu. Otong juga merasakan getaran birahi non Lily yang begitu kuat saat penisnya dibelai dan di remas nyonya majikannya itu.
“Aduh, tegang banget yah kontolmu” sahut Lily.
“Ah nyona bisa aja. Pijitin dong kontol Otong. Enak banget” Otong meminta Lily untuk melakukan yang lebih nikmat pada penisnya.
“Iiihh kontol kamu ngegemesin banget. Aku cium yah” Lily mendekatkan wajahnya pada penis Otong yang berada dalam genggamannya itu.
Otong juga tidak tinggal diam, dia juga meraba sekujur tubuh mulus Lily, tapi yang menjadi sasaran utama adalah sepasang payudara sekal nan menantang dan vagina itu. Lily pun membiarkan tubuh indahnya dirabai oleh kacungnya itu. Dia membiarkan elusan-elusan liar jongosnya itu di sekujur tubuhnya, bahkan Lily tetap memposisikan diri dengan membuka selangkangannya lebar-lebar, supaya Otong bisa memandang liang vaginanya. Dimasukkannya penis Otong ke dalam mulutnya dan disentuh-sentuhkan lidah Lily pada batang yang berdiri tegak itu. Lalu dihisapnya kuat-kuat sambil menjilati penis itu. Lubang pipis pada penis itu juga dijilatinya dengan begitu rakus, sehingga Otong juga menggelinjang penuh nikmat.

“Ooogghhh non…nik-mat sepongan non. Isap terus non, enak sekali” Otong meminta Lily untuk terus menghisapnya.
“Tong, gaya 69 yuk. Ganti posisi, aku di bawah, kamu di atas saya. Kontolmu aku kerjain. Kamu kerjain memek aku yah!” Lily mau mencoba gaya lain rupanya.
Setelah Otong menggeser posisi tubuhnya, gantian Lily yang tiduran telentang di karpet itu. Lily membentangkan pahanya lebar-lebar untuk siap digarap kacungnya itu. Otong memposisikan tubuhnya yang kasar di atas tubuh mulus Lily dan menyorongkan penisnya ke wajah Lily. Di tangkapnya penis itu dengan mulut Lily dan kembali disedotnya batang yang sudah full ereksi itu. Dalam posisi seperti itu, Otong juga menciumi dan menjilati paha mulus Lily yang begitu bening, putih seperti susu sampai ke pangkalnya atau selangkangannya. Dijilatinya bulu jembut itu dan sambil jari-jarinya membuka bibir liang senggama Lily. Terasa begitu penuh nafsu dan nikmat luar biasa, Lily melakukan aktivitas itu. Otong pun tidak tinggal diam, dia pun akan men-service vagina non Lily, majikannya itu. Di dekatkannya mulut Otong pada liang vagina itu, dijulurkannya lidahnya dan dipermainkannya pada vagina itu. Luar biasa indah dan menariknya vagina Lily. Ketika lidah itu dijulurkan ke dalam vaginanya, lidah itu menyentuh klitoris yang merupakan titik kenikmatan setiap wanita. Tampak Lily begitu nikmat diperlakukan demikian. Lalu disentil-sentilkan lidah Otong ke bagian itu. Hal ini mengakibatkan adanya kedutan nikmat pada tubuh Lily. Otong menekan dalam-dalam pantatnya, sehingga seluruh batang penisnya masuk mengisi rongga mulut Lily. Terkadang Lily menahan pantat Otong, karena penisnya menyentuh tenggorokan Lily. Otong pun tidak tonggal diam, dikiliknya dengan penuh nafsu rongga vagina dan klitoris Lily. Perlakuan Otong membuat vaginanya menjadi basah. Dijilati dan dipandangi dengan penih nafsu vagina Lily.
“Memek non Lily enak, rasanya gurih.” lalu Otong memasukkan ke dua jarinya supaya bisa melihat lebih dalam lagi vagina Lily.
Sepertinya Otong tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Kelihatan sekali dia mengobrak-abrik vagina Lily dengan jari dan lidahnya, dengan luapan birahi yang dahsyat.

Di lain pihak, Lily pun menyerahkan liang senggamanya diobok-obok jongosnya sendiri. Kelihatan sekali penyerahan diri Lily dengan semakin mengangkang lebih lebar seolah mempersilahkan Otong menikmati vaginanya. Dilain pihak, Lily pun merasa nikmat luar biasa. Suatu pengalaman yang tidak pernah ia dapatkan dari suaminya saat bersetubuh. Sensasi yang luar biasa justru ia dapatkan dari Otong, kacungnya itu. Ada sekitar 15 menit mereka mempraktekan gaya 69. Rupanya Lily sudah 2 kali mencapai klimaks diperlakukan Otong seperti itu. Kemudian Lily berdiri dan menarik tangan Otong untuk berdiri juga. Mereka saling senyum dan memandang tubuh bugil lawannya itu. Lily begitu terkesima akan besar dan panjangnya batang penis Otong, meskipun tubuhnya kurus, kulitnya hitam dan wajahnya jelek. Tidak ada yang istimewa dari Otong, selain penis bersunatnya yang berereksi sempurna siap tempur. Sedangkan Otong, begitu terkesima akan wajah cantik Lily, tubuhnya yang indah, putih bersih, menarik, dengan payudaranya yang montok dihiasi putingnya yang kemerahan, dengan bulu kemaluannya yang lebat. Mereka berdiri dan, Lily memeluk tubuh Otong dan mencium bibirnya. Bibir mereka berpagutan mesra, seolah tidak mau lepas. Lily yang sudah begitu dikuasai nafsu birahi, berbisik begitu lembut dan pelan di telinga Otong:
“Tong, yuk entot aku?”
Ajakan yang begitu menantang kelelakian Otong, pasti tidak akan disia-siakan olehnya:
“Yuk, Otong jg mau ngewein nyonya”.
Kemudian Lily menyandarkan tubuh bugilnya di sofa, ia mengangkangkan pahanya memperlihatkan liang vaginanya yang begitu mungil, untuk siap diterobos oleh batang penis Otong yang perkasa itu. Otong pun mengambil posisi yang pas berhadapan dengan Lily, dipegangnya penisnya itu. Disentuhkannya pelan-pelan di bibir vagina Lily, dan ditempelkannya pada liang senggama Lily.
“Iya Tong, entot aku say…” demikian permintaan Lily.
“Saya masukin yah nya” ucap Otong.
Maka mulai terjadilah proses penetrasi itu, Otong memajukan pantatnya dan menekannya pelan-pelan supaya penisnya bisa masuk.
“Ooooggghhh….ooogghhh.” demikian erangan dari Lily.
“Sempit sekali nya memeknya. Uuuhhh seret banget” ucap Otong.
Masuklah kepala penis itu ke dalam liang vagina Lily. Kelihatan wajah Lily menahan suatu kenikmatan yang luar biasa saat batang penis Otong mulai masuk perlahan-lahan. “Kon…..tol ka….mu ju….ga be…ssshhaarrr Tong…ohhh…. eeessshhh” erangan nikmat dari mulut begitu terdengar saat setengah dari penis Otong mulai ditelan oleh vagina Lily.
Tampak Lily menggelinjang, menyambut masuknya penis perkasa Otong ke dalam liang vaginanya. Kemudian…bleeesss…akhirnya masuk juga seluruh batang penis Otong.

Luar biasa sekali apa yang mereka rasakan saat itu. Lily merasa seperti diperawani, vaginanya begitu penuh oleh batang penis Otong yang besar. Sedangkan penis Otong begitu nikmat, terasa diremas begitu nikmat di dalam liang vaginanya. “Oooogghhh..ooohhh.eeesshhh” desahan nikmat keluar dari mulut Lily.
Otong membiarkan penisnya berada sepenuhnya di dalam vagina Lily. Mereka benar-benar menikmati persetubuhan itu. Otong menarik penisnya, lalu menekannya. Awalnya dilakukan pelan-pelan dan penuh perasaan, tetapi lama-lama, karena sudah dikuasai nafsu, Otong melakukannya dengan begitu kencang dan buas. Sepertinya ia akan terus membombardir vagina Lily sampai puas. Tindakan liar dari Otong di sambut oleh Lily dengan goyangan pantatnya. Mereka berdua terasa begitu menikmati persenggamaan itu. Tak henti-hentinya mulut Lily mengeluarkan desahan dan erangan sebagai ungkapan kenikmatan yang tak tertandingi. Desahan dan erangan itu, begitu seksi dan menambah nafsu Otong untuk menggasak vagina Lily lebih cepat lagi.
“Ooogghhhh…uuuggghhh…ahhhssss….sssshhhhsss…eehhhmmm.mmegh..ouuuggghh.” Suara itu membuat Otong pun begitu nafsu menggenjotkan penisnya yang besar masuk terbenam ke dalam liang vagina sempit non Lily majikannya. Begitu seru persetubuhan antara Lily dan Otong. Desahan dan erangan Lily selama persetubuhan itu, tiada hentinya dan begitu keras. Untung rumah itu sepi, hanya ada mereka berdua sore itu. Tetapi, benarkah demikian??? Mari kita berhenti sejenak melihat apa yang terjadi di luar. Rupanya persetubuhan mereka ada yang melihatnya. Si pengintip ini bisa mendengar dengan jelas desahan dan erangan Lily. Dia pun melihat dengan jelas persetubuhan tak lazim itu dan kaget luar biasa menyaksikannya. Bagaimana tidak, tubuh bugil Lily yang adalah nyonya majikan, mulus, putih, cantik dan amoy itu, sedang digenjot oleh kacungnya yang hitam, jelek, dower dan ceking itu. Siapa yang sedang mengintip persetubuhan Lily dan Otong? Dia adalah Lisa, adiknya Lily. Lisa baru saja pulang dari sekolah dan mengenakan pakaian seragam SMA. Lisa sudah kelas XII SMA dan hampir lulus. Dia masih tinggal dengan orang tuanya di Raffles Hill. Sore itu setelah pulang sekolah, ia berencana mengajak cicinya untuk jalan2 dan mau numpang mandi di kamar tamu cicinya. Sengaja dia mengendarai mobil jazz putih mutiara terbaru pemberian hadiah ultah ke 18 dari papanya yang adalah seorang dirut di sebuah PT besar di Jakarta. Baru sekitar 6 bln yang lalu, Lisa mendapatkan mobil itu. Sebenarnya Lisa juga mengajak pacarnya Hans, tetapi karena Hans masih ada ujian di tempat kuliahnya, maka Lisa membuat janji supaya Hans menjemput Lisa di rumah cicinya pada pukul 6 sore. Hans pun sudah diperkenalkan kepada Lily dan sudah sering diajak Lisa ke rumah cicinya itu.

Lisa

Lisa

Lisa memarkir mobilnya di depan rumah Lily, karena di halaman dalam ada mobil cicinya. Setelah menguncinya dan terasa aman, Lisa masuk ke dalam untuk menemui ci Lily. Sudah menjadi kebiasaan Lisa, masuk lewat pekarangan samping rumah itu. Dan ketika ia melewati kaca-kaca jendela samping pekarangan itu, Lisa mendengar erangan cicinya dan juga desahan seorang lelaki. Tadinya Lisa mengira kalo cicinya itu sedang bersetubuh dengan ko Michael, suaminya. Tapi, Lisa tidak menemukan mobil kakak iparnya, dan Lisa tau bahwa jam segini biasanya ko Michael masih kerja. Hal ini membuat Lisa penasaran dan ingin tau dengan siapa ci Lily bersetubuh sore hari ini. Dan ketika Lisa melihat dari jendela itu, suatu pemandangan yang luar biasa dan amat aneh. Dia melihat dua insan manusia yang berbeda ras, status, dan warna kulit dalam keadaan bugil. Lisa melihat cicinya sedang bersenggama dengan Otong. Cicinya mempersilahkan Otong untuk menggenjot vaginanya yang masih sempit itu disodok oleh penis besarnya. Lisa pun melihat nafsu kedua insan yang sedang asyik bersetubuh. Tadinya Lisa menduga cicinya diperkosa, tetapi rupanya dugaan itu salah. Buktinya ci Lily begitu hanyut menikmati persetubuhan itu. Lisa bisa melihat kalo cicinya itu sungguh meminta Otong untuk memberikan kenikmatan padanya. Lisa juga mendengar erangan dan desahan penuh nafsu cicinya itu. Sambil mengenjotkan penisnya yang besar ke dalam liang vagina Lily, Otong juga meremas sepasang payudara Lily, terkadang dikenyot begitu keras di dalam mulutnya. Tentu saja hal itu membuat Lily menggelinjang penuh nikmat.
“Ooouuuggghhh…..aaakkuuu ke…lluuu…aaarrrr eesshhh eesshhh uuuggghhh ssshhh”. Kelihatan sekali rangkaian kenikmatan yang tergambar di wajah Lily. Tapi Otong masih terus menggenjot vagina Lily. Lisa yang sdg mengintip persetubuhan itu mulai terangsang juga. Dia pun bisa mengetahui apa yang membuat cicinya begitu nikmat disetubuhi jongosknya? Tak lain karena batang penisnya yang besar. Lisa bisa melihat penis Otong yang besar mengenjot vagina Lily dengan penuh nafsu. Lisa terus memperhatikan persetubuhan itu dan mendengar desahan dan erangan cicinya.

Ketika sedang asyik menonton pertunjukan itu, tiba-tiba Lisa mendengar ada orang yang menyapanya.
“Non, saya mau mengembalikan kaca mata ini” rupanya yang datang adalah Mamat, pemuda yang bekerja menjadi tukang anter ayam goreng yang dikunjungi Lily tadi.
“Kaca mata siapa bang?” tanya Lisa.
“Ini kaca mata enci yang tadi beli ayam goreng. Kaca matanya ketinggalan” kata Mamat.
Rupanya Mamat juga tanpa sengaja, dari jendela itu, melihat persetubuhan yang terjadi di dalam ruangan itu.
“Waduh….. Itu enci yang punya kaca mata ini. Lho koq lagi ngewe sih. Wah, ngewenya….kelihatannya sama pembantunya yah?” Mamat menjelaskan asal kaca mata itu dan kaget juga menyaksikan persetubuhan di dalam ruangan itu.
“Iya, itu cici aku namanya ci Lily. Nah yang lelaki itu Otong, jongosnya. Ssstt jangan ganggu orang lagi senang. Sini kaca matanya, nanti saya serahkan ke ci Lily. Kamu boleh pulang bang!” demikian penjelasan dan perintah Lisa kepada Mamat.
“Ah, masa saya cepat-cepat pulang, lihat dulu ah. Tadi juga saya sudah nganceng ngelihat cici kamu, waktu di warung. Habis cici kamu seksi. Tadi saya sempat lihat pahanya yang mulus. Sekarang bisa ngeliat semuanya, bugil lagi. Wah untung yah jongosnya itu, bisa ngewe sama majikannya yang cantik” Mamat menanggapi ucapan Lisa sambil terus menyaksikan persetubuhan itu, ia juga mendengar desahan dan erangan Lily yang sedang digenjot oleh Otong, “ah jadi kepengen nih. Sekali-sekali sama amoy dong” demikian ucapan Mamat pada Lisa.
Mamat pun memandangi Lisa yang juga cantik dan segar di usianya yang baru 18 tahun. Lisa saat itu masih mengenakan seragam sekolahnya. Mamat juga bisa melihat dada Lisa yang montok dan pahanya yang juga kelihatan. Maklumlah rok SMA Lisa 10 cm di atas lutut, sehingga pahanya bisa dilihat. Lisa yang juga asyik menyaksikan persetubuhan cicinya dengan Otong, merasakan ada sesuatu yang merayap di pahanya dan mengelusnya. Lisa melihat kebelakang dan astaga, Mamat juga memasukkan tangannya dari bawah rok sekolah Lisa dan mengelus pahanya.

“Eeeiii…kurang ajar banget sih lo! Sana pergi!” hardik Lisa kepada Mamat sambil menepiskan tangan Mamat yang merayapi pahanya.
Lisa tidak berani membentak dengan ucapan kencang, khawatir cicinya dan Otong terganggu.
“Aduh…mulus juga paha non.” pria itu malah kembali menjamah pahanya dengan kurang ajar
Cengkraman tangan Mamat begitu kuat di paha Lisa sampai menyentuh sebagian pantatnya. Lisa berusaha sekuat tenaga menepis tangan Mamat, tapi tidak berhasil. Bahkan Mamat meremas susu Lisa begitu kuat. Tubuh Lisa dipeluk Mamat dari belakang, tangan kanan Mamat meremas payudara Lisa dan tangan kirinya. Lisa berusaha menolak tangan Mamat dan berontak dari pelecehan itu, tapi Mamat dengan buas mencengkram Lisa.
“Non lihat sendiri, cici non aja mau ngewe sama jongosnya. Tuh lihat pantat cicimu, terus muter ngeremes kontol jongosnya. Tuh denger erangannya. Itu tandanya cicimu lagi nikmat banget. Yuk kita ngewe juga.” Mamat rupanya terus memaksakan kehendaknya.
Lisa tetap tidak mau karena dia enggan menyerahkan tubuhnya pada pemuda pribumi yang hitam dan jelek itu, ia menganggap itu bukan levelnya. Tapi melihat persetubuhan yang sedang berlangsung antara cicinya dan Otong, terus terang birahinya terusik juga, apalagi ketika Mamat menggesek-gesekkan penisnya, Lisa bisa merasakan penis Mamat yang sudah tegang dan besar pada pantatnya. Mamat mulai menciumi Lisa, awalnya pipinya yang putih mulus yang dicium, lalu Mamat mencari bibirnya. Awalnya Lisa menolak, lalu akhirnya, karena dipaksa terus, akhirnya Mamat bisa mencium bibir Lisa. Bibir mereka pun berpagutan mesra. Tangan Mamat masih meliar meremasi payudara dan paha Lisa. Ketika Mamat membuka kancing baju sekolah Lisa, ditahannya tangan Mamat
“Jangan ah..”
“Jangan apa non cantik?” goda Mamat
Lisa menjawab: “Jangan…eh..Jangan di sini. Nanti dilihat orang dari luar. Yuk kita cari tempat di dalam aja”
Lisa kini yang mengajak Mamat dan menarik tangan Mamat untuk masuk ke dalam rumah itu dari belakang. Bagian belakang rumah itu adalah pekarangan yang berhubungan langsung dengan kamar induk yang digunakan menjadi kamar tidur Lily dan suaminya. Rupanya Lisa mengajak masuk Mamat ke dalam kamar tidur cicinya dari belakang. Kebetulan kamar itu tidak dikunci. Betapa sejuknya kamar Lily, begitu luas dan indah, tidak seperti kamar Mamat yang cuma sepetak kecil.

Mamat

Mamat

Sesampainya di dalam kamar itu, Lisa kembali dicium mesra oleh Mamat. Mereka berpelukan mesra sekali. Tangan Mamat pun meliar meremas pantat montok Lisa. Diangkatnya rok Lisa dan diremasnya pantat Lisa yang masih terbungkus cd. Dibalikannya badan Lisa dan dari belakang Mamat terus meremasi payudara Lisa yang juga masih dibungkus bh dan baju sekolah. Ditariknya baju sekolah itu keluar dari rok yang dipakainya. Kebetulan di hadapan Lisa dan Mamat ada kaca besar, sehingga mereka bisa melihat segala aktivitas mereka. Kini perlahan-lahan Mamat menyentuh kancing bagian atas kemeja Lisa. Dibukanya 1 kancing…lalu dibukanya kancing yang kedua. Lalu turun lagi dibukanya kancing yang ketiga. Tersembullah bh berwarna putih yang membungkus payudara montok dan putih bersih itu. Lisa awalnya malu dan menutupi sebagian tubuhnya yang terbuka dengan merapatkan bajunya. Mamat menangkap tangan Lisa dan menariknya ke belakang dan menempatkan tangan Lisa di selangkangannya.
“Jangan malu say…mau pegang kontol abang? Nih pegang!”
Tangan Lisa memegang batang penis Mamat yang sudah nganceng. Meskipun masih dibungkus celananya yang lusuh, Lisa merasakan tonjolan besar itu. Kembali Mamat menyingkap kemeja Lisa dan dilepaskannya perlahan-lahan kancing kemeja Lisa. Akhirnya terlepaslah semua kancing itu dan terpampanglah bh putih yang membungkus payudara Lisa dan perutnya yang ramping. Ketika tangan Mamat meraba perut dan mengusap pusarnya, Lisa begitu menggelinjang. Terasa geli sekali dan menantang. Perut Lisa yang putih dan ramping bisa dilihat dari pantulan kaca di hadapan mereka. Kini disentuhnya kedua payudara Lisa yang montok itu. Tidak puas hanya meremas kedua bukit susu Lisa dari luar BH, kini Mamat menyusupkan kedua telapak tangannya dari bawah bh Lisa. Mamat memang sungguh beruntung, kini tangannya sudah masuk ke dalam bh itu dan meremas payudara Lisa. Montok sekali payudara itu. Lisa merasakan geli ketika telapak tangan Mamat bersentuhan dengan puting payudaranya. Sambil meremas bongkahan susu Lisa, Mamat juga memuntir puting susunya.
“Oogghh…geli Bang” erang Lisa

“Non namanya siapa heh? Abang namanya Rahmat bin Suraji, biasa panggilnya Mamat aja hehehe” tanya Mamat dekat telinga Lisa sambil memperkenalkan dirinya
“Lisa…sshshhh” jawab Lisa terengah.
Tidak puas hanya meremas penis Mamat yang masih terbungkus celana, Lisa mulai berani memasukkan tangannya ke dalam celana pendek Mamat.
“Sini Mat, kontol loe mau gua remas. Gantian dong.”
Mamat menimpali:”Dah nafsu yah non, hehehe.”
Tangan Mamat ke belakang punggung Lisa dan dilepasnya kaitan bh Lisa, setelah itu bh bagian depannya dinaikkan, sehingga payudara Lisa terlihat bebas di hadapannya. Ditatapnya payudara dengan putingnya yang sudah tegang. Kembali diremasnya payudara itu dan Lisa pun sudah memasukkan tangannya ke dalam kolor Mamat dan diremas penis itu.
“Gila Mat, gede juga yah kontol elu.”
Mamat tersenyum bangga akan ketakjuban Lisa pada penisnya. Supaya bisa memegang penis Mamat dengan bebas, Lisa membuka kancing celana Mamat lalu ditarik turun secukupnya. Kini tangan mereka saling meremas apa yang ingin mereka remas. Lalu Mamat menarik Lisa dan mendorongnya tidur telentang di atas kasur Lily. Pakaian Lisa sudah awut-awutan tidak jelas, kancing bajunya sudah lepas semua, payudaranya menyembul dari bhnya yang sudah lepas kaitannya. Mamat lalu menyerbu payudara Lisa dan dihisapnya puting itu penuh nafsu. Lisa membiarkan perlakuan Mamat atas dirinya. Mamat lalu mengelus paha Lisa, dan menyentuk selangkangannya. Di rabanya paha itu sambil menyedot dan mencupangi payudara Lisa. Di naikkan ke atas rok seragam abu-abu gadis itu sehingga terpampanglah sepasang pahanya yang luar biasa indah dan mulus bagi Mamat. Tidak cukup sampai disitu, Mamat lalu menarik celana dalam Lisa agak ke bawah, akibatnya bulu jembut dan bibir kemaluan Lisa kelihatan jelas. Begitu nafsu Mamat memandang vagina Lisa.
“Lis, elu masih perawan?”
Lisa menjawab: “Sudah diperawanin pacar gua”
“Oh, nggak apa-apa. Kalo gitu gua kobel yah memek loe!”
Lisa mendesis ketika vaginanya diterobos oleh jari Mamat. Penuh nafsu Mamat mengobok vagina Lisa dan kembali menciumi payudara dan puting itu.

Setelah Mamat merasa cukup melakukan itu, ia merangkak diatas badan Lisa, diturunkannya celana pendek dan kolornya dan menyembullah batang penisnya. Kini diarahkannya penis itu ke liang vagina Lisa, setelah dirasa pas ditekannya vagina itu, pelan-pelan batang penis besar itu masuk ke liang vagina Lisa. Tampak Lisa mulai menggelinjang dan mendesah penuh nikmat. Mamat terus mengenjot vagina Lisa, erangan Lisa makin keras. Padahal di luar kamar, ada aktivitas yang sama antara Lily dan Otong. Apa yang terjadi pada Otong dan Lily? Lily yang terus mendapat sodokan penuh nafsu dari penis Otong di vaginanya, sudah 2x mencapai klimaks yang begitu luar biasa. Kini giliran Otong yang sebentar lagi klimaks:
“Nya, aduh enak banget, sudah mau kelur nih eesshh.”
Lily menanggapinya:”Ayo Tong….aaahhhsss…eeeggghh. Kellluuaaarriiinnn aaajjjjaahh.”
Didesaknya vagina Lily dengan penisnya yang besar sampai mentok, ditekannya ke dalam vaginanya, akhirnya:
“ooohhh eessshhh….” Croottt….. Crroootttt…..crrrooottt… Otong mengalami ejakulasi yang begitu nikmat di dalam vagina nyonya majikannya.
“Enak Tong?”
Otong menjawab, “Luar biasa non, nikmat sekali.”
Tampak butir-butir keringat di tubuh bugil mereka. Penis Otong masih menancap di vagina Lily. Mareka saling berciuman mesra dan berpelukan begitu mesra. Tubuh bugil Lily yang putih, bersih, montok menempel lekat ditindih tubuh Otong yang gelap dan kasar itu.
“Yuk bersihin badan dulu. Sini ikut ke kamarku!” Lily melepas pelukannya pada Otong dan mereka berdiri.
Sambil bergandengan tangan Lily mengajak Otong ke kamar tidurnya untuk bersih-bersih badan. Namun apa yang mereka temui di dalam kamar itu? Astaga, begitu kaget Lily menyaksikan apa yang dilihatnya. Lily melihat tukang anter ayam itu sedang mengenjot Lisa, adiknya. Melihat kedatangan cicinya dan Otong, mendadak Lisa dan Mamat menghentikan persetubuhannya itu.
“Sorry ci, habis Lisa dipaksa Mamat dan Lisa juga nafsu gara-gara tadi ga sengaja mergokin cici sama Otong” begitu penjelasan Lisa sambil menutupi payudara dan vaginanya.
Mamat juga tertunduk:”Saya juga tadinya cuma mau mengembalikan kaca matanya ci”.
Lily dan Otong masih bugil. Otong diam saja memandangi sebagian tubuh Lisa yang terbuka, baju dan rok seragam sekolahnya sudah lecek dan tersingkap tak beraturan. Sedangkan Mamat terus memandangi tubuh polos Lily. Tak ada niat Lily untuk menutupi tubuh bugilnya yang polos. Lily juga membiarkan Mamat memandang tubuhnya yang telanjang bulat.

“Yah sudah kalo gitu, aku mau bersihin ini dulu, supaya bersih” kata Lily sambil menunjuk ke vaginanya.
Lily masuk ke dalam kamar mandinya dan menutup pintunya. Otong yang masih telanjang mendekati Lisa dan Mamat lalu menggoda mereka:
“Tambah rame nih, ayo lanjut lagi ngewenya. Tanggung kalo di stop. Non Lisa, tadi cici kamu sampai keluar 5x lho. Ntar mau abang entot lagi ah. Yuk ngentotnya bareng!” Otong menarik tangan Mamat dan mendorongnya ke Lisa.
“Ayo ngewe lagi. Sini non Lisa, dibuka dong pakaiannya. Kalo ngentot enakan bugil.”
Otong mendekati Lisa dan membuka baju seragam Lisa, lalu rok sekolahnya, kemudian diloloskannya bh itu yang sudah lepas kaitannya, lalu terakhir dilepasnya cd Lisa. Melihat tubuh Lisa yang sudah telanjang bulat, Otong langsung meremas payudara dan memainkan putingnya. Dijilat dan disedot puting susu sebelah kanan, kanan kirinya mengelus vagina Lisa yang juga berbulu lebat seperti cicinya. Dan dirabanya permukaan vagina Lisa, sehingga membuatnya mengerang kenikmatan. Bukan cuma itu, sambil menunggu Lily keluar, Otong menyelipkan jari tengahnya ke dalam vagina Lisa. Semakin dalam Otong memasukkan jarinya ke liang vagina Lisa, sehingga membuatnya kembali mendesah dan mengerang nikmat. Tak lama kemudian Lily keluar dari kamar mandi masih dalam keadaan bugil dan kaget melihat Lisa, adiknya, yang sudah bugil polos sedang dikerjain Otong. Lalu Lily menarik tangan Otong:
“Brengsek luh Tong, adik gua mau elu ewe juga. Ini bukan jatah elu, tapi jatah…eh siapa nama elu?” Lisa bertanya pada tukang anter itu.
“Mamat, ci” jawabnya.
“Sana kalo mau ngewe lagi. Di sini aja, kita ngewe berempat yuk! Sini Tong, kita ngentot lagi. Awas yah jangan ngewe sama Lisa” demikian ancaman Lily pada Otong.
“Beres non, yuk kita ngewe lagi…oh iya sebentar…” jawab Otong lalu mendekati Mamat.
“Mat, elu mau ngewe koq masih pakai celana, ayo dibuka.” Otong lalu membuka celana lusuh Mamat dan menurunkan kolornya. Kini bagian bawah tubuh Mamat sudah polos dan penisnya sudah tegang. Lily terpana juga melihat penis bersunat Mamat yang besar dan agak bengkok itu. Mamat masih belum melepas kaosnya yang amat dekil dan compang-camping itu. Di ranjang yang agak besar itu kedua kakak beradik yang berparas cantik itu sudah merebahkan tubuhnya, siap untuk disetubuhi oleh pemuda low class itu. Otong mendekati Lily, Mamat mendekati Lisa. Mereka masing-masing mengarahkan penisnya ke lubang vagina kedua wanita cantik itu. Dan…masuklah kini batang penis mereka ke lubangnya masing.

Yang terdengar kini ada erangan nikmat yang keluar dari mulut Lily dan Lisa. Kedua kakak beradik itu bersahut-sahutan mengerang, menikmati kocokan penis di vagina masing-masing. Otong pun, sambil mengenjot Lily, menurunkan tubuhnya memeluk dan menindih erat tubuh mulus Lily dan terus mengenjotkan batang penisnya dengan penuh nafsu ke liang senggama Lily. Lily pun menyambut genjotan pada vaginanya dengan memeluk tubuh Otong dan menjepit pinggang Otong dengan pahanya yang putih mulus. Mereka pun saling berciuman mesra. Di samping itu, Mamat pun sedang mengenjot vagina Lisa dengan penuh nafsu. Setiap kocokan maju mundur penisnya di dalam liang vagina itu, disambut Lisa dengan menggoyangkan pantatnya. Setelah 15 menit digenjot, nampak Lily dan Lisa gelisah, menandakan akan sampai pada klimaksnya. Benar saja, akhirnya kedua wanita Chinese itu sampai pada klimaksnya. Otong dan Mamat mempercepat genjotannya. Lily dan Lisa memejamkan matanya, menikmati pelampiasan birahi mereka. Otong mengedipkan matanya pada Mamat, memberi kode rahasia. Sementara i berciuman mesra. Lily meminta Mamat untuk melepaskan kaos lusuhnya. Mamat pun melakukan hal itu. Tiba-tiba terdengar suara erangan Lisa, rupanya Otong sudah memulainya terlebih dahulu. Lisa sudah disetubuhi oleh Otong. Mamat juga tidak mau kalah, tu Lily dan Lisa tampak lemas menikmati sisa-sisa gelora birahi mereka. Apa yang terjadi kemudian? Otong dan Mamat berganti pasangan. Otong mendekati Lisa dan memeluknya dengan mesra. Mamat pun mendekati Lily dan dipeluknya begitu erat. Mereka salingdia pun mengarahkan penisnya ke liang vagina Lily dan mendorongnya masuk. Luar biasa fantastisnya persetubuhan mereka. Otong dan Mamat terus membenamkan batang penisnya yang besar ke dalam vagina kedua amoy cantik itu. Terdengar kembali erangan dan desahan nikmat dari mulut Lily dan Lisa. Tidak ada penolakan dari Lily dan Lisa, mereka membiarkan vaginanya disetubuhi oleh kedua lelaki dari kalangan bawah dan jelek itu. Setelah 15 menit mengenjot, kelihatan kalau Otong dan Mamat sudah hampir ejakulasi. Akhirnya Otong dan Mamat sampai pada saatnya untuk menyirami vagina kedua wanita cantik itu dengan spermanya. Sambil membenamkan penisnya semakin dalam akhirnya Otong dan Mamat sampai pada ejakulasinya. Begitu banyak sperma yang menyembur keluar dari penis mereka di dalam vagina Lily dan Lisa. Rupanya pada saat yang sama kedua wanita cantik itu kembali melepaskan kenikmatan yang luar biasa. Sperma dan cairan cinta mereka bersatu di dalam vagina itu.

Tampak sekali mereka lelah melewati persetubuhan itu. Penis dan vagina mereka masih melekat erat, seperti tidak mau berpisah. Tiba-tiba, hp Lisa berbunyi. Rupanya yang menelpon adalah Hans, pacarnya, yang mengatakan sudah ada di depan rumah ci Lily. Lisa lalu bangkit buru-buru membenahi dirinya, diikuti oleh Lily yang juga membersihkan dirinya. Setelah itu Lisa kembali mengenakan pakaian seragamnya, meskipun agak lecek Lisa tetap memakainya dan merapikannya. Lily pun mengambil sweeter tebalnya dan celana selutut. Otong buru-buru lari keluar dari kamar Lily dan membereskan pakaiannya yang tergeletak di ruang keluarga, tempat awal dia bersetubuh dengan Lily. Dan Mamat kembali mengenakan pakaiannya yang lusuh dan bau itu. Mereka bertindak seolah tidak terjadi apapun. Nanti Mamat seolah-olah diberi uang karena mengantar ayam goreng. Pokoknya skenario sudah diatur oleh Lily. Lily dan Lisa keluar menyambut Hans.,
“Selamat sore ci”, Hans menjabat tangan ci Lily dan mencium pipi kiri dan kanannya.
Ciuman mesra juga diberikan oleh Hans kepada Lisa, kekasihnya,
“Hallo say”.
Mereka saling berbincang akrab. Mamat keluar dari pintu samping yang lansung berhubungan dengan dapur. Dan pamitan mau kembali mengantar ayam goreng pesanan orang lain. Hans mengajak Lisa untuk pergi mencari baju di mall Cibubur. Untuk menyatakan sopannya Hans jalan terlebih dahulu mau membukakan pintu untuk Lisa. Di belakang Hans, tanpa di sadari, Lisa berjalan bersebelahan dengan Mamat, sedangkan Lily di belakang. Apa yang terjadi kemudian? Mamat dengan nakalnya meremas pantat Lisa dan anehnya Lisa membiarkan hal itu, bahkan Lisa juga meremas pantat Mamat. Itu semua terjadi di dekat pacarnya tapi tidak diketahuinya. Lily yang melihat hal itu tampak tersenyum. Nekad juga nih anak, katanya di dalam hati. Ketika Hans mau keluar dari pagar rumah Lily, ia lupa sesuatu. Ia berbisik pada Lily, mengatakan sesuatu. Lily tersenyum, rupanya Hans mau numpang pipis. Lily, Lisa dan Hans kembali masuk ke halaman rumah Lily. Hans diantar oleh Lily masuk ke dalam rumahnya dan menunjukkan kamar mandi. Lisa menunggu di pekarangan Luar. Tapi tiba-tiba Mamat masuk lagi dan menarik Lisa ke pekarangan samping. Lily bisa melihat itu dari dalam rumahnya. Disuruhnya Lisa menunging sedikit lalu di naikkan ke atas roknya dan diturunkan kebawah cdnya. Mamat mengeluarkan penisnya dan dengan cepat memasukkannya pada liang vagina Lisa. Digenjotnya vagina Lisa dengan penisnya yang besar itu dengan cepat. Lily tersenyum melihat kegilaan adiknya melakukan seks kilat dengan Mamat. Untung Hans agak lama di kamar mandi. Akhirnya Mamat mengakhiri kegiatannya setelah ia ejakulasi di bongkahan pantat Lisa. Setelah itu Mamat memberi ciuman di bibir Lisa dan Lisa menyambutnya dengan penuh gairah. Mamat membetulkan restleting celananya dan mengacungkan jempol pada Lily lalu pamit. Lisa buru-buru membersihkan cipratan sperma di pantatnya di kamar mandi ruang tamu. Setelah itu Hans dan Lisa pamitan pergi. Itulah hari yang sensasional dan melelahkan bagi Lily sekaligus melampiaskan birahinya.

By: Harly

Tidak ada komentar: