<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7501232687625531161</id><updated>2012-02-16T15:33:22.094-08:00</updated><category term='Atasan'/><category term='Lina.SeksS'/><category term='mertua.cantik'/><category term='seks.suami.teman'/><category term='importtance'/><category term='Sekretaris'/><category term='hospitaly'/><category term='Teman'/><category term='tammy'/><category term='Calon'/><category term='Higher Education • China • Chinese Economy'/><category term='seks.teman'/><category term='lugu'/><category term='suster'/><category term='Paca.r Teman. Kostku.Seks.Binal'/><category term='central'/><category term='bank'/><category term='Seks'/><category term='home scholling'/><category term='Pacar Teman.Seks.Binal'/><category term='Teh Tita'/><category term='Bercinta'/><category term='seks.suami'/><category term='Orang'/><category term='Keluarga'/><category term='Superintendent'/><category term='teman.adik'/><category term='Hasrat'/><category term='elingkuh'/><category term='Obama'/><category term='kesepian'/><category term='tenis'/><category term='sexy'/><category term='dada'/><category term='kawan'/><category term='s'/><category term='School'/><category term='Haus'/><category term='Photo gallery'/><category term='menantu.seks.'/><category term='puncak.seks.dada.enak'/><category term='probem'/><category term='puncak'/><category term='college'/><category term='world'/><category term='Pembantu'/><category term='Tunangan'/><category term='Paman'/><category term='kakak.rumah'/><category term='kakak'/><category term='Birahi'/><category term='seks..teman'/><category term='Istri'/><category term='Rahasia'/><category term='Terpendam'/><category term='seksteman'/><category term='Selingkuh'/><category term='Desah'/><category term='Singapore.education'/><category term='rumah.'/><category term='adik iparku'/><category term='america'/><category term='perkosa'/><category term='seks.pacar'/><category term='operation cots'/><category term='Tante'/><category term='Education'/><category term='pesta seks'/><category term='human'/><category term='BIDEN'/><category term='Renny'/><category term='Seks.Binal'/><category term='Suami'/><title type='text'>Denny 3</title><subtitle type='html'>Sebenarnya ini hanya blog adalah kumpulan cerita seks yang di ambil dari banyak web yang hanya untuk di baca sendiri</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dennythejaya.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dennythejaya.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>denny</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>95</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7501232687625531161.post-7428923274481327106</id><published>2011-06-13T12:29:00.000-07:00</published><updated>2011-06-13T12:31:26.588-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seksteman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Terpendam'/><title type='text'>Gairah seks</title><content type='html'>Saat kuliah aku punya sahabat karib bernama Yenny. Walaupun belum tentu sekali setahun berjumpa tetapi semenjak sama-sama kami berkeluarga hingga anak-anak tumbuh dewasa, jalinan persahabatan kami tetap berlanjut. Setidaknya setiap bulan kami saling bertelpon. Ada saja masalah untuk diomongkan. Suatu pagi Yenny telepon bahwa dia baru pulang dari Magelang, kota kelahirannya. Dia bilang ada oleh-oleh kecil untuk aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kalau aku tidak keluar rumah, Idang anaknya, akan mengantarkannya kerumahku. Ah, repotnya sahabatku, demikian pikirku. Aku sambut gembira atas kebaikan hatinya, aku memang jarang keluar rumah dan aku menjawab terima kasih untuk oleh-olehnya. Ah, rejeki ada saja, Yenny pasti membawakan getuk, makanan tradisional dari Magelang kesukaanku. Aku tidak akan keluar rumah untuk menunggu si Idang, yang seingatku sudah lebih dari 10 tahun aku tidak berjumpa dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Menjelang tengah hari sebuah jeep Cherokee masuk ke halaman rumahku. Kuintip dari jendela. Dua orang anak tanggung turun dari jeep itu. Mungkin si Idang datang bersama temannya. Ah, jangkung bener anak Yenny. Aku buka pintu. Dengan sebuah bingkisan si Idang naik ke teras rumah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Selamat siang, Tante. Ini titipan mama untuk Tante Erna. Kenalin ini Bonny teman saya, Tante".&lt;br /&gt;    Idang menyerahkan kiriman dari mamanya dan mengenalkan temannya padaku. Aku sambut gembira mereka. Oleh-oleh Yenny dan langsung aku simpan di lemari es-ku biar nggak basi. Aku terpesona saat melihat anak Yenny yang sudah demikian gede dan jangkung itu. Dengan gaya pakaian dan rambutnya yang trendy sungguh keren anak sahabatku ini. Demikian pula si Donny temannya, mereka berdua adalah pemuda-pemuda masa kini yang sangat tampan dan simpatik. Ah, anak jaman sekarang, mungkin karena pola makannya sudah maju pertumbuhan mereka jadi subur. Mereka aku ajak masuk ke rumah. Kubuatkan minuman untuk mereka.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kuperhatikan mata si Donny agak nakal, dia pelototi bahuku, buah dadaku, leherku. Matanya mengikuti apapun yang sedang aku lakukan, saat aku jalan, saat aku ngomong, saat aku mengambil sesuatu. Ah, maklum anak laki-laki, kalau lihat perempuan yang agak melek, biar sudah tuaan macam aku ini, tetap saja matanya melotot. Dia juga pinter ngomong lucu dan banyak nyerempet-nyerempet ke masalah seksual. Dan si Idang sendiri senang dengan omongan dan kelakar temannya. Dia juga suka nimbrung, nambahin lucu sambil melempar senyuman manisnya. Kami jadi banyak tertawa dan cepat saling akrab. Terus terang aku senang dengan mereka berdua. Dan tiba-tiba aku merasa berlaku aneh, apakah ini karena naluri perempuanku atau dasar genitku yang nggak pernah hilang sejak masih gadis dulu, hingga teman-temanku sering menyebutku sebagai perempuan gatal. Dan kini naluri genit macam itu tiba-tiba kembali hadir. Mungkin hal ini disebabkan oleh tingkah si Donny yang seakan-akan memberikan celah padaku untuk mengulangi peristiwa-peristiwa masa muda. Peristiwa-peristiwa penuh birahi yang selalu mendebarkan jantung dan hatiku. Ah, dasar perempuan tua yang nggak tahu diri, makian dari hatiku untukku sendiri. Tetapi gebu libidoku ini demikian cepat menyeruak ke darahku dan lebih cepat lagi ke wajahku yang langsung terasa bengap kemerahan menahan gejolak birahi mengingat masa laluku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Tante, jangan ngelamun. Cicak jatuh karena ngelamun, lho".&lt;br /&gt;    Kami kembali terbahak mendengar kelakar Idang. Dan kulihat mata Donny terus menunjukkan minatnya pada bagian-bagian tubuhku yang masih mulus ini. Dan aku tidak heran kalau anak-anak muda macam Donny dan Idang ini demen menikmati penampilanku. Walaupun usiaku yang memasuki tahun ke 42 aku tetap "fresh" dan "good looking". Aku memang suka merawat tubuhku sejak muda. Boleh dibilang tak ada kerutan tanda ketuaan pada bagian-bagian tubuhku. Kalau aku jalan sama Oke, suamiku, banyak yang mengira aku anaknya atau bahkan "piaraan"nya. Kurang asem, tuh orang. Dan suamiku sendiri sangat membanggakan kecantikkanku. Kalau dia berkesempatan untuk membicarakan istrinya, seakan-akan memberi iming-iming pada para pendengarnya hingga aku tersipu walaupun dipenuhi rasa bangga dalam hatiku. Beberapa teman suamiku nampak sering tergoda untuk mencuri pandang padaku. Tiba-tiba aku ada ide untuk menahan kedua anak ini.&lt;br /&gt;    "Hai, bagaimana kalau kalian makan siang di sini. Aku punya resep masakan yang gampang, cepat dan sedap. Sementara aku masak kamu bisa ngobrol, baca tuh majalah atau pakai tuh, komputer si oom. Kamu bisa main game, internet atau apa lainnya. Tapi jangan cari yang 'enggak-enggak', ya..", aku tawarkan makan siang pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tanpa konsultasi dengan temannya si Donny langsung iya saja. Aku tahu mata Donny ingin menikmati sensual tubuhku lebih lama lagi. Si Idang ngikut saja apa kata Donny. Sementara mereka buka komputer aku ke dapur mempersiapkan masakanku. Aku sedang mengiris sayuran ketika tahu-tahu Donny sudah berada di belakangku.&lt;br /&gt;    Dia menanyaiku, "Tante dulu teman kuliah mamanya Idang, ya. Kok kayanya jauh banget, sih?".&lt;br /&gt;    "Apanya yang jauh?, aku tahu maksud pertanyaan Donny.&lt;br /&gt;    "Iya, Tante pantesnya se-umur dengan teman-temanku".&lt;br /&gt;    "Gombal, ah. Kamu kok pinter nge-gombal, sih, Don".&lt;br /&gt;    "Bener. Kalau nggak percaya tanya, deh, sama Idang", lanjutnya sambil melototi pahaku.&lt;br /&gt;    "Tante hobbynya apa?".&lt;br /&gt;    "Berenang di laut, skin dan scuba diving, makan sea food, makan sayuran, nonton Discovery di TV".&lt;br /&gt;    "Ooo, pantesan".&lt;br /&gt;    "Apa yang pantesan?", sergapku.&lt;br /&gt;    "Pantesan body Tante masih mulus banget".&lt;br /&gt;    Kurang asem Donny ini, tanpa kusadari dia menggiring aku untuk mendapatkan peluang melontarkan kata-kata "body Tante masih mulus banget" pada tubuhku. Tetapi aku tak akan pernah menyesal akan giringan Donny ini. Dan reaksi naluriku langsung membuat darahku terasa serr.., libidoku muncul terdongkrak. Setapak demi setapak aku merasa ada yang bergerak maju. Donny sudah menunjukkan keberaniannya untuk mendekat ke aku dan punya jalan untuk mengungkapkan kenakalan ke-lelakian-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Ah, mata kamu saja yang keranjang", jawabku yang langsung membuatnya tergelak-gelak.&lt;br /&gt;    "Papa kamu, ya, yang ngajarin?, lanjutku.&lt;br /&gt;    "Ah, Tante, masak kaya gitu aja mesti diajarin".&lt;br /&gt;    Ah, cerdasnya anak ini, kembali aku merasa tergiring dan akhirnya terjebak oleh pertanyaanku sendiri.&lt;br /&gt;    "Memangnya pinter dengan sendirinya?", lanjutku yang kepingin terjebak lagi.&lt;br /&gt;    "Iya, dong, Tante. Aku belum pernah dengar ada orang yang ngajari gitu-gitu-an".&lt;br /&gt;    Ah, kata-kata giringannya muncul lagi, dan dengan senang hati kugiringkan diriku.&lt;br /&gt;    "Gitu-gituan gimana, sih, Don sayang?", jawabku lebih progresif.&lt;br /&gt;    "Hoo, bener sayang, nih?", sigap Donny.&lt;br /&gt;    "Habis kamu bawel, sih", sergahku.&lt;br /&gt;    "Sudah sana, temenin si Idang tuh, n'tar dia kesepian", lanjutku.&lt;br /&gt;    "Si Idang, mah, senengnya cuma nonton", jawabnya.&lt;br /&gt;    "Kalau kamu?", sergahku kembali.&lt;br /&gt;    "Kalau saya, action, Tante sayang", balas sayangnya.&lt;br /&gt;    "Ya, sudah, kalau mau action, tuh ulek bumbu tumis di cobek, biar masakannya cepet mateng", ujarku sambil memukulnya dengan manis.&lt;br /&gt;    "Oo, beres, Tante sayang", dia tak pernah mengendorkan serangannya padaku.&lt;br /&gt;    Kemudian dia menghampiri cobekku yang sudah penuh dengan bumbu yang siap di-ulek. Beberapa saat kemudian aku mendekat ke dia untuk melihat hasil ulekannya.&lt;br /&gt;    "Uh, baunya sedap banget, nih, Tante. Ini bau bumbu yang mirip Tante atau bau Tante yang mirip bumbu?".&lt;br /&gt;    Kurang asem, kreatif banget nih anak, sambil ketawa ngakak kucubit pinggangnya keras-keras hingga dia aduh-aduhan. Seketika tangannya melepas pengulekan dan menarik tanganku dari cubitan di pinggangnya itu. Saat terlepas tangannya masih tetap menggenggam tanganku, dia melihat ke mataku. Ah, pandangannya itu membuat aku gemetar. Akankah dia berani berbuat lebih jauh? Akankah dia yakin bahwa aku juga merindukan kesempatan macam ini? Akankah dia akan mengisi gejolak hausku? Petualanganku? Nafsu birahiku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Aku tidak memerlukan jawaban terlampau lama. Bibir Donny sudah mendarat di bibirku. Kini kami sudah berpagutan dan kemudian saling melumat. Dan tangan-tangan kami saling berpeluk. Dan tanganku meraih kepalanya serta mengelusi rambutnya. Dan tangan Donny mulai bergeser menerobos masuk ke blusku. Dan tangan-tangan itu juga menerobosi BH-ku untuk kemudian meremasi payudaraku. Dan aku mengeluarkan desahan nikmat yang tak terhingga. Nikmat kerinduan birahi menggauli anak muda yang seusia anakku, 22 tahun di bawah usiaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Tante, aku nafsu banget lihat body Tante. Aku pengin menciumi body Tante. Aku pengin menjilati body Tante. Aku ingin menjilati nonok Tante. Aku ingin ngentot Tante".&lt;br /&gt;    Ah, seronoknya mulutnya. Kata-kata seronok Donny melahirkan sebuah sensasi erotik yang membuat aku menggelinjang hebat. Kutekankan selangkanganku mepet ke selangkangnnya hingga kurasakan ada jendolan panas yang mengganjal. Pasti kontol Donny sudah ngaceng banget. Kuputar-putar pinggulku untuk merasakan tonjolannya lebih dalam lagi. Donny mengerang.Dengan tidak sabaran dia angkat dan lepaskan blusku. Sementara blus masih menutupi kepalaku bibirnya sudah mendarat ke ketiakku. Dia lumati habis-habisan ketiak kiri kemudian kanannya. Aku merasakan nikmat di sekujur urat-uratku. Donny menjadi sangat liar, maklum anak muda, dia melepaskan gigitan dan kecupannya dari ketiak ke dadaku. Dia kuak BH-ku dan keluarkan buah dadaku yang masih nampak ranum. Dia isep-isep bukit dan pentilnya dengan penuh nafsu. Suara-suara erangannya terus mengiringi setiap sedotan, jilatan dan gigitannya. Sementara itu tangannya mulai merambah ke pahaku, ke selangkanganku. Dia lepaskan kancing-kancing kemudian dia perosotkan hotpants-ku. Aku tak mampu mengelak dan aku memang tak akan mengelak. Birahiku sendiri sekarang sudah terbakar hebat. Gelombang dahsyat nafsuku telah melanda dan menghanyutkan aku. Yang bisa kulakukan hanyalah mendesah dan merintih menanggung derita dan siksa nikmat birahiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Begitu hotpants-ku merosot ke kaki, Donny langsung setengah jongkok menciumi celana dalamku. Dia kenyoti hingga basah kuyup oleh ludahnya. Dengan nafsu besarnya yang kurang sabaran tangannya memerosotkan celana dalamku. Kini bibir dan lidahnya menyergap vagina, bibir dan kelentitku. Aku jadi ikutan tidak sabar.&lt;br /&gt;    "Donny, Tante udah gatal banget, nih".&lt;br /&gt;    "Copot dong celanamu, aku pengin menciumi kamu punya, kan".&lt;br /&gt;    Dan tanpa protes dia langsung berdiri melepaskan celana panjang berikut celana dalamnya. Kontolnya yang ngaceng berat langsung mengayun kaku seakan mau nonjok aku. Kini aku ganti yang setengah jongkok, kukulum kontolnya. Dengan sepenuh nafsuku aku jilati ujungnya yang sobek merekah menampilkan lubang kencingnya. Aku merasakan precum asinnya saat Donny menggerakkan pantatnya ngentot mulutku. Aku raih pahanya biar arah kontolnya tepat ke lubang mulutku.&lt;br /&gt;    "Tante, aku pengin ngentot memek Tante sekarang".&lt;br /&gt;    Aku tidak tahu maunya, belum juga aku puas mengulum kontolnya dia angkat tubuhku. Dia angkat satu kakiku ke meja dapur hingga nonokku terbuka. Kemudian dia tusukkannya kontolnya yang lumayan gede itu ke memekku. Aku menjerit tertahan, sudah lebih dari 3 bulan Oke, suamiku nggak nyenggol-nyenggol aku. Yang sibuklah, yang rapatlah, yang golflah. Terlampau banyak alasan untuk memberikan waktunya padaku. Kini kegatalan kemaluanku terobati, Kocokkan kontol Donny tanpa kenal henti dan semakin cepat. Anak muda ini maunya serba cepat. Aku rasa sebentar lagi spermanya pasti muncrat, sementara aku masih belum sepenuhnya puas dengan entotannya. Aku harus menunda agar nafsu Donny lebih terarah. Aku cepat tarik kemaluanku dari tusukkannya, aku berbalik sedikit nungging dengan tanganku bertumpu pada tepian meja. Aku pengin dan mau Donny nembak nonokku dari arah belakang. Ini adalah gaya favoritku. Biasanya aku akan cepat orgasme saat dientot suamiku dengan cara ini. Donny tidak perlu menunggu permintaanku yang kedua. Kontolnya langsung di desakkan ke memekku yang telah siap untuk melahap kontolnya itu.&lt;br /&gt;    Nah, aku merasakan enaknya kontol Donny sekarang. Pompaannya juga lebih mantab dengan pantatku yang terus mengimbangi dan menjemput setiap tusukan kontolnya. Ruang dapur jadi riuh rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Selintas terpikir olehku, di mana si Idang. Apakah dia masih berkutat dengan komputernya? Atau dia sedang mengintip kami barangkali? Tiba-tiba dalam ayunan kontolnya yang sudah demikian keras dan berirama Donny berteriak.&lt;br /&gt;    "Dang, Idang, ayoo, bantuin aku .., Dang..".&lt;br /&gt;    Ah, kurang asem anak-anak ini. Jangan-jangan mereka memang melakukan konspirasi untuk mengentotku saat ada kesempatan disuruh mamanya untuk mengirimkan oleh-oleh itu. Kemudian kulihat Idang dengan tenangnya muncul menuju ke dapur dan berkata ke Donny&lt;br /&gt;    "Gue kebagian apanya Don?'&lt;br /&gt;    "Tuh, lu bisa ngentot mulutnya. Dia mau kok".&lt;br /&gt;    Duh, kata-kata seronok yang mereka ucapkan dengan kesan seolah-olah aku ini hanya obyek mereka. Dan anehnya ucapan-ucapan yang sangat tidak santun itu demikian merangsang nafsu birahiku, sangat eksotik dalam khayalku. Aku langsung membayangkan seolah-olah aku ini anjing mereka yang siap melayani apapun kehendak pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Aku melenguh keras-keras untuk merespon gaya mereka itu. Kulihat dengan tenangnya Idang mencopoti celananya sendiri dan lantas meraih kepalaku dengan tangan kirinya, dijambaknya rambutku tanpa menunjukkan rasa hormat padaku yang adalah teman mamanya itu, untuk kemudian ditariknya mendekat ke kontolnya yang telah siap dalam genggaman tangan kanannya. Kontol Idang nampak kemerahan mengkilat. Kepalanya menjamur besar diujung batangnya. Saat bibirku disentuhkannya aroma kontolnya menyergap hidungku yang langsung membuat aku kelimpungan untuk selekasnya mencaplok kontol itu. Dengan penuh kegilaan aku lumati, jilati kulum, gigiti kepalanya, batangnya, pangkalnya, biji pelernya. Tangan Idang terus mengendalikan kepalaku mengikuti keinginannya. Terkadang dia buat maju mundur agar mulutku memompa, terkadang dia tarik keluar kontolnya menekankan batangnya atau pelirnya agar aku menjilatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Duh, aku mendapatkan sensasi kenikmatan seksualku yang sungguh luar biasa. Sementara di belakang sana si Donny terus menggenjotkan kontolnya keluar masuk menembusi nonoknya sambil jari-jarinya mengutik-utik dan disogok-sogokkannya ke lubang pantatku yang belum pernah aku mengalami cara macam itu. Oke, suamiku adalah lelaki konvensional. Saat dia menggauliku dia lakukan secara konvensional saja. Sehingga saat aku merasakan bagaimana perbuatan teman dan anak sahabatku ini aku merasakan adanya sensasi baru yang benar-benar hebat melanda aku. Kini 3 lubang erotis yang ada padaku semua dijejali oleh nafsu birahi mereka. Aku benar-benar jadi lupa segala-galanya. Aku mengenjot-enjot pantatku untuk menjemputi kontol dan jari-jari tangan Donny dan mengangguk-anggukkan kepalaku untuk memompa kontol Idang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Ah, Tante, mulut Tante sedap banget, sih. Enak kan, kontolku. Enak, kan? Sama kontol Oom enak mana? N'tar Tante pasti minta lagi, nih".&lt;br /&gt;    Dia percepat kendali tangannya pada kepalaku. Ludahku sudah membusa keluar dai mulutku. Kontol Idang sudah sangat kuyup. Sesekali aku berhenti sessat untuk menelan ludahku.&lt;br /&gt;    Tiba-tiba Donny berteriak dari belakang, "Aku mau keluar nih, Tante. Keluarin di memek atau mau diisep, nih?".&lt;br /&gt;    Ah, betapa nikmatnya bisa meminum air mani anak-anak ini. Mendengar teriakan Donny yang nampak sudah kebelet mau muncratkan spermanya, aku buru-buru lepaskan kontol Idang dari mulutku. Aku bergerak dengan cepat jongkok sambil mengangakan mulutku tepat di ujung kontol Donny yang kini penuh giat tangannya mengocok-ocok kontolnya untuk mendorong agar air maninya cepat keluar.&lt;br /&gt;    Kudengar mulutnya terus meracau, "Minum air maniku, ya, Tante, minum ya, minum, nih, Tante, minum ya, makan spermaku ya, Tante, makan ya, enak nih, Tante, enak nih air maniku, Tante, makan ya..".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Air mani Donny muncrat-muncrat ke wajahku, ke mulutku, ke rambutku. Sebagian lain nampak mengalir di batang dan tangannya. Yang masuk mulutku langsung aku kenyam-kenyam dan kutelan. Yang meleleh di batang dan tanganannya kujilati kemudian kuminum pula. Kemudian dengan jari-jarinya Donny mengorek yang muncrat ke wajahku kemudian disodorkannya ke mulutku yang langsung kulumati jari-jarinya itu. Ternyata saat Idang menyaksikan apa yang dikerjakan Donny dia nggak mampu menahan diri untuk mengocok-ocok juga kontolnya. Dan beberapa saat sesudah kontol Donny menyemprotkan air maninya, menyusul kontol Idang memuntahkan banyak spermanya ke mulutku. Aku menerima semuanya seolah-olah ini hari pesta ulang tahunku. Aku merasakan rasa yang berbeda, sperma Donny serasa madu manisnya, sementara sperma Idang sangat gurih seperti air kelapa muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dasar anak muda, nafsu mereka tak pernah bisa dipuaskan. Belum sempat aku istirahat mereka mengajak aku ke ranjang pengantinku. Mereka nggak mau tahu kalau aku masih mengagungkan ranjang pengantinku yang hanya Oke saja yang boleh ngentot aku di atasnya. Setengahnya mereka menggelandang aku memaksa menuju kamarku. Aku ditelentangkannya ke kasur dengan pantatku berada di pinggiran ranjang. Idang menjemput satu tungkai kakiku yang dia angkatnya hingga nempel ke bahunya. Dia tusukan kontolnya yang tidak surut ngacengnya sesudah sedemikian banyak menyemprotkan sperma untuk menyesaki memekku, kemudian dia pompa kemaluanku dengan cepat kesamping kanan, kiri, ke atas, ke bawah dengan penuh irama. Aku merasakan ujungnya menyentuh dinding rahimku dan aku langsung menggelinjang dahsyat. Pantatku naik turun menjemput tusukan-tusukan kontol legit si Idang. Sementara itu Donny menarik tubuhku agar kepalaku bisa menciumi dan mengisap kontolnya. Kami bertiga kembali mengarungi samudra nikmatnya birahi yang nikmatnya tak terperi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hidungku menikmati banget aroma yang menyebar dari selangkangan Donny. Jilatan lidah dan kuluman bibirku liar melata ke seluruh kemaluan Donny. Kemudian untuk memenuhi kehausanku yang amat sangat, paha Donny kuraih ke atas ranjang sehingga satu kakinya menginjak ke kasur dan membuat posisi pantatnya menduduki wajahku. Dengan mudah tangan Donny meraih dan meremasi susu-susu dan pentilku. Sementara hidungku setengah terbenam ke celah pantatnya dan bibirku tepat di bawah akar pangkal kontolnya yang keras menggembung. Aku menggosok-gosokkan keseluruhan wajahku ke celah bokongnya itu sambil tangan kananku ke atas untuk ngocok kontol Donny. Duh, aku kini tenggelam dalam aroma nikmat yang tak terhingga. Aku menjadi kesetanan menjilati celah pantat Donny. Aroma yang menusuk dari pantatnya semakin membuat aku liar tak terkendali. Sementara di bawah sana Idang yang rupanya melihat bagaimana aku begitu liar menjilati pantat Donny langsung dengan buasnya menggenjot nonokku. Dia memperdengarkan racauan nikmatnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Tante, nonokmu enak, Tante, nonokmu aku entot, Tante, nonokmu aku entot, ya, enak, nggak, heh?, Enak ya, kontolku, enak Tante, kontolku?".&lt;br /&gt;    Aku juga membalas erangan, desahan dan rintihan nikmat yang sangat dahsyat. Dan ada yang rasa yang demikian exciting merambat dari dalam kemaluanku. Aku tahu orgasmeku sedang menuju ke ambang puncak kepuasanku. Gerakkanku semakin menggila, semakin cepat dan keluar dari keteraturan. Kocokkan tanganku pada kontol Donny semakin kencang. Naik-naik pantatku menjemputi kontol Idang semakin cepat, semakin cepat, cepat, cepat, cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dan teriakanku yang rasanya membahana dalam kamar pengantinku tak mampu kutahan, meledak menyertai bobolnya pertahanan kemaluanku. Cairan birahiku tumpah ruah membasah dab membusa mengikuti batang kontol yang masih semakin kencang menusukki nonokku. Dan aku memang tahu bahwa Idang juga hendak melepas spermanya yang kemudian dengan rintihan nikmatnya akhirnya menyusul sedetik sesudah cairan birahiku tertumpah. Kakiku yang sejak tadi telah berada dalam pelukannya disedoti dan gigitinya hingga meninggalkan cupang-cupang kemerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sementara Donny yang sedang menggapai menuju puncak pula, meracau agar aku mempercepat kocokkan kontolnya sambil tangannya keras-keras meremasi buah dadaku hingga aku merasakan pedihnya. Dan saat puncaknya itu akhirnya datang, dia lepaskan genggaman tanganku untuk dia kocok sendiri kontolnya dengan kecepatan tinggi hingga spermanya muncrat semburat tumpah ke tubuhku. Aku yang tetap penasaran, meraih batang yang berkedut-kedut itu untuk kukenyoti, mulutku mengisap-isap cairan maninya hingga akhirnya segalanya reda. Jari-jari tanganku mencoleki sperma yang tercecer di tubuhku untuk aku jilat dan isap guna mengurangi dahaga birahiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sore harinya, walaupun aku belum sempat merasakan getuk kirimannya yang kini berada dalam lemari esku dengan penuh semangat dan terima kasih aku menelepon Yenny.&lt;br /&gt;    "Wah, terima kasih banget atas kirimannya, ya Yen. Karena sudah lama aku tidak merasakannya, huh, nikmat banget rasanya. Ada gurihnya, ada manisnya, ada legitnya", kataku sambil selintas mengingat kenikmatan yang aku raih dari Idanganaknya dan Donny temannya.&lt;br /&gt;    Yenny tertawa senang sambil menjawab, "Nyindir, ya. Memangnya kerajinan tanduk dari Pucang (sebuah desa di utara Magelang yang menjadi pusat kerajinan dari tanduk kerbau) itu serasa getuk kesukaanmu itu. N'tar deh kalau aku pulang lagi, kubawakan sekeranjang getukmu".&lt;br /&gt;    Aku tersedak dan terbatuk-batuk. Mati aku, demikian pikirku. Ternyata bingkisan dalam kulkas itu bukan getuk kesukaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7501232687625531161-7428923274481327106?l=dennythejaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dennythejaya.blogspot.com/feeds/7428923274481327106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7501232687625531161&amp;postID=7428923274481327106' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/7428923274481327106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/7428923274481327106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dennythejaya.blogspot.com/2011/06/gairah-seks.html' title='Gairah seks'/><author><name>denny</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7501232687625531161.post-6539524964152843643</id><published>2011-06-13T12:24:00.000-07:00</published><updated>2011-06-13T12:26:04.974-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seks.suami.teman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Selingkuh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pesta seks'/><title type='text'>Berbagi rasa nikmat</title><content type='html'>Mia, 27 tahun, isteri dari Dicky, 31 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga yang lumayan supel dalam bergaul di lingkungan tempat tinggalnya. Penampilan Mia biasa saja. Mia bersikap selalu apa adanya dan bersahaja. Dicky adalah seorang suami yang cukup baik dan bertanggung jawab kepada keluarga. Apapun kekurangan dalam rumah tangganya, maka Dicky akan selalu berusaha untuk memperolehnya. Bisa dibilang, rumah tangga mereka adalah harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu malam acara 17 Agustusan tahun 2003, Mia dan Dicky beserta warga lingkungan dimana mereka tinggal mengadakan malam hiburan berupa Organ tunggal. Tua muda, laki-laki perempuan, semua ikut bergembira. Semua turun berjoget mengikuti alunan lagu yang dibawakan oleh penyanyi. Mula-mula mereka berjoget dengan pasangan masing-masing. Semua bergembira sambil tertawa bebas mengikuti irama musik..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa lagu, mereka terus berjoget dengan berganti pasangan. Mereka terus bergembira. Mia berjoget dengan seorang bapak, Dicky berjoget dengan seorang anak perempuan remaja.. Begitulah mereka berjoget sampai beberapa lagu dengan berganti pasangan sampai beberapa waktu. Menjelang akhir acara, pada lagu terakhir, Mia berjoget dengan seorang bapak, sedangkan Dicky berjoget dengan Evi, seorang ibu rumah tangga yang tinggal beberapa rumah dari rumah mereka. Evi, sekitar 40 tahun, ibu dari seorang karyawan swasta yang bekerja dengan sistim shift, mempunyai 2 orang anak yang sudah cukup besar.&lt;div class="fullpost"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau sudah berumur tapi penampilan Evi selalu tampak muda karena cara berpakaiannya yang selalu agak seksi dan pandai bermake up. Selintas Mia melirik pada Dicky yang sedang berjoget dengan Evi. Terlihat Dicky sedang tertawa dengan Evi sambil berjoget. Setelah itu kembali Miapun berjoget dan tertawa dengan pasangannya. Menjelang tengah malam acara usai. Semua kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan gembira walaupun capek.. Sesampai di rumah, setelah mandi air hangat, Mia dan Dicky segera ke tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana tadi, sayang?" tanya Dicky sambil memeluk Mia.&lt;br /&gt;"Apanya?" kata Mia sambil menempatkan kepalanya di salah satu tangan Dicky.&lt;br /&gt;"Ya tadi waktu kita di tempat pesta tadi," kata Dicky sambil mengecup bibir mungil Mia.&lt;br /&gt;"Saya benar-benar gembira..." kata Mia sambil tersenyum sambil tangannya mengusap-ngusap dada serta jarinya memainkan puting susu Dicky.&lt;br /&gt;"Harusnya kita sering melakukan acara seperti tadi, jangan cuma setahun sekali..." kata Dicky sambil tangannya masuk ke pakaian tidur Mia. Buah dada Mia diremas dengan mesra.&lt;br /&gt;"Mmhh.. Memangnya kenapa?" kata Mia sambil mencium pipi Dicky lalu mengecup bibirnya.&lt;br /&gt;"Ya kita kan bisa bergembira dengan tetangga yang ada. Jarang sekali kita ngumpul bareng mereka," ujar Dicky sambil membuka seluruh kancing pakaian tidur Mia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dijilatnya puting susu Mia sambil tangannya meremas buah dada Mia yang satu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mmhh..." desah Mia sambil memejamkan matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil tetap menciumi dan menjilati buah dada Mia, tangan Dicky yang tadinya meremas buah dada, turun ke perut lalu disusupkan ke celana dalam Mia. Segera jarinya menyentuh bulu-bulu kemaluan Mia yang tidak terlalu banyak. Mia tetap terpejam sambil sesekali mendesah.. Jari-jari tangan Dicky lalu turun menyusuri belahan belahan memek Mia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ohh..." desah mia keras sambil menggerakkan pinggulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jari Dicky terus menggosok-gosok belahan memek Mia sampai cairan memek Mia keluar banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mmhh..." desah Mia sambil tangannya memegang tangan Dicky yang sedang bermaik di memeknya.&lt;br /&gt;"Enak, sayang," kata Dicky sambil melumat bibir Mia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara jari tengah Dicky masuk ke lubang memek Mia. Tanpa menjawab pertanyaan Dicky, Mia membalas ciuman Dicky dengan hebat sambil menjepitkan pahanya lalu menggoyangkan pinggulnya karena menahan kenikmatan ketika jari tangan Dicky keluar masuk lubang memeknya. Sementara tangan Mia segera menyelusup ke dalam celana piyama Dicky, dan kemudian menggenggam dan meremas kontol Dicky yang sudah tegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buka pakaiannya dong, sayang," kata Mia berbisik ke telinga Dicky. Dicky segera bangkit lalu melepas seluruh pakaiannya. Kontol Dicky terlihat sudah tegak dengan ditumbuhi bulu yang sangat lebat. Melihat itu, Mia segera bangkit dan duduk di tepi ranjang. Digenggamnya kontol Dicky lalu dikocok perlahan. Cairan bening terlihat keluar dari lubang kontol Dicky. Tanpa banyak cakap ujung lidah Mia segera menjilati cairan tersebut sambai habis. Tak lama, mulut Mia sudah mengulum batang kontol Dicky yang lumayan besar. Cpok.. Cpok.. Cpok.. Terdengar suara kuluman mulut Mia pada kontol Dicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ohh.. Enak, sayang.. Ohh..." desah Dicky sambil memegang kepala Mia lalu memompa pelan kontolnya di mulut Mia.&lt;br /&gt;"Gantian, dong..." kata Mia sambil melepas kulumannya lalu menatap mata Dicky. Dicky tersenyum.&lt;br /&gt;"Naiklah ke ranjang..." ujar Dicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miapun segera naik ke atas ranjang lalu telentang dan membuka lebar pahanya. Tak lama, Mia mendesah karena lidah Dicky pintar bermain dan menjilati kelentit dan lubang memek Mia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ohh, sayangg.. Teruss..." desah Mia agak keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi ketika jari Dicky masuk ke lubang memeknya sambil lidahnya tak henti menjileti kelentit Mia. Gerakan pinggul Mia makin keras mengikuti rasa nikmatnya. Tak lama kemudian tangan Mia dengan keras meremas rambut Dicky dan mendesakkan kepalanya ke memek. Lalu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ohh.. Enak, sayangg.. Mmff.. Sshh..." jerit kecil Mia terdengar ketika Mia mencapai puncak kenikmatan.. Orgasme..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicky segera menghentikan jilatannya lalu naik ke atas tubuh istrinya itu. Walau mulut masih basah oleh cairan memek Mia, Dicky langsung melumat bibir Mia. Miapun langsung membalas ciuman Dicky dengan hebat. Sambil tetap berciuman, tangan Mia segera memegang dan membimbing kontol Dicky ke lubang memeknya. Selang beberapa detik kemudian.. Bless.. Bless.. Bless.. Kontol Dicky lansgung keluar masuk memek Mia. Keduanya bermandi peluh sambil sesekali terdengar desahan kenikmatan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memeknya legit, sayang.. Enak..." bisik Dicky. Mia tersenyum sambil menggoyangkan pinggulnya.&lt;br /&gt;"Memang kenapa?" tanya Mia.&lt;br /&gt;"Aku tidak pernah bosan menyetubuhi kamu..." bisik Dicky sambil terus memompa kontolnya. Mia tersenyum.&lt;br /&gt;"Kalau wanita lain rasanya bagaimana," tanya Mia lagi.&lt;br /&gt;"Aku tidak pernah bersetubuh dengan wanita lain, kok..." kata Dicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mia tersenyum lalu merangkulkan kedua tangannya ke pundak Dicky sambil tetap menggoyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan kontol Dicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya mau tanya, sayang..." kata Mia.&lt;br /&gt;"Apa?" kata Dicky.&lt;br /&gt;"Tubuh Mbak Evi, tetangga kita itu, bagus tidak..?" tanya Mia.&lt;br /&gt;"Ah kamu pertanyaannya ada-ada saja..." kata Dicky tak menghiraukan.&lt;br /&gt;"Saya serius, sayang.. Jawab jujurlah. Tidak apa-apa kok..." kata Mia.&lt;br /&gt;"Tadi lihat belahan buah dadanya tidak?" tanya Mia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicky mengangguk. Mia tersenyum sambil terus menggoyangkan pinggulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jujur.. Iya, tubuh dia bagus. Dan tadi aku sempat lihat belahan buah dadanya. Marah?" kata Dicky sambil mengentikan gerakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mia tersenyum sambil terus menggoyang pinggulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan berhenti dong, sayang.. Terus setubuhi saya.. Mmhh..." kata Mia.&lt;br /&gt;"Saya tidak marah kok. Justru saya suka mendengarnya..." kata Mia.&lt;br /&gt;"Kenapa?" tanya Dicky heran.&lt;br /&gt;"Tadi waktu saya lihat kamu berjoget dengan Mbak Evi, tidak tahu kenapa ada perasaan aneh..." kata Mia.&lt;br /&gt;"Tadi tiba-tiba saya membayangkan kamu bermesraan dengan Mbak Evi..." lanjut Mia lagi.&lt;br /&gt;"Kenapa begitu?" tanya Dicky.&lt;br /&gt;"Saya tidak tahu..." kata Mia.&lt;br /&gt;"Kamu cemburu?" tanya Dicky.&lt;br /&gt;"Tidak sama sekali. Justru sebaliknya, saya sangat ingin melihat kamu bermesraan dengan Mbak Evi..." kata Mia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicky tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu lagi horny kali ya, tadi..." kata Dicky tanpa menghentikan gerakan kontolnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mia kembali tersenyum. Setelah beberapa lama memompa kontolnya, Dicky mengejang, gerakannya bertambah cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mau keluar, sayang.. Ohh..." bisik Dicky.&lt;br /&gt;"Tahan dulu sebentar, sayang.. Saya juga mau keluar.. Mmhh..." bisik Mia sambil mempercepat gerakan pinggulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama tubuhnya mengejang, tangannya kuat memeluk tubuh Dicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau keluar, sayangghh..." jerit Mia.&lt;br /&gt;"Ohh.. Nikmat, sayang.. Ohh..." jerit kecil Mia ketika mencapai orgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa detik, Dicky juga semakin mempercepat gerakannya. Sampai akhirnya.. Crott.. Crott.. Crott.. Air mani Dicky menyembur di dalam memek Mia. Dicky mendesakkan kontolnya dalam-dalam ke memek Mia.. Tubuh keduanya lemas saling berpelukan sementara kontol Dicky masuk berada di dalam memek Mia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau tidak kalau saya minta kamu maen dengan Mbak Evi.. Saya serius," kata Mia sambil memeluk pundak Dicky.&lt;br /&gt;"Kenapa sih kamu mau yang aneh-aneh begitu?" tanya Dicky.&lt;br /&gt;"Saya tidak tahu jawabnya, sayang.. Yang jelas ada perasaan horny ketika membayangkan kamu bermesraan dengan Mbak Evi..." kata Mia.&lt;br /&gt;"Mau kan, sayang?" tanya Mia memaksa.&lt;br /&gt;"Kalau aku mau, bagaimana caranya, sayang..." kata Dicky sambil mengecup bibir istrinya.&lt;br /&gt;"Nanti aku yang mengatur..." kata Mia sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicky juga tersenyum sambil mencabut kontolnya dari memek Mia, lalu bangkit dan berpakaian. Merekapun tidur kemudian.. Banyak cara yang dilakukan Mia agar Evi bisa dekat dengan dan akrab dengan dia dan Dicky. Dan hal itu membuahkan hasil. Evi sekarang mulai sering bertandang ke rumah mereka walaupun hanya untuk sekedar ngobrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu malam Mia mengundang Evi datang ke rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas Wiryo sudah pergi kerja kan, Mbak?" tanya Mia.&lt;br /&gt;"Sudah dari tadi dong.. Dia dapat bagian shift malam," ujar Evi.&lt;br /&gt;"Eh ada apa undang saya ini malam?" tanya Evi.&lt;br /&gt;"Tidak ada apa-apa kok, Mbak..." kata Mia.&lt;br /&gt;"Kami hanya ingin ajak Mbak nonton VCD baru yang dibeli Mas Dicky," kata Mia sambil melirik kepada Dicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicky membalas dengan senyuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"VCD begituan ya?" tanya Evi bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mia tersenyum sambil melirik Dicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cepatlah putar!" ujar Evi tidak sabar. Dicky bangkit dari tempat duduknya lalu menuju ke VCD player.&lt;br /&gt;"Mbak Evi suka film jenis apa?" tanya Dicky sambil menyodorkan beberapa keping VCD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memilih, Evi segera menyerahkan film yang ingin dilihatnya. Dicky segera memutarnya. Mereka bertiga menonton film BF tanpa banyak bicara. Mereka duduk bertiga di karpet. Mia duduk berdampingan dengan Evi, sementara Dicky duduk dibelakang mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Udah ada yang bangun, ya..?" kata Mia tersenyum sambil melirik ke arah Dicky.&lt;br /&gt;"Lumayan..." kata Dicky.&lt;br /&gt;"Lumayan apa?" tanya Evi sambil matanya sedikit melirik ke arah selangkangan Dicky yang mulai agak menggembung. Dicky tersenyum sambil menutupi kakinya dengan bantal.&lt;br /&gt;"Mbak Evi seberapa sering begituan dengan Mas Wiryo?" tanya Mia.&lt;br /&gt;"Ah, jarang sekali.. Mungkin karena dia capek," kata Evi sambil matanya terus melihat adegan seronok di video.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali mereka terdiam selama beberapa saat sambil melihat video.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sini dong..!" kata Mia kepada Dicky sambil matanya berkedip memberi isyarat. Dicky beringsut mendekati Mia.&lt;br /&gt;"Ada apa sih..?" tanya Dicky.&lt;br /&gt;"Duduk dekat sini dong..." kata Mia dengan suara manja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sengaja tangan Mia segera masuk ke dalam Celana Hawaii Dicky. Lalu digenggamnya kontol Dicky yang sudah tegang dan diremasnya pelan. Evi yang melihat hal itu, perasaannya menjadi tak karuan.. Antara rasa malu dan rasa ingin melihat bercamput baur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Udah pengen ya?" kata Mia kepada Dicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaranya sengaja agak keras. Dicky tersenyum sambil matanya melirik ker arah Evi. Evi yang semakin tidak menentu perasaannya, kebetulan melirik ke arah Dicky. Pandangan mereka beradu selama beberapa detik. Evi lalu membuang pandangannya ke arah video. Hatinya berdebar ketika berpandangan dengan Dicky.. Mia melirik ke arah Dicky sambil tersenyum. Lalu dengan tanpa ragu-ragu, Mia menurunkan celana Dicky hingga kontolnya yang besar tampak tegak terlihat. Lalu dikocoknya pelan.. Dicky tetap diam sambil matanya melirik ke arah Evi yang jelas kelihatan gelisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbak suka tidak pada barang lelaki yang berbulu banyak?" tanya Mia sambil menatap Evi.&lt;br /&gt;"Mm.. Eh.. Iya.. Iya.. Saya suka..." kata Evi tergagap menatap Mia sambil matanya sekilas melirik ke tangan Mia yang sedang meremas kontol Dicky.&lt;br /&gt;"Kalau kayak gini suka tidak, Mbak?" tanya Mia sambil matanya mengisyaratkan agar Evi melihat ke kontol Dicky.&lt;br /&gt;"Ah, kamu ini..." kata Evi sambil matanya melihat kontol Dicky beberapa saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mia tersenyum. Tangannya meraih tangan Evi, lalu ditariknya ke arah kontol Dicky. Evi menuruti kemauan Mia walau hatinya merasa serba salah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Coba pegang, Mbak..." kata Mia sambil tangannya membimbing jari-jari Evi untuk menggenggam kontol Dicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontol Dicky terasa hangat dan berdenyut di tangan Evi. Nafas Evi memburu. Ada desiran tertentu yang menuntun tangannya bergerak meremas pelan kontol Dicky. Dicky tersenyum sambil melirik ke arah Mia. Mia juga tersenyum sambil mundur agak menjauh. Dicky tanpa diduga tangannya meraih dagu Evi, lalu dengan segera mengecup bibirnya, lalu dilumatnya dengan hangat. Evi yang sudah terangsang gairahnya langsung membalas ciuman Dicky dengan hangat pula sambil tangannya mulai berani mengocok kontol Dicky. Tangan Dickypun dengan segera menyusup ke balik daster Evi. Ditelusuri paha Evi. Elusan tangannya segera naik ke pangkal paha, lalu jarinya diselipkan ke celana dalam Evi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mmhh..." desah Evi sambil menggelinjang ketika jari tangan Dicky menyusuri belahan memeknya yang sudah sangat basah.&lt;br /&gt;"Ohh.. Mmhh..." desah Evi tambah keras ketika jari Dicky keluar masuk lubang memknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinggulnya sedikit digoyang karena nikmat. Sementara Mia sengaja menjauhkan diri dari mereka. Mia mendapat suatu rangsangan yang amat sangat ketika melihat suaminya bercinta dengan wanita yang Mia sukai. Mia tidak melakukan apapun hanya diam sambil melihat mereka bermesraan. Hanya nafas Mia yang mulai cepat yang terdengar.. Ketika tangan Dicky mulai mencoba melepas pakaian Evi, Evi agak tersentak sesaat. Dengan segera matanya menatap Mia. Tapi ketika dilihatnya Mia tersenyum sambil matanya mengisyaratkan agar Evi melanjutkan bercinta lagi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evi sesaat terdiam. Tapi ketika tangan Dicky merangkul dari belakang dan tangannya meremas buah dada Evi, Evi terpejam dan memegang tangan Dicky yang sedang meremas buah dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ohh..." desah Evi seiring dengan jilatan dan pagutan Dicky di lehernya sambil tak lepas tangannya meremas buah dada Evi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama Dicky segera melepas daster Evi. Evi tampak agak canggung ketika Dicky melepas BH dan celana dalamnya dari belakang. Dickypun melepas seluruh pakaiannya. Segera setelah itu Dicky menindih tubuh telanjang Evi. Jilatan lidah dan remasan tangan Dicky pada buah dada Evi membuat Evi menggelinjang merasakan nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ohh.. Oohh..." desah Evi ketika jilatan lidah Dicky turun ke perut lalu turun lagi menyusuri selangkangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinggulnya bergoyang mengikuti desiran rasa nikmat.. Mia tetap diam menyaksikan tubuh telanjang suaminya yang bergumul mesra dengan Evi. Nafasnya makin memburu waktu melihat kontol Dicky dihisap sambil dikocok oleh Evi. Tanpa terasa tangannya menyelusup ke dalam celana dalamnya. Lalu jarinya mulai menggosok-gosok belahan memeknya sendiri. Entah mengapa Mia sangat menikmati ketika Dicky memompa kontolnya ke dalam mulut Evi. Nafas Mia semakin memburu, juga satu jarinya semakin cepat keluar masuk memeknya sendiri ketika melihat Dicky mulai menyetubuhi Evi. Desahan dan erangan mereka membuat gairah Mia bertambah naik..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ohh.. Sshh..." desah Evi ketika Dicky dengan perkasa mengeluar masukkan kontol di memeknya.&lt;br /&gt;"Gimana rasanya, Mbak?" tanya Dicky sambil mengecup bibir Evi.&lt;br /&gt;"Ohh sangat enakk.. Mmhh..." kata Evi sambil merangkul pundak Dicky, sementara pinggulnya bergoyang mengikuti gerakan Dicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sudah berapa lama mereka bersetubuh disaksikan Mia, sampai akhirnya Evi memeluk tubuh Dicky kuat-kuat. Memeknya didesakan ke kontol dicky dalam-dalam. Gerakan pinggulnya makin cepat. Lalu tiba-tiba tubuhnya bergetar sambil mendesah panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh.. Oohh..." desah Evi terkulai lemas setelah mendapat orgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Dicky masih terus menggenjot kontolnya di memek Evi yang sudah lemas. Gerakannya makin cepat ketika Dicky merasakan ada sesuatu yang mendesak nikmat di kontolnya. Tak lama segera dicabut kontolnya dari memek Evi, lalu digesek-gesekannya pada belahan memek Evi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya.. Crott! Crott! Crott! Air mani Dicky tumpah banyak di atas bulu-bulu memek Evi. Tubuh Dicky lalu lemas terkulai di atas tubuh telanjang Evi. Mia yang melihat hal itu segera menghampiri mereka. Diusapnya pantay Dicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih kuat tidak, sayang..?" bisik Mia ke telinga Dicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicky segera mencabut kontolnya dari memek Evi lalu bangkit. Evi juga demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa sayang?" tanya Dicky sambil mengecup bibir Mia.&lt;br /&gt;"Saya pengen..." kata Mia sambil memegang kontol Dicky yang lemas dan masih basah.&lt;br /&gt;"Aku masih lemas, sayang..." kata Dicky.&lt;br /&gt;"Sebentar lagi saya minta jatah ya, sayang..." kata Mia sambil mencium bibir Dicky.&lt;br /&gt;"Gimana, Mbak?" tanya Mia kepada Evi sambil tersenyum. Evi tersenyum sambil berpakaian.&lt;br /&gt;"Aku bisa ketagihan, loh..." kata Evi.&lt;br /&gt;"Kapan saja Mbak perlu, datang saja kesini..." kata Mia tersenyum pula.&lt;br /&gt;"Aku pulang dulu ya," kata Evi sambil memeluk Mia erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mia menggangguk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pengakuan Mia, sudah beberapa puluh kali Evi bersetubuh dengan suaminya di depan mata. Mia bukan biseks. Mia hanya merasa mendapat suatu gairah dan rangsangan yang sangat kuat ketika melihat suaminya menyetubuhi wanita lain yang disukai Mia sendiri. Dan menurut Mia juga, sampai detik ini mereka tidak pernah main bertiga. Hal ini yang membuat suasana hidup Mia menjadi berwarna cerah.. Demikian.&lt;br /&gt;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7501232687625531161-6539524964152843643?l=dennythejaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dennythejaya.blogspot.com/feeds/6539524964152843643/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7501232687625531161&amp;postID=6539524964152843643' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/6539524964152843643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/6539524964152843643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dennythejaya.blogspot.com/2011/06/berbagi-rasa-nikmat.html' title='Berbagi rasa nikmat'/><author><name>denny</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7501232687625531161.post-4345478250053340843</id><published>2011-06-13T12:19:00.000-07:00</published><updated>2011-06-13T12:22:37.628-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Selingkuh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pesta seks'/><title type='text'>Seks di kantor</title><content type='html'>Tahun 1997 ada sebuah kenangan indah di daerah wisata Kopeng masuk wilayah Kabupaten Salatiga di Jawa Tengah dan waktu itu aku masih bekerja di salah satu perusahaan jasa pelayaran di Semarang. Pak Bram, sebut saja begitu adalah pimpinan tempatku bekerja, dan beliau saat itu berusia kurang lebih 48 tahunan namun potensi seksualnya masih hebat. Aku sendiri menempati posisi deputy dari Pak Bram dan semua sepak terjangnya sudah ada pada tanganku semua dan aku tetap menjaga kepercayaannya padaku. Itulah kenapa sekretarisnya selalu berganti-ganti dan selalu muda dan cantik-cantik padahal menurutku perusahaan yang tidak begitu besar itupun belum membutuhkan seorang sekretaris. Hanya saja saat jam istirahat dan menjelang kepulangan Pak Bram, si sekretaris tadi disibukkan dengan acara office party.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah jam-jam sibuknya Pak Bram itu, kami seluruh kantor tidak berani mengganggu acaranya yang membutuhkan waktu, biasanya rata rata 45 menit sampai 1 jam. Dan entah apa yang mereka lakukan berdua dengan sekretarisnya selama itu, namun yang jelas setiap kali office party itu berakhir, Pak Bram kelihatan lebih fresh dan sebaliknya sekretarisnya nampak sedikit kusut dan menampakkan ekspresi kurang puas. Seluruh telepon yang minta sambung ke Pak Bram pasti tidak akan disambungkan dengan alasan keluar kantor atau lunch.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari datanglah seorang agen asuransi seorang wanita untuk menawarkan jasa ke kantor kami, dan saat itulah Pak Bram melihat wanita itu dan diminta masuk ke ruangannya."Saya Sofi," wanita itu memperkenalkan dirinya."Bram," seraya mengulurkan tangannya."Saya Prasetyo," sahutku memperkenalkan diriku.Singkatnya Pak Bram nampaknya tertarik dengan jasa asuransi itu dan mengikut sertakan seluruh karyawan perusahaan tempat kami bekerja. Dan saat itu juga Pak Bram menandatangani perjanjian dengan perusahaan asuransi dari Mbak Sofi."Every thing is OK, jika ada apa-apa hubungi saja Pak Pras, yach," kata Pak Bram mengakhiri perjanjian kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akui memang wanita itu pandai dan menarik sekali cara perkenalannya atau kami sudah terlena oleh kemolekan tubuh wanita ini. Seminggu kemudian Mbak Sofi mengantar polis-polis ke perusahaan kami dan kebetulan Pak Bram sedang dinas ke Jakarta dan kali ini aku yang harus menemui."Maaf Pak Bram lagi ke Jakarta, silakan duduk! mau minum apa?" kataku menyambut mereka di ruanganku."Apa saja dech yang segar," sahut Sofi."Oh iya, Pak Pras, kenalkan ini asisten saya, namanya Yeni," kata Sofi memperkenalkan rekan kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara serah terima polis berlangsung begitu cepat dan sejenak kami hening dan terdiam tiba-tiba, suasana terlihat kaku."Wow, selera Mas Pras boleh juga," kata Sofi tiba-tiba."Em, emangnya kenapa Mbak?" tanyaku semakin akrab saja."Tuh.." kata Sofi sambil menunjuk ke arah kalender meja yang bergambar cewek bule polos dengan pose mengundah nafsu yang melihatnya."Yach maklumlah aku khan laki-laki Mbak, nanti kalo gambarnya cowok wah.., lha bisa berabe," sahutku sekenanya."Begini Pak Pras, selain menyampaikan polis kami ke sini juga ingin memberikan bonus untuk perusahaan ini karena omzetnya besar sekali," kata Sofi di sela-sela gurauan kami."Baik nanti saya sampaikan ke Pak Bram, terus.." pembicaraanku di sela oleh Sofi."Begini Pak Pras nanti kita bicarakan di dinner party, kita akan kasih tau tempatnya," kata Sofi sambil menatap tajam ke arahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok adalah hari Sabtu, biasanya kantor kami masuk setengah hari, dan siang nanti aku harus jemput Boss yang datang bersama sekretarisnya. Dalam perjalanan HP-ku berdering dan nampaknya dari Sofi."Prasetyo di sini," jawabku."Mas Pras, entar malem bisa khan? tempatnya rahasia, nanti sore kita jemput di kantor," kata Sofi."Apaan sich pakai rahasia segala," tanyaku yang membuat Pak Bram penasaran."Sebentar Fi, aku lagi bersama Pak Bram dan Mbak Niken," jawabku."Pak Bram, ini dari Sofi mengajak makan malem entar malem, dan mereka akan membicarakan soal bonus, akan tapi dia merahasiakan tempatnya," aku menyampaikan pesan Sofi semua ke Pak Bram."Mas, aku ikutan yach," rengek Niken manja."Hem emhh.." sahut Boss tuaku."OK, Mbak Sofi nanti sekalian Mbak Niken juga ikutan," aku menyambung pembicaraan ke Sofi.Sofi terdiam sejenak lalu, "Its OK, Yeni juga kau ajak kok, pokoknya siiplah, bye," Sofi menutup pembicaraan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berbalik arah atas perintah Pak Bram untuk menuju kantor karena sebentar lagi sore dari pada ke rumah Pak Bram nanti urusan sama istrinya bisa berabe. Kantor sudah lengang karena sudah pada pulang sejak pukul 13.00 tadi dan tinggal kami bertiga serta satpam penjaga kantor.Begitu sampai di kantor Bram dan Niken rupanya tidak dapat menahan gejolak birahinya dan dengan terburu-buru masuk ke ruangan Bram namun pintu masih terbuka sedikit. Akhirnya aku tahu apa yang dilakukan Bram dengan sekretaris-sekretarisnya dahulu, juga dengan Niken dengan mata kepalaku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desahan nikmat Bram semakin keras dari ruanganku yang kebetulan bersebelahan, demikian pula desah Niken. "Niken, aahhmm.. mmpphh.. hisepph.. aaghh.." desah Bram membuat birahiku perlahan bangkit dan menjalar ke selangkanganku untuk mengacungkan diri. "Braamm.. gellii," desah Niken kemudian. Namun yang aku dengar hanya desah dan dengusan nafas Bram yang tenggelam dalam birahinya, dan kemana desah manja Niken? tanyaku dalam hati. Beberapa saat kemudian, "Nikenhh.. ahhgghh..kku..kell.." kata Bram terbata-bata menahan laju spermanya. "Aaaghh.." teriak Bram keras menyemburkan spermanya diiringi suara gaduh dari ruangannya, sepertinya benturan kursi dengan meja. "Emmpphh.." Niken mendesah lirih. Sebentar kemudian terdengar orang mengguyurkan shower, pasti si Niken lagi bersih-bersih, tebakku. Lalu ruangan itu kembali hening, hanya obrolan-obrolan pelan dari ruangan itu, kadang aku dengar suara tertawa kecil dari Niken.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pras, sini lho jangan bengong di situ," suara Bram keras memanggilku saat aku mulai menjelajah internet di PC-ku."Sebentar Boss," sahutku dan dengan sengaja aku buat lama agar mereka sempat merapikan pakaian masing-masing.Lebih kurang tiga menit berlalu aku baru berani mengetuk pintu Boss yang terbuka sedikit namun aku masih ragu-ragu."Masuk Pras, kemarilah kita berpesta," kata Bram datar.Alangkah terkejutnya aku ketika masuk ke ruangan itu melihat Niken tergolek bugil di meja Bram, sementara Bram masih menghisap puting Niken, dan jari tengahnya bekerja di vagina Niken yang terlihat basah oleh sperma Bram. Sperma Bram nampaknya cukup banyak sampai meleleh di meja di sela-sela bongkahan pantat Niken yang padat kenyal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mmm.. maaf Pak," kataku tergagap, namun aku melihat Niken tidak bereaksi dan masih merem melek oleh permainan jari Bram di vaginannya. "Pras, ayo bantu aku puasin Niken, aku udah lumayan capek Pras," kata Bram datar dan tidak aku perkirakan sebelumnya. Melihat pemandangan sedap itu penisku tegang seketika dan berereksi maksimal dan membayangkan bagaimana kalau vagina sempit itu aku jejali dengan penisku sepanjang 16,5 cm dengan diameter 4 cm. "Jangan bengong, tunggu apa lagi!" teriak Bram. Aku menghampiri mereka berdua dan sedikit takut juga pada Bram meski sebelumnya aku pernah threesome waktu kuliah dulu dengan teman-temanku. Akan tetapi yang aku hadapi ini situasinya lain, karena dia adalah Boss-ku dan sekretarisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niken menatapku penuh harap dan dari mimiknya aku tahu dia sangat mengharapkan permainan seksnya, tidak ada pada satu pihak dan kesimpulanku Niken belum menggapai orgasmenya. Aku menghampiri Niken dari sisi meja lainnya kemudian aku kecup mesra sekali bibirnya sambil kubelai lembut rambutnya. Kami bercumbu lama sekali dan di sela-selanya kadang Niken mendesah oleh permainan jari Bram, rasanya tidak menarik lagi baginya. "Emmhh.. Prasshh.." desah Niken yang tampak semakin gelisah menggapai orgasmenya yang gagal bersama Bram. Aku maklum, memang seusia Bram itu nafsu kuda tenaga ayam karena usia. Tangan Niken mulai menggapai zipper lantas dengan cepat Niken mengeluarkan isi celanaku yaitu batang pejal yang hangat. "Prasshh.. aakhh.." Niken menggapai-gapai kepalaku untuk segera menghisap putingnya, sementara tangan kirinya mengocok dengan lembut penis kesayanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pras.. ayoo!" rengek Niken, namun aku melirik ke arah Boss-ku yang tampak seperti anak kecil di tetek ibunya. Tampak olehku penis Bram lucu bentuknya, kecil sekali, pantas saja Niken masih terangsang. Bram memberiku isyarat agar aku segera melakukan permintaan Niken, lalu aku pelorotkan sedikit celanaku. Aku kemudian berjalan ke sisi lain meja dan mengatur posisi untuk segera melakukan penetrasi ke vagina Niken.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aoohh mmpphh.. aaghh.." Niken menggumam ketika setengah penisku dengan mudah membongkar rongga rahimnya yang licin oleh sisa sperma Bram. "Ahhggh sshh..aaghkk.." Niken tampak meringis ketika aku membenamkan seluruh batang penisku ke vaginanya dan terasa olehku ujung penisku mendesak rahim atasnya. Aku diamkan sesaat lamanya penisku tenggelam dalam rahimnya dan menikmati kehangatan yang terpancar dari genital kami masing-masing. Kemudian aku kocok penisku perlahan dan lembut agar kehangatan dan kasarnya lebih terasa bergesek dengan bibir vaginannya. Niken tampaknya suka dengan apa yang kulakukan, terlebih saat Bram mulai memainkan bukit indah di dadanya dimana putingnya masih nature dan kenyal. "Aaahgghh.. sshh.. sshh.. aagghh.." Niken mulai menggelinjang lembut menyambut apa yang ia harapkan. "Prassh.. aagghh.. kuu.. agghh.. aakkhh.." sampai juga Niken pada momen yang diharapkannya. Akan tetapi Niken masih menguasai orgasmenya, sehingga ia tidak larut dalam kenikmatan pertamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memberinya waktu untuk beristirahat, dan ketika aku hendak mengambilkan air mineral, buru-buru Bram mencegahnya dan ia memberiku isyarat agar tetap di dekat Niken, kali ini Bram yang melayani kami. Setelah itu ia ke bathtub dan berendam air hangat di sana. Aku mengambil tissue di meja Bram dan aku sapukan lembut di bibir vagina Niken yang basah oleh cairannya sendiri dan sisa-sisa terakhir sperma Bram. Aku jongkok di sisi meja, lalu aku buka lebar-lebar kedua kaki Niken, nampaklah kini bongkahan daging kemerahan yang rambutnya tercukur habis lagi bersih. Kutempelkan bibirku di bibir vaginanya untuk melakukan oral seks, dan ketika aku buka bibir vaginanya dengan telunjuk dan jari tengahku terciumlah bau harum yang khas dari Niken. Aku menjilat dari pangkal anus Niken sampai sisi vagina bagian depan begitu berulang-ulang dan aku sela dengan gelitik ujung lidahku di mulut vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooogghhk.. aagghhmm.. punnhh.. aahh.. Prasstth.. aaghh.." Niken melonjak-lonjak, pinggulnya goyang kiri-kanan di atas meja berlapis kaca. Bokong Niken leluasa bergerak karena sperma Bram dan mani Niken sendiri bercampur meleleh di permukaan kaca meja tersebut. Setelah agak lama oral seks terhadap Niken aku lalu berdiri dan melepas semua pakaianku yang sedari tadi belum sempat terlepas. Niken membuka lebar-lebar kedua pahanya dan memegangi kedua tungkainya, matanya terpejam menyambut sensasi yang segera ia rasakan. Kedua bibirnya yang seksi itu ia buka memancing birahiku untuk segera menyetubuhinya. Aku remas sendiri penisku dan semakin mengeras dan panjang saja di hadapan Niken, kemudian perlahan aku tempelkan di mulut vagina Niken. Tepat saat Niken menyibakkan rambutnya aku hujamkan pelan memasuki rongga rahimnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Prasshh.. aaookkh mmphh.. mmpff.." gumam Niken."Mmmpphh.. puaskan aku yach sayang.." rengek Niken manja."Slerphh.." 16,5 cm penisku kembali menjejali rahim Niken.Aku membiarkannya diam terbenam di rahim Niken sambil memainkan otot-otot penisku untuk memberi rasa geli pada Niken."Prasshh.. ooaakhh.. aakhh.. mmpphh.. nikmat sekali, pintar kamu Pras.." puji Niken."Mau yang lebih nikmat say..?" tanyaku."Mpphh.." Niken hanya memejamkan matanya menyambut apa yang akan aku lakukan atas vaginanya.Pelan namun pasti aku mulai mengocok lagi lubang rahimnya yang masih perat dan sempit itu."Aaaghh.. aaghh.. sshh mmffh.. terusshh.. aanngghh.." ceracau Niken.Aku sedikit menarik dadaku agar tubuhku tegap berdiri dengan begitu kepala penisku akan dengan mudah menyentuh G-spot-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaakkhh.. yacchh.. yaahh.. mmpphh.. aangghh yaahh," Niken semakin tenggelam dalam irama birahinya. Ia meremas sendiri kedua payudaranya dan kadang putingnya ia tarik sambil dipilin-dilepas lagi dan diulangi lagi berulang sehingga ia sendiri semakin tenggelam dalam ritme yang mengasyikkan ini. "Aaaghkku.. agh ahhk.. aahh.. aahh.. aamphh.." Niken melepas kedua tangannya dari dadanya dan berpegangan erat pada kedua sisi meja. Kepalanya oleng seperti orang kesurupan lalu dadanya ia busungkan, pinggulnya bergelinjang penuh dengan gairah birahi yang mendalam. Kami semakin jauh tenggelam dalam irama permainan ini dan tak menghiraukan lagi Bram yang dengan santainya menyaksikan permainan panas kami. Namun ketika Niken mulai tak dapat menguasai dirinya tampaknya Bram horny juga karena aku melihat tangan kanannya terlihat mengocok penisnya sendiri dan yang kiri memegang segelas Sampanye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nikeenn.. aak.. aahh.." aku tak sanggup menahan laju spermaku dan bersamaan itu pula. "Prasshh.. aakh.. aaghh.." Niken menjerit dan memegang erat kedua sisi meja, pinggulnya ia hentakkan kencang-kencang dan dikombinasikan dengan goyangannya. Apa yang Niken lakukan membuatku semakin tak tahan, dan sedetik kemudian aku memancarkan maniku banyak sekali. "Aaagghh.." desahku keras. Rupanya denyutan penisku saat maniku memancar menyebabkan Niken kegelian dan buru-buru ia bangun lalu mendekapku erat-erat. Kami berdekapan mesra sampai tetes maniku terakhir aku rasakan. Sekejap aku melihat wajah Bram terlihat tegang dan kedua giginya terkatup rapat, sementara tangan kanannya terlihat semakin cepat mengocok penisnya dan tiga detik kemudian ia terlihat puas melempar senyum ke kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hem.. udah puas Nik?" suara Bram itu mengagetkan kami.Niken menoleh ke arah Bram di bathtub lalu menganggukkan kepalanya, lalu kami french kiss lama bak sepasang kekasih."Terima kasih Pras, entar malem pasti lebih hot," bisik Niken."Ha.." aku terkejut."Udah ach entar tau sendiri," bisik Niken."Hayoo.. rencana busuk apa itu kok bisik-bisik?" tanya Bram berkelakar.Niken tersenyum kecut lalu menyusul Bram ke bathtub. Setelah merapikan pakaianku, aku kembali ke ruanganku lalu mandi dan aku teridur di kursi kerjaku. Singkat dan tak kuduga sebelumnya percintaanku dengan Niken namun masih terasa gigitannya itulah kesimpulanku saat bercinta dengan Niken di ruang Bram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa sudah jam lima sore saat aku terjaga namun kulihat ruangan Bram tertutup rapat, khawatir janji dengan Sofi molor maka pintu aku ketuk pelan dan kudengar suara Niken mempersilakan aku masuk."Masuk Pras!" suara Niken mempersilakan aku masuk."Mana Pak Bram?" tanyaku saat melihat Niken."Sedang keluar," kata Niken setengah mendesah."Kenapa..?" aku membalasnya dengan setengah berbisik di belakang telinga Niken."Masih terasa mengganjal di sini Mas.." Niken menunjuk ke selangkangannya yang ia buka melebar."Punya Mas besar dan panjang sich dan pokoknya mmpphh.." imbuh Niken seraya mengusap-usap vaginanya sendiri dan membuat gerakan bak disetubuhi."Akh udah ah, entar ketahuan Bram lho," kataku sambil membimbing Niken berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kami bersiap menyambut Sofi dan Bram yang akan menjemput kami petang ini. Kami duduk di lantai atas kantor kami sambil minum ginseng yang dibelikan oleh security kami. Tampak di luar masih terlihat kesibukan pelabuhan yang tak pernah akan berhenti, kami pun terlibat obrolan santai. Akhirnya aku tahu bahwa Niken menolak kalau dituduh simpanan Bram dan yang ia lakukan hanyalah demi uang dan karir. Ia mau berbuat begitu karena dikhianati oleh pacar yang amat disayanginya yang tega menghamili gadis lain. Dari Niken juga aku tahu bahwa Bram itu orangnya "Edi Tansil" alias Ejakulasi Dini Tanpa Hasil. "Baru diisep dua kali aja sudah ngecritt.. alias maninya muncrat," kata Niken pada suatu kesempatan. Kasihan benar kamu Niken, bisikku dalam hati. Lalu aku menarik nafas dalam-dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh iya Niken, apa maksud kamu tadi itu?" selidikku."Yang mana?" tanya Niken lupa.&lt;br /&gt;"Itu lho, katanya nanti malem akan lebih hot!" sahutku.Niken termenung sesaat."Sebetulnya ini rahasia dari Bram, cuma karena tadi aku sangat puas dengan permainan Mas Pras akhirnya aku kelepasan ngomong," jelas Niken."Begini Mas Pras, sebetulnya Bram sudah tahu kalau Sofi akan memberikan bonus dalam rangka aplikasi asuransi kemarin," imbuh Niken."Terus.." tanyaku penasaran.Niken sepertinya keberatan, lantas terdiam lalu berdiri dan meghisap dalam-dalam filter kesukaannya. Matanya menerawang jauh ke laut lepas seolah ingin menumpahkan semua beban hidupnya di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nik..! kamu baik-baik saja kan?" aku bertanya pada Niken dan menghampirinya lalu kudekap Niken di samping kiriku."Nggak! nggak apa-apa kok Mas," tukas Niken membalikkan badannya menghadapku."Tapi wajah kamu kok keruh begitu..?" aku mencoba agar dia mau curhat padaku."Mas Pras! tapi ini sangat rahasia, jadi tolong simpan untuk Mas Pras saja," pinta Niken.Aku tidak berkata sepatah katapun karena aku rasa Niken sudah percaya kepadaku."Begini Mas..!" Niken mulai curhatnya kepadaku panjang lebar yang intinya sikap Bram yang mulai terlihat mencampakkan Niken seperti baru saja terjadi antara aku, Niken dan Bram dimana Bram mengijinkan Niken aku setubuhi.&lt;br /&gt;"Habis manis sepah dibuang," kata Niken penuh kekesalan."Niken! dunia ini tidak hanya milik Bram atau milik kamu ataupun milik aku saja, tetapi dunia ini luas," hiburku.Secara jujur aku akui bahwa akhir-akhir ini aku juga merasa kesal dengan Bram yang semakin otoriter saja dan ini bertentangan dengan pribadiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebenarnya aku sudah punya perusahaan sendiri yang aku percayakan pada salah seorang sahabatku. Sekarang masih tahap trial running dan membutuhkan accounting officer, kebetulan Niken kan background-nya accounting punya dan kala Niken bersedia Niken boleh berkarir di sana," kucoba memberi Niken alternatif yang baik.&lt;br /&gt;"Tapi.." Niken tampaknya ragu namun segera aku yakinkan."Nik! apakah aku seperi Bram dan.. emhh, entah apa yang terjadi tadi tiba-tiba aku tak sanggup menolaknya?" kutatap matanya dalam-dalam untuk meyakinkannya, lalu aku yakinkan lagi dengan sebuah kecupan mesra di dahinya."Aku tahu dan maklum kepada Mas Pras sebagai lelaki muda dan.." Niken berhenti bicara sejenak seperti berpikir sesuatu."Dan jantan.." tukas Niken dengan senyum manisnya yang merebak membuat wajahnya kembali bersinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niken menghisap dalam-dalam kretek filternya mild-nya, lalu mencampakkan puntungnya ke vas bunga dekat jendela."Mas, acara nanti malam adalah rencana Bram agar dapat berkencan dengan si Sofi dan Yeni bersama kita," jelas Niken."Bersama kita.." aku terheran."Yach fivesome lah.. dan sudah jadi rahasia umun kan ada beberapa jasa semacam itu yang memberikan bonus service yang hot," kata Niken datar."Tapi Mas Pras nggak usah kuwatir, aku akan melampiaskan semua kekesalanku atas Bram pada Mas Pras, so siap-siap saja yach," ancam Niken dengan senyumnya yang seksi yang semakin membuat hatiku berbunga."Dan Mas Pras akan jadi raja malam ini," ejek Niken."Gila kali.." kataku pelan dan tiba-tiba saja HP-ku berdering."Yes Boss.." jawabku pada Bram."Aku sampai di Gajah Mada nich, jadi siap-siap saja, sekali celup masih bisa kok Pras," kelakar Bram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak merespon kalimat terakhir Bram tadi hingga Bram menutup pembicaraan kami.&lt;br /&gt;"Oh iya, kalian langsung saja ke Kopeng (Bram menyebut nama salah satu wisma), kita ketemu di sana," ajak Bram."Ok, Niken ayo kita bersiap."Aku menggandeng Niken menuruni tangga kantor kami menuju Kijang kesukaanku. Dalam perjalanan ke Salatiga aku mempersilakan Niken untuk istirahat agar badannya kembali bugar. 1 jam perjalanan aku dan Niken tiba di wisma yang dimaksud oleh Bram, Niken masih tampak terlelap, aku mencoba membangunkannya dengan cara mengecup lembut bibirnya."Mpphh.. udah nyampai yach.." Niken mulai tersadar dari tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisma itu besar sekali dan terletak agak jauh dari jalan raya Salatiga-Magelang, mempunyai 4 kamar sekelas president suite. Melihat bangunannya ini termasuk bangunan baru namun ber-arsitek mirip bangunan lama. Bram sudah sampai duluan bersama Sofi dan Yeni yang nampak mesra di kiri dan kanan Bram di koridor depan. Melihat kedatangan kami Sofi lalu berdiri dan menyambut kedatangan aku dan Niken.&lt;br /&gt;"Have a hot party," katanya sambil mengerlingkan nakal matanya."Ayo kita santap malam!" ajak Sofi ke ruag tengah.Ruangan tengah berhias lampu kristal mahal dan interiornya tertata rapi berhampar permadani merah menambah hangatnya suasana meski udara di sana terasa menggigit sampai ke tulang. Kami lantas makan bersama dan dilanjutkan berenang di warm water pool dan setelah itu acara jalan-jalan sekitar wisma itu menghirup udara segar pegunungan bercampur aroma sayuran khas pegunungan. "Nich room service-nya, bila perlu apa-apa tekan saja extention 9 untuk room service atau membutuhkan sesuatu," kata Sofi ketika kami melewati sebuah bangunan saat kembali ke wisma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami duduk-duduk di ruang depan, sementara Sofi sibuk dengan mempersiapkan ruangan tengah. Niken sedari tadi bergelayut manja padaku tampak acuh dengan Bram di depan kami yang merangkul mesra Yeni. Tampak sesekali Bram mencium bibir Yeni bahkan terang-terangan meremas selangkangan Yeni di depan Niken, Yeni sendiri rupanya juga sudah "on" berat tak memperdulikan sekitarnya. "Ternyata brengsek juga si Bram ini, tidak peduli perasaan Niken," makiku dalam hati. Semakin lama sikap Bram semakin cuek saja, akhirnya aku menarik Niken untuk ke teras samping yang menghadap ke kebun sayuran. Kami berbicang ringan di sana tentang sejuknya dan betapa indahnya alam ini kira-kira setengah jam kami habiskan waktu untuk ngobrol. Aku dan Niken lalu masuk kembali ke ruangan semula dan aku amati wajah Yeni semakin kelihatan horny sekali, demikian juga Bram, namun mereka (Bram dan Yeni) tak dapat memulai sendiri pestanya harus bersama-sama. Wajah Yeni tidak begitu cantik namun bodinya yahut banget, dadanya membusung, tubuhnya putih mulus terawat, tungkainya lancir berkombinasi dengan pantatnya yang bulat padat menandakan bahwa power sex-nya pastilah meletup-letup dan aku yakin Bram hanya sekali goyang sudah kelojotan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam aku lebih bergairah jika melihat Yeni dari pada Sofi, apalagi melihat dahinya yang sedikit nonong tentu bongkahan selangkangannya juga tebal dan luas. Perfectly, bathinku. Darah lelakiku semakin berdesir kencang. Sofi sendiri orangnya montok berisi tapi tidak dapat dikatakan gemuk, tepatnya adalah semok alias seksi dan montok, kulitnya kuning dan rambutnya pendek sebahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 19.00 Sofi mempersilakan kami untuk memasuki arena dan perlahan tirai penutup koridor sutera merah itu tertutup demikian pula untuk tirai jendela lainnya dan tiba-tiba ruangan berubah menjadi hangat. "Inilah bonus itu Mas Pras," bisik Niken di sela-sela langkah kami ke ruang tengah. Benar-benar bonus yang hebat dan aku tidak pernah habis pikir akan hal ini, lantai ruangan tengah yang tadi beralaskan karpet merah kini berlapis kain satin lembut, entah apa maksud dari interior ini, aku masih bertanya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sudah di balik tirai itu dan berada di ruang tengah namun Sofi menjelaskan aturan mainnya yaitu semua peserta harus melepas pakaian yang ada di tubuh kami masing-masing dan bagi yang wanita silakan dandan secantik-cantiknya di washroom yang tersedia, dan bagi laki-laki dipersilakan mengambil suplemen penyegar tubuh agar tetap fit. Aku melihat tampak ada beberapa jenis dan aneka warna vibrator yang tersedia bagian pinggir sisi meja lain yang membuat pesta ini kelihatan lebih lengkap. Sofi bak seorang guide professional memberi petunjuk kepada yang lain dan aku akhirnya bisa menebak bahwa sebentar lagi akan ada nude party. Aku terperangah ketika melihat Niken baru saja keluar dari washroom, diikuti Yeni, kemudian Sofi, wajah ketiganya anggun berhias bibir sensual yang merah menantang dan masing-masing punya kelebihan, si cantik yaitu Niken, si hyperseks yaitu Yeni, dan si semok Sofi. Bau harum lebih menyeruak ke ruangan, dan aku melihat Bram jakunnya semakin cepat naik-turun pertanda birahinya sudah di ubun-ubun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sofi dan Yeni menghampiri Bram, sementara Niken mendekat ke arahku, aku melihat Bram bergelayut mesra di dada Yeni karena Bram orangnya agak pendek sedangkan Yeni memakai sepatu hak tinggi. Aku dan Niken tersenyum geli saat Bram menyusu Yeni sambil berjalan ke arah meja ke ruangan itu karena kelihatan lucu. Musik mengalun lembut menambah hangat suasana pesta ini dan aku semakin tenggelam dalam rengkuhan bibir Niken. Di setiap sudut ruangan ada monitor 29 inchi menampilkan film seks sehingga menambah panas suasana pesta ini. Udara pun tak lagi terasa dingin justru semakin terasa amat panas oleh cepatnya aliran darah kami masing masing. Aku dan Niken mengambil segelas sampanye lalu saling suap sambil berdansa mesra, saling dekap saling cumbu dan saling pagut. Tubuh kami seimbang karena Niken menggunakan sepatu berhak tinggi sehingga pinggul kami pun tepat bersentuhan. Kedua telor penisku terasa mengusap lembut bibir luar vagina Niken membuat kami kadang merinding kegelian bercampur nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram yang sedari tadi tampak sudah tak tahan ingin segera menyetubuhi Yeni meminta Yeni mengambilkan buah anggur hijau di tengah meja. Karena letak buah anggur itu di tengah meja maka praktis Yeni harus menungging saat mengambilnya. Namun bukanlah Bram kalau tidak berbuat begitu, karena begitu Yeni terlihat mengangkat tumitnya maka merekahlah vagina Yeni lalu buru-buru Bram jongkok dan mencumbui vagina Yeni dari arah belakang. "Aaaghh.." Yeni tampak kaget namun menikmatinya dan acara "mengambil anggur" itupun berubah menjadi acara "jilat kacang". Yeni memang pandai memasang umpan atas Bram, dia menikmati jilatan demi jilatan Bram dengan desahannya. Bram memang banyak makan garam, karena dengan permainan lidah Bram, Yeni semakin mendesah hebat dan diikuti lenguhan-lenguhan nikmat. Bram menjilat dari lubang anus yang sedikit memerah ke depan menuju bibir sampai sudut bibir vagina bagian depan kemudian berhenti memainkan ujung lidahnya di klitoris Yeni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaaoohh sshh.. oohhss hh.. oohh.. sshh.. aagg.. oohhghh," Yeni rupanya mendekati orgasmenya. Sofi kemudian mendekati Yeni dan jongkok di antara Yeni dan meja, dan dengan sigap sudah terlihat memainkan buah dada Yeni bagian kiri dan yang kanan ia hisap dalam-dalam. Tangan Bram mulai menggapai meraba-raba punggung bagian atas kemudian ke bawah berulang-ulang. Yeni terperangah nikmat apalagi Bram kini mulai menusukkan dua jari tangannya ke vaginanya. Dengan cepat Yeni tak mampu menahan sensasi itu, lalu Yeni pun melenguh panjang, wajahnya mendongak meregang orgasmenya. "Aaoughh mmpphh.. aahkk.. aahhk.. aampphh.. sshitthhogghh.. sshh.." ceracau Yeni, matanya mendelik kemudian terpejam, pinggulnya ia putar-putar mengikuti irama lidah Bram. Demikian pula pantatnya dihetakkan lembut seirama tusukan jari Bram yang semakin cepat temponya dan tak teratur. "Aaooghh.. aashh sshh.. mmpphh.. aahhggh," Yeni melenguh menikmati detik-detik terakhir orgasmenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeni kemudian menyibakkan rambutnya dan membimbing Sofi untuk duduk di meja, lantas dengan sigap Sofi segera membuka lebar-lebar sudut kakinya. Yeni mulai memainkan ujung lidahnya belahan vagina Sofi. "Oogghh.. Yenn.. sshh.. aahh mmpphh.. hangat Yennhh.." gumam Sofi. Sekembali Bram dari minum ia lalu menghampiri Sofi dan terlihat mencumbui Sofi dengan lembut. "Oogghh.. Mas.. Brammh.. aakhkh.. mmpphff.." mulut Sofi tersumpal oleh bibir Bram.Sofi melenguh, kadang mendesah manja, membuat aku dan Niken semakin terhanyut oleh birahi. "Nikhh.. aaku masukin yach.." bisikku di telinga Niken lantas memainkan belakang telinganya."Hem.. aaoghh.. gelli.. Mass.." desah Niken. Aku sedikit membungkuk lalu tanpa diperintah Niken membantu membimbing penisku memasuki vaginanya. "Aahhghh.. hangat.. mpphh.." hawa hangat mulai menjalar ke tubuh Niken dari selangkangannya mengalir ke seluruh bagian tubuh. Rasa pejal dan hangat mulai merambah ke wajah Niken yang kini mulai kelihatan memerah, di lain bagian aku rasakan bukit vaginanya semakin menyembul karena tersumbal oleh penisku. Aku mulai mengocoknya perlahan seirama musik lembut, sesekali Niken menjauhkan tubuhnya dari aku untuk lebih menancapkan gigitan vaginanya yang semakin hangat kurasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sofi sudah mulai mendekati detik orgasmenya dan bersamaan itu pula, "Ngghh.. aampphh.. aakkhh.. ogghh.. Mas.. Prasshh.. aakk.. ooh.. aaghh.." Niken menggelinjang hebat dalam rengkuhanku, kedua kakinya menegang hebat menahan tubuhnya yang bergetar. Aku kemudian menarik sedikit pinggulnya ke bawah sehingga kedua pahanya kini lebih terbuka lebar dengan demikian aku punya kesempatan untuk menanamkan dalam-dalam secara keseluruhan penisku yang panjang. "Aaghkk.. ohh mpmpp.. sshh.. aaghh.. aaghh.. sshh.." Niken menggapai orgasmenya, sangat sensasional tubuhnya memeluk hangat tubuhku. Aku merasakan cairan hangat menyiram penisku yang masih tetap berdenyut, lalu kami kembali pada irama dansa, sementara penisku masih menancap di rahim Niken. Aku melihat di dekat meja telah berganti posisi, dan Sofi memegang vibrator nyala memainkannya di vagina Niken terduduk di meja dengan satu kaki ia angkat dan satu kakinya bertumpu di lantai. Dari belakang Sofi, Bram mengocokkan pensinya di vagina Sofi namun kelihatan ironis karena vagina Sofi yang gemuk dan tebal itu beradu dengan penis kecil nyaris tidak kelihatan. Aku sempat melirik Bram saat memasukkan penisnya ke vagina Sofi yang nampak tergopoh-gopoh dan begiitu masuk seluruhnya Bram mendesah. "Oohhgghh.. hangat Soff.." desah Bram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sofi mulai menggoyang pinggulnya dengan teratur, memutar, sesekali menghentak ke arah pangkal penis Bram. Bram kulihat kelojotan mendapat serangan Sofi, begitu pula Yeni yang mulai mendesah kepedasan oleh sensasi vibrator yang kini ia mainkan sendiri. Sofi tenggelam dalam alunan birahinya lantas menggoyang cepat dan tak teratur membuat Bram semakin bergetar dan "Aooghh.. mmpphh.. aakk.. keell.." teriak Bram menyambut semburan spermanya. "Ttt.. tungguu.. aahkkuu.. aaooghh.. aaooghg.. aammpphh asshh aahh.. shh.." Bersamaan itu pula sofi tegang dan sedetik kemudian tubuhnya bergetar. Bersama itu pula penisku semakin berdenyut-denyut karena gairahku dan hal ini menambah gelitik di vagina Niken, lalu Niken pun tenggelam dalam orgasme yang berikut. Bram dan Sofi kemudian berpelukan dan berpagutan mesra berjalan menuju sofa di salah satu sudut ruangan. Lain halnya dengan Yeni yang kelihatan putus sudah jenuh dengan permainan vibratornya, kemudian mendekati aku dan Niken.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeni mendekapku mesra dari belakang vaginanya yang memang masih menyembul karena birahinya ia gesekkan sendiri ke pantatku. Kenikmatan yang aku rasakan kali ini betul-betul nikmat, aku berdansa dengan dua bidadari dan keduanya mendekapku dengan mesra. Penisku pun kurasa semakin berdenyut tak teratur menandakan aku segera memancarkan sperma. Namun karena Niken sedikit capai setelah dua kali orgasme ia membimbingku menuju dekat meja. "Plopphh.." suara penisku saat lepas dari gigitan vagina Niken. Niken melenguh lalu duduk di sisi meja untuk mengambil sampanye lalu memberi isyarat agar aku meneruskan permainanku. Aku rebahkan Yeni di shatin putih, kedua pahanya aku buka lebar-lebar dan semakin merekahlah vagina Yeni. Tak aku sia-siakan kesempatan ini untuk mengecup, mencumbu dan menjilat vagina Yeni yang masih bersih (beruntung Bram menyetubuhi Sofi dulu). "Aahghh.. aapap mmhh.. appmmhh.. aakkhh.. sshh," Yeni mendesah, tangannya meremas dan memilin putingnya. Niken tanggap akan hal ini lalu mendekati Yeni dan meletakkan kepala Yeni di pahanya, kemudian Niken memainkan puting Yeni dengan mulutnya. Rabaan dan remasan tangan Niken membuat Yeni semakin bergelinjang hebat dan mempercepat orgasme Yeni yang sedari tadi tersendat. "Aaagghh.. ooghh.. ooppmmhh.. sshh.. shiitt hh.. aahhkk.." Yeni mengawali orgasmenya dengan lengkingan panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya Yeni semakin bergelinjang dalam lenguhan-lenguhan panjangnya, tubuhnya hangat tersumbal oleh penisku sementara di bagian lain Niken menambah sensasi di putingnya. "Aaaghhkk.. kkuu.. mmpphh.. maauuh.. aaghh.." Orgasme berikutnya menyusul, apalagi setelah penisku kudorong lebih dalam lagi membuat Yeni histeris. Tubuh Yeni masih bergelinjang, pinggulnya ia putar goyang dengan irama tak teratur semakin cepat dan semakin cepat, lalu aku rasakan spermaku sudah berkumpul di ujung penis menyebabkan penisku semakin mengeras. Semakin pejal dirasakan oleh Yeni dan Yeni kembali menggapai orgasmenya yang serasa tiada akhir."Yennhh.. aakuu.." desahku ketika hendak menggapai ejakulasiku. Yeni bangkit dan melepas gigitan vaginanya, buru-buru ia meraih penisku dan sekejap sudah tertelan dalam mulut seksi Yeni. Kocokan tangan berkombinasi dengan sedotan kadang permainan lidah Yeni membuatku bergetar hebat dan aku kini yang berdiri pada kedua lututku terasa ingin berdiri dan melepas semua sperma yang ada di kantong spermaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uughh.. shh.. Yennh.. ookhh.. hisapphh.. ooghh.." ceracauku saat menjelang ejakulasiku."Sssrr.. rotth.. crothh.. crothh.." entah berapa semprotan maniku menyembur di mulut Yeni."Agghh.. aampphh.. oogghh.. hh.. mmpphh.." aku masih menikmati sisa-sisa orgasme."Ooghh.. udahh.. aahh.." pintaku pada Yeni ketika menjilat habis sisa-sisa sperma yang meleleh dari lubang kencingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lega rasanya semua birahiku tersalurkan setelah sekian lama menyumbat. Malam semakin larut lalu kami beristirahat setelah menghabiskan minuman yang ada. Bram lalu menuju ke kamar dan meminta Niken melayaninya di sana, lalu aku menyusulnya, sementara Sofi dan Yeni ke washroom untuk bersih-bersih. Niken menggapai orgasmenya saat aku dan Bram menyetubuhinya, karena penis Bram kecil maka aku sarankan ia melakukan lewat anus Niken sementara penisku yang panjang aku hujamkan dalam-dalam ke rahim Niken. Niken bergelinjang hebat oleh karena permainanku dan Bram. Bram kemudian tertidur karena kecapaian ditemani oleh Sofi. Aku sendiri mengajak Yeni dan Niken ke kamar lainnya dan menghabiskan malam panjang sampai spermaku terasa betul-betul terasa kering sudah dan akhirnya aku tertidur dalam pelukan dua bidadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami terbangun hampir bersamaan ketika matahari sudah tinggi lalu menuju kolam renang dan berendam di sana sambil sarapan pagi. Sore hari kami baru kembali ke Semarang dengan membawa bonus yang tak terlupakan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7501232687625531161-4345478250053340843?l=dennythejaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dennythejaya.blogspot.com/feeds/4345478250053340843/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7501232687625531161&amp;postID=4345478250053340843' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/4345478250053340843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/4345478250053340843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dennythejaya.blogspot.com/2011/06/seks-di-kantor.html' title='Seks di kantor'/><author><name>denny</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7501232687625531161.post-310546106210987672</id><published>2011-05-29T04:19:00.000-07:00</published><updated>2011-05-29T04:20:18.652-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pesta seks'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teman'/><title type='text'>Pesta Seks Di Pulau</title><content type='html'>Teman2ku, Sintia dan Dina mengajak aku ke pulau, nginep semalem. Mereka akan membawa pasangan masing2, sedang aku gak punya pasangan. “Nanti di pulau ada senior trainer untuk snorkeling dan diving, orangnya 40an, ganteng dan tegap badannya. Tipe kamu banget deh Nes. Kamu bisa partneran sama dia”, kata Dina. “Iya, kalo gak aku bengong, sedang kalian berdua asik dengan pasangan masing2″, jawabku. Ketika di Marina Ancol setelah makan siang, aku dikenalkan Dina dengan mas Anto, trainer yang dia sebutkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangnya ganteng juga dan perawakannya tegap, maklumlah untuk olahraga air seperti itu perlu stamina yang tinggi, apalagi dia harus mengajari orang yang akan melakukan diving, kalo snorkeling katanya relatif mudah. “Mas, staf pulau ya”, kataku membuka pembicaraan, ketika speedboat meluncur meninggalkan Marina. “Oh enggak, aku hanya bantu pulau untuk acara diving dan snorkeling. Kalo ada permintaan, pulau akan kontak aku. Ines senang diving?” “Belon pernah mas, susah ya kalo mo diving. Temenku juga pada belon pernah diving”. “Kalo gitu kita snorkeling aja, gak susah kok, cuma ngambang sambil menikmati panorama bawah laut. Di pulau ada lokasi yang sangat indah untuk snorkeling. Kalo mau diving sedikit sambil snorkeling juga bisa, gak dalem kok lautnya”. “Kalo diving kan butuh peralatan, mas”. “Gak usah, dilokasi snorkeling lautnya gak dalem, tahan napas sebentar bisa kok nyilem sedikit. Nanti deh aku ajari”.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuaca sangat cerah, laut sepertinya tanpa ombak sehingga perjalanan menuju ke pulau tanpa hambatan apa2. Sesampai di pulau ke 2 temanku langsung cek in ke cottage masing2 dengan pasangannya. Kami mendapatkan cottage yang terapung di laut, letaknya agak berjauhan. Aku dapat cottage yang paling menjorok ke laut. Segera aku cuma mengenakan bikini ku karena mas Anto sudah menunggu untuk snorkeling. Mas Anto membelalak melihat bodiku yang tertutup bikini yang minim itu. Toketku seakan mau tumpah dari bra bikiniku yang aga kekecilan. “Nes kamu seksi amat”. Aku hanya tersenyum mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memberiku kacamata snorkeling yang ada perati untuk bernapas. aku gak tau ke2 temanku lagi ngapain sama pasangannya. Mula2 kita latihan dulu di kolam renang untuk membiasakan diri dengan kacamata snorkeling itu dan sepatu kataknya. “Kamu mau diving sedikit gak Nes, kalo mau gak usah pake pelampung”. “Iya deh mas, mau. Gak dalem kan lautnya”. “Temen2 kamu gak mau ikutan snorkeling”. “Gak tau pada kemana, kalo udah sama cowoknya masing2 ya asik sendiri lah, Ines sama mas aja, gak punya cowok sih”. “Masak sih, kamu kan cantik, seksi lagi, masak gak ada cowok yang mau, aku aja mau kok”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mulai menggodaku. Aku hanya tersenyum mendengar celetukan usilnya. Kami mulai latihan di kolam renang. Setelah aku terbiasa dengan kaca mata itu, aku diajaknya ke lokasi diantar dengan speedboat pulau. Sampai dilokasi, aku langsung nyebur ke laut ditemani mas Anto, sedang speedboat kembali ke pulau, dijanjikan akan dijemput lagi setelah kami puas ber snorkeling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan bawah airnya indah sekali, jauh lebih indah katimbang ngeliat di akuarium laut. Tidak puas hanya snorkeling saja, mas Anto mengajakku sedikit diving. Aku diajarinya sebentar untuk bagaimana menahan napas, kemudian kami menyelam. Aku bisa lebih dekat dengan objek yang kulihat dari permukaan. Karena gak bisa menahan napas lama, sebentar2 aku harus kepermukaan untuk menahan napas. Tapi menyenangkanlah bersama mas Anto di laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Antopun mulai usil, beberapa kali toketku sengaja digesek dengan lengannya. Aku kembali tersenyum membiarkan. Dia makin berani, toketku malah dirabanya. “Nes, kamu napsuin deh”, katanya to the point. “Masak sih mas napsu ngeliat Ines”. “Iya lah Nes, toket kamu montok banget, aku pengen ngeremes jadinya”, katanya sambil langsung meremes toketku. “Mas…”, keluhku. “Tuh yang jemput sudah dateng”. Aku gak tau berapa lama, kita main2 dilaut, tapi kayanya matahari sudah condong ke barat ketika kami sampai di pulau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Anto mengajakku ke kolam renang lagi untuk main air. Di kolam renang, Dina dan Sintia sedang main air juga dengan pasangannya masing2, mereka juga pake bikini yang seksi. Terutama Dina yang toketnya paling besar dari kami bertiga. Cowoknya tanpa sungkan meremas2 toket Dina, Dina hanya cekikikan aja. Juga Sintia yang diremas2 oleh cowoknya. Karena kami ke pulau ketika week day, maka di pulau tidak ada tamu lain selain kita. “Darimana Nes”, tanya Sintia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku snorkeling sama mas Anto, asik deh”. “Kok gak ngajak2″, protes Dina. “Aku nunggu kalian gak keluar2 dari cottage, makanya ditinggal. Tapi kalo ada kalia malah mengganggu aku dan mas Anto”. Kami main2 dikolam sampe lewat magrib, mas Antopun dengan napsunya meremas2 toketku terus. Aku membalas dengan meremas kon tolnya. Terasa kon tolnya sudah keras sekali dibalik celana pendek gombrongnya. Yang mengejutkanku ukurannya, terasa besar sekali dan panjang, kon tol kesukaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas besar sekali”, bisikku. “Mau ngerasain Nes, belon pernah ya ngerasain yang besar seperti punyaku”, jawabnya sambil berbisik juga. Karena sudah gelap, kami balik ke cottage masing2, mas Anto ikut ke cottageku walaupun pulau menyediakan kamar untuknya diperumahan staf. Dia duduk saja di teras yang menghadap ke laut, sementara aku mandi. Aku mengenakan celana super pendek dan bra bikini. Dia tetap saja memakai celana gombrongnya walaupun basah. Kita langsung menuju ke ruang makan karena perut sudah keroncongan. Kami makan malem sembari ngobrol dan becanda2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Anto mengelus2 pahaku terus. Paha kukangkangkan. Aku jadi menggeliat2 karena rabaannya pada paha bagian dalam, “Aah”, erangku, karena napsuku mulai naik. “Kenapa Nes, napsu ya”, katanya. “Tangan mas nakal sih”, kataku terengah. “Abis kamu napsuin sih”, jawabnya dengan tetap ngelus2 pahaku, elusannya makin lama makin naik ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini tangannya mulai meraba dan meremes no nokku dari luar celana pendekku, Aku semakin terangsang karena ulahnya, “Aku jadi napsu nih”, bisikku. Baiknya temen2ku sudah selesai makan dan ngajak karaokean. Aku terbebas dari elusan mas Anto. Di ruang karaoke, kami nyanyi2 bergantian. Bosen karaoke, mas Anto minta dvd sama operator karaoke dan memutarnya, ternyata film biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asiknya ceweknya tampang melayu, cowoknya bule. Mereka maennya di kolam renang. Mulai dari ngelus, ngeremes, ngemut sampe akhirnya ngenjot dalam berbagai posisi. Mas anto kembali menggerayangi toketku. Kulihat temen2ku sudah tenggelam dalam pelukan pasangannya masing2. Gak lama kemudian Dina keluar ruang, diikuti dengan Sintia. Pastinya mereka akan meneruskan acara di cottage masing2. Mas Anto berbisik, “Kekamar aja yuk Nes”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ikut saja ketika tanganku ditariknya, sambil berpelukan kita menuju ke cottageku. Di cottage, mas Anto membereskan teras, dipan yang ada diteras dihampari selimut sebagai alas. Dia mengambil bantal dari kamar dan mematikan lampu teras. Suasana reman2 karena hanya disinari lampu dari kamar. Romantis sekali suasananya karena hanya terdengar demburan ombak dan terasa sekali2 ada angin membelai badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berbaring di dipan yang sempit sehingga agak berdesakan dengan mas Anto. Dia terus meremas-remas gundukan di selangkanganku. Aku merespon dengan gerakan pinggulku yang&lt;br /&gt;menekan-nekan tangannya. Perlahan-lahan celana pendekku dilbukanya, aku mengangkat pantatku supaya celana itu mudah dilepaskan. Terasa jarinya mulai menelusuri CDku. Dia meremas kembali gundukan yang kini hanya terlindung oleh cd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian jarinya menguak cdku dari samping. Jari&lt;br /&gt;tengahnya dengan trampil mencari belahan no nokku. Jari tengahnya mulai menelusuri kehangatan sekaligus kelembaban di balik jembut keritingku yang lebat. Sampai akhirnya mendarat di i tilku. Daging kecil itu sudah mengeras. Dia segera berkosentrasi pada bagian itu. Aku tidak mampu menahan kenikmatan akibat gelitikan jarinya di i tilku. Aku makin erat memeluknya dan dia makin intensif memainkan jariku di i tilku. Aku tidak bisa memperkirakan berapa lama jarinya bermain di&lt;br /&gt;i tilku. Akhirnya aku mengejang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku nyampe. “Mas, belum apa2 Ines dah nyampe. Hebat ih permainan jarinya mas. Apalagi kon tol mas ya”, kataku terengah. Dia mengangkangkan pahaku dan terasa hembusan napasnya yang hangat di pahaku. Dia mulai menjilati pahaku, dari bawah bergerak perlahan keatas sambil digigit2nya pelan. Aku menggigil menahan geli saat lidahnya menyelisuri pahaku. “Mas pinter banget ngerangsang Ines, udah biasa ngerangsang cewek ya”, kataklu terengah. CD ku yang minim itu dengan mudah dilepasnya, demikian pula bra bikiniku dan tak lama kemudian terasa lidahnya menghunjam ke no nokku yang sudah sangat basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya pasrah saja atas perlakuannya, aku hanya bisa mengerang karena rangsangan pada no nokku itu. Lidahnya menyusup ke dalam no nokku dan mulai bergerak keatas. Aku makin mengejang ketika dia mulai menjilati i tilku. “Ines sudah pengen dien tot”, aku mengerang saking napsunya. Dia menghentikan aksinya, kemudian memelukku dan mencium bibirku dengan napsunya. Lidahnya menerobos bibirku dan mencari lidahku, segera aku bereaksi yang sama sehingga lidah kami saling membelit didalam mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelukannya makin erat. Terasa ada sesuatu yang mengganjal diperutku, kon tolnya rupanya sudah ngaceng berat. Tangannya mulai bergerak kebawah, meremas pantatku, sedang tangan satunya masih ketat mendekapku. Aku menggelinjang karena remasan dipantatku dan tekanan kon tolnya yang ngaceng itu makin terasa diperutku. “Aah”, lenguhku sementara bibirku masih terus dikulumnya dengan penuh napsu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidahnya kemudian dikeluarkan dari mulutku, bibirku dijilati kemudian turun ke daguku. Tangannya bergeser dari pantatku ke arah no nokku, “Aah”, kembali aku mengerang ketika jarinya mulai mengilik no nokku. Lidahnya mengarah ke leherku, dijilatinya sehingga aku menggeliat2 kegelian. Sementara itu jarinya mulai mengelus2 no nokku yang sudah sangat basah itu dan kemudian kembali menjadikan i tilku sasaran berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digerakkannya jarinya memutar menggesek i tilku. Aku menjadi lemes dipelukannya. “Nes, jembut kamu lebat sekali, gak heran napsu kamu gede banget. Dikilik sebentar aja udah basah begini, padahal baru nyampe”, katanya sambil mengangkangkan pahaku lagi. Dia membuka celananya, sekaligus dengan cdnya. Ternyata kon tolnya besar dan panjang, berdiri tegak karena sudah ngaceng berat. Aku ditariknya bangun kemudian disuruh menelungkup ditembok teras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memposisikan dirinya dibelakangku, punggungku didorong sedikit sehingga aku menjadi lebih nungging. Pahaku digesernya agar lebih membuka. Aku menggelinjang ketika merasa ada menggesek2 no nokku. no nokku yang sudah sangat licin itu membantu masuknya kon tol besarnya dengan lebih mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala kon tolnya sudah terjepit di no nokku. Terasa sekali kon tolnya sesek mengganjal di&lt;br /&gt;selangkanganku. “Aah, gede banget kon tol mas”, erangku. Mas Anto diam saja, malah terus mendorong kon tolnya masuk pelan2. Aku menggeletar ketika kon tolnya masuk makin dalam. Nikmat banget rasanya kemasukan kon tolnya yang besar itu. Pelan2 dia menarik kon tolnya keluar dan didorongnya lagi dengan pelan juga, gerakan keluar masuk kon tolnya makin cepat sehingga&lt;br /&gt;akhirnya dengan satu hentakan kon tolnya nancep semua di no nokku. “Aah, enak banget kon tol mas”, jeritku. “No nokmu juga peret banget Nes. Baru sekali aku ngerasain no nok seperet no nokmu”, katanya sambil mengenjotkan kon tolnya keluar masuk no nokku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huh”, dengusku ketika terasa kon tolnya nancep semua di no nokku. Terasa biji pelernya menempel ketat di pantatku. No nokku terasa berdenyut meremes2 kon tolnya yang nancep dalem sekali karena panjangnya. Tangannya yang tadinya memegang pinggulku mulai meremes toketku dengan gemesnya. Aku menjadi menggelinjang karenanya, sementara itu enjotan keluar masuk kon tolnya makin dipercepat. Tubuhku makin bergetar merasakan gesekan kon tolnya di no nokku. “Enak , enjotin yang keras, aah, nikmatnya”, erangku gak karuan. Keluar masuknya kon tolnya di no nokku makin lancar karena cairan no nokku makin banyak, seakan menjadi pelumas kon tolnya. Dia menelungkup dibadanku dan mencium kudukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjadi menggelinjang kegelian. Pinter banget dia merangsang dan memberi aku nikmat yang luar biasa. Toketku dilepaskannya dan tangannya menarik wajahku agar menengok ke belakang, kemudian bibirku segera diciumnya dengan napsunya. Lidahnya kembali menyusup kedalam mulutku dan membelit lidahku. Tangannya kembali meneruskan tugasnya meremes2 toketku. Sementara itu, kon tolnya tetep dienjotkan keluar masuk dengan cepat dan keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jembutnya yang kasar dan lebat itu berkali2 menggesek pantatku ketika kon tolnya nancep semuanya di no nokku. Aku menjadi mengerang keenakan berkali2, ini menambah semangatnya untuk makin mgencar mengenjot no nokku. Pantatku mulai bergerak mengikuti irama enjotan kon tolnya. Pantatku makin cepat bergerak maju mundur menyambut enjotan kon tolnya sehingga rasanya kon tolnya nancep lebih dalem lagi di no nokku. “Terus , enjot yang keras, aah nikmat banget deh dien tot mas”, erangku. Dia makin seru saja mengenjot no nokku dengan kon tolnya. Aku tersentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perutku terasa kejang menahan kenikmatan yang luar biasa. Bibirku kembali dilumatnya, aku membalas melumat bibirnya juga, sementara gesekan kon tolnya pada no nokku tetep saja terjadi. Akhirnya aku tidak dapat menahan rangsangan lebih lama, no nokku mengejang dan “Ines nyampe aah”, teriakku. no nokku berdenyut hebat mencengkeram kon tolnya sehingga akhirnya, kon tolnya mengedut mengecretkan pejunya sampe 5 semburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasa banget pejunya yang anget menyembur menyirami no nokku. Kon tolnya terus dienjotkan keluar masuk seiring ngecretnya pejunya. Napasku memburu, demikian juga napasnya. “Nes, gak apa2 kan aku ngecret didalem no nok kamu”, katanya. “Gak apa2 kok mas, Ines punya obat biar gak hamil”. Kon tolnya terlepas dari jepitan no nokku sehingga terasa pejunya ikut keluar mengalir di pahaku. Dia segera berbaring didipan. “Nes, nikmat banget deh no nok kamu, peret dan empotannya kerasa banget”, katanya. “Mas sudah sering ngen totin abg ya, ahli banget bikin Ines nikmat. “, jawabku sambil menelentangkan badanku disebelahnya. “Paling sama customer yang ngundang aku ke pulau seperti kamu gini. Ya aku milih yang bag lah, kalo sepantaran aku mana asik”, jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Anto bangun dan masuk kamar mandi. Dia rupanya sedang membersihkan dirinya karena sejak abis berenang di laut dia belum mandi, sementara aku masih saja telentang di dipan menikmati sisa2 kenikmatan yang baru saja aku rasakan. Dia keluar dari kamar mandi, duduk disampingku yang terkapar telanjang bulat. “Kamu bener2napsuin deh Nes, toket kamu gede dan kenceng, mana pentilnya gede lagi”, katanya. Aku hanya tersenyum mendengar ocehannya. “Aku paling suka liat jembut kamu, lebat banget sih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku paling napsu ngeliat cewek kayak kamu ini, toketnya gede kenceng dan jembutnya lebat, nikmat banget dien totnya,” katanya lagi. Dia berbaring disebelahku dan memelukku, “Nes, aku pengen lagi deh”, katanya. Aku kaget juga dengernya, baru aja ngecret udah napsu lagi, tapi aku suka lelaki kaya begini, udah kon tolnya gede dan panjang, kuat lagi ngen totnya. Dia mulai menciumi leherku dan lidahnya menjilati leherku. Aku menggelinjang dan mulai terangsang juga. Bibirku segera diciumnya, lidahnya kembali menyusup kedalam mulutku dan membelit lidahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu tangannya mulai meremes2 toketku dengan gemes. Dia melepaskan bibirku tetapi lidahnya terus saja menjilati bibirku, daguku, leherku dan akhirnya toketku. Pentilku yang sudah mengeras dijilatinya kemudian diemutnya dengan rakus. Aku menggeliat2 karena napsuku makin memuncak juga. “Aah, mas napsu banget sih, tapi aku suka banget”, erangku. Toketku yang sebelah lagi diremes2nya dengan gemes. Jari2nya menggeser kebawah, keperutku, Puserku dikorek2nya sehingga aku makin menggelinjang kegelian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya jembutku dielus2nya, tidak lama karena kemudian jarinya menyusup melalui jembutku mengilik2 no nokku. Pahaku otomatis kukangkangkan untuk mempermudah dia mengilik no nokku. “Aah”, aku melenguh saking nikmatnya. Dia membalik posisinya sehingga kepalanya ada di no nokku, otomatis kon tolnya yang sudah ngaceng ada didekat mukaku. Sementara dia mengilik no nok dan i tilku dengan lidahnya, kon tolnya kuremes dan kukocok2, keras banget kon tolnya. Kepalanya mulai kujilati dan kuemut pelan, lidahnya makin terasa menekan2 i tilku sehingga pantatku terangkat dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enggak lama aku mengemut kon tolnya sebab dia segera membalikkan badannya dan menelungkup diatasku, kon tolnya ditancapkannya di no nokku dan mulai ditekennya masuk kedalam. Setelah nancep semua, mas Anto mulai mengenjotkan kon tolnya keluar masuk dengan cepat dan keras. Bibirku kembali dilumatnya dengan penuh napsu, sementara itu terasa banget kon tolnya mengisi seluruh ruang no nokku sampe terasa sesek. Nikmat banget ngen tot sama dia. Aku menggeliat2kan pantatku mengiringi enjotan kon tolnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup lama dia mengenjotkan kon tolnya keluar masuk, tiba2 dia berhenti dan mencabut kon tolnya dari no nokku. Dia turun dari dipan&lt;br /&gt;dan duduk di kursi yang ada didekat dipan, aku dimintanya untuk duduk dipangkuannya mengangkang diantara kedua kakinya. Dia memelukku dengan erat. Aku sedikit berdiri supaya dia bisa mengarahkan kon tolnya yang masih ngaceng itu masuk ke no nokku. Aku menurunkan badanku sehingga sedikit2 kon tolnya mulai ambles lagi di no nokku. Aku menggeliat merasakan nikmatnya kon tolnya mendesak masuk no nokku sampe nancep semuanya. Jembutnya menggesek jembutku dan biji pelernya terasa menyenggol2 pantatku. Aku mulai menaik turunkan badanku&lt;br /&gt;mengocok kon tolnya dengan no nokku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengemut pentilku sementara aku aktif bergerak naik turun. Nikmat banget, kayanya lebih nikmat dari tadi. “Aah, enak banget deh, lebih nikmat dari yang tadi”, erangku sambil terus menurun naikkan badanku mengocok kon tolnya yang terjepit erat di no nokku. No nokku mulai berdenyut lagi meremes2 kon tolnya, gerakanku makin liar, aku berusaha menancepkan kon tolnya sedalam2nya di no nokku sambil mengerang2. Tangannya memegang pinggulku dan membantu agar aku terus mengocok kon tolnya dengan no nokku. Aku memeluk lehernya supaya bisa tetep mengenjot kon tolnya, denyutan no nokku makin terasa kuat, dia juga melenguh saking nikmatnya, “Nes, empotan no nokmu kerasa banget deh, mau deh aku ngen tot ama kamu tiap hari”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku gak bisa menahan rangsangan lebih lama dan “Ines nyampe, aah”, teriakku dan kemudian aku terduduk lemas dipangkuannya. Hebatnya dia belum ngecret juga, kayanya ronde kedua membuat dia bisa ngen tot lebih lama. “Cape Nes”, tanyanya tersenyum sambil terus memelukku. “He eh”, jawabku singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan mas anto mengangkat badanku dari pangkuannya sehingga aku berdiri, kon tolnya lepas dari jepitan no nokku. kon tolnya masih keras dan berlumuran cairan no nokku. Kembali aku dimintanya nungging didipan, doyan banget dia dengan doggie style. Aku sih oke aja dengan gaya apa saja karena semua gaya juga nikmat buat aku. Dia menjilati kudukku sehingga aku menggelinjang kegelian, perlahan jilatannya turun ke punggung. Terus turun ke pinggang dan akhirnya sampe dipinggulku. Otot perutku terasa tertarik karena rangsangan jilatan itu. Mulutnya terus menjilati, yang menjadi sasaran sekarang adalah pantatku, diciuminya dan digigitnya pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi saat lidahnya mulai menyapu daerah sekitar lubang pantatku. Geli rasanya. Jilatannya turun terus kearah no nokku, kakiku dikangkangkannya supaya dia bisa menjilati no nokku dari belakang. Aku lebih menelungkup sehingga pantatku makin menungging dan no nokku terlihat jelas dari belakang. Dia&lt;br /&gt;menjilati no nokku, sehingga kembali aku berteriak2 minta segera dien tot, “nakal deh mas, ayo dong Ines cepetan dien totnya”. Dia berdiri dan memposisikan kon tolnya dibibir no nokku dan dienjotkannya kedalam dengan keras sehingga nancep semua dengan sekali enjotan. Dia mulai mengenjot no nokku dengan kon tolnya, makin lama makin cepat. Aku kembali menggeliat2kan pantatku mengimbangi enjotan kon tolnya dino nokku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dia mengejotkan kon tolnya masuk aku mendorong pantatku kebelakang sehingga menyambut kon tolnya supaya nancep sedalam2nya di no nokku. Toketku berguncang2 ketika dia mengenjot no nokku. Dia meremes2 toketku dan memlintir2 pentilnya sambil terus mengenjotkan kon tolnya keluar masuk. “Terus mas, nikmat banget deh”, erangku lagi. Enjotan berjalan terus, sementara itu aku mengganti gerakan pantatku dengan memutar sehingga efeknya seperti meremes kon tolnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gerakan memutar, i tilku tergesek kon tolnya setiap kali dia mengenjotkan kon tolnya masuk. Denyutan no nokku makin terasa keras, diapun melenguh, “Nes, nikmat banget empotan no nok kamu”. Akhirnya kembali aku kalah, aku nyampe lagi dengan lenguhan panjang, “Aah nikmatnya, Ines nyampeee”. Otot perutku mengejang dan aku ambruk ke dipan karena lemesnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ditelentangkan di dipan dan segera mas Anto menaiki tubuhku yang sudah terkapar karena lemesnya. Pahaku dikangkangkannya dan segera dia menancapkan kembali kon tolnya di no nokku. Kon tolnya dengan mudah meluncur kedalam sehingga nancep semuanya karena no nokku masih licin karena cairan yang berhamburan ketika aku nyampe. Dia mulai mengenjotkan lagi kon tolnya keluar masuk. Hebat sekali staminanya, kayanya gak ada matinya ni orang. Aku hanya bisa terkapar menikmati sisa kenikmatan dan rangsangan baru dari enjotan kon tolnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia terus mengejotkan kon tolnya dengan cepat dan keras. Dia kembali menciumi bibirku, leherku dan dengan agak membungkukkan badan dia mengemut pentilku. Sementara itu enjotan kon tolnya tetap berlangsung dengan cepat dan keras. Aku agak sulit bergerak karena dia agak menindih badanku, keringatku sudah bercampur aduk dengan keringatnya. Enggak tau sudah berapa lama dia mengen toti ku sejak pertama tadi. Dia menyusupkan kedua tangannya kepunggungku dan menciumku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kon tolnya terus saja dienjotkan keluar masuk. Perutku mengejang lagi, aku&lt;br /&gt;heran juga kok aku cepet banget mau nyampe lagi dien tot dia. Aku mulai menggeliatkan pantatku, kuputar2 mengimbangi enjotan kon tolnya. No nokku makin mengedut mencengkeram kon tolnya, pantatku terkadang terangkat menyambut enjotannya yang keras, sampe akhirnya, “terus mas, yang cepet, Ines udah mau nyampe lagi”, teriakku. Dia dengan gencarnya mengenjotkan kon tolnya&lt;br /&gt;keluar masuk dan, “Aah Ines nyampe lagi”, aku berteriak keenakan. Berbarengan dengan itu terasa sekali semburan pejunya yang kuat di no nokku. Diapun ngecret dan ambruk diatas badanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sama2 terkulai lemes, lebih2 aku karena aku udah nyampe 3 kali sebelum dia akhirnya ngecret dino&lt;br /&gt;nokku. ” Mas kuat banget deh ngen totnya, mana lama lagi. Nikmat banget ngen tot ama mas. Kapan mas ngen totin Ines lagi”, kataku. Dia tersenyum mendengar sanjunganku. “Kalo ada kesempatan ya aku sih mau aja ngen totin kamu. No nok kamu yang paling nikmat dari semua cewek yang pernah aku en tot”, jawabnya memuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pindah kedalem kamar. Aku terkapar telanjang karena nikmat dan tak lama lagi tertidur. Paginya aku terbangun karena mas Anto memelukku. Kayanya sarapan pagi bakalan ngerasain kon tolnya lagi keluar masuk no nokku. “Nes, aku pengen ngerasain empotan no nok kamu lagi ya, boleh kan”, katanya. Dia lalu berbaring telentang di ranjang, lalu aku mulai jongkok di atasnya dan menciumi nya, tangannya mengusap-usap punggungku. Bibirnya kukulum, “Hmmmhh… hmmhhh…” dia mendesah-desah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas melumat bibir dan lidahnya, aku mulai bergerak ke bawah, menciumi dagunya, lalu lehernya. Kuciumi dadanya. “Hmmmhhh… aduh Nes enak ..” rintihnya. Dia terus mendesah sementara aku mulai menciumi perutnya, lalu pusarnya, sesekali dia berteriak kecil kegelian. Akhirnya , kon tolnya yang sudah ngaceng berat kupegang dan kukocok2, “Ahhhhh… Hhhh….Hmmhmh… Ohhh …” dia cuman bisa mendesah doang. Kon tolnya langsung kukenyot-kenyot, sementara dia meemas-remas rambutku saking enaknya, “Ehmm… Ehmm…” Mungkin sekitar 5 menitan aku ngemut kon tolnya, kemudian aku bilang, “sekarang giliran mas yach?” Dia cuma tersenyum, lalu bangkit sedangkan aku sekarang yang ganti tiduran. Dia mulai nyiumin bibirku, kemudian leherku sementara tangannya meraba-raba toketku dan diremasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmhmhhm… Hmhmhmh…” ganti aku yang mendesah keenakan. Apalagi ketika dia menjilati pentilku yang tebal dan berwarna coklat tua. Setelah puas melumat pentilku bergantian, dia mulai menjilati perutku. Dia langsung menciumi no nokku dengan penuh napsu, otomatis pahaku mengangkang supaya dia bisa mudah menjilati no nok dan i tilku. “Ahh.. Ahhhh…” aku mengerang dan mendesah keras keenakan. Sesekali kudengar “slurrp… slurrp…” dia menyedot no nokku yang sudah mulai basah itu. “Ahhhh… Enak …”, desahan ku semakin keras saja karena merasa nikmat, seakan tidak peduli kalau terdengar orang di luar. Napsuku sudah sampe ubun2, dia kutarik untuk segera menancapkan kon tol besarnya di no nokku yang sudah gatel sekali rasanya, pengen digaruk pake kon tol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan dia memasukkan kon tolnya ke dalam no nokku. dengan satu enjotan keras dia menancapkan seluruh kon tolnya dalam no nokku. “Uh… uhhh….aahh…nikmat banget” desahku ketika dia mulai asyik menggesek-gesekkan kon tolnya dalam no nokku. Aku menggoyang pinggulku seirama dengan keluar masuknya kon tolnya di no nokku. Dia mempercepat gerakannya. Gak lama dienjot aku sudah merasa mau nyampe, “Ah…Ines sepertinya mau… ahhh…” dia malah mempergencar enjotan kon tolnya dino nokku, “Bareng nyampenya ya Nes, aku juga dah mau ngecret”, katanya terengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enjotan kon tolnya makin cepat saja, sampe akhirnya, “Ines nyampe aah”, badanku mengejang karena nikmatnya, terasa no nokku berdenyut2 meremas kon tolnya sehingga diapun menyodokkan kon tolnya dengan keras, “Nes, aku ngecret aah”, terasa semburan pejunya yang deres dino nokku. Dia terkapar lemes diatas badanku, demikian pula aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habis makan pagi, kita siap2 untuk kembali ke Marina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7501232687625531161-310546106210987672?l=dennythejaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dennythejaya.blogspot.com/feeds/310546106210987672/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7501232687625531161&amp;postID=310546106210987672' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/310546106210987672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/310546106210987672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dennythejaya.blogspot.com/2011/05/pesta-seks-di-pulau.html' title='Pesta Seks Di Pulau'/><author><name>denny</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7501232687625531161.post-3969921729985422686</id><published>2011-05-29T04:15:00.000-07:00</published><updated>2011-05-29T04:17:11.325-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puncak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pesta seks'/><title type='text'>Di Gilir 2 lelaki</title><content type='html'>Aku, seorang model yunior, diperkenalkan oleh temanku pada seorang fotografer ternama supaya aku bisa diorbitkan menjadi model terkenal. Temanku ngasi tau bahwa om Andi, demikian dia biasanya dipanggil, doyan daun muda. Bagiku gak masalah, asal benar2 dia bisa mendongkrak ratingku sehingga menjadi ternama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Om Andi membuat janjian untuk sesi pemotretan di vilanya di daerah Puncak. Pagi2 sekali, pada hari yang telah ditentukan, om andi menjemputku. Bersama dia ikut juga asistennya, Joko, seorang anak muda yang cukup ganteng, kira2 seumuran denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas Joko adalah membantu om Andi pada sesi pemotretan. Mempersiapkan peralatan, pencahayaan, sampe pakaian yang akan dikenakan model. Om Andi sangat profesional mengatur pemotretan, mula2 dengan pakaian santai yang seksi, yang menonjolkan lekuk liku tubuhku yang memang bahenol. Pemotretan dilakukan di luar.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bajunya dengan potongan dada yang rendah, sehingga toketku yang besar montok seakan2 mau meloncat keluar. Joko terlihat menelan air liurnya melihat toketku yang montok. Pasti dia ngaceng keras, karena kulihat di selangkangan jins nya menggembung. Aku hanya membayangkan berapa besar kontolnya, itu membuat aku jadi blingsatan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, om Andi mengajakku melihat hasil pemotretan di laptopnya, dia memberiku arahan bagaimana berpose seindah mungkin. Kemudian sesi ke2, dia minta aku mengenakan lingeri yang juga seksi, minim dan tipis, sehingga aku seakan2 telanjang saja mengenakannya. Pentil dan jembutku yang lebat membayang di kain lingerie yang tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jokopun kayanya gak bisa konsentrasi melihat tubuhku. Aku yakin kon tolnya sudah ngaceng sekeras2nya. Om Andi mengatur gayaku dan mengambil poseku dengan macam2 gaya tersebut. Tengkurap, telentang, ngangkang dan macem2 pose yang seksi2. Kembali om Joko memberiku arahan setelah membahas hasil pemotretannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang sekitar jam 12 siang, om Andi minta Joko untuk membeli makan siang. Sementara itu aku minta ijin untuk istirahat dikolam renang aja. Om Andi memberiku bikini yang so pasti seksi dan minim untuk dikenakan. Tanpa malu2 segera aku mengenakan bikini itu. Benar saja, bikininya minim sehingga hanya sedikit bagian tubuhku yang tertutupinya. Aku berbaring di dipan dibawah payung. Karena lelah akibat sesi pemotretan yang padat dan angin sepoi2, aku tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah tidurku aku merasakan ada sesuatu yang meraba-raba tubuhku, tangan itu mengelus pahaku lalu merambat ke dadaku. Ketika tangan itu menyentuh selangkanganku tiba-tiba mataku terbuka, aku melihat om Andi sedang menggerayangi tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nes, kamu seksi sekali, om jadi napsu deh ngeliatnya. Om jadi pengen ngentotin Ines, boleh gak Nes. Nanti om bantu kamu untuk jadi model profesional”, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sudah diberi tahu temanku, aku tidak terlalu kaget mendengar permintaannya yang to the point.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ines sih mau aja om, tapi nanti Joko kalo dateng&lt;br /&gt;gimana”, tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Om Andi segera meremas2 toketku begitu mendengar bahwa aku gak keberatan dientot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu kan udah sering dientot kan Nes, nanti kalo Joko mau kita main ber 3 aja, asik kan kamunya”, katanya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam saja, om Andi berbaring di dipan disebelahku. Segera aku dipeluknya, langsung dia menciumku dengan ganas. Tangannya tetap aktif meremas2 toketku, malah kemudian mulai mengurai tali bra bikiniku yang ada ditengkuk dan dipunggung sehingga toketku pun bebas dari penutup. Dia semakin bernapsu meremas toketku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nes, toket kamu besar dan kenceng, kamu udah napsu ya Nes. Mana pentilnya gede keras begini, pasti sering diisep ya Nes”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia duduk di pinggir dipan dan mulai menyedot toketku, sementara aku meraih kontolnya serta kukocok hingga kurasakan kontol itu makin mengeras. Aku mendesis nikmat waktu tangannya membelai selangkanganku dan menggosok-gosok nonokku dari luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eenghh.. terus om.. oohh!” desahku sambil meremasi rambut om Andi yang sedang mengisap toketku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepalanya lalu pelan-pelan merambat ke bawah dan berhenti di puserku. Aku mendesah makin tidak karuan ketika lidahnya bermain-main di sana ditambah lagi dengan jarinya yang bergerak keluar masuk nonokku dari samping cd bikini ku. Aku sampai meremas-remas toket dan menggigit jariku sendiri karena tidak kuat menahan rasanya yang geli-geli enak itu hingga akhirnya tubuhku mengejang dan nonokku mengeluarkan cairan hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan merem melek aku menjambak rambut om Andi. Segera tangannya pun mengurai pengikat cd bikiniku sehingga aku sudah telanjang bulat terbaring dihadapannya, siap untuk digarap sepuasnya. Dia segera menyeruput nonokku sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah om Andi melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jembut kamu lebat ya Nes, pasti napsu kamu besar. Kamu gak puas kan kalo cuma dientot satu ronde”, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, mulutku sudah dilumatnya dengan ganas. Kurasakan aroma cairan cintaku sendiri pada mulutnya yang belepotan cairan itu. Aku agak kewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku. Setelah beberapa menit baru aku bisa beradapatasi, kubalas permainan lidahnya hingga lidah kami saling membelit dan mengisap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup lama juga kami berpagutan, dia juga menjilati wajahku sampai wajahku basah oleh liurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ines ga tahan lagi om, Ines emut kontol om ya” kataku. Om Andi langsung bangkit dan berdiri di sampingku, melepaskan semua yang nempel dibadannya dan menyodorkan kontolnya. kontolnya sudah keras sekali, besar dan panjang. Tipe kontol yang menjadi kegemaranku. Masih dalam posisi berbaring di dipan, kugenggam kontolnya, kukocok dan kujilati sejenak sebelum kumasukkan ke mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulutku terisi penuh oleh kontolnya, itu pun tidak menampung seluruhnya paling cuma masuk 3/4nya saja. Aku memainkan lidahku mengitari kepala kontolnya, terkadang juga aku menjilati lubang kencingnya sehingga om Andi bergetar dan mendesah-desah keenakan. Satu tangannya memegangi kepalaku dan dimaju-mundurkannya pinggulnya sehingga aku gelagapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eemmpp..nngg..!” aku mendesah tertahan karena nyaris kehabisan nafas, namun tidak dipedulikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala kontol itu berkali-kali menyentuh dinding kerongkonganku. Kemudian kurasakan ada cairan memenuhi mulutku. Aku berusaha menelan pejunya itu, tapi karena banyaknya pejunya meleleh di sekitar bibirku. Belum habis semburannya, dia menarik keluar kontolnya, sehingga semburan berikut mendarat disekujur wajahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuseka wajahku dengan tanganku. Sisa-sisa peju yang&lt;br /&gt;menempel di jariku kujilati sampai habis. Saat itu mendadak pintu pager terbuka dan Joko muncul dari sana, dia melongo melihat kami berdua yang sedang bugil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jok, mau ikutan gak”, tanya om Andi sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita makan dulu ya”. Segera kita menyantap makanan yang dibawa Joko&lt;br /&gt;sampai habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil makan, kulihat jakunnya Joko turun naik melihat kepolosan tubuhku, meskipun agak gugup matanya terus tertuju ke toketku. Aku mengelus-elus kontolnya dari luar celananya, membuatnya terangsang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Joko mulai berani memegang toketku, bahkan meremasnya. Aku sendiri membantu melepas kancing bajunya dan meraba-raba dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nes, toketnya gede juga ya.. enaknya diapain ya”, katanya sambil terus meremasi toketku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka pakaiannya. Nampaklah kontolnya cukup besar, walaupun tidak sebesar kontol om Andi, tapi kelihatannya lebih panjang. Kugenggam kontolnya, kurasakan kontolnya bergetar dan mengeras. Pelan-pelan tubuhku mulai menurun hingga berjongkok di hadapannya, tanpa basa-basi lagi kumasukkan kontolnya ke mulut, kujilati dan kuemut-emut hingga Joko mengerang keenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enak, Jok”, tanya om Andi yang memperhatikan Joko agak grogi menikmati emutanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Om Andi lalu mendekati kami dan meraih tanganku untuk mengocok kontolnya. Secara bergantian mulut dan tanganku melayani kedua kontol yang sudah menegang itu. Tidak puas hanya menikmati tanganku, sesaat kemudian om Andi pindah ke belakangku, tubuhku dibuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai merasakan kontolnya menyeruak masuk ke dalam nonokku. Seperti biasa, mulutku menganga mengeluarkan desahan meresapi inci demi inci kontolnya memasuki nonokku. Aku dientotnya dari belakang, sambil menyodok, kepalanya merayap ke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada toketku. Aku menggelinjang tak karuan waktu pentil kananku digigitnya dengan gemas, kocokanku pada kontol Joko makin bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya aku telah membuat Joko ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang ngentot. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat sampai kesempatan untuk menghirup udara segar pun aku tidak ada. Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja dientot dari dua arah oleh mereka, sodokan dari salah satunya menyebabkan kontol yang lain makin menghujam ke tubuhku. kontol Om Andi menyentuh bagian terdalam dari nonokku dan ketika kontol Joko menyentuh kerongkonganku, belum lagi mereka terkadang memainkan toket atau meremasi pantatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku serasa terbang melayang-layang dibuatnya hingga akhirnya tubuhku mengejang dan mataku membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh kontol Joko. Bersamaan dengan itu pula entotan Om Andi terasa makin bertenaga. Kami pun nyampe bersamaan, aku dapat merasakan pejunya yang menyembur deras di dalamku, kemudian meleleh keluar lewat selangkanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah nyampe, tubuhku berkeringat, mereka agaknya mengerti keadaanku dan menghentikan kegiatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nes, aku pengen ngen totin nonok kamu juga”, kata Joko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cuma mengangguk, lalu dia bilang lagi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Ines istirahat aja dulu, kayanya masih cape deh”. Aku turun ke kolam, dan duduk berselonjor di daerah dangkal untuk menyegarkan diriku. Mereka berdua juga ikut turun ke kolam, om Andi duduk di sebelah kiriku dan Joko di kananku. Kami mengobrol sambil memulihkan tenaga, selama itu tangan jahil mereka selalu saja meremas atau mengelus dada, paha, dan bagian sensitif lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nes, aku masukin sekarang aja ya, udah ga tahan daritadi belum rasain nonok kamu” kata Joko mengambil posisi berlutut di depanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kemudian membuka pahaku setelah kuanggukan kepala,dia mengarahkan kontolnya yang panjang dan keras itu ke nonokku, tapi dia tidak langsung&lt;br /&gt;menusuknya tapi menggesekannya pada bibir nonokku sehingga aku berkelejotan kegelian dan meremas kontol om andi yang sedang menjilati leher di bawah telingaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aahh.. Jok, cepet masukin dong, udah kebelet nih!” desahku tak tertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meringis saat dia mulai menekan masuk kontolnya. Kini nonokku telah terisi oleh kontolnya yang keras dan panjang itu, yang lalu digerakkan keluar masuk nonokku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah.. seret banget nonok kamu Nes”, erangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 15 menit dia gen tot aku dalam posisi itu, dia melepas kontolnya lalu duduk berselonjor dan manaikkan tubuhku ke kontolnya. Dengan refleks akupun menggenggam kontol itu sambil menurunkan tubuhku hingga kontolnya amblas ke dalam nonokku. Dia memegangi kedua bongkahan pantatku, secara&lt;br /&gt;bersamaan kami mulai menggoyangkan tubuh kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desahan kami bercampur baur dengan bunyi kecipak air kolam, tubuhku tersentak-sentak tak terkendali, kepalaku kugelengkan kesana-kemari, kedua toketku yang terguncang-guncang tidak luput dari tangan dan mulut mereka. Joko&lt;br /&gt;memperhatikan kontolnya sedang keluar masuk di nonokku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goyangan kami terhenti sejenak ketika om Andi tiba-tiba mendorong punggungku sehingga pantatku semakin menungging dan toketku makin tertekan ke wajah Joko. om Andi membuka pantatku dan mengarahkan kontolnya ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduuh.. pelan-pelan om, sakit ” rintihku waktu dia&lt;br /&gt;mendorong masuk kontolnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian bawahku rasanya sesak sekali karena dijejali dua kontol kontol besar. Kami kembali bergoyang, sakit yang tadi kurasakan perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat. Aku menjerit sejadi-jadinya ketika om Andi menyodok pantatku dengan kasar, kuomeli dia agar lebih lembut dikit. Bukannya mendengar, om Andi malah makin buas menggentotku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko melumat bibirku dan memainkan lidahnya di dalam mulutku agar aku tidak terlalu ribut. Hal itu berlangsung sekitar 20 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti mau meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Joko erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan Joko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun mereka masih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah&lt;br /&gt;lemas ini. Erangan yang keluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makin dahsyat, pentilku disedot kuat-kuat oleh Joko, dan om Andi menjambak rambutku. Aku lalu merasakan peju hangat menyembur di dalam nonok dan pantatku, di air nampak sedikit cairan peju itu melayang-layang. Mereka berdua pun terkulai lemas diantara tubuhku dengan kontol masih tertancap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sisa-sisa kenikmatan tadi mereda, akupun mengajak mereka naik ke atas. Sambil mengelap tubuhku yang basah kuyup, aku berjalan menuju kamar mandi. Mereka mengikutiku dan ikut mandi bersama. Disana aku cuma duduk, merekalah yang menyiram, menggosok, dan menyabuniku tentunya sambil menggerayangi. nonok dan toketku paling lama mereka sabuni sampai aku menyindir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho.. kok yang disabun disitu-situ aja sih, mandinya ga beres-beres dong, dingin nih” disambut gelak tawa kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, giliran akulah yang memandikan mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, akupun mengemut kontol mereka secara bergantian sehingga langsung saja napsu mereka memuncak. aku segera diseret ke ranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Om Andi mendapat giliran pertama, kelihatannya mereka dia main berdua aja dengan ku. Jembutku yang lebat langsung menjadi sasaran, kemudian salah satu jarinya sudah mengelus2 nonokku. Otomatis aku mengangkangkan pahaku sehingga dia mudah mengakses nonokku lebih lanjut. Segera kontolnya yang besar, panjang dan sangat keras aku genggam dan kocok2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nes, diisep dong”, pintanya. Kepalanya kujilat2 sebentar kemudian kumasukkan ke mulutku. Segera kekenyot pelan2, dan kepalaku mengangguk2 memasukkan kontolnya keluar masuk mulutku, kenyotanku jalan terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, enak Nes, baru diisep mulut atas aja udah nikmat ya, apalagi kalo yg ngisep mulut bawah”, erangnya keenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya terus saja mengelus2 no nokku yang sudah basah karena napsuku sudah memuncak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nes, kamu udah napsu banget ya, nonok kamu udah basah begini”, katanya lagi. kontolnya makin seru kuisep2nya. Kulihat Joko sedang mengelus2 kontolnya yang sudah ngaceng berat melihat om Andi menggarap aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba2 dia mencabut kontolnya dari mulutku dan segera menelungkup diatas badanku. kontolnya diarahkan ke nonokku, ditekannya kepalanya masuk ke nonokku. terasa banget nonokku meregang kemasukan kepala kontol yang besar, dia mulai mengenjotkan kontolnya pelan, keluar masuk nonokku. Tambah lama tambah cepat sehingga akhirnya seluruh kontolnya yang panjang ambles di nonokku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enak om , kontol om bikin nonok Ines sesek, dienjot yang keras om “, rengekku keenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;enjotan kontolnya makin cepat dan keras, aku juga makin sering melenguh&lt;br /&gt;kenikmatan, apalagi kalo dia mengenjotkan kontolnya masuk dengan keras, nikmat banget rasanya. Gak lama dientot aku udah merasa mau nyampe,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“om lebih cepet ngenjotnya dong, Ines udah mau nyampe”, rengekku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cepat banget Nes, om belum apa2″ jawabnya sambil mempercepat lagi enjotan kontolnya. A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;khirnya aku menjerit keenakan “Om, Ines nyampe mas , aah”, aku menggelepar kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia masih terus saja mengenjotkan kon tolnya keluar masuk dengan cepat dan keras. Tiba2 dia mencabut kontolnya dari nonokku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok dicabut om, kan belum ngecret”, protesku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia diem saja tapi menyuruh aku menungging di pinggir ranjang, rupanya dia mau gaya anjing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Om, masukkin dinonok Ines aja ya, kalo dipantat gak asik”, pintaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia diam saja. Segera kontolnya ambles lagi di nonokku dengan gaya baru ini. Dia berdiri sambil memegang pinggulku. Karena berdiri, enjotan kontolnya keras dan cepat, lebih cepat dari yang tadi, gesekannya makin kerasa di nonokku dan masuknya rasanya lebih dalem lagi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Om , nikmat”, erangku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarinya terasa mengelus2 pantatku, tiba2 salah satu jarinya disodokkan ke lubang pantatku, aku kaget sehingga mengejan. Rupanya nonokku ikut berkontraksi meremas kontol besar panjang yang sedang keluar masuk,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aah Nes, nikmat banget, empotan nonok kamu kerasa banget”, erangnya sambil terus saja mengenjot nonokku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu sambil mengenjot dia agak menelungkup di punggungku dan tangannya meremas2 toketku, kemudian tangannya menjalar lagi ke i tilku, sambil dientot i tilku dikilik2nya dengan tangannya. Nikmat banget dien tot dengan cara seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Om , nikmat banget ngentot sama om , Ines udah mau nyampe lagi. Cepetan enjotannya om ,” erangku saking nikmatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sepertinya juga udah mau ngecret, segera dia memegang pinggulku lagi dan mempercepat enjotan kontolnya. Tak lama kemudian,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Om, Ines mau nyampe lagi, om , cepetan dong enjotannya, aah”, akhirnya aku mengejang lagi keenakan. Gak lama kemudian dia mengentotkan kontolnya dalem2 di nonokku dan terasa pejunya ngecret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aah Nes, nikmat banget”, diapun agak menelungkup diatas punggungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena lemas, aku telungkup diranjang dan dia masih menindihku, kontolnya tercabut dari nonokku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Om , nikmat deh, sekali entot aja Ines bisa nyampe 2 kali. Abis ini giliran Joko ya”, kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya”, jawabnya sambil berbaring disebelahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memeluknya dan dia mengusap2 rambutku. “Kamu pinter banget muasin lelaki ya Nes”, katanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum, “Om, Ines mau ke kamar mandi, lengket badan rasanya”, aku pun bangkit dari ranjang dan menuju ke kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai membersihkan diri, aku keluar dari kamar mandi telanjang bulat, kulihat om Andi sudah tidak ada dikamar. Joko sudah berbaring diranjang. Aku tersenyum saja dan berbaring disebelahnya. Dia segera mencium bibirku dengan penuh napsu. kontolnya keelus2. Lidahku dan lidahnya saling membelit dan kecupan bibir berbunyi saking hotnya berciuman. Tangannya juga mengarah kepahaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera saja mengangkangkan pahaku, sehingga dia bisa dengan mudah mengobok2 nonokku. Sambil terus mencium bibirku, tangannya kemudian naik meremas2 toketku. Pentilku diplintir2nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jok enak, Ines udah napsu lagi nih”, erangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganku masih mengocok kontolnya yang sudah keras banget. Kemudian ciumannya beralih ke toketku. Pentilku yang sudah mengeras segera diemutnya dengan penuh napsu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jok , nikmat banget “, erangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diapun menindihku sambil terus menjilati pentilku. Jilatannya turun keperutku, kepahaku dan akhirnya mendarat di nonokku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aah Jok , enak banget, belum dientot aja udah nikmat banget”, erangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeliat2 keenakan, tanganku meremas2 sprei ketika dia mulai menjilati nonok dan i tilku. Pahaku tanpa sengaja mengepit kepalanya dan rambutnya kujambak, aku mengejang lagi, aku nyampe sebelum dientot. Dia pinter banget merangsang napsuku. Aku telentang terengah2, sementara dia terus menjilati nonokku yang basah berlendir itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bangun dan kembali mencium bibirku, dia menarik tanganku minta dikocok kontolnya. Dia merebahkan dirinya, aku bangkit menuju selangkangannya dan mulai mengemut kontolnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nes, kamu pinter banget sih”, dia memuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup lama aku mengemut kon tolnya. Sambil mengeluar masukkan di mulutku,&lt;br /&gt;kontolnya kuisep kuat2. Dia merem melek keenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku ditelentangkan dan dia segera menindihku. Aku sudah mengangkangkan pahaku lebar2. Dia menggesek2kan kepala kontolnya di bibir nonokku, lalu dienjotkan masuk,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jok , enak”, erangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mulai mengenjotkan kon tolnya keluar masuk pelan2 sampai akhirnya blees, kontolnya nancep semua di nonokku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nes, nonokmu sempit banget, padahal barusan kemasukan kontol berkali2ya”, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi enak kan, abis kontol kamu gede dan panjang sampe nonok Ines kerasa sempit”, jawabku terengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mulai mengenjotkan kontolnya keluar masuk dengan cepat, bibirku diciumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enak Jok, aah”, erangku keenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;enjotannya makin cepat dan keras, pinggulku sampe bergetar karenanya. Terasa nonokku mulai berkedut2,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jok lebih cepet dong, enak banget, Ines udah mau nyampe”, erangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cepet banget Nes, aku belum apa2″, jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abisnya kon tol kamu enak banget sih gesekannya”, jawabku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;enjotannya makin keras, setiap ditekan masuk amblesnya dalem banget rasanya. Itu menambah nikmat buat aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus Jok , enak”. Toketku diremas2 sambil terus mengenjotkan kontolnya keluar masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus Jok , lebih cepat, aah, enak Jok, jangan brenti, aakh…” akhirnya aku mengejang, aku nyampe, nikmat banget rasanya. Padahal dengan om Andi, aku udah nyampe 2 kali, nyampe kali ini masih terasa nikmat banget. Aku memeluk pinggangnya dengan kakiku, sehingga rasanya makin dalem kontolnya nancep. nonokku kudenyut2kan meremas kontolnya sehingga dia melenguh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enak Nes, empotan nonok kamu hebat banget, aku udah mau ngecret, terus diempot Nes”, erangnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sambil terus mengenjot nonokku. Akhirnya bentengnya jebol juga. Pejunya ngecret didalam nonokku, banyak banget kerasa nyemburnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nes, aakh, aku ngecret Nes, nikmatnya nonok kamu”, erangnya. Dia menelungkup diatas badanku, bibirku diciumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Trima kasih ya Nes, kamu bikin aku nikmat banget”. Setelah kontolnya mengecil, dicabutnya dari nonokku dan dia berbaring disebelahku. Aku lemes banget walaupun nikmat sekali. Tanpa terasa aku tertidur disebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terbangun karena merasa ada jilatan di nonokku, ternyata om Andi yang masih pengen ngentotin aku lagi. kulihat kontolnya sudah ngaceng lagi. nonokku dijilatinya dengan penuh napsu. Pahaku diangkatnya keatas supaya nonokku makin terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Om , nikmat banget mas jilatannya”, erangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngantukku sudah hilang karena rasa nikmat itu. Aku meremas2 toketku sendiri untuk menambah nikmatnya jilatan di nonokku. Pentilku kuplintir2 juga. Kemudian itilku diisep2nya sambil sesekali menjilati nonokku, menyebabkan nonokku sudah banjir lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggelepar2 ketika itilku diemutnya. Cukup lama itilku diemutnya sampai akhirnya kakiku dikangkangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Om, masukin dong om , Ines udah pengen dientot”, rengekku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia langsung menindih tubuhku, kontolnya diarahkan ke nonokku. Begitu kepala kontolnya menerobos masuk,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang dalem om , masukin aja semuanya sekaligus, ayo dong om “, rengekku karena napsuku yang sudah muncak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia langsung mengenjotkan kontolnya dengan keras sehingga sebentar saja kontolnya sudah nancap semuanya dinonokku. Kakiku segera melingkari pinggangnya sehingga kontolnya terasa masuk lebih dalem lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo om , dienjot dong”, rengekku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mulai mengenjot nonokku dengan cepat dan keras, uuh nikmat banget rasanya. enjotannya makin cepat dan keras, ini membuat aku menggeliat2 saking nikmatnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Om , enak om , terus om , Ines udah mau nyampe rasanya”, erangku. Dia tidak menjawab malah mempercepat lagi enjotan kontolnya.Toketku diremas2nya, sampe akhirnya aku mengejang lagi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“om enak, Ines nyampe om , aah”, erangku lemes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakiku yang tadinya melingkari pinggangnya aku turunkan ke ranjang. Dia tidak memperdulikan keadaanku, kontolnya terus saja dienjotkan keluar masuk dengan cepat, napasnya sudah mendengus2. nonokku kudenyut2kan meremas kontolnya. Dia meringis keenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nes, terus diempot Nes, nikmat banget rasanya. Terus empotannya biar om bisa ngecret Nes”, pintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu enjotan kon tolnya masih terus gencar merojok nonokku. Toketku kembali diremas2nya, pentilnya diplintir2nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Om , Ines kepengin ngerasain lagi disemprot peju om “, kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus saja kontolnya dienjotkan keluar masuk nonokku dengan cepat dan keras, sampai akhirnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nes, aku mau ngecret Nes, aah”, erangnya dan terasa semburan pejunya mengisi bagian terdalam nonokku. Nikmat banget rasanya disemprot peju anget. Dia ambruk dan memelukku erat2,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nes, nikmat banget deh ngen tot ama kamu”, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beristirahat sebentar, aku segera membersihkan diri dan berpakaian. Kami kembali ke Jakarta. Diperjalanan pulang aku hanya terkapar saja dikursi mobil. Lemes banget abis dien tot 2 cowok berkali2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Om, jangan lupa orbitin Ines ya”, kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan kawatir, selama om masih bisa ngerasain empotan nonok kamu, pasti kamu melejit keatas deh. Bener gak Jok”, jawabnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7501232687625531161-3969921729985422686?l=dennythejaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dennythejaya.blogspot.com/feeds/3969921729985422686/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7501232687625531161&amp;postID=3969921729985422686' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/3969921729985422686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/3969921729985422686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dennythejaya.blogspot.com/2011/05/di-gilir-2-lelaki.html' title='Di Gilir 2 lelaki'/><author><name>denny</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7501232687625531161.post-3470112563814678</id><published>2011-05-29T03:44:00.000-07:00</published><updated>2011-05-29T03:45:13.288-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seks.Binal'/><title type='text'>Wanita Penggoda</title><content type='html'>Saat ini aku baru lulus SMA sedang cari tempat kuliah, tapi sudah 3 kota kujelajahi tidak satupun yang aku rasa cocok, akhirnya aku kembali ke kotaku. Sebut saja namaku Novita, saat ini usiaku 19 tahun, kata orang yang mengenalku aku dianggap sebagai wanita penggoda ini disebabkan bentuk tubuhku yang yahud dengan bodi montok dan seksi serta bibir tipis dan kulit putih bersih bak mutiara. Orang bilang aku kayak bintang sinetron, CK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya aku dicap sebagai gadis penggoda yaitu ketika aku duduk di kelas II SMA, aku mempunyai teman akrab, sebut saja Anggie. Dia pindahan dari sekolah lain, selain sebagai siswa sekolah yang kutahu dia sebagai pelacur jika di luar lingkungan sekolah. Di sekolah hanya aku yang mengetahuinya, karena seringnya aku bergaul dengan Anggie, aku jadi sedikit ketularan gaya pelacurnya, sehingga sekolah tahu kalau aku yang menjadi pelacur. Karena Anggie-lah, aku sering menonton film porno miliknya. Jadi kalau ada seorang lelaki yang kulihat ganteng ada di sekolah pasti kuganggu dengan suitan-suitan.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki yang pertama kali kugoda adalah kepala sekolahku sendiri, sebut saja Pak Lubis. Aku dan Anggie sedang ada di lorong sekolah, 1 minggu lagi aku mau Ebtanas jadi pelajaran sudah berkurang, tapi banyak guru-guru dari sekolah lain yang meninjau sekolahku karena mereka akan jaga Ebta di sekolahku. Ada seorang guru dari sekolah lain sedang melintas di depanku dan Anggie, orangnya sih imut jadi kugoda. "Suit.. suit.. Bapak, boleh dong kenalan sama Novita.." kataku ketika dia melintas di depanku. Orang itu hanya tersenyum-senyum melihat ke arahku, tapi aku tidak tahu kalau kepala sekolahku saat itu ada di belakangku. Tiba-tiba telingaku dijewernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hayo.. kamu Novi.. ganggu orang aja yach.."&lt;br /&gt;"Aduh.. sakit Pak.."&lt;br /&gt;"Kamu ke kantor Bapak ya.. kamu ini.."&lt;br /&gt;"Iya.. iya.. Pak.."&lt;br /&gt;Dengan langkah terpaksa kuikuti kepala sekolahku ke kantornya. Pak lubis ini memang terkenal galaknya. Ketika sampai di kantornya disuruhnya duduk berhadapan terhalang meja kerjanya yang banyak sekali surat-surat di atasnya.&lt;br /&gt;"Tutup pintunya.. terus kamu duduk sini.."&lt;br /&gt;"Iya.. Pak.."&lt;br /&gt;Kututup pintu kantor Pak Lubis lalu duduk di hadapannya.&lt;br /&gt;"Nov.. kamu ini.. ganggu orang.. aja.. kamu khan seminggu lagi ujian.. apa kamu nggak mau lulus?"&lt;br /&gt;"Iya.. mau Pak.."&lt;br /&gt;"Iya.. kamu belajar dong.. bukannya gangguin orang terus.. kalau kamu begitu terus saya nggak bisa beri kamu lulus.."&lt;br /&gt;"Iya.. jangan dong Pak.. Novi.. pingin lulus Pak.. tapi Novi punya syarat deh.."&lt;br /&gt;"Syarat apa.. pakai syarat-syarat segala.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak mengatakan apa-apa syaratnya, aku berdiri dan berjalan ke arah pintu kantor Pak Lubis.&lt;br /&gt;"Hei.. kamu mau kemana? saya belum selesai."&lt;br /&gt;Pintu kantor Pak Lubis kukunci lalu aku kembali ke arahnya, tapi aku tidak duduk di kursi lagi, aku duduk di atas meja kerja Pak Lubis yang Pak Lubis sedang duduk di kursinya melongo melihat tingkah lakuku. Arsip di atas meja kusingkirkan. Aku berhadapan dengan Pak Lubis, kancing bajuku kubuka satu persatu dan bajuku kusingkapkan sehingga BH-ku warna pink dan perutku yang mulus dan putih telah terlihat oleh Pak Lubis, lalu tanganku menggapai tangan Pak lubis yang berotot, tangan itu kutuntun ke arah rok abu-abuku, lalu kusingkap rokku dan dengan bantuan tangan Pak Lubis kuraih celana dalamku warna krem lalu kutarik hingga betis, dan terpampanglah dengan jelas vaginaku dengan bulu-bulu halus di depan mata Pak Lubis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak.. inilah syaratnya.. sekarang selesaikan yang ingin Bapak selesaikan.."&lt;br /&gt;Pak Lubis hanya terbengong melihat tubuhku yang sudah kubuka untuknya matanya terus menatap ke arah vaginaku. Nafasnya berubah menjadi semakin liar.&lt;br /&gt;"Nov.. ka.. kamu.. hgeehh.. vaginamu bagus sekali.. harum.. lagi.. ka.. kamu.. mau.. ya.."&lt;br /&gt;"Iya.. Pak.. selesaikan aja sekarang."&lt;br /&gt;Tiba-tiba tangan Pak Lubis meregangkan kakiku, sehingga semakin jelas vaginaku terlihatnya. Pak Lubis setengah berdiri lalu lidahnya mulai menyapu bibir vaginaku dengan lembutnya, yang membuat diriku jadi menggelinjang karena baru pertama kali ini vaginaku dijilat seseorang, yang mana sebelumnya hal ini hanya kulihat di film porno milik Anggie, tapi sekarang aku merasakannya. Keringatku mulai keluar membasahi bajuku, perutku juga mulai basah oleh keringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaahh.. sshh.. Pak.. ee.. enak.. sshh.."&lt;br /&gt;"Nov.. kamu baru pertama kali yach.. diginiin.."&lt;br /&gt;"Iy.. iyahh.. Pak.. aahh.."&lt;br /&gt;Vaginaku terus dijilat oleh lidahnya dengan rakus. Pada saat biji klitorisku terjilat, aku melenguh.&lt;br /&gt;"Aaahh.. aarghh.. iya.. Pak.. di situ.. Pak.. enak.. sekali.. argh.. argh.."&lt;br /&gt;"Iyah.. Nov.. Bapak.. juga suka.. rasanya manis sekali.. hheehh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Pak lubis kupegang dan kuelus lalu kujepit dengan pahaku, rasanya aku tidak ingin kalau Pak lubis melepaskan lidahnya dari vaginaku. Dan itu yang membuat Pak Lubis makin menggila menjilati vaginaku. Lima menit setelah vaginaku mulai basah entah oleh cairan atau ludah Pak Lubis. Pak Lubis menurunkan celana panjangnya dan di balik itu batang kemaluannya yang sudah mengeras dan tegang seakan mendesak keluar dari celana dalamnya yang membuat Pak Lubis merasa tidak enak sehingga dia pun langsung melepaskan celana dalamnya dan muncullah batang kemaluannya yang agak panjang kira-kira 15 cm dengan diameter kira-kira 3 cm dan berurat menggelantung di tengah pahanya. Dipegangnya batang kemaluannya lalu ditempelkan tepat di bibir vaginaku. Rasa batang itu agak hangat menyentuh vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nov.. masukkin.. sekarang yach.."&lt;br /&gt;"Iya.. Pak.. punya Bapak kepalanya hangat deh.. batangnya pasti lebih hangat lagi.."&lt;br /&gt;Tanganku merangkul lehernya, sedangkan tangan Pak lubis memegang kedua pantatku yang bersandar di atas meja, lalu batang kemaluannya mulai disodokkan ke vaginaku. Aku hanya bisa terpejam menahan sodokan batangnya, karena memang vaginaku belum pernah ditembus apapun sehingga batang itu meletot ke kiri dan ke kanan vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nov.. vaginamu sempit sekali, kamu masih perawan yach.."&lt;br /&gt;"Iya.. Pak, memang belum pernah ditusuk kok Pak.. baru pertama kali ini, coba jari Bapak dulu aja.."&lt;br /&gt;Pak Lubis tersenyum seakan senang bisa membobol vaginaku untuk yang pertama kalinya. Jarinya mulai mencoba dikorek-korekkan ke vaginaku, hal ini membuatku menggelinjang. Sekitar lima menit jari itu menguak bibir vaginaku agar makin lebar. Setelah itu dicobanya lagi batang kemaluannya menusuk vaginaku, dihentaknya berkali-kali hingga baru yang kesepuluh kalinya akhirnya batang kemaluan itu masuk ke dalam vaginaku walau hanya setengah. Batang itu membuat aku terasa sesak nafas menahan hentakan di dalam vaginaku. Selama batang itu dihentak aku hanya bisa memejamkan mata menahan sakit yang sangat pada dinding vaginaku tapi ketika sudah masuk setengah rasanya berubah menjadi nikmat yang sangat luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Arrgghh.. arrgghh.. mmgghh.. Pak.. enak.. Pak.. terus sodoknya.."&lt;br /&gt;"Iya.. Nov.. heh.. heh.. vaginamu enak sekali, rasanya batangku diperas dalam vaginamu.. heh.. heh.. oh.. ohh.. oohh.."&lt;br /&gt;Tangannya mulai mengusap perutku lalu BH-ku ditariknya sehingga payudaraku yang montok nan mancung berselimut kulit yang putih mulus dihiasi puting kemerah-merahan terpampang jelas. Payudaraku diremasnya, lalu mulutnya mulai melahap payudaraku, dihisap, dikenyot dan digigit. Mulutku yang seksi dengan bibir merekah sekarang dikecup bibirnya sesekali lidahnya memainkan lidahku hingga aku makin menggelinjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak puas dengan gaya menyodok dari depan, badanku di atas meja kerjanya diputarnya sementara batang kemaluannya masih terbenam dalam vaginaku, jadi gaya sekarang doggie style, aku berpegangan pada sisi meja kerjanya, vaginaku disodoknya dari belakang, hal ini membuatku meronta-ronta ketika batangnya berputar di dalam vaginaku.&lt;br /&gt;"Aaahh.. aahh.. Pak enak sekali.."&lt;br /&gt;"Nov.. enakan gaya doggie style daripada gaya yang tadi.."&lt;br /&gt;Sodokan batang kemaluan Pak Lubis seakan akan merobek vaginaku, hingga hampir 25 menit kemudian tiba-tiba badanku kejang dan keluarlah cairan dari dalam vaginaku dengan derasnya membasahi batang Pak Lubis yang masih tenggelam di dalam vaginaku, saking derasnya sebagian menetes pada meja kerjanya, cairan yang banyak sekali keluar dari vaginaku membuatku lemas tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaahh.. aarrgghh.. mmgghh.. Pak.. saya mau.. keluar.. nih.. Paakk.."&lt;br /&gt;Sementara Pak Lubis makin mempercepat sodokan batangnya ke vaginaku yang becek, pantatku yang putih mulus nan montok lagi dihisap dan digigit mulutnya, dan 5 menit kemudian Pak Lubis akhirnya mencabut batangnya dari vaginaku dan langsung muncrat cairan dari dalam batangnya dengan deras membasahi pantat dan punggungku. "Argh.. argh.. argh.. Nov.. vaginamu memang enak sekali deh.. argh.. argh.. sshh.. sshh.." Terduduklah Pak lubis di kursi kerjanya dengan lemas, sementara aku masih tergeletak di atas meja kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian ada suara ketukan di pintu, Pak Lubis sontak membersihkan batangnya yang masih banyak cairan dengan celana dalamnya sendiri, aku dibangunkan, vaginaku yang masih ada sisa cairan dibersihkan dengan kertas kertas arsip yang ditemukan olehnya dan menyuruhku pakai bajuku. Sisa cairanku yang tumpah di meja kerjanya dibersihkan dengan sapu tangannya. Setelah aku dan Pak Lubis telah berpakaian, dia menyuruhku keluar dari ruang kerjanya dan mempersilakan tamu yang mengetuk masuk ruangan, rupanya yang mengetuk adalah wakil kepala sekolah, Ibu Linda. Dengan langkah gontai kutinggalkan Pak Lubis dengan Bu Linda. Aku pun pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir 5 hari aku tidak masuk sekolah, karena selangkanganku rasanya sakit setelah disodok Pak Lubis untuk pertama kalinya. Aku masuk sekolah hanya untuk mengetahui lokasi ujian Ebta, yang rupanya aku mendapat lokasi di sebuah SMEA yang jauhnya 10 km dari sekolahku dan setelah masuk ujian Ebta, hanya aku yang ada di SMEA itu tidak ada temanku dari sekolah SMA-ku. Ujian Ebta berlangsung selama 5 hari, ketika hari Jum'at, hari terakhir seusai ujian di saat aku jalan menuju halte, aku dicegat oleh mobil Mercy, yang rupanya di dalamnya Pak Lubis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nov.. sudah selesai ujiannya, mau saya antar?"&lt;br /&gt;"Bolehlah Pak.."&lt;br /&gt;Aku lalu masuk ke dalam mobil Pak Lubis dan kami pergi dari SMEA itu.&lt;br /&gt;"Nov.. maaf yach kejadian di ruang kerja saya.."&lt;br /&gt;"Ah.. nggak apa-apa koq Pak.."&lt;br /&gt;"Terus terang sejak kejadian itu.. saya jadi kangen sama kamu.. kita tidak bertemu hampir 2 minggu. Maaf yach.. Nov.. saya pingin kehangatan dirimu lagi.. apa kamu mau melakukannya lagi..?"&lt;br /&gt;"Nov.. juga kangen sama Bapak.. terserah Bapak lah saya mah ikut Bapak aja.."&lt;br /&gt;"Terima kasih.. yach.. Nov.. kalau kamu bersedia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat Pak Lubis tersenyum karena ajakannya tidak kutolak, kucium pipinya sewaktu dia menyupir. Hari itu Pak Lubis mengajakku ke Ancol, sampai di sana kami makan siang lalu sekitar jam 14.00, aku dan Pak Lubis memesan sebuah kamar di Pondok Putri Duyung, begitu masuk kamar dengan nafsu membara Pak Lubis dan aku langsung bugil, ditempelkan badanku di dinding lalu Pak Lubis langsung menyodokkan batangnya ke vaginaku dalam posisi berdiri, seakan aku digendongnya, hampir 1 jam lamanya kami melakukan dengan posisi berdiri lalu dia memindahkan tubuhku ke tempat tidur dengan posisi aku menggantungkan kakiku di sisi tempat tidur dan disodoknya sementara batangnya masih terbenam di vaginaku sejak posisi berdiri. Satu Jam kemudian ketika aku akhirnya mengeluarkan cairan dan darah dari vaginaku dengan derasnya yang membuatku lemas tak berdaya, kami ganti posisi lagi, sekarang kakiku diletakkan di pundak Pak Lubis sehingga hujaman batangnya serasa lebih masuk lagi ke vaginaku dan pada posisi yang ketiga ini kami lakukan sampai 1 jam kemudian dan Pak Lubis pun mengeluarkan cairannya di dalam vaginaku hingga aku merasakan kehangatan air maninya dalam vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tenaga Pak Lubis sangat luar biasa, walau dia telah menyirami air mani dalam vaginaku. Pak Lubis membalikan badanku yang lemas-lemasnya untuk ganti posisi lagi dimana sekarang aku jongkok di badannya sedangkan Pak Lubis tidur terlentang. Badanku dipegangi kedua tangannya sedangkan vaginaku yang tertusuk batang kemaluannya, lalu badanku dihentakkan naik-turun, gaya posisi ini kami lakukan selama 1 jam, lalu setelah itu dia memegangi tubuhku lalu diputarnya badanku sehingga posisi kami berubah lagi, badanku membelakanginya dan dikocoknya badanku naik-turun, posisi inipun kami lakukan dalam 1 jam berikutnya hingga aku mengeluarkan cairan lagi untuk kedua kalinya hingga aku agak tak sadarkan diri karena kali ini cairanku keluar dengan darah yang agak banyak. Dalam keadaan tubuhku yang sangat lemas, batang itu masih di dalam vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Lubis merubah posisi lagi hingga ke-6 kalinya, kali ini aku nungging di tempat tidur dan dia menyodok dengan keras sekali, posisi inipun kami lakukan selama 1 jam hingga aku mengeluarkan cairan lagi yang ketiga kalinya dan Pak Lubis juga kembali mengeluarkan cairan di dalam vaginaku secara hampir bersamaan. Akhirnya setelah 6 jam vaginaku dihujam habis-habisan oleh batang Pak Lubis dengan 6 posisi pula, aku pun langsung pingsan diikuti Pak Lubis yang ambruk di tubuhku sambil memelukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terbangun dari pingsanku ketika aku sudah tiba di depan rumahku kira-kira jam 23.00 malam. Sebelum aku turun dari mobil Pak Lubis aku mencium bibir Pak Lubis.&lt;br /&gt;"Pak.. makasih ya.. Nov.. benar-benar puas deh.."&lt;br /&gt;"Nov.. Bapak yang harus terima kasih karena kamu bisa memuaskan saya hampir 6 jam lamanya, kamu hebat.. Nov.. dan terima kasih kalau kamu mau menerima air mani saya.. di vaginamu.."&lt;br /&gt;"Nggak.. Nov.. yang terima kasih karena Bapak memberikan air mani Bapak.. buat Nov.."&lt;br /&gt;Setelah itu aku turun dari mobilnya dan Pak Lubis langsung meninggalkanku. Dengan langkah gontai aku masuk rumah dan langsung tidur. Berhari-hari aku tidak turun dari tempat tidur karena selangkanganku rasanya sakit sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengumuman Ujian Ebta berlangsung 3 minggu kemudian, yang jatuh hari Sabtu, aku ke sekolah untuk lihat hasil ujian sekaligus untuk bertemu dengan Pak Lubis karena rasa kangenku, tapi Pak Lubis sedang rapat di kopertis. Aku pulang dari sekolah kira-kira jam 04.30 sore dengan langkah gontai aku tiba di rumah, di saat itu mamaku mau pergi dengan temannya.&lt;br /&gt;"Nov.. jaga rumah ya.. Mama mau arisan, pulangnya jam 09.00, kedua adikmu juga baru pergi ke Mal."&lt;br /&gt;"Iya.. Ma, jangan lupa oleh-oleh buat Nov.."&lt;br /&gt;Mama pun pergi, dengan agak malas aku masuk ke dalam rumah, karena aku berharap di malam Minggu ini aku bisa bersama Pak Lubis. Setelah menutup pintu aku ke kamarku dan mandi. Selesai Mandi ketika aku sedang memandangi dan memijat-mijat kedua payudaraku karena 3 minggu tidak tersentuh oleh tangan laki-laki, tiba-tiba pintu kamarku dibuka, rupanya ayahku baru pulang dari bengkel, ayahku memang pemilik sebuah bengkel di kota Jakarta ini. "Eh.. Ayah.." aku langsung mengambil handuk untuk menutupi payudaraku. Ayah yang juga kaget lalu menutup pintu kamar dan bertanya padaku dari luar kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mamamu sama adik-adikmu kemana..?"&lt;br /&gt;"Pergi.. yah, Mama ada arisan, Adik-adik ke Mal."&lt;br /&gt;"Ooohh, eh.. iya gimana kamu lulus, nggak.."&lt;br /&gt;"Lulus.. Yah.."&lt;br /&gt;"Ya.. sudah.. Ayah mau istirahat.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara ayah lalu menghilang. Aku yang masih agak kaget atas kejadian yang baru terjadi, tiba-tiba perasaanku berubah. Ada perasaan untuk menggoda ayahku karena sudah 3 minggu aku horny, ingin sekali merasakan kehangatan laki-laki, akhirnya aku memilih baju sackdress berwarna hitam dengan hanya menggunakan celana dalam tanpa memakai BH, jadi bentuk payudaraku agak terbayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku keluar kamar dan kulihat ayah sedang nonton TV di ruang keluarga, kuhampiri ayahku, salah satu tangan ayah memegang gelas berisi kopi dan yang satunya memegang remote TV. Aku membayangi jika tangan ayah yang kekar menjamah tubuhku. Lalu aku duduk di sofa sebelah ayah. Tiba-tiba ayah mencium pipiku.&lt;br /&gt;"Selamat.. ya.. Nov.. kamu ada rencana kuliah dimana..?"&lt;br /&gt;"Wah.. belum.. tau Yah.. Nov.. binggung."&lt;br /&gt;Ciuman ayahku membuatku agak terangsang, lalu aku menyadarkan kepalaku pada bahu ayah.&lt;br /&gt;"Yah.. minumnya hanya kopi.."&lt;br /&gt;"Ayah.. sudah cari yang lain.. tapi di dapur nggak ada.."&lt;br /&gt;"Ayah.. mau tambah.. susu?"&lt;br /&gt;"Emangnya ada.. koq Ayah.. nggak lihat.. di kulkas yach.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah lalu berusaha bangkit menuju ke arah kulkas, tapi buru-buru kucegah. Sehingga ayah duduk lagi.&lt;br /&gt;"Susunya.. di sini koq.. Yah.."&lt;br /&gt;"Mana..?"&lt;br /&gt;Aku tidak menjawab, lalu aku bangkit dari dudukku dan berdiri tepat di depan Ayahku. Tali baju saCDress aku turunkan sampai hampir ke perut dan terpampanglah payudaraku yang mancung diselimuti kulit yang halus di depan muka ayahku. Ayahku agak terkaget melihatku.&lt;br /&gt;"Nov.. ka.. kamu.. ngapain.."&lt;br /&gt;Ayah terbata-bata sementara matanya tidak berpaling terus menatap payudaraku.&lt;br /&gt;"Ini susunya.. Yah.. buat Ayah.."&lt;br /&gt;"Ka.. ka.. kamu.. gila.. Nov.. mau godain.. Ayah.."&lt;br /&gt;"Mumpung.. Mama dan adik-adik pergi.. Yah.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kugapai tangan ayahku yang masih terbengong lalu kutempelkan tangannya di payudaraku. Tangannya yang kekar tepat memenuhi payudaraku. Tangannya agak basah berkeringat. Tapi tiba-tiba tangan itu meremas payudaraku dengan lembut.&lt;br /&gt;"Aaahh.. terus.. Yah.."&lt;br /&gt;"Nov.. payudaramu indah sekali.. bening banget.. kenyal lagi.."&lt;br /&gt;Ayah yang sudah terangsang mulai mencium payudaraku, dicium, dijilat, dikenyot, dihisap dan digigit putingku yang berwarna kemerahan.&lt;br /&gt;"Yah.. aahh.. aahh en.. enak.. Yah.."&lt;br /&gt;"Iya.. sayang.. putingmu.. manis.."&lt;br /&gt;Sementara payudaraku sedang dimakan oleh mulut ayahku, tangannya mulai merambah ke pahaku, rok sackdres-ku diangkatnya lalu diraihnya celana dalamku dan ditarik ke bawah hingga kaki, otomatis vaginaku yang ranum terpampang jelas dan menyerbakkan aroma harum ke ruang keluarga.&lt;br /&gt;"Nov.. bau apa ini.. harum sekali.."&lt;br /&gt;"Bau vagina Nov.. Ayah.. khan.. Nov.. baru mandi."&lt;br /&gt;"Waawww.. pasti rasanya.. enak.. juga.. ya.."&lt;br /&gt;"Kalau Ayah mau.. mencoba.. boleh.. kok.. sodok aja sama batang.. Ayah.. yang mulai nonjol.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat batang kemaluan ayah sudah mulai mendesak dari balik celana yang dikenakannya. Tubuhku lalu digendong ayah dan dibaringkan di sofa, lalu ayah jongkok persis di pahaku dimana vaginaku sudah terpampang dengan jelas. Dengan lembut ayah menjilati bibir vagina lidah ayah sangat lembut sehingga aku menggelinjang.&lt;br /&gt;"Aahh.. aahh.. Ayah.. eennaakk.. sekali.."&lt;br /&gt;Phaku kutekan sehingga kepala ayahku terjepit ini kulakukan karena aku tidak ingin ayahku melepaskan jilatan lidahnya pada vaginaku.&lt;br /&gt;"Nov.. vaginamu.. segar.. sekali.. Ayah.. suka.."&lt;br /&gt;Lidah ayah semakin ke dalam dan ketika klitorisku terjilat aku berontak keenakan.&lt;br /&gt;"Iyah.. iyah.. itu.. Yah.. enak.. sekali.. heehh.."&lt;br /&gt;"Nov.. Ayah.. juga.. suka.. rasanya manis.. deh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klitorisku dijilat ayah sampai 15 menit kemudian dan akhirnya meledaklah vaginaku dengan menyemburkan cairan yang banyak sekali membasahi vaginaku dan lidah ayah, tapi dengan tangkas ayah langsung menelan cairan kental milikku sehingga sedikit sekali yang membasahi pahaku. "Aaargghh.. arrghh.. Aayaahh.. nikmat.. sekali.. aahh.. aahh.." Lemaslah tubuhku di sofa, sementara ayah mempersiapkan diri untuk menyodokku. Ayah melepaskan semua pakaiannya hingga bugil dan kulihat batang kemaluan ayah yang besar sekali melebihi punya Pak Lubis karena aku perkirakan panjangnya 20 cm dengan diameter 4 cm, aku tersenyum melihat ayahku karena aku yakin pasti aku bisa dibuat puas oleh ayahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah berdiri di depan mukaku, batang ayah diarahkan ke mulutku, ayah menginginkan batangnya dijilat olehku. Tanganku mencoba meraih batang ayah, tetapi saking besarnya tanganku tidak bisa menggenggamnya. Lidahku kujulurkan menjilati batang ayah yang berurat, kujilat, kuhisap, kuemut dan kugigit layaknya anak kecil makan es loli. Kulirik ayah hanya merem-melek menikmatinya serbuan mulutku pada batangnya. Hampir 15 menit lamanya ketika batang ayahku basah oleh ludahku, ayah memindahkan dari mulutku dan langsung ditempelkan tepat di bibir vaginaku. Kakiku dibukanya hingga vaginaku terbuka lebar. Kedua tangan ayah memegangi telapak kakiku lalu batangnya mulai menyodok vaginaku, tapi karena batang ayah yang super gede dan tidak dipeganginya maka meletot batang ayah di luar vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah lalu memegang batangnya dan tepat ditempelkan pada vaginaku dan kembali menyodokkan batangnya pada vaginaku, walaupun vaginaku pernah terbongkar oleh batangnya Pak Lubis, kepala sekolahku, dan batang ayah yang super gede maka tidak bisa sekali sodok untuk memasukkan batangnya ke vaginaku. Akhirnya setelah 15 kali ayah berusaha menyodokkan batangnya, masuklah hingga setengahnya ke dalam vaginaku. "Heekh.. heekh.. Yah.. punya Ayah.. gede.. banget.. masuknya sampe.. vagina.. Nov.. robek.. nih.. aahh.. aah.. sshh.. sshh.. terus.. yah.. terus.. e.. e.. enak.. deh.." Hantaman batang ayah yang besar di dalam vaginaku membuatku sesak nafas untuk menahannya tapi rasanya sangat nikmat. Ayah terus menghentakkan batangnya ke vaginaku dengan genjotannya secara terus menerus sampai hampir satu jam lamanya setelah keringat deras mengucur dari tubuhku dan tubuh ayah dan aku mulai kejang-kejang seakan ingin memuntahkan cairan dari vaginaku yang pada akhirnya keluarlah dengan deras cairan dari vaginaku membasahi batang ayah yang masih terdiam di dalam vagina milikku disertai eranganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aarrgghh.. aarrgghh.. Ayah.. Nov.. keluar.. nih.. Yah.. sshh.. sshh.. aagghh.. agghh.. eennaakk.. deh.. aahh.. aahh.." Lemaslah dengan lunglai tubuhku di sofa, sedang kulihat ayah belum merasakan apa-apa. Tiba-tiba ayah memegang kedua tanganku lalu mengangkat tubuhku dimana batang ayah masih tertancap di vaginaku, sehingga posisi kami sekarang ayah seakan menggendongku, tanganku memeluk leher ayah. Dengan posisi berdiri ayah menggoyangkan tubuhku, digendongannya naik-turun menggerakkan batangnya menembus vaginaku sehingga aku loncat-loncat. Aku sangat menyukai yang dilakukan ayahku karena sudah pasti rasanya batang itu lebih ke dalam lagi memasuki vaginaku. Walaupun tubuhku yang sudah lemas tapi aku berusaha mengimbangi gaya ayahku, payudaraku yang ranum, padat, kenyal sudah diserbu mulut ayah baik digigit, dikenyot, dihisap putingnya. Aku membalas dengan mengecup dahinya sambil mengelus rambutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi ini dilakukan ayahku selama 15 menit yang lalu mengubah posisi lagi dimana batang ayah yang masih menancap di vaginaku dan tubuhku diputar lalu diletakkanlah tubuhku kembali di atas sofa jadi posisi yang sekarang, aku menungging disodok ayah. Posisi inilah yang rupanya disenangi ayahku, karena dia merasakan bahwa batangnya lebih menyodok ke dalam lagi. "Heeh.. heeh.. heeh.. Nov.. vaginamu.. luar.. biasa.. sekali.. batang.. Ayah.. kayak.. dipelintir.. Ayah.. suka.. sekali.. heehh.. hhgghh.. hhgghh.." Selama satu jam Ayah menyodokku dengan posisi nungging dan tiba-tiba tubuh ayah mengejang dan batangnya dicabut dari vaginaku dan batangnya diarahkan ke mulutku yang tertutup dan secara otomatis langsung kubuka mulutku menyambut batang ayah yang langsung menumpahkan cairan yang banyak sekali dan hangat sehingga cairan ayah otomatis tertelan di mulutku tapi saking banyaknya cairan itu akhirnya meleleh sampai mukaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaarghh.. argghh.. Nov.. isap.. Nov.. telan.. nih.. cairan.. Ayah.. aarghh.. arghh.. sshh.. nikmatnya.."&lt;br /&gt;"Mmbbmm.. mmbmm.. ssllrupp.. ssllruupp.. ahh.. Yah.. cairan.. Ayah.. nikmat.. sekali.."&lt;br /&gt;Ambruklah tubuh ayah meniban tubuhku di sofa dan kami pun tertidur. Jam 08.00 malam aku terbangun dari tidurku di saat ayah menggendong tubuhku yang bugil menuju kamarku.&lt;br /&gt;"Yah.. terima kasih.. Yah.. Nov.. merasakan.. kenikmatan.. yang.. tiada tara.. tapi lain kali cairan.. Ayah.. masukin aja.. di dalam. vagina Nov.."&lt;br /&gt;"Iya.. sayang.. nanti.. Ayah.. kasih.. Ayah.. juga.. terima kasih.. atas.. kenikmatan vaginamu.. sekarang kamu.. tidur.. di kamar ya.. nanti ibumu.. pulang."&lt;br /&gt;Tubuhku diletakkan ayah di tempat tidurku dalam kamarku, setelah mengecupku ayah meninggalkanku yang terbaring bugil keluar kamarku dan tidak lama kemudian kudengar ayahku mandi sedangkan aku tertidur lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubunganku dengan ayah berlanjut terutama jika ibu dan kedua adikku tidak di rumah. Kami pun sering melakukan di motel. Tapi sebaik-baiknya perbuatan, kalau yang busuk pasti terbongkar. Terbongkarnya perbuatanku dengan ayah ketika sudah hampir 1 bulan berjalan. Malam itu sekitar setengah satu ketika aku sedang tidur "ayam" di kamarku dan sudah tiga hari aku dan ayah berhubungan, ayah masuk ke kamarku untuk melakukan hubungan badan, setelah 1 jam lamanya kami berhubungan di saat posisiku sedang di atas tubuh ayah, vaginaku tertusuk batang ayah. Pintu kamar terbuka dan di luar kamar ibuku melihat apa yang kami lakukan. Rupanya ibu terbangun dan mencari ayah dan tidak mengira kalau suaminya atau ayahku sedang berhubungan dengan diriku. Ibuku langsung menjerit dan meninggalkan aku dan ayah dengan terbengong. Ibuku lari ke kamarnya sambil menangis. Kami pun langsung berdiri dan berpakaian lalu ke kamar ibuku. Malam itu ibuku marah besar kepadaku dan ayah. Aku dan ayah akhirnya tidak tidur dan hanya duduk menyesali perbuatan kami di ruang tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paginya, ibuku tidak berkata satu katapun kepadaku dan ayah. Akhirnya setelah siang permintaan maaf kami diterima oleh ibuku dengan suatu perjanjian bahwa mulai malam aku harus meninggalkan rumah untuk pergi ke Yogya dimana aku dititipkan ke adik ibuku yang paling kecil, sebut saja Bibi Nani, sedang ibu dan ayah harus pisah ranjang. Malamnya dengan perasaan berat aku meninggalkan rumah untuk ke Yogya, tapi sebenarnya yang memberatkan perasaanku bahwa aku harus berpisah dengan ayahku yang dimana tumbuh perasaan cinta terhadap ayahku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kereta menuju Yogya, pikiranku hanya tercenung ke ayahku. Sampai di Yogya pada pagi harinya, Bibi Nani menjemputku di stasiun KA. Ibuku mengirimku ke Yogya dengan tujuan kalau aku bisa berubah dan kuliah di Yogya, ini disebabkan Bibi Nani adalah seorang kepala sekolah agama, beliau terpaut dengan ibuku 15 tahun, Bibi Nani usianya 30 tahun, ibuku usianya 45 tahun, sedangkan Ayah usianya 47 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibi Nani adalah seorang yang taat agamanya, selain sebagai kepala sekolah Aliyah, malam harinya pasti bersama-sama ibu-ibu tetangganya melakukan pengajian, inilah yang ibuku pikirkan kalau aku ikut bersama Bibi Nani, aku bisa belajar ngaji lebih banyak, tetapi pikiran ibuku sangat berbeda dengan pikiranku, makanya suami Bibi Nani, yaitu Paman Hendi tergoda juga olehku. Paman Hendi usianya 2 tahun lebih muda dari Bibi Nani, dia seorang guru olahraga di sebuah SMP Negeri di kota Jogja. Bibi dan Paman sudah dua tahun menikah tapi kehadiran seorang anak belum didapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu Minggu sudah aku tinggal di Jogja, rasa kangenku atas sentuhan ayah tiba-tiba bangkit. Hari itu adalah hari Jumat, kira-kira jam 01.00 siang aku pulang dari kampus-kampus untuk mendaftar kuliah, ketika aku masuk rumah kulihat ada sarung dan sejadah di atas meja tamu, aku agak takut karena biasanya paman dan bibi baru pulang dari sekolah pada sore hari, tiba-tiba di ruang dapur ada suara lemari es terbuka. Dengan agak takut aku menuju dapur, begitu sampai di dapur rupanya Paman Hendi sedang mempersiapkan makan siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh.. Paman.. sudah sampai.. biasanya pulang sore.. Paman..?"&lt;br /&gt;"Iya.. Paman pulang agak cepat, rasanya Paman sakit perut, kamu baru pulang dari mana?"&lt;br /&gt;"Nov.. muter-muter Yogya, habis cari tempat kuliah.."&lt;br /&gt;"Ooohh.. Kamu sudah makan belum.. biar sekalian Paman siapkan.."&lt;br /&gt;"Eh.. Paman istirahat saja.. biar Nov yang siapkan makan siangnya.."&lt;br /&gt;"Kamu bisa.. kalau begitu terima kasih deh.. Paman di kamar yach.. nanti kalau sudah siap tolong bangunin Paman!"&lt;br /&gt;"Baik Paman.. biar Nov.. aja.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paman lalu meninggalkanku di dapur menuju kamar tidurnya, aku pun ke kamarku untuk ganti baju lalu mempersiapkan makan siang. 15 menit kemudian setelah makan siang kusiapkan di atas meja makan, aku ke kamar tidur paman untuk membangunkannya. Kubuka pintu kamar tidur paman, kulihat paman sedang tidur di tempat tidurnya, paman hanya mengenakan kaus dan celana pendek. Perlahan-lahan aku dekati paman yang sedang tidur. Begitu dekat dengan paman, pandanganku terpaku pada batang kemaluan paman yang agak menonjol dari balik celana pendeknya, rasa kangenku terhadap lelaki muncul, aku lalu duduk di sebelah paman, tanganku mengusap batang kemaluannya yang ada di balik celananya dengan perlahan, karena nafsuku tiba-tiba melonjak, batang kemaluannya mulai kuremas-remas. Tiba-tiba paman terbangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hah.. kamu ngapain Nov, astaga.. kamu ini.."&lt;br /&gt;"Maaf Paman, nafsu birahi saya lagi memuncak nih."&lt;br /&gt;"Tapi.. kamu.. Nov.. kamu ini.. gila.."&lt;br /&gt;"Tidak.. Paman.. saya tidak gila.. saya ingin Paman bisa memuaskan nafsu saya.. karena sudah 1 minggu saya tidak tersentuh lagi dari ayah.."&lt;br /&gt;"Jad.. jadi.. kamu sama ayahmu..?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paman tidak meneruskan kata-katanya lagi selain melongo melihatku mulai melepaskan baju daster, BH sehingga celana dalamku dimana aku langsung bugil. Paman tidak berkedip melihatku yang bugil berdiri di hadapan paman. Payudaraku yang putih mancung dan vaginaku yang merekah seakan menantang pamanku. Aku lalu duduk disamping paman yang duduk terbengong di tempat tidur, tanganku mulai meremas lagi batang kemaluannya, sedangkan tanganku yang satu memegang tangannya lalu kutuntun ke arah vaginaku. Bibirnya yang tipis mulai kuciumi, Paman hanya mengikuti keinginanku saja. Paman mulai membalas ciumanku pada bibirnya, lidahnya dikeluarkan dan dipautkan dengan lidahku. Paman mulai meningkat nafsunya, tangannya terus mengorek vaginaku lebih ke dalam lagi, jarinya ditusukkan masuk ke liang vaginaku hingga menyentuh biji klitorisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah cukup puas memainkan tangan dan jarinya di vaginaku. Paman lalu menarik celana pendeknya hingga ke dengkulnya, rupanya paman tidak mengenakan celana dalam sehingga otomatis batang kemaluannya yang sudah tegang setelah kuremas-remas kini terpampang jelas di hadapanku. Batang kemaluan paman ukurannya agak kecil dari punya ayahku, tapi urat-urat pada batangnya lebih keluar.&lt;br /&gt;"Paman, batang Paman uratnya gede-gede yach, sampai menonjol, rasanya sakit nggak sih?"&lt;br /&gt;"Tidak sayangku, tapi Paman yakin Novi pasti lebih puas deh selesai mencoba daripada punya ayahmu."&lt;br /&gt;"Ah, Paman bisa aja nih, mana mungkin?"&lt;br /&gt;"Coba aja buktikan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa banyak bicara lagi batang kemaluan paman langsung kupegang dan mulai kuciumi perlahan-lahan. Bau khas batang paman membuatku makin bernafsu maka cepat-cepat kukulum, kujilat dan kugigit batang kemaluan paman. Aku layaknya seorang anak kecil menikmati coklat batangan, rasanya aku tidak ingin melepaskan mulutku dari batang paman. Paman mulai gelisah menggelinjang kenikmatan menikmati serbuanku pada batangnya. Kepalaku diusap-usap kedua tangannya. Hampir 30 menit lamanya batang paman kuhisap dan mulai basah oleh ludahku sendiri, sementara vaginaku mulai kembang kempis. Aku lalu berdiri di atas badan pamanku, lalu batangnya paman kuarahkan ke vaginaku, sementara tangan paman melingkari tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah posisi batang kemaluan paman sudah tepat di bibir vaginaku, aku menekan ke bawah sehingga tertusuklah vaginaku dengan batang paman walau hanya kepalanya saja yang baru bisa masuk. 10 kali aku memberikan hentakan dengan bantuan paman, akhirnya masuklah seluruh batang paman ke dalam vaginaku. Batang paman kerasnya luar biasa, seperti pentungan polisi menghentak liang vaginaku, kerasnya batang paman mungkin disebabkan paman sering berolahraga. Hentakan batang paman ke vaginaku dilakukan berkali-kali.&lt;br /&gt;"Aaahh.. aarrgghh.. aarrghh.. sshh.. Paman.. batang Paman keras sekali.. enak.. deh.. nyodok.. vagina Nov.. rasanya vagina Nov.. melebar nich.."&lt;br /&gt;"Nov.. heegh.. heeghh.. vaginamu juga.. nikmat.. sekali.. rasanya.. lebih.. nikmat.. dari punya.. Bibimu.. wah.. Ppaman jadi ketagihan nih.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu jam lamanya batang paman yang keras sekali menembus vaginaku, bobol-lah pertahananku dimana vaginaku banyak sekali mengeluarkan cairan putih dan hangat membasahi batang paman yang masih tertancap dalam vaginaku. Saking banyaknya cairan yang keluar dari vaginaku hingga meleleh ke paha kami berdua. "Aaah.. aahh.. Paman.. enak sekali.. aahh hh.. arrghh.. sshh.. sshh.. Nov.. ke.. keluar.. nih.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lemaslah tubuhku menimpa paman yang sedang asyik melumatkan payudaraku yang putih, montok dan kenyal yang lagi dihisap-hisap oleh pamanku. Paman lalu memutarkan badanku dimana batang paman masih tertancap di vaginaku hingga sekarang posisiku sekarang duduk di atas membelakangi pamanku, kemudian tubuhku diangkat dan dijatuhkan di tempat tidurnya, jadi posisi kami sekarang aku menungging dan paman berdiri dengan dengkulnya. Batang paman yang masih menancap lalu ditekannya berkali-kali ke vaginaku, kedua tangannya memegangi pantatku sedangkan aku terbaring lemas. "Agh.. agh.. aghh.. Nov.. vaginamu.. memang enak sekali.. rasanya.. agh.. agh.. agh.. sshh.. sshh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batang paman yang keras menghujam lagi ke vaginaku berkali-kali sampai kira-kira satu jam kemudian aku mengeluarkan cairan dari vaginaku untuk kedua kalinya dan paman pun mengeluarkan cairan yang banyak sekali dimana paman menumpahkannya cairan paman yang hangat di punggungku karena paman terlebih dulu menarik batangnya dari vaginaku sebelum mengeluarkan cairan. "Aaahh.. aahh.. sshh.. sshh.. Nov.. vaginamu.. luar biasa deh.. baru kali ini paman mengeluarkan cairan segini banyaknya.. lain kali lagi yach.. aahh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lemaslah tubuh paman sambil memeluk tubuhku dimana batang paman yang masih keras walau mengeluarkan cairan yang banyak menyundul pantatku. Sementara aku pun sedang terbaring lemas dimana vaginaku basah oleh cairanku sendiri dan punggungku basah oleh cairan pamanku. Kami pun tertidur selama kurang lebih 1/2 jam ketika jam berdentang pukul 04.00 sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nov.. vaginamu enak sekali deh.. boleh paman coba lagi lain waktu."&lt;br /&gt;"Boleh dong.. Paman.. tapi lain kali cairan Paman dibuangnya di dalam vagina Nov aja.. yach!"&lt;br /&gt;"Iya.. deh.. sayang.. makasih.. ya.."&lt;br /&gt;"Iya.. Paman."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukecup bibir pamanku lalu kutinggalkan pamanku yang terbaring bugil, aku pergi ke kamarku lalu mandi. Selesai mandi ketika aku mau makan makanan yang dari siang tadi sudah kusiapkan sementara paman juga sudah selesai dari mandi dan akan makan bersamaku. Pulanglah bibiku dari kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Loh.. Ayah sudah pulang?"&lt;br /&gt;"Kok cepet Yah?"&lt;br /&gt;"Badanku agak sakit jadi jam 2 tadi aku sudah pulang, untung keponakanmu Novi, bisa masak jadi baru sekarang aku bisa makan setelah tidur."&lt;br /&gt;"Wah.. Nov.. hebat yach.. bisa masak juga, kamu pulang jam berapa dari daftar ke kampus?"&lt;br /&gt;"E.. e.. jam 04.00 sore.. Bi.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kujawab pertanyaan bibiku sambil tersenyum ke arah pamanku yang juga tersenyum kepadaku dimana sebenarnya aku telah membohongi bibiku sendiri. Bibiku lalu meninggalkan aku dengan suaminya di meja makan untuk berganti baju. Aku lalu berbisik pada pamanku.&lt;br /&gt;"Paman, ma'afin Nov yach, sudah membohongin Bibi, Paman jangan ngadu yach..!"&lt;br /&gt;"Enggak.. Nov.. Paman nggak akan ngadu.. malah Paman terima kasih kamu telah berbohong pada bibimu, soalnya Paman juga takut sama Bibimu, pokoknya kejadian tadi siang jadi rahasia kita berdua.. yach?"&lt;br /&gt;"Oke.. Paman!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berganti hari membuat hubunganku dengan Paman Hendi semakin intim layaknya suami istri dan tentu saja kami lakukan jika Bibi Nani tidak di rumah. Selain di rumah, kami juga sering melakukan di Parang Tritis. Hubungan kami berlangsung selama 1,5 bulan di saat aku pun sudah terdaftar jadi mahasiswi di sebuah akademi di Jogja dan mulai tercium oleh Bibi Nani. Hari itu hari Jum"at, seperti biasa Paman pulang dari sekolahan dan setelah lepas sembayang Jum'at kami pasti janjian di rumah untuk melakukan hubungan suami istri, di saat Paman sedang telanjang di atas tubuhku yang juga telanjang, Bibi Nani langsung masuk kamarnya. Dia langsung menjerit dan pingsan melihat kami. Aku dan paman pun lalu menghentikan perbuatan kami dan merasakan keheranan atas kepulangan Bibi yang lebih awal dari biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah siuman Bibi Nani menyidangi aku dan suaminya, dengan perasaan menyesal dan minta maaf akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan kota Jogja dan statusku sebagai mahasiswi untuk kembali ke Jakarta. Tetapi setelah Bibi Nani dan Ibuku bicara melalui telepon malam itu, akhirnya ibuku yang masih marah kepadaku memutuskan untuk tidak kembali ke Jakarta tapi aku disuruh ke Surabaya untuk tinggal dengan Pakde Gatot yang merupakan kakak tertua ibuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi harinya dengan menaiki bis, kutinggalkan Jogja dengan sejuta kenangan bersama Pamanku menuju Surabaya. Siang harinya aku tiba di rumah Pakdeku di Surabaya. Pakde Gatot adalah kakak ibuku yang tertua, usianya 50 tahun. Pakde seorang pengusaha yang sangat sibuk sekali sehingga dia jarang sekali di rumah. Di rumah paling-paling dalam setahun dia hanya 1 bulan, selebihnya mengurusi bisnisnya yang banyak di luar negeri. Mungkin inilah pertimbangan ibuku aku ikut Pakde pasti tidak akan menggoda lagi, memang betul sih pendapat ibuku, tapi pada akhirnya yang tergoda bukannya Pakde tapi Ayah dari Budeku. Budeku seorang yang masih muda, usianya baru 30 tahun, dia merupakan sekretaris Pakdeku yang dinikahi oleh Pakdeku. Saking sibuknya Pakde, otomatis Bude sering ikut bisnis dengan Bude pergi ke luar negeri, Bude pun jarang di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dua bulan aku di Surabaya, di rumah Pakde yang besar dengan 6 kamar tidur. Aku tinggal beserta 3 pembantu wanita dan 2 orang penjaga malam. Sejak aku datang dari Jogja, 2 hari kemudian Pakde dan Bude pergi ke Singapura menjalankan bisnisnya dan menemani kedua sepupuku yang masih SMP di Singapura sampai 2 bulan lebih tidak kembali ke Surabaya. Rasa bosanpun timbul pada diriku, aku malas untuk mendaftarkan diri untuk kuliah. Akhirnya hari-hariku aku lewatkan hanya berenang di rumah Pakde, Nonton film dan jalan-jalan di Surabaya, sesekali kuhubungi ayahku di jakarta yang rupanya sejak aku tinggal di Jogja, ayah tidak tinggal lagi di rumah tapi tinggal di bengkel miliknya, jadi ayah dan ibuku sudah pisah rumah. Terus terang, kuhubungi ayahku untuk melepaskan rinduku atas belaian pria yang sudah 2 bulan tidak menyentuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu siang aku sedang berenang tiba-tiba suara pembantu rumah Pakde mengejutkanku.&lt;br /&gt;"Mbak, di ruang tamu ada Tuan Iwan lagi nunggu."&lt;br /&gt;"Siapa itu Mbok?"&lt;br /&gt;"Tuan Iwan khan bapaknya Nyonya, Mbak Nov belum kenal yach..? Wah.. waktu Mbak belum di sini Pak Iwan sering ke sini, orangnya baik loh Mbak tapi suka ngodain pembantu di sini."&lt;br /&gt;"Hush, Mbok ini nggak boleh bicara begitu!"&lt;br /&gt;"Wah, Mbak ini nggak tau sih, wong 6 bulan lalu ditinggal mati sama istrinya."&lt;br /&gt;"Mbok, sudahlah nanti saya adukan ke Bude loh."&lt;br /&gt;"Eh, jangan Mbak, tapi hati-hati loh Mbak!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulilitkan baju handuk dan kutinggalkan sang pembantu itu di kolam renang, aku menuju masuk ke dalam rumah menuju ruang tamu. Di ruang tamu kulihat orang yang bernama Iwan lagi duduk di kursi tamu, dan kuhampiri yang lagi asyik menyeruput minuman jeruk.&lt;br /&gt;"Maaf, saya Novita, saya keponakannya Pakde Gatot, Bapak siapa?"&lt;br /&gt;"Eh, saya Iwan, saya Bapaknya Budemu. Pada kemana mereka, apa lagi keluar negeri?"&lt;br /&gt;"Oh iya Pak, Pakde dan Bude sudah dua bulan ada di Singapura."&lt;br /&gt;"Oh, pasti lagi nemuin kedua cucuku yach, Ivan dan Maya."&lt;br /&gt;"Oh iya betul, Pak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keraguanku terhadap orang ini terjawab setelah dia menyebutkan kedua sepupuku, tapi yang aku rasakan tidak enak adalah tatapan matanya yang tajam ke arahku dimana dia seakan terangsang melihat tubuhku yang basah oleh air kolam hanya terbungkus bikini dan baju handuk. Pikiranku langsung tertuju kepada perkataan pembantu tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu, Nov, keponakan Gatot dari mana?"&lt;br /&gt;"Saya dari Jakarta, tujuan saya mau kuliah di sini, kalau Eyang Iwan dari mana?"&lt;br /&gt;"Saya dari Banyuwangi, Budemu khan asalnya sana, tapi tolong jangan panggil saya Eyang yach, panggil saja Pak Iwan, Saya biasa nginap di sini kalau ke Surabaya, yach kalau lagi kangen dengan Budemu."&lt;br /&gt;"Oh, iya Pak, ya sudah silahkan Pak, nanti kamar Bapak biar disiapkan, sekarang saya mau ganti baju dulu sehabis berenang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutinggalkan bapaknya budeku di ruang tamu, sementara aku berjalan menuju kamarku yang ada di lantai atas untuk ganti baju seusai berenang. Kumasuki kamar tidur lalu kulepaskan jubah mandi yang agak basah dan masuk kamar mandi. Setiap kamar tidur dilengkapi kamar mandi. Kutanggalkan bikini lalu kuputar tombol kran shower dan kubasuh badanku yang bugil dengan air. Seperti biasanya aku mandi tidak pernah kututup pintu kamar mandi yang kututup hanya pintu kamar dan kukunci, tapi mungkin aku lupa menguncinya karena aku tidak sadar kalau Pak Iwan (bapaknya budeku) mengikutiku dan sekarang ada di kamar sedang memperhatikan aku mengguyur badanku di bawah shower. Sepuluh menit sesudah aku mandi, ketika aku keluar dari kamar mandi dan akan mengambil handuk di dalam lemari untuk membasuh tubuhku tiba-tiba aku dipeluk oleh Bapak Iwan yang muncul dari balik pintu kamar mandi yang terbuka. Aku pun kaget setengah mati dan berusaha berontak untuk melepaskan dekapan Bapak Iwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nov, tubuhmu indah sekali sudah 10 menit aku menikmati tubuh bugilmu terguyur air, sekarang layanilah aku!"&lt;br /&gt;"Ah, jangan paksa saya Pak, Bapak kok bisa masuk kamar saya, tolong lepaskan Pak.."&lt;br /&gt;"Kamu khan sengaja tidak mengunci kamarmu khan, biar aku bisa masuk."&lt;br /&gt;"Ah.. jangan.. lepaskan saya, Pak..!"&lt;br /&gt;Tenagaku yang lebih kuat dari dekapan Pak Iwan akhirnya terlepas juga.&lt;br /&gt;"Nov, maafin saya yach, tolong jangan kasih tau kepada budemu yach kalau saya berbuat tidak baik padamu tolong yach..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Iwan lalu berbalik dan akan menuju keluar dari kamarku tapi kucegah karena tiba-tiba rasa kangen atas sentuhan laki-laki timbul dari diriku.&lt;br /&gt;"Pak.. maafin Nov juga yach, kalau Bapak minta baik-baik pasti saya kasih kok Pak.."&lt;br /&gt;"Ah, yang benar nih, kamu nggak marah dan kamu nggak akan ngadu ke Pakde dan Budemu.."&lt;br /&gt;"Enggak Pak, dijamin kerahasiaannya deh, sini Pak!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Iwan kaget melihat reaksiku yang tiba-tiba menerima dirinya. Pak Iwan yang sekarang di depanku semakin kaget ketika tanganku menjamah batang kemaluannya yang masih tersembunyi di balik celananya kuelus dengan lembut. Aku yang makin terangsang segera jongkok di depannya dan kuturunkan celananya sehingga batang kemaluan Pak Iwan yang sudah mulai mengeras terpampang jelas di hadapanku dan mulai kumainkan lidahku dengan menjilati batang kemaluan itu yang kira-kira panjangnya 20 cm, bentuk dan ukurannya tidak jauh berbeda dari milik kepala sekolahku dulu tapi kulitnya agak keriput mungkin karena usianya yang jauh berbeda. Pak Iwan kuperkirakan berusia 60 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seranganku bukan hanya lidah saja, mulai kucoba kumasuki ke dalam mulutku batang Pak Iwan yang membuat dirinya makin mengelinjang, matanya pun merem-melek dan tangannya mulai mengusap-usap kepalaku. Hal itu kulakukan kira-kira 15 menit dan kusudahi ketika batang itu mulai basah oleh ludahku dan vaginaku juga sudah mulai merasa kembang kempis ingin ditusuk sesuatu. Aku lalu berbaring di tempat tidurku sementara Pak Iwan sedang melepaskan baju dan celananya hingga dia bugil, kulihat dia berjalan ke arahku yang terbujur bugil di tempat tidur, kakiku kulebarkan sehingga bau harum vaginaku menyerbak ke ruang tidurku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nov, Bau apa nih wangi sekali.."&lt;br /&gt;"Bau dari vagina Nov, Pak Iwan mau khan?"&lt;br /&gt;"Woow, mau sekali."&lt;br /&gt;Pak Iwan (ayah budeku) kini telah berdiri di samping tempat tidur, batang kemaluannya yang sudah mulai keriput menggantung dengan tegang di hadapanku, dimana tadi sudah basah oleh ludahku. Tapi Pak Iwan malah berjongkok dekat pahaku. Tangannya yang juga sudah keriput mulai mengusap sekitar pahaku yang putih dan mulus lalu kepalanya yang agak botak didekatkan ke vaginaku. Hidungnya mengendus-endus membaui vaginaku.&lt;br /&gt;"Nov, wangi sekali yach, pasti rasanya enak deh, boleh Bapak coba sekarang?"&lt;br /&gt;"Silakan Pak, pokoknya yang enak aja deh buat Bapak, mau diapain juga boleh."&lt;br /&gt;"Terima kasih ya, Nov."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidah Pak Iwan mulai menyapu sekitar bibir vaginaku lalu ditusukkan lidahnya ke dalam liang vaginaku dan disedot-sedot liang vaginaku yang membuat diriku melintir keenakan, maklumlah sudah 2 bulan tubuhku tidak disentuh oleh laki-laki.&lt;br /&gt;"Aahh.. aahh.. Pak.. enak.. sekali lidah Bapak.. vagina.. Nov.. rasanya ditarik-tarik arghh.. terus.. terus Pak.. arghh.."&lt;br /&gt;"Vaginamu enak sekali.. Nov.. seumur hidup.. baru.. kali ini.. saya nemu.. vagina.. begini enak.. slurpp.."&lt;br /&gt;Vaginaku disedot-sedot berkali-kali hingga aku menggelinjang ke kiri dan ke kanan membantingkan kepalaku. Rasa nikmat yang sangat barulah aku dapatkan sekarang dari Pak Iwan, sedangkan dari pria sebelumnya aku belum pernah senikmat ini. Vaginaku disedot selama 15 menit, dimana cairan putih dan kental mulai membasahi vaginaku tapi dengan cekatan Pak Iwan melahapnya sampai habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas dengan vaginaku, Pak Iwan lalu berdiri tepat di sisi tempat tidur, tubuhku diputar hingga kakiku menjuntai ke bawah, lalu batangnya diarahkan tepat pada vaginaku yang sudah basah oleh cairan putih dan kental. Batang kemaluan Pak Iwan sudah menempel tepat di liang vaginaku dan mulai dihentakkan keluar-masuk vaginaku yang agak basah. Batang yang besar dan panjang dihentakkan berkali-kali ke dalam vaginaku, baru yang ke-10 kali hentakan, masuklah batang itu ke dalam vaginaku. Batang kemaluan Pak Iwan rasanya seperti punya ayahku, baik panjang maupun besarnya, bedanya hanya pada kulitnya yang agak keriput yang membuatku agak kegelian atas gesekan di dalam vaginaku.&lt;br /&gt;"Ahh.. ehh Pak.. batang Bapak membuat saya geli-geli enak deh.. habis agak keriput, maka gesekannya membuat saya kelojotan keenakan."&lt;br /&gt;"Oh.. iya, vaginamu juga rasanya enak sekali, punya saya kayak dijepit dan dipelintir, aahh.. aahh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaginaku disodok-sodok sama batang Pak Iwan sampai kira-kira satu jam lamanya yang membuat tubuhku kejang di saat aku mencapai titik orgasme dimana cairan putih kental keluar dengan derasnya dari vaginaku yang masih tertusuk batang kemaluan Pak Iwan yang masih saja tegang dengan kerasnya. "Ohh.. ohh.. aarghh.. arghh.. aahh.. aahh.. sshh.. aahh.. se.. sedap.. deh.. Pak.." Lemaslah tubuhku hingga berasa sampai tulangku, tapi Pak Iwan masih saja bertenaga untuk melanjutkan permainan seks denganku dimana tanganku lalu ditarik dan digendongnya tubuhku oleh tubuhnya yang lebih kecil dari tubuhku tapi tenaganya luar biasa, lalu gantian sekarang Pak Iwan yang berbaring dan tubuhku terbaring lemas di atasnya. Selama dia melakukan tukar posisi, batangnya masih ada di dalam vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hentakan batangnya pada vaginaku berlanjut hingga aku makin tidak bertenaga karena tenaga Pak Iwan yang sungguh luar biasa, hampir 1 jam lamanya vaginaku diserang oleh batang Pak Iwan bertubi-tubi, payudaraku yang putih, ranum dan menantang pun sudah menjadi bulan-bulanan dari mulut Pak Iwan, payudaraku sudah diisap, dikenyot dan ditarik-tarik puting coklatku oleh giginya yang mulai ompong. Vaginaku akhirnya mengeluarkan kembali cairan putih, kental dan harum untuk kedua kalinya sedangkan Pak Iwan belum berasa apa-apa. "Argh.. argh.. aagghh.. oohh.. oohh.. Pak.. saya.. keluar.. lagi.. nich.. aagghh aghh.. aghh.." Lemaslah tubuhku di atas tubuh Pak Iwan, untuk kedua kalinya. Sementara Pak Iwan yang masih bertenaga mencoba posisi baru lagi yaitu dimana batang kemaluan Pak Iwan yang masih menancap di vaginaku dia memutarkan badanku hingga sekarang posisinya berubah menjadi aku di bawah seakan aku menungging dan disodok oleh batang kemaluannya yang masih saja keras. Posisi dimana aku menungging dan disodok oleh Pak Iwan dilakukannya selama kurang lebih satu jam lagi yang mana aku tidak merasakan apa-apa karena saking lemasnya tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Iwan akhirnya mencapai puncak kenikmatan yang pertama kalinya dimana sebelumnya aku juga mencapai puncak kenikmatan untuk ketiga kalinya.&lt;br /&gt;"Aghh.. aghh.. Pak aku.. keluar lagi nich.. aghh sshh.. oohh.. oohh.. nikmat.. sekali.. Pak.."&lt;br /&gt;"Aghh.. aawww.. oohh.. Nov.. aku.. juga.. keluar.. nih.. vaginamu.. luar biasa sekali.. deh.. aahh.. tapi aku.. masih belum terlalu puas.. nih.. tapi.. lumayanlah.. vaginamu.. nikmat, juga.."&lt;br /&gt;Cairanku membasahi paha dan vaginaku dengan banyak sekali. Sementara cairan Pak Iwan yang hangat dan kental membasahi punggungku karena pada saat dia akan mengeluarkan cairan, batang kemaluannya sudah dilepaskan dari vaginaku. Lalu ambruklah tubuh Pak Iwan di atas tubuhku yang sudah lebih dulu ambruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah delapan malam aku terbangun dari tidur sehabis 3 jam aku melayani nafsu lelaki Pak Iwan dan Pak Iwan sudah tidak berada dalam kamarku. Setelah aku membersihkan bekas cairan di vaginaku di kamar mandi, aku keluar kamarku untuk makan malam dimana aku hanya menggunakan daster untuk menutupi tubuhku sementara BH dan celana dalam kutanggalkan di kamar. Ketika aku sampai di ruang makan, kulihat Pak Iwan baru saja selesai makan dan akan meninggalkan ruang makan kulihat dia hanya tersenyum kepadaku yang kubalas dengan senyuman. Selesai makan sebenarnya aku mencari Pak Iwan tapi di ruang keluarga tidak kutemukan, aku lalu berpikir mungkin dia sudah ada di kamarnya. Jam 11.30 malam setelah nonton TV, aku beranjak menuju kamar tidurku untuk istirahat setelah tadi siang aku mengeluarkan banyak tenaga melawan permainan nafsu dari Pak Iwan, aku sedang berbaring di tempat tidurku tiba-tiba pintu kamarku terbuka dan Pak Iwan berdiri di depan pintu dengan menggunakan piyama model baju handuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh.. Pak Iwan, ada apa Pak?"&lt;br /&gt;"Maaf, yach.. Nov.. boleh aku masuk.."&lt;br /&gt;"Silakan Pak.."&lt;br /&gt;Pak Iwan lalu masuk ke kamar tidurku dan langsung duduk di sampingku di tempat tidur, otomatis aku lalu merubah posisiku duduk di samping Pak Iwan.&lt;br /&gt;"Nov, maaf yach tadi siang, saya berbuat salah."&lt;br /&gt;"Eh, nggak apa-apa kok Pak, Nov senang kok, Nov benar-benar puas tadi siang, bagaimana dengan Bapak.. puas nggak?"&lt;br /&gt;"Ah yang benar Nov, kamu nggak apa-apa nih, tapi memang saya belum puas tadi siang, bisa nggak kamu muasin saya malam ini, soalnya saya lagi coba pakai tangkur buaya.."&lt;br /&gt;"Ah, masa sih Pak, tadi siang belum puas, tapi kalau malam ini Bapak mau puas juga boleh, tapi badan saya agak capai gara-gara tadi siang."&lt;br /&gt;"Nggak, apa-apa kok Nov, kalau kamu capai kamu diam saja biar saya yang berpacu.. OK!"&lt;br /&gt;"OK.. lah terserah Bapak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Iwan lalu langsung melepaskan baju piyama yang dikenakan setelah aku setuju untuk memuaskannya malan ini, batangnya yang menggantung keras menantang ke arahku. Baju dasterku langsung diloloskan dari tubuhku oleh bantuan tangannya dan kami pun melakukan hubungan layaknya suami istri. Malam itu aku dibikin pingsan sampai 3 kali, tenaga Pak Iwan benar-benar luar biasa, permainan kami berlangsung dari jam 12.00 malam dan berakhir kira-kira jam 05.00 pagi, ketika terdengar ayam berkokok. Hebatnya Pak Iwan selama 5 jam permainan, dia hanya 1 kali mencapai puncak orgasme yaitu pada saat akhir permainan, sedangkan aku 5 kali orgasme dan 3 kali pingsan. Dan yang lebih hebatnya batang Pak Iwan selama permainan berlangsung tetap tertancap dalam vaginaku dan bermacam posisi serta tetap keras dan tegang selama 5 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan permainanku dengan Pak Iwan (bapaknya budeku) tidak hanya terjadi di rumah Pakde dan Bude di Surabaya, kami pun melakukannya di Malang, Banyuwangi (rumahnya Pak Iwan sendiri) dan di Bali. Selama 4 bulan hubungan kami, dua bulan aku berada di Banyuwangi dan sisanya kami lakukan di Bali, Malang dan Surabaya. Sesudah 4 bulan hubunganku dengan Pak Iwan akhirnya terbongkar juga oleh anaknya Pak Iwan (Budeku sendiri) dimana disaat aku sedang telanjang di atas Pak Iwan yang juga bugil, kami tidak tahu kalau Bude dan Pakde pulang dari luar negeri pada hari itu, kami kepergok ketika kamar tidurku dibuka oleh Bude, dia pun langsung pingsang melihat ayahnya sedang berbuat mesum dengan keponakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu juga aku diusir dari Surabaya, sementara Pak Iwan pulang ke Banyuwangi. Dengan uang yang kupunya hasil pemberian Pak Iwan selama kami berhubungan aku kembali ke Jakarta. Aku ke Jakarta untuk pulang tapi aku tidak pulang ke rumah melainkan ke bengkel ayahku, karena ayah dan ibu sejak kejadian yang gara-gara aku, mereka berpisah rumah, ibu tinggal di rumah, ayah tinggal di bengkel yang di atasnya ada 2 ruang untuk tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yaah.. Nov pulang Yah.."&lt;br /&gt;"Hah.. Nov, kamu.. kabarnya gimana..?"&lt;br /&gt;Ayah memelukku setelah hampir 6 bulan kami tidak bertemu, setelah kuceritakan nasibku pada ayahku, ayah bersedia menerimaku untuk tinggal bersamanya di bengkel. Sejak saat itu hingga kini, 2 bulan aku tinggal bersama ayahku, dan nostalgia kami pun muncul yaitu melakukan hubungan layaknya suami istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku hidup bersama ayahku, aku seperti istri bagi ayahku sendiri, aku melayani hidup ayahku, dan aku berkomitmen untuk tidak melanjutkan kuliah, dan pikiranku kepada para lelaki korban godaanku pun kubuang jauh-jauh yaitu terhadap kepala sekolahku, pamanku dan Pak Iwan, saat ini pikiranku hanya melayani ayahku dan membantunya di bengkel.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7501232687625531161-3470112563814678?l=dennythejaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dennythejaya.blogspot.com/feeds/3470112563814678/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7501232687625531161&amp;postID=3470112563814678' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/3470112563814678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/3470112563814678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dennythejaya.blogspot.com/2011/05/wanita-penggoda.html' title='Wanita Penggoda'/><author><name>denny</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7501232687625531161.post-4356441349656731299</id><published>2011-05-29T03:40:00.000-07:00</published><updated>2011-05-29T03:41:44.620-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seks.teman'/><title type='text'>Kenikmatan</title><content type='html'>Aku bekerja di satu resto steak yang menyediakan salad bar juga disebuah mal. Beberapa minggu terakhir ini, ada seorang customer, bapak2, yang rajin berkunjung ke resto tempat aku bekerja. Ketika makan, matanya selalu memandangiku. Kalo aku lewt dekat mejanya, selalu dia senyum, dia berusaha mengajak aku berkomunikasi tetapi belum pernah berhasil karena ketika dia makan di resto itu, suasana sedang rame, sehingga aku dan juga waiter/waitress lainnya menjadi sangat sibuk melayani tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, dia berkunjung lagi ke restoku. Kebetulan kali ini tamu yang makan cuma sedikit, sehingga ada kesempatan bertegur sapa. Dia menanyakan namaku siapa, kujawab namaku Aku. Dia bertanya lagi, hari ini aku kerja sampe jam berapa. Ketika aku nanya kenapa dia bertanya seperti itu dia bilang mau kasi aku surprise. aku nanya lagi karena penasaran, surprisenya apa. Dia jawab kalo dikasi tau ya bukan surprise namanya. Terus dia bilang akan nunggu aku sekitar jam 6 sore. Selesai kerja, aku mengganti pakaian dinas dengan pakaian ku sendiri. Aku memakai kaos ketat dengan belahan yang rendah sehingga toketku yang juga besar mengintip keluar, dan celana jeans ketat. Dia menunggu gak jauh dari resto. Tepat ketika aku menyapanyanya,&lt;div class="fullpost"&gt; hpku berbunyi, dari temanku. Dia memandangiku yang sedang menerima telpon temanku. Setelah aku selesai bertelpon, dia bertanya, “Dari siapa Nes, cowok kamu ya”. “Enggak kok pak, dari temanku, ngajakin aku jalan”. “Terus”, tanyanya lagi. “Kan udah janjian ama bapak, ya Aku tolak ajakannya”. Temen kamu cowok atau cewek”, tanyanya terus. “Cowok pak”, jawabku. “NGajakin jalan tau ngajak pacaran?” guyonnya lagi. “Dua2nya pak”, jawabku sekenanya sambil tertawa. “Katanya mau kasi surprise?”, tagihku. Dia lalu mengajakku ke toko hp. “Nes, hp kamu dah kuno, aku beliin yang baru ya”. Kaget juga aku mendengar tawarannya. Tanpa menunggu jawabanku, dia minta ke spg nya, hp triji terbaru. Sepertinya duit beberapa juta enteng buat dia. Aku menduga pasti ada ujungnya, gak mungkin kan lelaki mau ngasi hp mahal begitu aja. Aku sih gak perduli kalo aku harus meladeni napsunya, aku tertarik juga sama si bapak, setelah jumpa beberapa kali di resto. Orangnya belum tua, tapi yang pasti bukan abg lah yao. Ganteng, dada bidang, seperti tipe lelaki idealku lah. “Ma kasih ya pak, bapak baik amat sih mau beliin Aku hp baru, triji lagi”. Dia hanya tersenyum dan mengajak aku makan, tentunya bukan makanan yang dijual di resto ku. Sambil makan dia terus mengajakku guyon, orangnya menyenangkan. “Kamu besok kerja jam brapa Nes”, tanyanya. “Besok Aku off pak. emangnya kenapa”. “Aku mo ngajak kamu jalan, kalo besok kamu off kan gak usah buru2 pulang”. “Jalan kemana pak”, aku sudah menduga apa jawabannya. Pastinya akan ngajakin aku ngentot, apa lagi kalo gak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wow.., mobilnya keren banget pak. Sama kaya orangnya” kata ku setelah kami sampai di mobilnya. Aku duduk di depan disebelahnya. Tak lama kamipun meluncur meninggalkan mal. Dia mulai mengelus2 paha ku yang masih tertutup celana jeans. Tentunya elusannya tidak terlalu terasa karena masih terhalangi kain jeans celanaku. Dia membawaku ke apartmentnya. Tak lama kami sudah sampai di apartment. Kita turun ke basement, parkir mobil dan menuju lift. Dia langsung memijit lantai apartmentnya dan lift meluncur ke atas. Apartmentnya type studio sehingga hanya ada satu ruang yang multi fungsi, kamar mandi dan pantri yang merangkap dapur. Dia merebahkan diri di ranjang. Sementara aku pergi ke kamar mandi. Ketika muncul kembali, aku hanya berbalut handuk kemudian ikut rebahan diranjang bersamanya. Dia melingkarkan tangannya pada pundak ku dan mengelus-elus nya. Tak lama dia mulai menciumi bibir ku sambil meraba-raba toket ku. Dia membuka belitan handuk sehingga aku langsung bertelanjang bulat. Dia melotot melihat jembutku yang lebat. Langsung diciumi dan dijilati toket ku dengan rakus. Dihisap hisapnya pentil ku. Jarinya meraba bibir nonok ku yang dipenuhi dengan jembut yang lebat. Akupun melenguh nikmat ketika jarinya menemukan itilku. Sementara itu, toket ku masih terus dijilati dan diemut pentilnya. Aku yang sudah sangat bernafsu kemudian berbalik menindih tubuhnya. Dengan cepat aku melucuti kancing kemejanya. Kuhisap pentilnya, sementara tanganku melucuti celananya. “Ines buka dulu ya pak” kataku sambil bangkit duduk dan membuka seluruh pakaiannya. Dia tinggal berCD, dan tampak kontolnya mencuat keluar tak mampu tertampung didalam CD. “Kontol bapak gede banget, panjang lagi” kataku sambil mengelus-elus kontolnya dari balik CD. Akupun kemudian membuka CD nya, dan kontolnya yang sudah ngaceng keras tampak berdiri tegak dihadapannya. “Gila.. Gede banget.. Bikin Ines nafsu..” kataku sambil menundukkan kepala mulai menjilati dan kemudian mengulum kontolnya. Dia mengelus- elus rambutku yang panjang. Kadang tangannya berpindah ke toketku yang sekal dan mempermainkan pentilnya. “Nes.. Enak banget Nes..” desahnya, aku terus menjilati kontolnya. “Ih.. pak, gede banget..”. “Memang kamu belum pernah liat yang besar begini?” “Belum pak.. Punya cowok Ines nggak sebesar ini.” jawabku. “Arghh.. Enak Nes.” erangnya lagi. Kujilatinya lubang kencingnya dan kemudian kukulum kontolnya dengan bernafsu. Sementara itu batang kontolnya kukocok sambil sesekali kuremas perlahan biji pelernya. Dia keenakan ketika aku mengeluar masukkan kontolnya dengan mulutku. Dia mengusap-usap rambutku dengan gemas. Ruangan segera dipenuhi oleh erangannya. Saat aku menghisap kontolnya, kepalaku maju mundur, toketku pun bergoyang. Dengan gemas diremasnya toketku. “Nes.., jepit pakai toketmu ” pintanya. Aku langsung meletakkan kontolnya di belahan toketku, dan kemudian dia mengenjot kontolnya diantara toketku. “Enak banget sshh..” Dia seperti tak kuasa menahan rasa nikmat itu. Setelah beberapa lama, dia menyodorkan kembali kontolnya ke mulutku. Aku menyambutnya dengan penuh nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa lama, aku menaiki tubuhnya dan mengarahkan kontolnya ke nonokku. Aku menurunkan tubuhku dan kontolnya mulai menerobos nonokku yang sempit. “Ooh.. besar banget nih kontolnya pak.. Ahh..” desahku ketika kontolnya telah berhasil memasuki nonokku. “Tapi enak khan..” tanyanya menggoda “Iya sih..Aduh.. Oh.. Sstt.. Hah.. Hah..” erangku lagi ketika dia mulai menggenjot nonokku dari bawah. Dia memegang pinggangku sambil terus mengenjot nonokku. Sementara aku menyodorkan toketku ke mulutnya. Dia segera menjilati toket ku. “Pak.. Gimana pak.. Enak khan ngentotin Ines?” tanya ku menggoda. Aku masih meliuk-liukan tubuhku. Dia pun terus mengenjot nonokku dari bawah, sambil sesekali tangannya meremas toketku yang berayun-ayun menggemaskan. Setelah bosan dengan posisi itu, dia membalikkan tubuhku sehingga dia berada diatas. Segera dia menggenjot kontolnya keluar masuk nonokku sambil menciumi wajahku. “Ehmm.. Sstt.. pak.. Enak.. Ohh. kontol bapak gede banget, nonok Ines sampe sesek rasanya pak, gesekan kontol bapak terasa banget di nonok Ines. Mau deh Ines dientot bapak tiap malam,” Aku melenguh keenakkan. “Ayo isap pentil Ines pak” perintahku. Diapun kemudian menghisap pentilku sambil terus menggenjot nonokku. Tak lama tubuhku mengejang, dan aku mengerang dan menggelinjang ketika nyampe. Terasa nonokku berkedut2. “Nes, enak banget, kontolku seperti sedang diemut, nikmat banget rasanya, luar biasa empotan nonok kamu”. Dia mengeluarkan kontolnya dari nonokku dan aku kusuruh menungging membelakanginya. Dengan gaya doggy style dia mengentoti ku dari belakang. “Aduh.. pak.. kuat banget.. Ohh..” erang ku ketika dia mengenjot nonokku. “Gila.. nonokmu enak banget Nes..” katanya. Dia memegang pinggul ku, terkadang meremas pantatku yang membulat. Aku pun menjerit nikmat. Toketkupun tampak bergoyang-goyang menggemaskan. Bosan dengan posisi ini, dia kemudian duduk di kursi. Aku lalu duduk membelakanginya dan mengarahkan kontolnya ke dalam nonokku. Dia menyibakkan rambutku yang panjang dan menciumi leher ku. Sementara itu aku bergerak naik turun. Tangannya sibuk meremas toketku. “Ahh.. Ahh.. Ahh..” erangku seirama dengan goyangan badanku diatas tubuhnya. Terkadang erangan itu terhenti saat disodorkannya jemarinya untuk kuhisap. Beberapa saat kemudian, dihentikannya goyangan badannya dan dicondongkannya tubuhku agak ke belakang, sehingga dapat menghisap toketku. Dengan gemas dilahapnya bukit kembarku dan sesekali pentilku dijilatinya. Eranganku semakin keras terdengar, membuat dia menjadi kembali bernapsu. Setelah dia selesai menikmati toket ranumku, kembali aku mengenjot tubuhku naik turun dengan liar. Binal banget kelihatannya. Cukup lama dia menikmati perngentotan dengan aku di atas kursi. Lalu dia berdiri, dan kembali berciuman dengan aku sambil dengan gemas meremas dan menghisap toketku. Dia ingin segera menuntaskan permainan ini. Lalu aku direbahkan di atas ranjang. Dia kemudian mengarahkan kontolnya kembali ke dalam nonokku. “Ahh..” erangku kembali ketika kontolnya kembali menyesaki nonokku. Langsung dia mengenjot dengan ganas. Erangan nikmat mereka berdua memenuhi ruangan itu, ditambah dengan bunyi derit ranjang menambah panas suasana. Aku menggelengkan kepala ke kanan kekiri menahan nikmat. Tanganku meremas-remas sprei ranjang. “Pak.. Ines hampir sampai pak.. Terus.. Ahh.. Ahh” jeritku sambil tubuhku mengejang dalam dekapannya. Aku telah nyampe. Dia menghentikan enjotannya sebentar, dan aku pun kemudian lunglai di atas ranjang. Butir keringat mengalir diwajahku. Toketku naik turun seirama dengan helaan nafasku. Dia kembali menggemasi toketku dengan bernafsu. Dia mulai lagi mengenjot nonokku sambil sesekali meremas toketku yang bergoyang seirama enjotannya. Dia terus mengenjotkan kontolnya keluar masuk nonokku sampai akhirnya ngecretlah pejunya di dalam nonokku. Aku terkapar karena kenikmatan dan lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian dia mulai menciumiku sambil mengusap-usap pahaku, dan kemudian mengilik nonokku dengan jemarinya. “Ehmm..” erangku saat itil diusap-usap dengan gemas. Eranganku terhenti karena dia menciumku dengan penuh napsu. Tangannya meremas2 toketku yang besar menantang. “Pak kuat banget sih , baru ngecret sudah mau ngentot lagi” ucapku lirih. “Iya habis pengen diempot nonok kamu lagi, nikmat banget rasanya” bisiknya. Desahanku kembali terdengar ketika lidahnya mulai menari di atas pentilku yang sudah menonjol keras. Dihisapnya dengan gemas gunung kembarku hingga membuat tubuhku menggelinjang nikmat. “Gantian dong Nes” bisiknya setelah puas menikmati toketku yang ranum. Kami pun kembali berciuman sementara aku meremas kontolnya yang mulai membengkak. Aku pun kemudian mendekatkan wajahku ke kontolnya, dan mulai mengulum kontolnya. Sambil menghisap kontolnya, aku mengocok perlahan batangnya. Dia mengelus-elus kepalaku ketika aku sedang mengemut kontolnya. Dia sudah ingin ngentot lagi dengan aku. Aku disuruh duduk membelakanginya di pangkuannya. Dia mengarahkan kontolnya kedalam nonokku. “Ah..” desahku ketika kontolnya kembali menyesaki nonokku. Aku kemudian menaik-turunkan tubuhku di atas pangkuannya. Dia pun tak tinggal diam, aku diciuminya ketika aku sedang mengenjot kontolnya dalam jepitan nonokku. Sambil menciumi aku, tangannya memainkan itilku. “Ah.. Terus pak.. Ines mau nyampe..” desahku. Semakin cepat dia mengusap itilku, sedangkan tubuhku pun semakin cepat menggenjot kontolnya. “Ahh..” erangku nikmat saat aku nyampe. Tubuhku mengejang dan kemudian terkulai lemas diatas pangkuannya. Kembali terasa nonokkua berkedut2 dengan keras. Setelah reda kedutan nonokku, kontolnya dicabut dari nonokku, masih ngaceng keras dan berlumuran cairan nonokku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ditelentangkan dan segera dia menaiki tubuhku. Pahaku sudah mengangkang lebar. Dia tidak langsung memasukkan kontolnya kedalam nonokku, tetapi digesek-gesekkan dahulu di sekitar bibir nonokku hingga menyentuh itilku. “Pak.. Aduuhh.. Aduuhh pak! Sshh.. Mmppffhh.. Ayo pak.. Masukin aja.. Nggak tahann..” aku menjerit-jerit tanpa malu. “Udah nggak tahan ya.. Nes, cepat banget sudah napsu lagi..” jawabnya. Tiba-tiba dia langsung menekan sekuat tenaga. Aku sama sekali tak menyangka akan hal itu, sehingga kontolnya langsung melesak ke dalam nonokku. Kontolnya kembali menyesaki nonokku yang sempit itu. Dia mulai mengenjotkan kontolnya naik turun dengan teratur sehingga menggesek seluruh lubang nonokku. Aku turut mengimbanginya, pinggulku berputar penuh irama. Bergerak patah- patah, kemudian berputar lagi. Efeknya luar biasa, kedutan nonokku kembali terasa. “Nes, nikmat banget deh empotan nonok kamu”, katanya terengah. Aku semakin bergairah, pinggulku terus bergoyang tanpa henti sambil mengedut-ngedutkan otot nonokku. “Akkhh.. Nes.. Eennaakkhh.., hebaathh.. Uugghh..” erangnya berulang-ulang. Dia semakin kuat meremas2 dan memilin2 pentilku dan bibirnya terus menyapu seluruh wajahku hingga ke leher, sambil semakin mempercepat irama enjotannya. Aku berusaha mengimbangi keluar masuknya kontolnya didalam nonokku dengan goyangan pantatku. Sepertinya dia berusaha keras untuk bertahan, agar tidak ngecret sebelum aku nyampe lagi. Kontolnya terus mengaduk2 nonokku semakin cepat lagi. Nonokku terasa makin berkedut, kedua ujung pentilku semakin keras, mencuat berdiri tegak. Langsung pentilku disedot kuat2 kemudian dijilati dengan penuh nafsu. “Pak..! Lebih cepat lagi doonng..!” teriakku sambil menekan pantatnya kuat2 agar kontolnya lebih masuk ke nonokku. Beberapa detik kemudian tubuhku bergetar hebat, diiringi dengan cairan hangat menyembur dari nonokku. Bersamaan dengan itu, tubuhnya pun bergetar keras yang diiringi semprotan pejunya ke dalam nonokku. Aku pun mengerang tertahan. Dia langsung memeluk tubuhku erat-erat, dengan penuh perasaan. Aku membalas pelukannya sambil merasakan kenikmatan yang luar biasa. Kakiku melingkar di sekitar pinggangnya, sementara bibirnya terus menghujani sekujur wajah dan leherku dengan ciuman. Aku masih bisa merasakan kedutan nonokku. Setelah beristirahat sejenak, kami segera membersihkan diri dengan di kamar mandi. Aku belum pernah merasakan sedemikian nikmatnya dientot lelaki.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7501232687625531161-4356441349656731299?l=dennythejaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dennythejaya.blogspot.com/feeds/4356441349656731299/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7501232687625531161&amp;postID=4356441349656731299' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/4356441349656731299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/4356441349656731299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dennythejaya.blogspot.com/2011/05/kenikmatan.html' title='Kenikmatan'/><author><name>denny</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7501232687625531161.post-8334030759018903765</id><published>2011-05-06T15:25:00.001-07:00</published><updated>2011-05-06T15:25:56.706-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puncak.seks.dada.enak'/><title type='text'>teman kakak</title><content type='html'>Ini adalah kisah pengalamanku bersama seorang gadis cantik, yang sebut saja namanya Ida. Aku pertama kali mengenalnya ketika aku diajak pergi ke rumahnya oleh kakakku. Waktu itu kulihat dia mengenakan kaos oblong yang cukup ketat berwarna hijau dan sebuah celana pendek jeans.&lt;br /&gt;“Hm.., cukup seksi juga ni anak.” batinku.&lt;br /&gt;“Ida, ini adikku, Doll.” kata kakakku.&lt;br /&gt;Aku langsung menjabat tangannya. Ternyata tangannya halus juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak, yang bener, masa ini adik Mbak? Kok agak beda?” katanya.&lt;br /&gt;“Wah, kelihatan beda ya..? Emang kok semuanya bilang kalo adikku ini beda dengan aku, ya? Padahal ini adik kandungku lho..,” kata kakakku.&lt;br /&gt;“Wah! Sialan juga ni anak. baru kenal udah bilang kayak gitu.” batinku rada dongkol.&lt;br /&gt;Memang sih, kalau dilihat-lihat aku agak berbeda dengan Mbakku, tapi itu kan wajar, karena dia cewek, dan aku cowok. Apalagi aku lebih tinggi sekitar 20 cm, sehingga kalau aku jalan bareng dengan kakakku sulit dicari mana kakak, dan mana adik.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku adalah serang cowok dengan tinggi 175 cm dan berat 68 kg. Kata orang sih aku emang tidak terlalu ganteng, tapi manis. Biar begitu, aku banyak yang ngantri lho… (he he). Aku sempat mencuri pandang ketika dia sedang asyik ngobrol dengan kakakku. Kulihat anaknya lumayan. Wajahnya manis, dan juga dapat dibilang cantik. Yang bikin tambah menarik adalah body-nya itu lho. Bikin nggak tahan! Payudaranya yang cukup montok, ukuran sekitar 35A. apalagi dengan kaosnya yang ketat itu. Wah, bikin hati orang deg-degan melihatnya. Pahanya juga tidak kalah seksi. Dengan dibalut sebuah celana pendek jeans yang ketat, benar-benar memperlihatkan paha yang putih mulus dan pinggul yang benar-benar seksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku menatap wajahnya, dia malah sedang menatapku, sehingga kami beradu pandang selama beberapa saat, membuatku tambah grogi.&lt;br /&gt;“Ada apa Doll? Apa ada yang salah dengan penampilanku?” katanya.&lt;br /&gt;Aku langsung salah tingkah, apalagi penisku sudah mulai mengeras.&lt;br /&gt;“Huu, dasar ini si Doll. Nnggak bisa ngeliat cewek mulus sedikit aja, langsung deh matanya jelalatan!” kata kakakku.&lt;br /&gt;“Abisnya kalian asyik ngobrol sendiri. Aku jadi nggak ada kerjaan deh.” kataku memberi alasan.Ida hanya tersenyum saja, “Ya udah.., kamu ikutan ngobrol bareng kita disini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, kemudian kami larut dalam obrolan kami. Dari situ kuketahui bahwa dia adalah seorang mahasiswi teknik lingkungan yang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta, angkatan 2001 (mahasiswa baru), satu kampus dengan kakakku. Itulah sekilas tentang pertemuanku dengan Ida, seorang cewek yang memberi sebuah pengalaman tentang sex.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku hendak mudik bareng kakakku, aku sempat kaget dengan seorang gadis manis yang berdiri di terminal bus. Ternyata gadis itu adalah Ida. Dia membawa sebuah tas ransel dan sepertinya dia hendak bepergian juga. Ketika ditanya, ternyata dia ingin ikut kami pergi ke kota kelahiran kami. Wah, pucuk dicinta ulam tiba, batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bosan berada di yogya, panas dan sumpek! Aku pengen ke kotamu. Sekalian refresing menenangkan pikiran sehabis ujian. Bolehkan?”&lt;br /&gt;“Tentu boleh dong, asal entar jangan nyesel. Soalnya kotanya kecil.” kataku.&lt;br /&gt;Dan ternyata kakakku juga tidak keberatan. Maka jadilah kami bertiga mudik bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan kami ngobrol bersama. Ternyata dia lagi marahan dengan pacarnya. Oleh karena itu dia sengaja kabur untuk menghindari ketemu dengan cowoknya itu.&lt;br /&gt;“Jangan-jangan, kamu ikut dengan kami tanpa seijin dia dulu, ya?” kataku yang sebenarnya kecewa berat karena dia sudah punya pacar, padahal aku akan bahagia banget kalau dia mau jadi pacarku.&lt;br /&gt;“Ah..! Ngapain ngomong-ngomong dulu sama dia. Emang dia bosku apa, sampai ngatur-ngatur aku..!” katanya.&lt;br /&gt;“Setuju..!” kata kakakku ikutan ngomong.&lt;br /&gt;Begitulah, tanpa terasa kami sampai juga ke tempat tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sampai di rumah, aku langsung masuk kamar dan tertidur lelap. Hari esoknya kami bertiga keliling-keliling kota dan bersenang-senang. Kami jalan-jalan di sepanjang pantai sambil mejeng, siapa tahu dapat gandengan. Kami berada di kota kelahiranku selama empat hari. Hari terakhir kami putuskan untuk berada di rumah saja, untuk mengisi tenaga buat perjalanan kembali ke Yogja, karena hari-hari sebelumnya sudah kami isi dengan jalan-jalan ke seluruh tempat wisata di kota kelahiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu aku bangun agak kesiangan. Keadaan rumahku pagi itu sangat sepi. Aku melihat kakakku sedang tertidur di sofa. Kedua orangtuaku sedang pergi ke kantor masing-masing seperti biasanya. Aku langsung mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Ketika aku membuka pintu kamar mandi, aku sangat kaget ketika melihat Ida yang ternyata juga sedang mandi. Ida juga sangat kaget, apalagi saat itu dia sedang asyiknya membersihkan kemaluannya. Aku saat itu hanya bisa terbelalak melihat tubuh mulusnya telanjang bulat tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya yang aduhai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat kedua gunung kembar yang montok dan kencang yang tidak pernah tersentuh tangan jahil, putih mulus dan mengkilat indah sekali, dengan kedua puting susu kecoklatan. Aku menurunkan pandanganku ke bawah, sehingga melihat dua buah bukit yang ranum merekah kemerah-merahan yang di atasnya ditumbuhi bulu-bulu halus bagaikan hutan cemara, membuatku sangat tegang dan tidak kuasa menahan hawa nafsu yang demikian besar. Aku langsung masuk ke kamar mandi dan menubruknya. Aku memeluknya dengan erat lalu mulai menciuminya secara bertubi-tubi. Ida meronta-ronta dengan perlakuanku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Doll..! Apa yang kau lakukan..? Jangan..! Uugh..! Lepaskan..! Kalau tidak, aku akan teriak..!”&lt;br /&gt;Ida meronta-ronta sambil berusaha mendorongku untuk lepas dari pelukanku. Tapi usahanya sia-sia, karena aku terus mendekapnya sekuat tenaga, sambil tanganku membungkam mulutnya takut kakakku bangun.&lt;br /&gt;“Tenanglah Ida! Orang lain tidak akan tahu, karena hanya kita berdua saja yang ada di rumah ini. Sedangkan kakakku sedang tertidur pulas. Salahmu sendiri tidak mengunci kamar mandi.” kataku sambil terus memeluknya dan membungkam mulutnya dengan mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ida yang tadinya terus meronta-ronta, akhirnya pertahanannya agak mengendur dan membalas ciumanku. Ciumannya tidak kalah dahsyat dengan ciumanku sambil memelukku dengan erat. Akhirnya kami berdua melumat bibir kami selama beberapa lama. Sambil melumat bibirku, Ida lalu mulai mengangkat kaosku dan menurunkan celana pendekku. Aku yang belum puas melumat bibirnya lalu kulanjutkan dengan menciumi lehernya dan kujilati bagian belakang telinganya.&lt;br /&gt;“Aa… ah.. sst.. aahh..!” desahnya, membuatku semakin terangsang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku menurunkan kepalaku, lalu kupandangi dua buah payudara yang sudah kencang, yang kelihatan sangat menantang untuk dibelai. Aku langsung mendaratkan bibirku pada belahan dadanya, sementara kedua tanganku meraih kedua gunung kembar itu lalu kujilati kedua putingnya bergantian kiri dan kanan sambil meremas-remas payudara yang satunya. Puting susu itu kupelintir dengan mulutku sambil menghisapnya, dan sesekali menggigitnya perlahan, seperti yang kulihat di film-film porno. Perlakuanku ini membuat payudaranya menjadi sangat kencang dan membuat tubuh Ida menggelinjang tidak karuan sambil terus mendesah menahan nikmat.&lt;br /&gt;“Aahh… sst.. aah.. enak sekali Doll… aahhh..!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak menghiraukan desahan menahan nikmatnya Ida, dan terus melakukan aksiku yang menggebu-gebu. Kemudian kuturunkan kepalaku sehingga wajahku tepat berada di depan vagina Ida. Kucium perlahan-lahan, segar sekali baunya.&lt;br /&gt;“Aaahh… Doll..!” desahnya sambil mengangkat pantatnya.&lt;br /&gt;Aku lalu membuka celah di antara kedua bukit dengan menggunakan kedua jari telunjuknya. Disitu kulihat vagina Ida yang dindingnya berdenyut-denyut sambil mengeluarkan cairan. Kusentuh cairan itu, agak lengket. Lalu aku menjulurkan lidahku ke dalam liang vaginanya, lalu kusapu seluruh permukaan dinding kemaluan Ida dengan lidahku, membuat Ida menggeliat-geliat bagai cacing kepanasan sambil tangannya menjambak rambutku dan menekan kepalaku seakan-akan tidak pernah akan melepaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya merem melek menahan nikmat, dan mulutnya tidak henti-hentinya mendesah.&lt;br /&gt;“Aah.., sstsst… mmhhh… aahh… sst! Ya.., disitu Doll..! Eennaak.. Doll..! Geli.. tapi enak..! Mmmh..!” desahnya ketika kujilati daging yang timbul sebesar kacang kedele di dalam vaginanya, yang baru-baru ini kuketahui namanya klitoris.&lt;br /&gt;“Enak ya, Ida. Vaginamu enak rasanya, Da..!” kataku yang terus menjilati liang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian tubuh Ida menggelinjang semakin cepat.&lt;br /&gt;“Oohh.., Doll..! Aku mau keluar, aku tak tahan lagi.., aooh.. sst aah..!” Ida mendesah panjang, dan dari dalam kemaluannya keluar cairan bening yang cukup banyak, sehingga masuk dan tertelan olehku.&lt;br /&gt;Aku cukup kaget karena belum pernah menelan cairan tersebut. Ternyata rasanya enak juga. Aku sudah dari tadi menahan tegangku ini, dan adik kecilku ini sudah menegang dan mengintip dari balik celana dalam. Langsung saja aku melepas CD-ku dan meminta Ida untuk berbaring di bathub. Semula Ida ragu ketika matanya melotot melihat penisku yang besar dan panjang itu. Penisku itu memang ukurannya diatas rata-rata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang sudah tidak tahan lagi untuk merasakan hangatnya liang vagina seorang perempuan, lalu merebahkan tubuh bugil Ida di atas bathub, dan membuka kedua pahanya leber-lebar. Seketika itu aku melihat kedua bukit yang kemerah-merahan merekah membuatku semakin terangsang untuk menyeruaknya dengan batang kemaluanku ini. Kemudian kusejajarkan tubuhku dengan tubuhnya sambil mengarahkan kepala penisku ke liang vaginanya. Kusentuhkan kepala penisku dengan vaginanya, rasanya hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pelan-pelan ya, Doll..!” katanya dengan pandangan yang memelas.&lt;br /&gt;“Tentu dong, Sayang..!”&lt;br /&gt;Kemudian kutekan tubuhku pelan-pelan, ternyata susah sekali untuk dapat masuk. Entah berapa kali penisku terpeleset. Aku sampai kehabisan akal, sempit sekali vaginanya. Tapi aku langsung mendapat ide dengan melumasi penisku dengan sabun. Ida hanya memandangiku sambil tersenyum geli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kucoba lagi mengarahkan penisku, lalu menekannya pelan tapi pasti, ternyata berhasil. Ujung kepala penisku sudah masuk sedikit sekali. Kulihat dia meringis, kutahan sampai dia tidak meringis lagi. Lalu kutekan lagi, nah sepertiganya sudah masuk. Dia meringis lagi. Lalu kutarik perlahan, kutekan, kutarik, kutekan perlahan dengan penuh perasaan tapi pasti. Kulihat sudah setengahnya masuk.&lt;br /&gt;“Aduuhh.. caakit, Doll.., sst… uhh..!” jeritnya.&lt;br /&gt;Aku juga merasa ngilu pada penisku. Lalu kudiamkan sebentar, kemudian kutarik perlahan-lahan, maju-mundur sambil kuciumi lehernya dan belahan dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahh… eennakk… terrusss… Doolll… aahhh.. ohhh.. sshhsh… yang daallaamm… Doll..!”&lt;br /&gt;Kemudian langsung kutekan dengan sekuat tenaga, sehingga penisku ini masuk dan seperti menembus sesuatu, “Bless…”&lt;br /&gt;“Aduhh.. sakiitt.. duuhh..!” teriaknya, tapi langsung kubungkam mulutnya dengan mulutku dan melumat bibirnya dengan penuh perasaan sayang, takut kalau teriakannya itu membengunkan kakakku yang sedang tertidur.&lt;br /&gt;“Duhh.. Dooll.. pelan-pelan dong.., kan sakit, adduhh..!” katanya dengan suara yang lirih.&lt;br /&gt;Aku kasihan padanya. Kemudian aku menciumui bibir, leher dan payudaranya untuk menghilangkan rasa sakit yang dialami oleh Ida akibat selaput daranya berhasil kurobek. Kemudian Ida mulai tenang dan mendesah nikmat, dan tangannya mendekapku dengan erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku mulai menarik penisku dan menekan perlahan-lahan sekali.&lt;br /&gt;“Ahh… ennakk.. Doll… terus..! Ahhh.. oohhh..!” desahnya.&lt;br /&gt;Aku menekan pantatku maju mundur, dan terasa vaginanya semakin licin, sehingga aku semakin leluasa menggerakkan penisku semakin cepat. Terasa vaginanya berdenyut-denyut seperti memijat penisku, dan tidak mau lepas ketika kutarik. Sungguh luar biasa nikmatnya. Aku semakin mempercepat gerakanku dan kurasakan vaginanya semakin becek. Demikian juga Ida, mulai mengimbangi gerakanku. Dia menjepit pinggangku dengak kedua pahanya dan bergerak naik turun. Pantatnya sesekali bergerak ke kiri dan ke kanan sehingga penisku seperti terpelintir rasanya. Kepalanya juga bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan sambil terus mandesah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat payudaranya bergerak naik turun, sehingga langsung kulumat kudua susu yang semakin besar dan keras itu.&lt;br /&gt;“Aahh… terruss… Dooll..! Terus..! Yang daleemm.., aahh… oohh… nikmat… oh… shsshh… aahhh..!” desahnya tidak karuan.&lt;br /&gt;Gerakan kami yang sangat erotis itu mengeluarkan bunyi becek yang membuat kami semakin menggebu-gebu untuk melampiaskan seluruh nafsu birahi kami yang sudah memuncak.&lt;br /&gt;“Cleepp… cleeepp.. blueess… crott.. clepp..” kurang lebih begitulah bunyinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami terus berpacu untuk mencapai puncak kenikmatan sampai keringat membasahi kedua tubuh bugil yang sangat erotis. Akhirnya setelah lima belas menit, Ida semakin cepat gerakannya dan jepitannya semakin kuat.&lt;br /&gt;“Aku mau keluar… nih Dooll… sudah tak tahann.., aahhh..!” dia melenguh panjang sambil mendongak ke atas sambil menekan pantatnya keras-keras.&lt;br /&gt;Kemudian dia terkulai lemas di sisi bathub, tapi tangannya masih memelukku. Dia hanya dapat mendesah dan matanya merem-melek menahan nikmat ketika penisku kuhunjamkan, sambil dadanya naik turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kemudian mempercepat gerakanku. Beberapa saat kemudian aku mulai merasakan kalau penisku akan memuncratkan sesuatu.&lt;br /&gt;“Aku mau kkeluar nih Iddaa..!” kataku.&lt;br /&gt;Aku kemudian hendak menariknya, tapi dia menahan sambil menjepit dengan pahanya. Dan kembali merangkulku dengan erat.&lt;br /&gt;“Ayoo… keluarkan.. sajaa.. Dooll.. nggak.. pa-pa… ahh..!” katanya menahan nikmat.&lt;br /&gt;Karena sudah tidak tahan lagi, langsung kumuncratkan air mani ke dalam liang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oouughh… ahhh..!” desahku menahan nikmat yang tiada duanya di muka bumi ini.&lt;br /&gt;“Crottt.. Crott… serr..!” sekitar 6 atau 7 kali lahar panas membasahi liang vagina milik Ida, sampai ada yang meleleh keluar vagina yang tidak mampu menahan seluruh air maniku.&lt;br /&gt;Sejurus kemudian kami berdua terkulai di bathub kelelahan. Kemudian aku membuka keran dan membasuh tubuh kami dengan air yang segar sekali rasanya. Lalu kami pun mandi bersama. Kubasuh tubuh mulus Ida dan kusabuni dia dari atas sampai ujung kaki. Kusabuni kedua payudaranya yang montok itu sambil kuremas-remas, sehingga kembali mengencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Idih.. dari tadi kok cuma kamu yang aktif Doll, aku juga pengen dong..!” pintanya.&lt;br /&gt;Dia lalu menyabuni penisku sambil mengocoknya, sehingga mulai mengeras dan tegak berdiri di depan wajahnya. Matanya melotot melihat burungku itu.&lt;br /&gt;“Wah.., besar sekali burungmu ini Doll… pantas saja aku tadi terasa sangat sakit dan perih..!” katanya sambil terus mengelus-elus penisku itu.&lt;br /&gt;“Tapi nikmat sekali kan kalo sudah masuk..?” kataku.&lt;br /&gt;“Iya.., enaknya bukan kepalang..!” timpalnya.&lt;br /&gt;“Apalagi kalo kamu menghisapnya. Aku akan sangat suka sekali.” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia terdiam sambil menatap burungku itu. Dan disiramnya burungku itu dengan air, kemudian mulai menciumnya dan diteruskan dengan menjilati kepalanya, ke batang kembali ke kepala. Kemudian dia mengemut biji kemaluanku. Uuhh.., nikmat sekali rasanya. Dan dilanjutkan dengan megulum kepala penisku.&lt;br /&gt;“Aahh… oohhh… enak sekali.., terus Ida..!” desahku keenakan ketika penisku dikulumnya.&lt;br /&gt;Dia seperti anak kecil yang asyik mengulum permen. Kemudian dijilatinya batanganku sampai ke bawah. Kadang-kadang diurut menggunakan gigi, disedot, wah seperti melayang-layang aku dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia menatapku sambil membuka mulutnya lebih lebar, dan mulai memasukkan penisku dan berusaha menelannya. Lalu maju-mundur sambil terus menatapku, sabil menghisapnya. Persis seperti adegan di vcd-vcd porno.&lt;br /&gt;“Aahh… nikmat… nahh.. begitu.. terus Ida.. yang kuat..!” kataku.&lt;br /&gt;Lama-kelamaan hisapannya semakin kuat. Aku memegang kepalanya dan menekan untuk menelan lebih dalam lagi. Hebat juga. Hampir seluruh penisku masuk ke mulutnya. Tapi kemudian dia tersedak, tapi tidak berhenti menghisap penisku maju mundur, semakin kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahan dengan gerakannya itu, lalu muncratlah air maniku ini untuk yang kedua kalinya.&lt;br /&gt;“Crrott… croot.. swerr..!” karena saking banyaknya, sampai tidak muat di mulutnya, dan sampai tertelan olehnya.&lt;br /&gt;“Gimana rasanya Ida, enak..?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Enak juga.. agak asin.” katanya sambil terus berusaha menelannya.&lt;br /&gt;Aku kasihan melihatnya, sehingga kubantu dengan melumat bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mandi bersama, kami menuju kamar masing-masing dan tertidur lelap. Sampai sekarang kejadian itu hanya kami saja yang mengetahuinya. Dan sekarang di Yogja kami sudah resmi berpacaran dan sering mengulanginya baik di kontrakkanku maupun di rumahnya, bila rumahnya sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7501232687625531161-8334030759018903765?l=dennythejaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dennythejaya.blogspot.com/feeds/8334030759018903765/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7501232687625531161&amp;postID=8334030759018903765' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/8334030759018903765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/8334030759018903765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dennythejaya.blogspot.com/2011/05/teman-kakak.html' title='teman kakak'/><author><name>denny</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7501232687625531161.post-3527852698351314515</id><published>2011-05-06T15:19:00.000-07:00</published><updated>2011-05-06T15:21:10.829-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Selingkuh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seks'/><title type='text'>istri teman</title><content type='html'>ejadiannya bermula dari perjumpaan saya dengan seorang teman SMP saya di sebuah toko elektronik, ketika saya sedang membeli VCD Player. Pertemuan di toko itu kemudian dilanjutkan dengan makan malam bersama. Joko, teman saya itu, bekerja sebagai *** (edited) di salah satu perusahaan minyak. Karena ia bekerja di bagian produksi, maka waktunya lebih banyak dihabiskan di anjungan minyak lepas pantai. Dua minggu di anjungan, dan satu minggu kemudian ia bekerja di darat. Begitulah pola jadwal kerjanya. Ia telah 5 tahun menikah tetapi belum juga dikaruniai anak. Nama isterinya adalah Nina, bekerja sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta. Pembicaraan di rumah makan tersebut sedemikian mengasyikkan. Kami banyak mengenang berbagai kejadian lucu semasa kami di SMP dahulu. Bagaimana kami berusaha mengintip paha guru-guru wanita, cerita tentang Bibi Kantin, dan sebagainya. Tidak kami sadari, rupanya rumah makan itu akan segera tutup. Kemudian Joko mengajak saya ke rumahnya.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Joko sudah sepi ketika kami sampai di sana. Menjawab pertanyaan Joko, pembantu wanita yang membukakan pintu mengatakan bahwa isteri Joko telah masuk kamar dari jam sembilan, mungkin sudah tidur katanya. Sambil duduk di ruang tamu menunggu Joko yang masuk ke kamarnya, saya mengamati rumah Joko yang cukup asri ini. Dari foto mereka yang terpajang, saya dapat melihat dan menilai bahwa isterinya cukup menarik dan seksi. Ternyata penilaian saya tersebut tidak salah. Dengan hanya mengenakan daster tanpa lengan dan sedikit terkantuk-kantuk ia menjulurkan tangannya, “Nina” katanya. “Bambang”, jawabku singkat. Kemudian Nina mengatakan ia mohon maaf karena mengantuk sekali dan harus tidur cepat karena ia mendapat jadwal mengajar pagi keesokan harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggallah saya berdua dengan Joko melanjutkan perbincangan kami. Sambil berbincang-bincang, kemudian Joko mencoba VCD yang baru dibelinya. VCD itu sendiri isinya film yang cukup terkenal (judulnya kalau tidak salah “Indecent Proposal”. Kurang lebih film itu berkisah tentang tawaran dari seorang pria untuk memberikan sejumlah besar uang apabila ia diperbolehkan mengencani isteri pria yang satunya tersebut). Sambil menonton Joko bertanya, “Kalau kamu bagaimana Bang?”, tanyanya. Aku menjawab, “Enggak tahu deh.., bingung”. Kemudian aku balik bertanya, “Kalau kamu bagaimana Jok?” Joko mengemukakan bahwa kalau ia menghadapi situasi yang demikian, maka ia akan menerima tawaran itu. Bahkan ia kemudian secara terbuka mengungkapkan kepadaku bahwa terkadang ia suka membayangkan isterinya bersetubuh dengan orang lain. Ia merasa janggal dengan keadaannya yang satu ini. Kemudian kami memperbincangkan berbagai hal lainnya. Menjelang tengah malam, akhirnya saya pamit, walaupun sebenarnya masih banyak yang ingin kami perbincangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kesibukan masing-masing, selama hampir tiga minggu kami tidak berkomunikasi. Sampai akhirnya di satu hari Kamis, ia menelepon saya di kantor menjelang jam pulang kantor. Joko mengajak saya untuk bertemu di salah satu Cafe di bilangan Kemang. Karena tidak acara, akhirnya saya menyanggupi ajakan tersebut. Rupanya Joko ingin membicarakan suatu hal yang agak pribadi, sehingga ia mengajak saya bertemu di cafe tersebut. Setelah pembicaraan basa-basi, akhirnya ia mengutarakan maksud utama mengapa ia mengajak saya bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini Mbang”, kata Joko sebagai pembukaan.&lt;br /&gt;“Sebetulnya saya agak sungkan mengemukakan hal yang akan saya utarakan ini, karena sifatnya begitu pribadi”, lanjutnya, “Mudah-mudahan kamu tidak terkejut dan tidak berpikir yang bukan-bukan terhadap saya, setelah semuanya ini saya ungkapkan padamu” sambung Joko lagi.&lt;br /&gt;“Ada apa sih Jok”, tanyaku penasaran.&lt;br /&gt;“Pernah tidak kamu membayangkan isterimu bermesraan dengan orang lain”, tanyanya.&lt;br /&gt;“Pernah”, jawabku singkat dan sejujurnya memang demikian.&lt;br /&gt;“Aku juga”, katanya, “Bahkan, aku sangat terangsang kalau membayangkan isteriku bersetubuh dengan laki-laki lain” lanjutnya.&lt;br /&gt;“Sebenarnya, secara tidak langsung aku pernah mengemukakan hal tersebut ketika kita nonton film di rumahku dulu” lanjutnya lagi, “Bayangan itu, hampir tiap malam singgah di kepalaku. Dan sepertinya aku tidak tahan lagi untuk mewujudkannya”, kata Joko sambil meneguk minumannya. “Karena itulah, aku mengajakmu bertemu. Terus terang Mbang, aku mau minta tolong padamu. Maukah kamu menyetubuhi isteriku? Aku ingin melihat kamu menyetubuhi isteriku”, katanya malu-malu.&lt;br /&gt;Walaupun sebenarnya aku juga sudah menduga-duga kemungkinan akan hal itu, tetapi aku tetap tertegun mendengar ungkapan Joko tersebut.&lt;br /&gt;“Maaf ya Mbang, kalau permintaanku itu kurang nikmat buat kamu”, kata Joko melihat aku diam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus terang Jok, aku kaget dan agak bingung. Walaupun masih ada beberapa pertanyaan di benakku, tapi aku dapat memahami keinginanmu itu. Yang benar-benar membuatku bingung…, kenapa aku yang kamu pilih untuk menyetubuhi isterimu?”, tanyaku.&lt;br /&gt;“Ada beberapa alasan”, jawab Joko. “Pertama, aku sudah cukup mengenal kamu, yang artinya kamu aku nilai tidak akan sembarangan membocorkan rahasia ini kepada orang lain. Kedua, walaupun kita kenal sudah cukup lama, tapi kita kan tidak sering berhubungan. Aku pikir keadaan itu dapat mengurangi resiko timbulnya berbagai masalah yang lebih besar kemungkinannya timbul kalau yang menyetubuhi isteriku adalah orang yang bergaul sehari-hari dengan kami”, lanjut Joko.&lt;br /&gt;“Maksudmu bagaimana Jok, aku agak kurang jelas?”, tanyaku.&lt;br /&gt;“Begini, seumpamanya yang menyetubuhi isteriku itu tetanggaku atau teman kantorku, kan kejadian itu dapat menimbulkan situasi hubungan yang baru di antara kami. Misalnya, jadi salah tingkah dalam berhubungan. Dan jika hal itu terjadi, akan lebih besar pengaruhnya dibandingkan jika dengan kamu. Karena, hampir tiap hari kan aku ketemu mereka.” kata Joko menjelaskan.&lt;br /&gt;“Kalau begitu, ada kemungkinan dong hubungan kita menjadi renggang?”, tanyaku lebih jauh.&lt;br /&gt;“Itu kan cuma permisalan saja”, kata Joko.&lt;br /&gt;“Tapi kan aku harus tetap memperhitungkannya”, kata Joko lagi.&lt;br /&gt;“Pertimbangan lainnya”, tanyaku lagi.&lt;br /&gt;“Terus terang Mbang, biar bagaimana juga kan aku harus pilih-pilih. Aku tidak mau dong orang sembarangan yang menyetubuhi isteriku. Tampang dan kondisi sosial-ekonomi, setidaknya selevel denganku”, kata Joko.&lt;br /&gt;“Kalau orang sembarangan, isteriku juga belum tentu mau”, lanjut Joko lagi.&lt;br /&gt;“Memangnya hal ini sudah kamu bicarakan dengan isterimu?”, tanyaku sambil meneguk Coca Cola yang ada di hadapanku.&lt;br /&gt;Kemudian Joko mengatakan, “Sudah tahunan Mbang aku mengungkapkan keinginanku ini ke Nina. Tapi dia selalu menolaknya. Ide gila katanya. Baru beberapa bulan yang lalu sikapnya agak melunak, karena kayaknya dia mulai takut aku ceraikan karena tidak punya anak. Tapi, sampai saat ini keinginanku itu belum terpenuhi. Kami belum menemukan orang yang benar-benar cocok dengan keinginan kami. Kadang aku yang tidak cocok, kadang dia yang tidak menyenangi orang yang aku usulkan. Ada juga yang alternatif orang yang kami berdua kurang cocok”.&lt;br /&gt;“Memangnya kalau aku, isterimu sudah setuju?”, potongku.&lt;br /&gt;Joko menjawab “Aku sudah pernah membicarakan kamu sebagai alternatif kepada Nina, dan responsnya menurutku lebih baik dibandingkan dengan calon-calon sebelumnya”.&lt;br /&gt;“Apa komentar Nina tentangku”, tanyaku lagi.&lt;br /&gt;“Nina bilang kamu ‘boleh juga’, dan seperti penilaianku, Nina juga menilai kamu cukup dikenal olehku, namun kita tidak terlalu dekat dan tidak terlalu sering berhubungan dengan kami”, jawab Joko. Setelah menanyakan beberapa hal lainnya, kemudian aku mengatakan kepada Joko bahwa aku masih membutuhkan waktu untuk berpikir. Alasan utama yang aku utarakan adalah bahwa aku belum pernah melakukan hal tersebut. Kemudian setelah kami berbincang-bincang tentang berbagai hal lainnya, kami akhirnya pulang ke rumah masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam saat aku berbicara dengan Joko di cafe tersebut, aku sebenarnya sudah ingin memberikan jawaban bersedia. Selain memang mungkin benar bahwa pria memiliki kecenderungan untuk tidak puas dengan satu wanita saja, juga didukung oleh situasi dimana satu bulan terakhir ini isteriku sudah tidak mau diajak bersetubuh karena usia kandungannya yang sudah tua. Faktor kebat-kebit sehubungan dengan hasratku terhadap mertuaku, juga semakin menggelitik kebutuhan seksku. Satu-satunya hal yang menunda persetujuanku adalah kekhawatiran akan resiko dari memenuhi permintaan itu. Pertama, terus terang aku takut affair tersebut akan diketahui orang dan akhirnya sampai ke telinga keluargaku atau keluarga isteriku. Kedua, aku khawatir kalau Joko meminta imbalan sebaliknya. Artinya, ia juga ingin menyetubuhi isteriku. Aku khawatir kalau ia meminta hal ini, aku tidak dapat memenuhinya. Isteriku kemungkinan besar akan menolak ide itu, aku sendiripun masih bertanya-tanya apakah aku mau membiarkan isteriku disetubuhi orang lain. Walaupun aku terkadang memfantasikannya, kan tetap ada beda antara fantasi dengan realita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku timbang-timbang kurang lebih selama seminggu, dan setelah memperoleh konfirmasi dari Joko bahwa ia tidak bermaksud untuk meminta imbalan menyetubuhi isteriku, akhirnya aku memutuskan untuk memenuhi tawaran dari Joko tersebut. Kemudian, melalui telepon aku memberitahu Joko, dan langsung saat itu juga kami membuat janji untuk bertemu di rumah Joko pada hari Jumat malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan alasan ingin bertemu dengan teman lama, setelah mandi dan sempat bermasturbasi di kamar mandi, aku pamit pada isteriku dan berangkat ke rumah Joko. Makan malam di rumah Joko berlangsung agak kaku. Hanya Joko saja yang banyak berbicara dan berusaha menghangatkan suasana. Aku hanya mengiyakan atau menjawab singkat pertanyaan-pertanyaan Joko. Sementara itu, Nina lebih banyak menundukkan kepala dan terlihat agak jengah ketika bertemu pandang denganku. Yang ada di kepalaku saat itu, adalah bayangan bahwa sebentar lagi aku akan memesrai wanita ini. Beberapa kali aku sempat mencuri pandang ke arah Nina dengan agak menjelajahi tubuhnya. Khususnya, ketika ia berdiri dan berjalan mengambil buah untuk penutup makan malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis makan, ketika Nina membereskan meja makan, Joko dan saya duduk-duduk di ruang keluarga. Beberapa saat kemudian Nina masuk ke ruang keluarga itu, duduk di salah satu sofa tunggal di ruang itu. Ia duduk dengan kedua tangan menyatu dan diselipkan di antara kedua kakinya. Terkesan sangat gugup, canggung dan agak ketakutan. Suasana terasa sangat kaku, walaupun beberapa kali Joko berusaha melucu. Tatapan kami lebih sering ke arah televisi, tapi aku yakin kalau pikiran kami bukan ke acara di televisi tersebut. Suatu saat Joko berdiri dan kemudian menarik tangan Nina untuk bangun dari sofa yang di dudukinya. “Ada apa Mas?” tanya Nina keheranan. Tanpa menjawab, Joko kemudian menuntun Nina ke arahku yang duduk di sofa panjang, lalu mendudukkan Nina di sampingku. “Apa-apaan sih” kata Nina sambil terduduk. Situasinya semakin menjadi tidak enak dan semakin canggung.&lt;br /&gt;“Kayaknya kamu terlalu maksa deh Jok” kataku kepada Joko. Nina diam saja dengan wajah memerah, campuran rasa malu dan canggung.&lt;br /&gt;“Sorry deh, Mungkin lebih baik kalian berdua saja dulu untuk lebih akrab. Aku ke teras depan dulu ya..”, kata Joko sambil berjalan meninggalkan kami.&lt;br /&gt;“Kita batalin saja Nin, kalau kamu memang tidak mau”, kataku kepada Nina sambil mengarahkan pandangan ke televisi lagi.&lt;br /&gt;“Nggak apa-apa kok…, saya memang sudah menyanggupi hal ini pada Mas Joko. Cuma aku bingung saja aku harus bagaimana”, jawab Nina. Kemudian aku memandang wajah Nina, terlihat pipinya memerah kembali.&lt;br /&gt;“Aku juga bingung, belum pengalaman sih”, jawabku sambil memberanikan diri memegang tangan Nina. Ia diam saja, dan membiarkan tangannya kuelus-elus. Detak jantungku maupun jantung Nina, semakin mengeras sejalan dengan kegugupan kami masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku menyandarkan lenganku ke bahunya, terasa hangat namun tetap gugup. Kemudian kuusap-usap rambutnya, turun ke leher, ke rambut lagi. Bolak-balik begitu. Suasana terasa lebih rileks, dan kemudian Nina menyandarkan kepalanya ke punggung tangan kiriku yang ada di bahu kirinya. Kemudian tangan kanannya menarik tangan kananku dan meletakkan di telapak tangan kirinya, sambil tangan kanannya mengelus-elus punggung tangan kananku. Saat itu, bagi kami, terasa lebih mudah melakukan gerakan-gerakan dibandingkan dengan berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat, kemudian aku menarik kedua tanganku, dan duduk menghadap Nina sambil memegang kedua pipinya dengan tanganku. Sesaat kami berpandangan, tetapi kemudian Nina menutup kedua matanya. Secara naluriah kemudian kucium bibir Nina. Untuk sesaat, terasa bibir Nina agak menutup rapat, tapi kemudian lama-lama melemah dan membuka. Kukulum bibirnya dengan lembut. Lalu kujepit bibir bawahnya dengan kedua bibirku, sambil kubelai bibir bawahnya itu dengan lidahku. Kemudian kukulum lagi lidahnya, terasa mulai ada respon dari Nina. Ia mulai aktif membalas ciuman dan kulumanku. Secara refleks, tanganku mulai membelai-belai payudaranya, dan sesekali meremas dengan lembut. Kemudian Nina melenguh, dan melepaskan bibirnya dari bibirku dengan napas terengah-engah. Matanya terbuka dan kemudian bibirnya tersenyum, akupun tersenyum sambil memandangnya. “Aku belum pernah dicium dengan cara tadi dan belum pernah ciuman selama itu”, kata Nina kepadaku. Aku diam saja sambil terus membelai payudara Nina. Dengan gerakan memutar, aku mengelus daerah puting payudaranya. Secara perlahan, aku dapat merasakan bahwa putingnya makin lama makin menonjol. Tanpa berkata-kata, kupeluk erat Nina, dan kemudian kucium lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah begitu dong…”, kata Joko yang tanpa kami sadari sudah berada di dekat kami. Nina dan aku sama-sama terkejut dan agak terlonjak mendengar suara Joko. Tubuh kami pun menjadi agak merenggang.&lt;br /&gt;“Ngaget-ngagetin saja kamu Jok” kataku sambil merasa agak malu dan sedikit terganggu, karena situasi tadi sempat membuaiku.&lt;br /&gt;“Sorry deh.., kita ke kamar saja yuk”, kata Joko. Kemudian kami bertiga masuk ke salah satu kamar. Perkiraanku, kamar ini bukanlah kamar mereka, karena terlihat agak kosong. Boleh jadi kamar ini adalah kamar untuk tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar Joko langsung duduk di kursi meja rias dan berkata, “Terusin deh yang tadi…, kaya’nya kalian sudah mulai hot”. Namun kecanggungan kembali merajai situasi di ruangan. Boleh jadi, keberadaan Joko menyebabkan kami menjadi canggung. Nina hanya duduk diam di salah satu sisi tempat tidur. Di sisi lainnya aku juga duduk terdiam. Namun kemudian aku berkata, “Rasanya canggung Jok ada kamu di sini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari situasi, kemudian Joko mengatakan bahwa ia akan keluar dulu dari kamar itu, sementara kami mencoba untuk memadu kemesraan. Setelah Joko keluar kamar, baru terasa bahwa situasi menjadi lebih rileks dan menyenangkan. Aku kemudian tersenyum, sambil berjalan ke arah Nina. Nina membalas senyumanku itu sambil merentangkan tangannya dan memelukku ketika aku sampai di hadapannya. Sambil duduk kami terus berpelukan dan berciuman, sambil meraba-raba satu sama lainnya. Secara tidak sadar posisi kami sudah setengah berbaring. Kakiku dan kaki Nina masih terjuntai ke lantai, tapi aku sudah dalam posisi menindih Nina. Kuciumi payudara Nina, ia mulai menggeliat-menggeliat sambil terkadang menarik nafas panjang. Nafasnyapun terdengar semakin berat. Kubuka kancing-kancing baju Nina, dan terlihatlah BH-nya yang berwarna coklat muda. Kusingkapkan BH sebelah kanan agak ke atas dan tersembullah buah dada Nina yang cukup besar itu. Putingnya tidak terlalu besar tetapi sudah cukup menonjol. Tampaknya ia sudah mulai terangsang. Segera kuciumi payudaranya dan kumainkan putingnya dengan bibir dan lidahku, kadang-kadang kusedot puting payudaranya. “Oooohh…”, lenguh Nina, satu saat ketika putingnya kusedot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah cukup lama bermain-main dengan payudaranya, kemudian ciumanku mulai turun ke arah perutnya. Nina menggeliat kegelian. “Geli Mas” katanya. Seakan-akan sudah janjian, kami kemudian merenggangkan tubuh kami dan sama-sama bangkit duduk, sambil melepas pakaian masing-masing, sehingga tinggal celana dalam kami masing-masing saja yang masih melekat di tubuh kami. Kemudian, kubaringkan Nina, dan kuciumi bagian dalam pahanya, sambil menarik celana dalamnya ke bawah, sampai akhir terlepas. Bulu-bulu di kemaluan Nina cukup lebat, tapi garis kemaluannya masih cukup jelas terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, kubuka celana dalamku sendiri, sehingga akhirnya kami sama-sama telanjang bulat. Kulihat Nina agak tertegun melihat kemaluanku. “Kenapa Nin?”, tanyaku. “Tidak apa-apa”, jawabnya. Kemudian kutindih kembali Nina dan kuciumi leher dan kupingnya. Kembali terdengar lenguhan-lenguhan Nina. Agak berbeda dengan isteriku yang tidak banyak mengeluarkan bunyi kalau kami sedang bermesraan, Nina cukup banyak mengeluarkan bunyi, entah itu lenguhan “Oooohh” atau “eeggghh” atau “heegg”, dan beberapa bunyi lain yang tidak dapat aku ingat. Kemaluanku yang mulai membesar dan mengeras menempel di pahanya. Mungkin tanpa disadari, tangan Nina bergerak-gerak seakan mencari kemaluanku. Kuangkat sedikit pinggulku sehingga tangan Nina dapat menyelinap ke sela-sela badan kami dan akhirnya menyentuh kemaluanku. Dengan lembut kemaluanku digenggamnya dan digeser-geserkan ke selangkangannya. Nikmat rasanya, walaupun hanya bergesekan saja. Setelah cukup tegang, Nina melepaskan genggamannya pada kemaluanku dan kedua tangannya mulai mengusap-usap punggungku sambil terkadang memeluk erat tubuhku yang ada di atas tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ada seberkas cahaya tambahan terlihat. Kami sama-sama menoleh ke arah pintu dan melihat Joko berdiri di ambang pintu sedang memandang kami. Joko tertegun dan kemudian menganggukkan kepalanya. Aku tidak tahu apa maksud dari anggukan kepalanya. Hanya aku sempat kesal dan berpikir, “waduh ini orang, selalu tidak sabaran dan menggangu saja”. Berusaha mengabaikan keberadan Joko, kugesekkan terus kemaluanku di selangkangan Nina, yang rasanya mulai membasah. Khawatir “turun” lagi situasi yang sudah panas ini, kupegang kemaluanku dan mencoba mengarahkannya ke lubang keramat Nina. Dengan sedikit dorongan ekstra, akhirnya kemaluanku berhasil menembus lubang kemaluan Nina. Pada dorongan pertama hanya kepalanya saja yang masuk. Terasa hangat dan empuk kemaluan Nina. Ketika kumasukkan, Nina mengeluh, “aduuhh…”. Kutarik dan kemudian kumasukkan lagi kemaluanku, hasilnya lebih dalam dari yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada genjotan kelima, bersamaan dengan masuknya seluruh batang kemaluanku ke lubang kemaluan Nina, Nina kembali mengeluh, “Aduuhh sakit Mas…”, katanya. Kudiamkan sebentar kemaluanku di dalam kemaluan Nina. Kemudian kadang-kadang kutegangkan kemaluanku yang masih di dalam kemaluan Nina dengan sedikit mengencangkan otot-otot selangkanganku. Secara halus kurasakan kadang-kadang kemaluan Nina berespon, dengan gerakan menyempit kemudian normal dan menyempit lagi. Tatkala kutatap wajah Nina yang tersenyum kecil, aku baru sadar bahwa ia memang sengaja membalas gerakanku menegangkan kemaluanku tersebut dengan gerakan vaginanya. Beberapa lama kami berkomunikasi dengan kemaluanku, tanpa Joko dapat melihatnya. Tetapi kemudian aku tidak tahan lagi. Segera kugenjot lagi pinggulku, kira-kira pada genjotan yang ke sepuluh, aku tidak tahan lagi dan akhirnya memuncratkan air maniku di dalam kemaluan Nina. Entah karena sensasi pengalaman baru, entah karena munculnya Joko, entah karena sudah cukup lama aku tidak bersetubuh, yang menyebabkan aku ejakulasi lebih cepat dari biasanya. Yang jelas aku terbaring di atas tubuh Nina dan mebisikkan ke telinga Nina, “Terima kasih Nin. Punyamu sempit dan nikmat sekali”. Nina diam saja. Setelah beberapa lama dalam posisi itu, kemudian Nina berkata, “Sesak nafasku Mas, badanmu berat”. Aku tahu diri dan kemudian menggeser badanku ke samping dan berbaring tertelentang menikmati pengalaman yang baru kurasakan.&lt;br /&gt;ina bangkit berdiri dan menutupi tubuhnya dengan bajunya sambil berjalan ke luar.&lt;br /&gt;“Mau ke mana Nin”, tanya Joko ketika Nina lewat di hadapannya.&lt;br /&gt;“Ke kamar mandi”, jawab Nina singkat sambil terus keluar kamar. Menyadari Joko masih berada di pintu kamar itu, aku segera bangkit dan mengenakan pakaianku.&lt;br /&gt;“Kok sebentar?”, tanya Joko.&lt;br /&gt;“Aku sudah lama tidak begituan Jok”, jawabku sambil memakai celana panjangku.&lt;br /&gt;“Aku belum sempat melihat banyak lho”, kata Joko.&lt;br /&gt;“Mau nggak main sekali lagi?”, tanya Joko.&lt;br /&gt;Aku terdiam sesaat dan kemudian menjawab, “Untuk kali ini kayaknya cukup Jok”, kataku, “Kalau pulangnya kemalaman, nanti isteriku bisa curiga” lanjutku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kami keluar kamar meuju ruang keluarga lagi. Di ruang keluarga, aku dan Joko mendiskusikan pengalaman yang baru terjadi. Joko mengatakan bahwa pengalaman itu sangat merangsang dirinya. Aku mengungkapkan secara terbuka bahwa keberadaan Joko sedikit-banyak menghambat situasi panas yang sedang meningkat. Akhirnya, aku mengungkapkan bahwa aku mau pulang. Joko kemudian memanggil Nina, yang ternyata masih berada di kamar mandi yang ada di dalam kamar mereka.&lt;br /&gt;“Lama amat sih…”, kata Joko menyambut Nina yang keluar dari kamar.&lt;br /&gt;“Maaf”, kata Nina singkat.&lt;br /&gt;“Aku pulang ya Nin”, kataku.&lt;br /&gt;“Iya Mas…”, kata Nina tersipu malu. Sambil pulang, terbayang kembali kejadian-kejadian yang baru aku alami. Dan sesampainya di rumah, aku sempat bermasturbasi di kamar mandi, sebelum akhirnya berbaring di samping isteriku yang telah tertidur lelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Seninnya, Nina meneleponku di kantor. Nina menceritakan bahwa Joko agak marah pada dirinya, karena persetubuhan antara Nina dengan aku hanya berlangsung sebentar saja. Menurut Joko, Nina kurang melayani aku dengan baik. Pendek kata, Joko tidak puas dan ingin mengulangi lagi. Aku bilang pada Nina bahwa aku bersedia lagi, jika Joko meminta lagi padaku. Kemudian secara bergurau Nina berkata, “Kalau aku yang minta bagaimana Mas Bambang..?”.&lt;br /&gt;“Maksudmu?”, tanyaku.&lt;br /&gt;“Iya…, tadi kan Mas Bambang bilang bahwa kalau Mas Bambang bersedia bermesraan lagi denganku kalau Mas Joko meminta lagi pada Mas Bambang. Nah …, maksudku kalau aku yang minta ke Mas Bambang bagaimana?”.&lt;br /&gt;“Siapa yang takut” jawabku. Sudah hilang rupanya kecanggungan Nina kepadaku. Boleh jadi hal tersebut disebabkan karena kami sudah pernah melakukan hubungan intim sebagaimana layaknya suami-istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emangnya kamu serius Nin, ingin lagi bermesraan denganku”, kataku lirih takut ada yang dengar.&lt;br /&gt;“Serius Mas, aku ingin mencoba tanpa ada Mas Joko. Rasanya, keberadaan dia mengganggu moodku. Waktu itu, kan sebenarnya aku sudah pengin banget, tapi pas Mas Joko masuk, aku jadi agak terhambat deh. Mas Bambang merasakan tidak sih waktu si ‘adek’, aku pijit-pijit pakai kemaluanku?”.&lt;br /&gt;“Terasa kok Nin, aku baru sadar waktu aku menatapmu”, jawabku.&lt;br /&gt;“Waktu itu, sebenarnya aku sudah ingin banget dipuaskan. Tapi sengaja, aku bilang bahwa aku merasa sakit. Soalnya, aku takut Mas Joko cemburu karena aku jadinya juga menginginkan persetubuhan dengan Mas. Padahal kan Mas Bambang bisa merasakan sendiri bahwa saat itu kan aku sudah basah banget di bawah sana”, kata Nina.&lt;br /&gt;“Iya Nin, waktu itu aku agak bingung. Kamu sudah basah, tapi kok masih bilang sakit”, kataku.&lt;br /&gt;“Pada awalnya memang agak sakit sih Mas.., soalnya punyamu lebih besar daripada punyanya Mas Joko. Tapi, habis itu rasanya nikmat sekali. Padat rasanya punyaku dan terasa punyamu menggesek seluruh dinding kemaluanku”, sambung Nina.&lt;br /&gt;“Nah, pas Mas sudah keluar, aku kan buru-buru pergi ke kamar mandi dan agak lama di sana. Waktu itu, di kamar mandi aku menuntaskan apa yang belum Mas tuntaskan”, kata Nina lagi.&lt;br /&gt;“Sorry deh Nin, abis waktu itu rasanya nikmat banget dan aku sudah lama tidak melakukan hubungan intim dengan isteriku”, kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengenai permintaanku tadi bagaimana Mas?”, tanya Nina.&lt;br /&gt;“Bagaimana caranya dong, kita bisa berhubungan tanpa sepengetahuan Joko?”, tanyaku.&lt;br /&gt;“Begini Mas, kebetulan aku minggu depan ditugaskan ke Bandung sendirian. Mas bisa menemui aku di Bandung kalau mau”, kata Nina. Akhirnya kami membuat janji untuk bertemu di Bandung. Setibanya di Bandung, nanti Nina akan menghubungiku via handphone untuk memberitahukan ia menginap di mana dan di kamar berapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu depannya, setelah menerima telepon dari Nina, jam 9 malam kutekan bel pintu kamarnya di hotel. Dengan hanya mengenakan daster dan rambut terikat ke atas Nina membuka pintu kamarnya. Bagaikan sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu, kami langsung berpelukan dan berciuman segera setelah pintu kamar ditutup. Kutekan tubuh Nina ke dinding, dan kugerayangi tubuhnya dengan tetap tidak melepaskan ciuman kami. Karena tidak tahan, segera kubopong Nina ke tempat tidur dan kemudian kutindih dia dan terus kumesrai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas…, Mas…, stop dulu dong…”, pinta Nina tersengal-sengal.&lt;br /&gt;“Kenapa Nin?”, tanyaku.&lt;br /&gt;“Mas ini ahh…, baru datang langsung ganas saja. Minum dulu kek atau lepas sepatu dulu kek”, kata Nina sambil bangkit lalu bersimpuh dihadapanku yang duduk di tempat tidur. Nina kemudian dengan lembut membuka sepatu dan kaus kakiku. Kemudian ia mengambilkan sandal kamar yang disediakan oleh hotel dan memasangkannya ke kakiku. Aku tersentuh dengan perlakuan Nina tersebut. Aku belum pernah diperlakukan demikian oleh isteriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ambilkan minum dulu ya”, kata Nina seraya berjalan ke arah kulkas. Kemudian aku pindah duduk di kursi yang ada di kamar itu. Nina meletakkan jus jeruk di meja sambil mencubit tanganku dengan genit. Kurengkuh tubuh Nina, tapi dia mengelak dan duduk di depan meja rias. Kuteguk minuman yang disediakan Nina, sambil memandangi Nina yang sedang menyisir rambutnya yang berantakan karena serbuanku tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membuka kran bath tub, kemudian Nina mengikat kembali rambutnya di depan kaca di kamar mandi tersebut. Kupeluk tubuhnya dari belakang. Kuraba-raba kedua payudaranya dari belakang, terkadang kuremas lembut. Sementara tangan kiriku tetap di dadanya, tangan kananku turun merambat hingga di selangkangannya, kuusap-usap daerah kemaluannya, diselingi dengan tekanan-tekanan lembut berputar. Nina mulai mendesah-desah, tubuhnya mulai menggeliat-geliat. Mendapat respon demikian, aku menjadi semakin semangat. Kemudian dengan ganas kucium tengkuknya, kadang-kadang menggeser ke sekitar telinganya. Desahan dan geliatan Nina semakin menjadi-jadi. Aku makin bertambah semangat lagi, dan tanpa kusadari remasan tanganku baik pada payudaranya maupun selangkangannya semakin menggebu-gebu. Aku tidak tahan lagi dan kukatakan pada Nina, “Nin…, aku masukin ya sebelum kita mandi”. Nina mengangguk perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cepat kulepaskan baju dan celanaku serta celana dalamku. Habis itu, kusingkap daster Nina ke atas, dan kutarik celana dalamnya ke bawah. Lalu kutempelkan kemaluanku yang dari tempat tidur tadi sudah tegang ke belahan pantatnya, sehingga menyentuh bibir kemaluannya. Dengan gerakan pelan kugesekkan kemaluanku ke selangkangan Nina. Terasa hangat dan lembut. Pada posisi ini, walaupun belum masuk ke vaginanya, aku sudah merasakan jepitan pada kemaluanku. Mungkin itu jepitan pahanya, tetapi mungkin juga jepitan dari bibir kemaluannya. Sementara itu, kedua payudara Nina terus kuremas-remas. Kulirik ke kaca di depan kami, kepala Nina hanya tertunduk saja, aku tidak dapat melihat wajahnya. Sesekali kulihat kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan. Sesekali terdengar rintihannya, “Massss, shh, shh, aduhh, ahh…”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kurasakan kemaluan Nina sudah mulai cukup basah, kupegang kemaluanku dan kuarahkan ke vagina Nina. Secara perlahan saya dorong kemaluan saya memasuki kemaluan Nina. “Aaawww…, asshh”, jerit Nina perlahan ketika kepala kemaluan saya mulai masuk. Kutarik sedikit dan kemudian kutekan lagi sehingga hampir seluruh kemaluanku masuk ke kemaluan Nina. Setelah kudiamkan sebentar, kemudian aku mulai menggerakkan kemaluanku maju mundur ke kemaluan Tina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desahan dan erangan Nina semakin sering terdengar. Ketika kepala Nina mendongak ke belakang ke arahku, kulirik kaca di depan kami, terlihat wajah Nina memerah dengan mata terpejam. Suatu pemandangan yang sangat merangsang. Kuteruskan gerakan-gerakanku dan karena nikmatnya, aku tidak tahan lagi dan akhirnya dengan jeritan tertahan kumuntahkan air maniku di dalam kemaluan Nina. Nina menggeliat-geliat resah karena setelah ejakulasi, gerakanku menjadi terhenti.&lt;br /&gt;“Mass.., aku belum nih…, rasanya menggantung…”, kata Nina seakan-akan protes dengan apa yang baru saja terjadi.&lt;br /&gt;“Maaf deh Nin…, nikmat banget sih”, kataku.&lt;br /&gt;“Sini aku bantuin supaya kamu tuntas”, sambungku lagi sambil menarik tubuh Nina ke arah bathtub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kami berdua masuk ke dalam bath tub dalam posisi aku duduk di belakang Nina. Tangan kiriku mulai kembali meraba-raba payudara Nina, sedangkan tangan kananku berputar-putar menggerayangi kemaluannya di dalam air. “Shh oohh.., ahh!”, kembali terdengar bunyi-bunyian dari mulut Nina. Secara perlahan, tubuh kami mulai setengah terbaring, dengan posisi tubuhku bersandar pada ujung bathtub, sedangkan tubuh Nina bersandar di tubuhku. Mulutku juga aktif menciumi leher dan telinga Nina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa lama kemudian kurasakan tubuh Nina mulai menegang dan tanganku mulai terjepit agak keras oleh kedua pangkal pahanya. Kuteruskan gerakan-gerakanku, sampai akhirnya kudengar jeritan tertahan, “Mass, ahh…”, disertai dengan jepitan yang sangat keras pada tangan kananku. Aku menduga bahwa Nina sedang mencapai orgasme, dan ternyata memang benar. Secara perlahan-lahan tubuh Nina yang tadinya sangat tegang mulai mengendur dan rileks di pelukanku. “Ma kasih ya Mas”, kata Nina singkat. Sejenak kami terdiam, dan setelah beberapa lama kemudian kami mulai mandi, dengan saling menggosok tubuh kami satu sama lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mandi, sambil berbaring berpelukan di tempat tidur, kami membicarakan beberapa hal. Nina banyak bercerita tentang hubungannya dengan Joko. Setelah beberapa lama kemudian kembali kami memadu nafsu kami di ranjang hotel yang sempit itu, sampai akhirnya kami tertidur dalam keadaan telanjang bulat. Keesokan paginya, sebelum aku kembali ke Jakarta, kami sempat berhubungan sekali lagi. Nina mengemukakan bahwa ada satu pengalaman baru yang ia alami selama dua hari kami berhubungan, yakni untuk pertama kalinya ia merasakan nikmatnya kemaluannya diciumi. Menurut Nina, Joko tidak pernah mau menciumi kemaluannya, tapi sering meminta Nina untuk menciumi kemaluan Joko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu setelah kejadian di Bandung tersebut, Joko menelepon dan meminta kesediaanku untuk mencoba lagi berhubungan dengan Nina. Seakan belum terjadi apa-apa, aku mensyaratkan kepada Joko agar aku mencoba dulu berhubungan dengan Nina tanpa dia di sekitar kami. Dengan agak berat hati, Joko menyetujui syaratku itu. Belum tahu saja dia bahwa aku dengan Nina sudah cukup akrab, bahkan sejak pulang dari Bandung, hampir tiap hari kami berhubungan melalui telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari yang telah kami sepakati, Joko pamit ingin jalan-jalan setelah kami selesai makan malam di rumah Joko. Sepeninggal Joko, Nina menghambur ke pelukanku seraya mengungkapkan bahwa ia kangen sekali, sampai-sampai hampir tiap hari ia bermasturbasi sambil mengingat-ingat kejadian di Bandung. Kugendong tubuh Nina ke kamar di mana kami untuk pertama kalinya bersetubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di kamar itu, kubaringkan tubuh Nina di tempat tidur dengan langsung menindih, menciumi dan meraba-raba tubuhnya. Setelah beberapa saat, tiba-tiba meronta-ronta dan kemudian bangkit duduk. Belum hilang rasa terkejut dan bingungku, tiba-tiba lagi kemudian Nina mendorong tubuhku hingga terbaring dan dengan cepat membuka kancing bajuku dan kemudian melepaskan celana panjang dan celana dalamku. Setelah itu ia dengan agresif mulai menciumiku. Mulai bibir, kuping, merembet ke leher dan dada. Bahkan Nina cukup lama menciumi dan mengulum putingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dada, ciuman Nina merambat ke perut dan kemudian ke pangkal paha. Berbeda dari perkiraan dan harapanku, dari pangkal paha, ciuman Nina tidak menyentuh kemaluanku. Padahal aku ingin sekali agar kemaluanku dicium atau setidak-tidaknya diraba oleh Nina. Ketika ciuman Nina mulai turun, aku sebenarnya secara tidak sadar sudah menarik kepala Nina agar berada tepat di tengah selangkanganku. Tetapi, tampaknya Nina tidak memenuhi keinginanku itu. Bibir dan lidah Nina terus merembet ke bawah, ke bagian dalam dari paha kananku sampai ke dengkul, termasuk ke bagian belakang dari dengkul. Di bagian belakang dengkul ini, kurasakan lidah Nina menyapu-nyapu. Nikmat dan menggoda rasanya, karena sebelumnya saya belum pernah merasakan hal itu. Saya hanya dapat mendesah dan menahan napas saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dengkul kanan, Nina pindah ke dengkul kiri, dengan melakukan hal yang sama. Secara perlahan kemudian merambat ke atas, ke bagian dalam paha kiriku, kemudian ke pangkal paha.&lt;br /&gt;“Nin…, Ayo dong”, pintaku. Nina rupanya memang sengaja ingin menggodaku. Agak berlama-lama ia menciumi pangkal pahaku, dan bahkan kemudian turun lagi ke bawah.&lt;br /&gt;“Nin…, Please..”, pintaku lagi. Nina tidak juga segera memenuhi permintaanku, tetapi ia kemudian mulai menciumi bagian bawah kantung kemaluanku. Lumayanlah.., Batinku dalam hati. Dan akhirnya, Nina mulai menciumi kemaluanku dari samping, baik kiri maupun kanan, tetapi kepala kemaluanku belum dijamahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dengan sentakan yang cukup keras, kutarik kepala Nina hingga mulutnya menyentuh kepala kemaluanku. Mulailah ia mencium, menghisap dan menyedot kemaluanku hingga pada akhirnya kemaluanku memuncratkan isinya. Aku agak terkejut sekaligus terharu ketika Nina, menampung air maniku di mulutnya, bahkan menelannya. Jangankan menelan, untuk sekedar menciumi kemaluanku saja, isteriku sangat jarang. Hitungannya masih bisa dihitung dengan jumlah jari dalam satu tangan. Jijik dan tidak pantas kata isteriku. Terus terang, aku merasa tersanjung waktu Nina menelan air maniku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi kamu ngeledek aku ya Nin..”, kataku.&lt;br /&gt;“Orang sudah pengen banget…, eh malah turun ke dengkul lagi”, lanjutku lagi.&lt;br /&gt;Nina tertawa kecil dan kemudian berkata, “Tapi nikmat kan…”, dengan yakin.&lt;br /&gt;“Enak baanget..”, jawabku.&lt;br /&gt;“Kamu tidak jijik Nin menelan maniku?”, lanjutku bertanya.&lt;br /&gt;“Biasanya sih iya”, kata Nina, “tapi tadi aku tidak sadar dan tidak merasa jijik, malah aku juga ikut menikmatinya sepenuh hati” kata Nina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati aku membenarkan perkataan Nina. Ketika dimesrai Nina tadi, aku merasakan pelayanan dan penyerahan yang total dari Nina, bahkan tidak mempedulikan badanku yang belum mandi, karena tadi aku langsung dari kantor ke tempat ini. Suatu ketotalan yang bahkan rasanya belum pernah aku dapatkan dalam berhubungan dengan isteriku.&lt;br /&gt;“Biasanya aku menolak jika Mas Joko mau mengeluarkan maninya di mulutku, apalagi menelannya”, sambung Nina di tengah lamunanku.&lt;br /&gt;“Ma kasih ya Nin”, kataku sambil mengelus-elus tubuhnya.&lt;br /&gt;“Aku juga Mas”, kata Nina, “Anggap saja itu sebagai imbalan dari pengalaman baru yang Mas berikan di Bandung waktu itu” kata Nina.&lt;br /&gt;“Yang mana Nin?”, tanyaku sambil sekali-kali memberikan kecupan ringan di pipi dan kupingnya.&lt;br /&gt;“Itu lho, yang punyaku Mas ciumin. Itu kan juga sebelumnya aku tidak pernah mengalaminya”, jawab Nina sambil membalas elusanku, dengan mengelus-elus dadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecupan-kecupan ringan terus kulakukan di wajah dan kuping Nina. Bahkan aku mulai merembet turun ke leher, dada, perut dan akhirnya kubalas apa yang Nina lakukan padaku. Ketika aku menciumi kemaluannya, Nina membalikkan arah tubuhnya, sehingga kami bisa saling meciumi kemaluan satu sama lainnya. Kadang-kadang Nina berhenti mencium, ia hanya menggerak-gerakkan pinggulnya. Aku mengira ia sedang menikmati rangsangan-rangsangan yang kuberikan. Pada posisi itu, entah berapa kali Nina mengalami orgasme aku tidak tahu persis. Tetapi, aku merasa setidaknya tubuh Nina sempat meregang-regang secara ritmis sebanyak dua kali. Karena kemaluanku sudah tegang, akhirnya kubalikkan tubuhku dan kumasukkan kemaluanku ke kemaluan Nina. Kugerakkan pinggulku turun naik. Sampai akhirnya aku ejakulasi di dalam kemaluan Nina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah perbincangan kami setelah permainan yang melelahkan tersebut, Joko datang dan langsung masuk kamar. Ia menanyakan bagaimana keadaan kami. Aku mengatakan bahwa kami sudah berhasil melakukan intim. Kemudian Joko meminta kami untuk bermain lagi. Tetapi, entah kenapa, saat itu kemaluanku tidak lagi dapat berdiri tegak. Setelah dicoba beberapa lam, tetap tidak dapat tegak walaupun terkadang dapat agak membesar. Boleh jadi, hal itu disebabkan karena aku sudah dua kali mencapai kepuasan malam itu. Boleh jadi juga karena keberadaan Joko mengurangi nafsu saya dan Nina. Joko terlihat sedikit kecewa ketika kukenakan pakaianku dan pamit pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan siangnya Nina meneleponku di kantor. Dengan terisak ia bercerita bahwa ia dan Joko baru saja bertengkar hebat. Tanpa kami sadari, rupanya Joko merekam dengan kamera video apa yang kami lakukan di kamar ketika ia pergi. Melalui hasil rekaman itulah Joko mengetahui apa yang kami lakukan di kamar itu. Joko sangat marah, karena ketika ia tidak ada kami dapat berhubungan sedemikian panas dan binal. Nina menceritakan bahwa Joko juga mengungkit-ungkit beberapa hal yang tidak pernah Nina lakukan padanya. Khususnya karena Nina mau menerima air maniku di mulutnya bahkan menelannya, serta Nina bersedia menciumi kemaluanku setelah kemaluan tersebut masuk ke dalam kemaluan Nina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuberikan beberapa saran praktis untuk Nina saat itu, sambil membuat janji untuk bertemu pada siang hari. Setelah kejadian itu, Joko tidak pernah menghubungiku atau meminta tolong lagi padaku. Tetapi, kadang-kadang aku masih berhubungan intim dengan Nina. Entah itu di hotel, di villa keluarga kami, bahkan pernah juga di rumah Joko ketika ia bertugas ke anjungan minyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7501232687625531161-3527852698351314515?l=dennythejaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dennythejaya.blogspot.com/feeds/3527852698351314515/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7501232687625531161&amp;postID=3527852698351314515' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/3527852698351314515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/3527852698351314515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dennythejaya.blogspot.com/2011/05/istri-teman.html' title='istri teman'/><author><name>denny</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7501232687625531161.post-7847620582352293553</id><published>2011-05-06T15:03:00.000-07:00</published><updated>2011-05-06T15:04:23.348-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seks.teman'/><title type='text'>Nafsu bukan cinta</title><content type='html'>Pembaca yang budiman, kisah ini adalah setengah nyata, jika ada kesamaan nama maupun tempat pasti hanya kebetulan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggung jawabku sebagai seorang Shipping Manajer menyebabkan aku punya banyak relasi bisnis dari perusahaan perusahaan pelayaran maupun perusahaan angkutan lainnya. Namun ada satu rekanan bisnisku yang akan kuceritakan dalam kisah ini. Sebut saja Susi, begitu nama sales executive dari sebuah pelayaran di kota S, bertinggi badan kurang lebih 165 cm, dengan postur tubuh proporsional dan busung dada 36. Hidungnya mancung dan rambut hitam ikal sebahu. Perusahaannya memang bonafide, sehingga beberapa pekerjaan skala besar dapat terkirimkan dengan baik. Jujur saja dalam hati kecil ini juga kagum pada kecantikan Susi dan sebagai lelaki normal yach secara tak sengaja melihat sisi dalam pahanya saat disilangkan yang membuat seonggok daging kenyal disela-sela pahaku, “unjuk diri”.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai relasi yang baik Susi terkadang mengajak lunch di luar ataupun hanya memberiku cindera mata atau selepas kerja kami nongkrong di kafe musik. Pada saat itulah Susi bertanya banyak tentang diriku dan kujawab semua dengan benar, aku memang suka berterus terang termasuk keadaan diriku yang sudah berkeluarga yang mempunyai seorang putra 2,5 tahun dan istriku sedang mengandung 8 bulan. Akhirnya aku pun tahu bahwa Susi adalah menjadi simpanan boss-nya bule asal Amerika yang bernama Richard, namun kini telah meninggalkan Indonesia karena sudah diganti oleh GM baru asal Indonesia. Mata Susi tampak menerawang jauh dan angannya terbang ke Amerika sana namun dia tersadar itu tak mungkin lagi menikmati kebersamaan mereka lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat liburan umum di bulan Januari lalu Susi meneleponku dan mengajak ke Batu, katanya sich dalam rangka merayakan ulang tahunnya yang ke-29 dan untuk menemaninya (biasanya Susi menghabiskan weekend di sana bersama Richard).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Sony mau nggak temenin aku ke Batu nanti di acara ultah-ku?” tanya Susi di telepon.&lt;br /&gt;“Emang acaranya apaan?” selidikku.&lt;br /&gt;“Ah… udah dech pokoknya temenin aku yach, please…” rengeknya setegah memohon.&lt;br /&gt;“Ini khan ultah-ku yang ke-29, please Mas Bram please… kali ini saja!” pintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki mana yang sanggup menolak kamu Sus, wajahmu yang cantik, bodi kamu punya, bibir tipis nan sensual waah segalanya deh, bathinku dalam hati. Aku tersadar saat Susi menyambung pembicaraannya lagi.&lt;br /&gt;“Atau aku mesti bilang ke Mbak Santi istri Mas…” imbuhnya.&lt;br /&gt;“Ngg.. nggak usah dech, oke.. oke…”&lt;br /&gt;Buru-buru aku menyergahnya. Sabtu malam ini kami ngobrol berdua dengan istriku dan aku bohong padanya kalau aku besok malam harus menemani tamu Technical Advisor-ku dari Jepang termasuk mencarikan hiburan buat tamuku juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu pagi aku berpamitan pada istriku dan memacu Capella kesayanganku ke arah Malang, aku sendiri sekarang tinggal di Gresik. Namun sebelum itu aku menjemput Susi di rumah kontrakannya di kawasan Surabaya Barat. Selang lima menit aku pencet bel keluarlah Susi mengenakan stelan span deep marine dan atas you can see biru muda, sebuah pemandangan yang amat serasi dan indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan kami hanya ngobrol ringan soal pekerjaan dan kami bersenda gurau di antaranya. Aku tahu Susi adalah wanita yang amat kesepian, aku juga terkadang kasihan melihatnya. Meski dia sukses di kariernya tapi di lain pihak di juga butuh pendamping yang mengisi kekosongan jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Sony, sebelumnya aku minta maaf kalo permintaanku kali ini menyita waktu untuk keluarga Mas,” Susi mulai membuka pembicaraan.&lt;br /&gt;“Aku sukses dalam berkarierku dan hidup mewah karena support besar company Mas Sony, khususnya Mas Pribadi dari Mas,” kata Susi, (ini karena perusahaanku merupakan big customer bagi dia).”It’s OK,” jawabku.&lt;br /&gt;“Mas Sony kali ini aku meminta kepada Mas, buatlah dua hari ini berarti buat kekosongan hidupku,” pinta Susi.&lt;br /&gt;“Hiburlah aku yang kesepian Mas,” pinta Susi lagi.&lt;br /&gt;Cihuy… sorak aku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah check in kami lantas menuju ke paviliun paling ujung yang mempunyai view sangat indah berpagar bukit dan taman anggrek nan segar dipandang mata. Hawa dingin ini membuatku sedikit malas untuk melakukan aktivitas dan kami menghabiskan kurang lebih satu setengah jam untuk ngobrol. Yach hitung-hitung sekaligus pendekatan kepada Susi karena selama ini hanya sebatas hubungan kerja atau formal bukan suasana privacy seperti saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam tiga sore badanku mulai gerah dan rasanya ingin mengajak Susi berenang di kolam air hangat di Hotel tersebut. Kami pun berenang bersama dan rasanya sungguh nikmat, hangat dan segar.&lt;br /&gt;“Mas Sony masih kelihatan gagah yach,” puji Susi saat aku istirahat sebentar dan duduk di tepian kolam.&lt;br /&gt;“Ah Masak sich?” sahutku.&lt;br /&gt;Sepintas aku menangkap gerakan bahwa matanya tertuju pada selangkanganku yang memang sudah hampir 1,5 bulan tidak pernah lagi bersarang. Meski lagi mengkerut akan tetapi dengan celana renang ketat ini pastilah menonjol testisku. Kulihat Susi sedikit menahan nafas karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami lantas berenang dan berenang lagi sampai badanku terasa sedikit capai. Aku lantas berhenti dan melilitkan handukku menuju ke kursi di pinggiran kolam, lalu kuteguk air mineral ukuran setengah liter itu sampai habis. Susi sendiri masih asyik berenang dan tak kusangka tubuhnya yang biasa dibalut jas kerjanya itu kelihatan ramping dan mulus sekali. Aku berdiri melakukan gerakan pelemasan kecilku sambil menikmati tubuh mulus Susi dan Susi semakin merasa aku perhatikan semakin terkesan dibuat-buat gerakannya memancing birahiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kemudian rebahan kembali di kursi dam melemaskan ototku, Susi sebentar kemudian naik menyusulku mengambil tempat di sampingku.&lt;br /&gt;“Sus…” panggilku yang aku buat-buat semesra mungkin.&lt;br /&gt;“Hem…” sahut Susi yang ternyata masih menyedot orange juice dan bibirnya itu wah tidak dibayangkan dech kalau lagi menghisap punyaku ini.&lt;br /&gt;Dan perlahan namun pasti penisku mengeras menyembul di bawah belitan handukku, lalu aku sedikit naikkan pinggulku agar Susi juga dapat menikmati apa yang ia inginkan sesaat lagi.&lt;br /&gt;“Ada apa Mas…?” tanya Susi sedikit serius namun matanya melirik ke arah penisku yang sudah setengah mengeras.&lt;br /&gt;“Enggak, cuman aku melihat hari ini kamu lebih seksi,” rayuku.&lt;br /&gt;“Emmm… gimana yach kalo si kekar dan si seksi bersatu yach..” tanya Susi mengerlingkan mata kirinya.&lt;br /&gt;“Pengin tau jawabnya? Hayo kita ke markas,” ajakku seraya membimbingnya berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami lantas berjalan bergandengan menuju paviliun kami menginap.&lt;br /&gt;“Emh belum-belum khok udah loyo,” ejekku kepada Susi dan berlari kecil meninggalkannya.&lt;br /&gt;“Eh sialaan…” teriak Susi lalu mengejarku yang berlari ke arah Paviliun itu.&lt;br /&gt;“Mas Sony, gandeng doong…” rengek Susi manja disela-sela nafasnya yang terengah-engah.&lt;br /&gt;Kami pun bergandengan mesra bak orang pacaran dan semua terjadi spontan. Aku tak ingat lagi istri dan anakku di rumah saat ini, yang kuinginkan hanyalah kenikmatan dan kehangatan tubuh Susi untuk melampiaskan libidoku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memasuki paviliun itu dan duduk di sofa besar menghadap ke arah bukit indah. Matahari serasa mengintip kami dari balik bukit itu dan enggan menutup tirai hari ini dan dilain pihak kami sudah ingin segera menikmati malam indah nanti. Kami duduk berdampingan menikmati alunan musik lembut dan pemandangan yang mempesona di bukit sana.&lt;br /&gt;“Lis, aku sebenarnya.. sedikit… emmhh…” kataku ragu.&lt;br /&gt;“Mas Sony, aku adalah wanita normal dan punya hasrat seks akan tetapi Mas Sony jangan khawatir padaku, aku nggak bakal minta macam-macam dari Mas Sony dan kita hanya bersenang-senang saja, just fun,” kata Susi semakin memantapkan rasa hatiku.&lt;br /&gt;“Lagian nggak mungkin karena aku tahu Mas Sony punya keluarga yang bahagia,” imbuh Susi.&lt;br /&gt;“Bukankah istri Mas juga tidak boleh melayani lagi karena bahaya bagi usia kandungannya,” bela Susi seraya melingkarkan kedua lengan rampingnya ke leherku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kemudian mendekap Susi, terasa hangat dan lembut tubuh indah ini lalu kudekatkan wajahku ke arah wajahnya. Kami bertatapan cukup lama dan penuh arti, kulihat dari tatapan matanya Susi sudah betul-betul horny demikian pula aku yang sudah 2 bulan lalu tidak mengasah batang pejal kebangganku. Sekejap bibir kami mulai menyatu dalam alunan kemesraan berselimut hasrat bergelora. Ujung lidah kami bergantian menggelitik rongga mulut kami masing-masing.&lt;br /&gt;“Masss… ooohhh puaskan aku yach sayang,” rengek Susi di sela-sela desah nafasnya yang memburu deras.&lt;br /&gt;“Segera sayang, saatnya sebentar lagi tiba. Aku akan membawamu ke langit tujuh,” bisikku sambil melepas satu persatu kain di tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara dingin yang bersentuhan langsung dengan pori-pori Susi menambah sensasi dan rindu akan sentuhan dan juga rabaan-rabaan maupun jilatan sekujur tubuhnya. Kali ini aku akan memperlakukannya bak seorang putri maka akan berbahagialah Susi dalam dua hari ini. Setelah memakaikan dia sleeping jas, aku kemudian mengajaknya berdiri di dekat jendela menikmati senja nan indah dan syahdu ini, aku mendekapnya dari belakang dan belakang telinganya mulai kusentuh dengan ujung lidahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masss… ooogghhh…” Susi hanya bisa mendesah dan mengesek kedua pahanya.&lt;br /&gt;“Sudah Berapa lama Say…” bisikku di sela-sela permainanku di belakang telinga dan tengkuknya.&lt;br /&gt;“Tiga bulll.. aaa.. aaaahh.. gelllii,” pekik Susi sambil membalikkan tubuhnya menghadapku.&lt;br /&gt;Wajah penuh gairah itu mendongak ke arahku dan kulumat bibirnya sementara tanganku mulai menanggalkan semua yaang tersisa di tubuhnya.&lt;br /&gt;“Massshhh… ooogghhh… mmppphhh,” Susi menceracau sambil melucuti pakaianku.&lt;br /&gt;Kami sudah telanjang bulat bersama sambil berdansa seirama alunan musik hotel, tubuh kami menyatu dan saling dekap dalam kelembutan dan kehangatan birahi dan tetap berdansa dalam irama kelembutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Susi melingkar di tengkukku dan kulingkarkan tanganku di pinggangnya, namun kemudian kuturunkan ke arah bongkahan pantatnya dan meraba serta meremas lembut. Pada saat itulah Susi melepaskan bibirnya untuk melenguh sejenak menikmati rabaan serta sentuhanku. Penisku sedari tadi mengeras tegak itu menempel di perut Susi membuat sensasi kehangatan di antara kehangatan tubuh kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup lama kami berdansa dan entah sudah berapa lagu kami lewati bersama namun aku tidak ingin segera mengakhiri foreplay ini karena aku ingin Susi lebih dapat menikmati keromantisan ini lebih lama lagi. Aku membimbingnya ke arah Sofa dan kududukkan Susi di pangkuanku, kami pun semakin tenggelam dalam suasana, namun aku tetap berusaha menguasai diri. Pangkal penisku tepat bersentuhan dengan vaginanya yang terasa sudah amat merekah karena rangsangan hebat dan lelehan mani Susi semakin deras terasa menetes ke “telor”-ku. Cumbuan demi cumbuan dan rabaan serta sentuhan sudah kulakukan terhadap Susi. Bibirku sudah pindah ke arah dada Susi kukulum payudara yang kiri dan tangan kananku memilin puting yang kanan, punggungnya aku beri sentuhan dengan tangan kiriku. Susi semakin tak mampu menguasai birahinya yang sudah di ubun-ubun tubuhnya mengggelinjang hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooogghhhh… aaahhkkhhh… please.. masukin.. mass… ssshhh,” desis Susi sambil menjambak rambutnya sendiri. Bibirnya mendesis tubuhnya ia jatuhkan ke belakang dan bertumpu pada lenganku. Kesempatan itu kugunakan untuk melirik ke arah vaginanya yang merekah menebar bau semerbak, aku tertegun sejenak karena sebelumnya aku belum pernah melakukan ini terhadap istriku atau wanita lainnya. Namun aku yakin (seperti di cerita-cerita situs ini) jika kujilat vagina Susi hal ini akan mampu membuat Susi menggapai orgasmenya lewat hisapanku nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Soonnnhh… ceppp… peethhh… isssepphh…” rengek Susi terengah-engah saat aku mulai mencumbui bagian bawah perutnya yang indah.&lt;br /&gt;Aku tak menjawab namun segera kududukkan Susi di sofa, kedua pahanya kuletakkan di pundak dan mulailah aku dengan jilatanku di vagina Susi. Vaginanya harum bentuknya pun begitu indah dan masih sempit rambutnya tercukur bersih.&lt;br /&gt;“Ssshhhh… ooouuwww… aaagghhh.. pleasee…” pinta Susi diikuti penekanan kepalaku ke arah selangkangannya.&lt;br /&gt;Sekejap kemudian aku memainkan kasarnya permukaan lidahku untuk menjilat bibir minoranya yang merekah dan Susi hanya bisa menjerit lirih menahan orgasmenya yang begitu cepat datang. Sudah tiga bulan, pantas saja sekejap sudah mencair birahi wanita ini, bathinku dalam hati. Aku menyambutnya dengan patukan dan juluran lidahku di dinding rahimnya lalu kukeluar-masukkan lidahku bak penis selagi memompa vagina secara teratur dan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaawwwuuughhh… aaaghhh.. aaaghhh… ssshhhh… Maassshh…” Susi mengawali orgasmenya dengan jeritan panjang.&lt;br /&gt;Aku menyambutnya lagi dengan menghisap vaginanya dalam-dalam, aku sundut-sundut dengan interval yang lembut teratur. Dan benar dugaanku kali ini, orgasmenya yang kedua segera menyambung membuatnya semakin ngilu dan geli yang amat sangat.&lt;br /&gt;“Aaagghhh.. kuuu… lllaaaghhh… gii… aaakkhh…” Susi mendongak, kedua tangannya mencengkeram erat sofa.&lt;br /&gt;“Ogghh.. Masshhh… aaaghhhghh.. aaakkhhh.. aaahhghhh…” Susi mendesah mengakhiri orgasmenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berhenti untuk membersihkan mukaku dan menjilat sisa-sisa mani Susi yang terlihat meleleh menetes hingga anusnya.&lt;br /&gt;“Mass… aaakhh… please,” pinta Susi kegelian saat aku membersihkan sisa maninya di sela-sela labia minora-nya. Aku kembali duduk di sofa dan mendudukkan Susi di pangkuanku, dan sebelum duduk Susi ambil ancang-ancang untuk menancapkan penisku.&lt;br /&gt;“Slerrphh… aaakgghhhh… hangatthhh…” suara penis membongkar vagina dan desahan Susi bersamaan 3/4 penisku dengan mudah tenggelam menjejali vagina Susi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susi duduk tegak, kedua tangannya membelai rambutnya, matanya terpejam menggigit bibir bawahnya, kemudian ia buka mulutnya saat mendesah bergantian, pinggulnya digoyangkan perlahan sesekali dan pada saat yang tepat ia hentakkan ke pangkal penisku. 16,5 cm penisku telah masuk mengisi rongga rahimnya membuat sensasi kehangatan dan nikmat bercampur jadi satu.&lt;br /&gt;“Oookkkhh… hangatthhh… aaakkhhh.. Massshhh… puassinnhh… aku…” pinta Susi diiringi dengan gerakan naik-turun pinggulnya seperti seorang joki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 menit berlalu, tampaknya Susi masih tenggelam dalam alunan sorgawinya dan kuperhatikan dari tadi matanya tampak terpejam menikmati sensasi ini. Aku sendiri mengimbangi goyangan Susi dan menunda ejakulasiku, karena aku amat kasihan melihat Susi yang haus akan kenikmatan birahi.Aku berusaha menambah rangsangan dengan menggesekkan telunjukku ke anus Susi yang sebelumya kubasahi dengan ludahku. Tepat saat ujung telunjukku memasuki anus Susi, Susi tampak sedikit terkejut dengan membuka matanya lebar-lebar dan sekejap kemudian terpejam dan tubuhnya menegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahnya menyeringai, kedua tangannya mencengkeram punggungku erat-erat dan menarik tubuhnya menjauh dariku, tampaknya moment inilah yang Susi tunggu sejak tadi.&lt;br /&gt;“Ngghhh… aaagghhh… aaakhhh.. aaakkh aaahhhgghh…” Susi mulai mendapatkan orgasmenya yang nyata yang ia pendam selama tiga bulan.&lt;br /&gt;Pinggulnya ia goyangkan keras tak beraturan demikian pula hentakan pinggulnya dan beruntung rambut kemaluanku sudah aku cukur bersih sehingga terbebas dari rasa sakit akibat himpitan saat vagina menghujamnya. Lelehan maninya sampai ke pangkal telunjukku yang diam di anusnya kemudian telunjukku yang sudah licin tadi kutusuk-tusukkan lebih keras dan dalam di rongga anusnya. Susi semakin menghentak dan bergelinjang tak karuan menyambut orgasmenya yang keempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaargghh.. aaggghhh.. ooohhgghh… aakkk.. akkhh… kelll.. luaarr aaghhhh..” Susi menjerit keras menggapai orgasmenya kali ini.&lt;br /&gt;Vaginanya terasa hangat dan terasa lebih menggelembung dari pada tadi.&lt;br /&gt;“Ooghhh.. ooommpphhh… aaagghhh…” desah Susi tampak lega mengakhiri orgasmenya.&lt;br /&gt;Aku sengaja menunda orgasmeku agar weekend kali ini betul-betul lain dari yang lain bagi Susi. Lalu kurengkuh kepalanya, kemudian kukecup mesra bibirnya, kulepas, lalu kutatap lembut wajahnya, ekspresi kepuasan terpencar dari sudut matanya yang bening. Masih tetap menancap penisku di rahimnya, kemudian kami berdekapan mesra lama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sus…” tanyaku.&lt;br /&gt;“Hem eemhhh.. makasih Mas Sony,” jawab Susi puas.&lt;br /&gt;Karena capek Susi melepas gigitan vaginanya dan menghempaskan dirinya di sofa.&lt;br /&gt;“Aahggghhh…” lega dan tiga menit Susi pun tertidur di sofa lalu aku mengambil selimut hangat untuk Susi.&lt;br /&gt;Setelah mengambil handuk dan mencuci penisku dengan shower hangat di kamar mandi, aku mengambil sleeping jas-ku, kemudian menghampiri Susi di sofa. Kubelai lembut Susi dan kuletakkan kepalanya di pahaku. Aku terdiam menikmati senja yang mulai gelap, tak kulihat lagi indahnya bukit di seberang hotel yang tampak hanya lampu kerlap kerlip di kejauhan. Karena udara semakin dingin menusuk ke tulang rasanya maka aku menggotong Susi ke tempat tidur dan kudekap hangat ia di dadaku di balik kehangatan selimut kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga puluh menit Susi terlelap, belum ada tanda-tanda ia terjaga membuatku sedikit gelisah karena penisku kembali tegak berdiri.&lt;br /&gt;“Mmmpphh.. ooaakhhh ampppph.. hahhh…” Susi tampaknya terjaga dan ia kaget mendapati penisku mengeras.&lt;br /&gt;“Sebentar Yach Mas, aku ke kamar mandi dulu, entar gantian Mas aku puasin,” kata Susi datar seraya berlari kecil ke kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kemudian melepas sleeping jas-ku dan mengelus-elus penis kebanggaanku yang kokoh berdiri tegak. Dari kamar mandi Susi menghampiriku dan menepis tanganku dari penisku dan kini mulut mungil Susi mulai mengulum kepala penisku. Batang penisku ia kocok-kocok lembut terkadang ia remas hingga ke kedua biji kemaluanku.&lt;br /&gt;“Oookhh Susss.. ssshhh…” aku hanya dapat mendesis menikmati kocokan tangan lembut ini.&lt;br /&gt;“Oookkhhh.. lebih kerasss.. ssaaayyy…” ceracauku tak karuan karena ejakulasiku tertunda.&lt;br /&gt;Susi lebih keras lagi mengocok dan diselingi kuluman-kuluman di sepanjang batang penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat Susi menggengam batangku dan terlihat kepala penisku menyembul di antara genggaman tangannya. Ujung lidah Susi beradu dengan ujung kemaluanku tepat di lubang sperma penisku dan Susi mematuk-matukkan lidahnya tepat di situ, rasanya badan ini bergetar hebat dan ngilu yang amat sangat. Kedua pahaku otomatis terbuka lebar dan Susi menempatkan tubuh rampingnya di antara kedua pahaku. Aku semakin tak tahan dengan permainan Susi, kucengkeram erat rambutnya menahan rasa geli.&lt;br /&gt;“Suusshh.. oooghh.. Susss…” aku mendesis berusaha menahan laju spermaku.&lt;br /&gt;“Bocorin saja Mas.. ayo sayang..!” kata Susi sambil melihat ke wajahku yang sedang kelojotan kemudian meneruskan patukan lidahnya yang semakin nakal dipadu dengan kocokannya yang lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melirik ke arah Susi, tampak wajahnya puas mengerjaiku kali ini.&lt;br /&gt;“Aaakhh.. Susshhh.. mmpphhh…” desahku menikmati permainan oral Susi.&lt;br /&gt;Aku semakin tak tahan dengan sensasi yang dibuat Susi apalagi ia melakukannya juga dipadu dengan pilinan lembut jemari kirinya di puting susuku. Aku berusaha mati-matian menahan laju spermaku, namun usahaku itu sia-sia, tiga detik kemudian aku melenguh panjang menyambut sensasi yang segera datang.&lt;br /&gt;“Suusss… hisapphh.. Sayyy.. aku mauuu.. kelll…” pintaku tak sabar.&lt;br /&gt;Susi tanggap, kemudian menghisap dalam-dalam kepala penisku, sedetik kemudian… “Arrr… aaakhhh… aaakkhh.. aaakhhh…” aku terpekik melepas semburan maniku di mulut mungil Susi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditelannya semua spermaku hingga ke tetes terakhir dan penisku semakin terasa kasat dibuatnya. Masih tetap ia kocok penisku sehingga tetap pada kondisi tegang terus meski sudah menyemburkan mani kental. Apalagi sudah dua bulan tidak bersarang, pastilah burungku akan menegang sampai menemukan sarangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kemudian mengulum bibir Susi sementara Susi masih mengelus penisku dengan lembut. Susi rupanya ingin menikmati seks ini dengan alami karena ia merebahkan dirinya di sampingku, lalu aku melingkarkan pahaku di atas kedua pahanya. Bibirku kini sudah berada di puting kiri Susi untuk mengerjakan tugas berikutnya, yaitu menggigit-gigit kecil disertai remasan-remasan.&lt;br /&gt;“Mppphhh… ooowwwghhh… mmm.. Maashhh…” tampaknya birahi Susi mulai bangkit dari tidurnya.&lt;br /&gt;Tangan Kiriku juga tak tinggal diam untuk memilin puting kanannya.&lt;br /&gt;“Aaawww mmmpphh… ssshhh.. Mass.. kamu hangat sayang…” puji Susi ketika aku mulai menindih tubuhnya dan mencumbui kedua ketiaknya secara bergantian.&lt;br /&gt;“Oooghhh.. aaahhgghh… kamu jantan Sayanggg… aku mencintaiimu,” Susi terus memujiku, tampaknya permainan lembutku membuatnya lupa diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari rabaan telunjukku tampaknya Susi sudah siap jika penisku membongkar rahimnya lagi karena sudah lembab.&lt;br /&gt;“Aku masukin yach Say…” tanyaku.&lt;br /&gt;Susi lalu mencumbui aku dengan lembut namun telapak tangan kanannya meremas pantatku lalu menekannya.&lt;br /&gt;“Blessshhh…” dengan mudah masuk seluruh batang penisku karena vagina Susi sudah lembab dan licin akan sisa-sisa spermaku sore tadi.&lt;br /&gt;“Maaasshh… aaakkk,” Susi mendesah panjang menyambut kehangatan yang mulai menjalar ke semua rongga rahimnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bercumbu bersama tanpa melakukan goyangan, namun sesekali aku memainkan otot penisku di liang vagina Susi membuat Susi kelojotan menahan geli bercampur nikmat.&lt;br /&gt;“Aaahh mmmphhh.. aaah ssshhh.. aaaghhh… oooghh.. nikmath…” desah Susi.&lt;br /&gt;Kami masih bergumul dalam irama syahdu diiringi desah kelembutan nafas, entah nafsu atau cinta aku pun tidak peduli. Badan Susi semakin menghangat tanda-tanda ia menjelang puncak nafsunya. Aku mulai memompa penisku lembut dalam irama teratur semetara kedua tanganku memilin dan meremas kedua bukit indahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Susi semakin terhentak kala tempo permainan hentakanku semakin kutambah, hal ini karena sensasi yang aku rasakan juga semakin nikmat. Penisku terasa tergigit oleh labia minora-nya kala aku menusukkan penisku dalam-dalam dan terasa terhisap kala aku menarik penisku. Pompaan penisku semakin kencang sampai badan Susi terhentak, namun Susi hanya merengek manja, melenguh, mendesah dan menjerit lirih kala sedikit gesekan penisku membuat vaginanya ngilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 menit berlalu, kepalanya kulihat mulai menoleh ke kiri dan ke kanan tak beraturan, wajahnya memerah oleh birahi, tubuhnya terasa lebih hangat dan vaginanya mengempot teratur. Tubuhnya lalu menegang, kedua tangannya lantas dibuka lebar-lebar ke atas, berpegangan pada sisi tempat tidur untuk bersiap-siap melepas orgasmenya yang akan dahsyat. Aku membantu menstimulasi gesekan penisku dengan klitorisnya yang kenyal di bagian tubuh lain, aku mencumbui kedua ketiak Susi bergantian. Susi merasakan terbang di langit yang tinggi beralaskan putihnya mega yang menyelimutinya dan shatin tempat tidur ini memberi inspirasi seolah kami bercumbu di awan yang lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sus… I love you…” bisikku spontan kala mendapati wajahnya yang cantik rupawan, memang dia adalah tipeku, tipe-tipe wanita langsing seperti dia.&lt;br /&gt;“Ahhghhku.. juhhggaaa… Masshh,” Susi membalas cumbuanku dengan buas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini Susi diam membisu dan tubuhnya mulai menegang, diam dan matanya terpejam memancarkan ekspresi mendalam. Aku lalu melesakkan dalam-dalam penisku terasa mentok sampai ke dasar dan aku diamkan di sana sambil aku mainkan otot-otot penisku. Sedetik kemudian datanglah apa yang Susi rindukan, “Maaassshhh… aaagghhh aaaghhh aaakkhh… aahkkuu.. sssaaamm…” Susi mengawali orgasmenya dengan lengkingan panjang. Putingnya kini aku gigit-gigit kecil dan lereng bukit payudaranya aku remas lembut dan tampak Susi masih mendesah meregang orgasmenya yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stimulasi di putingnya membuatnya menggapai orgasmenya yang kedua dan ketiga secara bersamaan.&lt;br /&gt;“Ooouugghhh… aakku.. lahhgggi.. aaagghh…” Susi menggelinjang tak karuan.&lt;br /&gt;Tangannya mencakar punggungku menahan geli bercampur yang amat sangat kala aku semakin cepat memompa lagi penisku. Cairan mani Susi yang banyak menyebabkan bunyi-bunyi saat penisku menghujam vagina Susi dan semakin melicinkan tusukanku saja, dan yang kutunggu segera tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sussshh… aaahku… mmppphh…” gumamku sambil menggenjot penis dan meremas puting Susi.&lt;br /&gt;“Massshh.. aagghku.. jugaa…” balas Susi.&lt;br /&gt;“Oouumppphh… aaa… aaa… aaaghh,” teriak kami bersamaan, persetan dengan orang lain yang mendengarnya.&lt;br /&gt;Maniku mengalir deras bersamaan dengan Susi yang kurasakan hangat di sepanjang batang penisku. Kami pun terbawa arus orgasme bersama yang sensasional bergumul, mencumbui, menggigit kecil bergantian dan nikmat “langit tujuh” bagi Susi sudah ia dapatkan dan juga aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susi masih tetap dalam dekapanku dan tak ingin kulepaskan untuk selamanya saat penisku terlepas dari gigitan vaginannya. Aku melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 09:00 malam dan itu berarti kami sudah bercinta lebih kurang 5 jam sejak sore tadi. Kami lalu berendam di bath tub hangat dan tidak melewatkan satu ronde di sana sebelum kami keluar bersama mencari makan dan minuman energy serta gingseng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu kami kembali ke hotel lagi dan menghabiskan malam dengan berbagai gaya bercinta seperti yang kami lihat di channel video kamar kami sampai jam 03:00 pagi, setelah itu kami tertidur karena lelah. Dua hari kami habiskan menguras mani kami masing-masing sebelum akhirnya kami berpisah di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca, nafsu memang bukanlah cinta karena seseorang bisa bilang cinta saat diselimuti nafsu, demikian pula sebaliknya. Salam bagi semua dan semat beraktivitas apa saja, mau diteruskan beronani atau bermasturbasi ria silakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7501232687625531161-7847620582352293553?l=dennythejaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dennythejaya.blogspot.com/feeds/7847620582352293553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7501232687625531161&amp;postID=7847620582352293553' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/7847620582352293553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/7847620582352293553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dennythejaya.blogspot.com/2011/05/nafsu-bukan-cinta.html' title='Nafsu bukan cinta'/><author><name>denny</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7501232687625531161.post-4001443886344038357</id><published>2011-05-06T14:41:00.001-07:00</published><updated>2011-05-06T14:46:13.060-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seks.suami.teman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Selingkuh'/><title type='text'>Mitra Bisnis</title><content type='html'>Saya baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan melilitkan sehelai handuk seperti biasanya. Karena kamar mandi berada di dalam kamar utama, saya tidak terlalu menghiraukan penampilan saya dari kamar mandi, bahkan biasanya keluar dari kamar mandi tanpa memakai apa-apa. Dan saya langsung menuju meja rias untuk berias karena pagi ini saya harus menghadiri rapat perusahaan untuk mengadakan kontrak kerja dengan mitra bisnis saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sebagai salah satu direktur dari perusahaan suami, saya harus hadir dan seharusnya suami pun yang menjabat sebagai Direktur Utama harus hadir, tapi karena suami baru pulang dari dinas di luar negeri selama sebulan untuk mengadakan negosiasi dengan mitra bisinisnya yang di luar negeri dan masih terlalu capai katanya dan memang kontrak akan ditandatangani oleh saya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata dia sudah bangun sementara saya sedang mandi tadi, dan sekarang masih di tempat tidur sambil memainkan remote control TV untuk melihat berita hari ini. Seperti biasanya, di depan meja rias saya mulai berias. Saya melepas handuk yang melilit di badan saya dan mulai memberi body lotion ke seluruh badan. Mulai dari kaki dan terus ke paha dan sampai selangkangan, terus ke atas.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian dada sedikit agak lama memberikan lotion-nya terutama di bagian payudara saya yang berukuran 36B ini. Sedikit saya tekan dengan kedua tangan saya. Saya sedikit merasa suatu kenikmatan dan memang terlihat dengan mulai mengerasnya puting saya. Mungkin memang sedang masa subur dan lagi sudah lama saya tidak berhubungan dengan suami karena di tinggal dinas. Dari kaca saya mengintip, sepertinya suami sedang memperhatikan saya berias. Suami memberi oleh-oleh untuk saya tadi malam begitu sampai. BH buatan salah satu product dari Inggris yang lucu dan seksi. BH yang hanya menyanggah payudara dari bawah ini hampir tidak memiliki cup atau lebih dikenal dengan sebutan quarter bra, sudah jelas puting saya tidak tertutup oleh BH-nya tapi tetap menjaga bentuk payudara. Saya mulai memakai stocking terlebih dahulu, yang hanya menutupi kaki saya sampai ke pangkal paha, dan terus dilanjutkan dengan melilitkan garter ke pinggang saya dan tidak lupa menjepit stocking saya ke tali garter. Karena suami sudah bangun saya memanggilnya, “Mas tolong dong ke sini ikatkan tali BH ini.” Suami yang tidur dengan mengenakan T-shirt dan celana dalamnya saja bangun dari tempat tidur dan menuju ke meja rias untuk membantu saya.”Mas bagus ini BH-nya, nikmat dipakai sepertinya, seksi lagi.” Sambil tersenyum dia membantu memasangkannya dari belakang. Sambil tetap menghadap kaca saya menanyakannya, “Pinter juga milihnya Mas, gimana pas tidak kelihatannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari belakang saya, suami mengulurkan tangannya dan memegang bagian depan BH yang dia berikan itu. Sambil memeriksa bagian depan BH, dengan nakalnya tangannya menyentuh dan menekan payudara saya yang tidak tertutup oleh BH ini. Saya sedikit mendesah, “Ah, Mas nakal nih tangannya”, sambil tetap meremas kedua payudara saya dia menjawab, “Kenapa memangnya tangan saya?” dia mulai menjepit ke dua puting saya dengan jari telunjuk dan jari manisnya, sambil sedikit menariknya dengan perlahan.&lt;br /&gt;“Enak ya rasanya, sudah lama kan tidak saya pijit.”&lt;br /&gt;“Ah Mas menggoda saja orang mau kerja”. Kedua putingnya dengan cepat mengeras, terasa sakit bercampur nikmat.&lt;br /&gt;“Ah… ah… nikmat sekali rasanya”, saya segera ingin berbalik menghadap dia rasanya, tapi dia menahannya, tangan kanan saya mulai melilitkan ke tengkuknya dari depan dan mengelus rambutnya yang berombak. Sementara itu tangannya tetap meremas payudara saya. Oh begitu nikmatnya, saya betul-betul terangsang. Sementara itu tangan kanannya mulai bergerak menuju bawah dengan perlahan dan sampai ke bawah puser. Saya belum mengenakan celana dalam. Dia mulai mengelus rambut bawah saya yang tidak banyak ini.”Aduh kamu sudah banjir sepertinya….” memang saya merasa bagian bawah saya sudah mulai lembab, dan dia terus mengelus dengan lembutnya.Mendadak saya merintih agak keras “Ah… ah…!” ketika dia memainkan bibir bawah saya, tidak kuat lagi saya berdiri tegak, dengan sedikit membungkuk, kedua tangan saya memegang pinggir meja rias untuk bertahan. Tangan kanannya bergerak lebih jauh lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasakan cairan kental dan licin keluar membasahi bibir bawah. Seperti terpeleset, jari tengah tangan kanannya memasuki tubuh saya dan menggerak gerakannya di dalam vagina saya, “Ah… ah… aduh Mas… ah… saya tidak tahan… nikmat sekali…”, Saya sudah tidak sabar lagi, tangan kiri saya menuju belakang dan memegang pinggulnya dan menariknya supaya lebih mendekat dengan saya, dan segera menyelinap ke dalam celana dalamnya, saya mulai memegang penisnya yang sudah membesar dan keras itu, dan dengan berirama saya gerakkan. “Ah… ah…” dia mulai merintih kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu dia menambah jari telunjuknya untuk dimasukkan ke milik saya,&lt;br /&gt;“Gimana…. nikmat… rasanya”, katanya.&lt;br /&gt;“Ah… Mas nikmat sekali… terus gerakkan Mas… jangan berhenti… satu lagi Mas… ah…!” saya minta jari manisnya juga. Saya mulai menarik celana dalamnya ke bawah, dan dengan bantuan tangan kirinya celananya pun jatuh ke bawah. Saya membungkuk lebih dalam lagi dan dia mulai merapatkan pinggulnya ke pantat saya, dan saya merasakan penisnya yang hangat itu menempel di bibir bawah saya. Jari tangan kanannya yang sudah basah dia keluarkan dari dalam saya dan kembali meremas-remas payudara kanan saya sambil memainkan puting saya. Semetara itu tangan kirinya memegang pinggul saya untuk lebih mantap. Pinggulnya mulai dia gerakkan berirama. Saya hanya bisa lihat dia dari kaca saja. Sesekali ujung penisnya menyentuh mulut vagina saya, seakan mau memasukinya, dia sengaja tidak memasukkannya dulu. Membuat saya gregetan untuk bertahan, saya sudah terangsang sekali.&lt;br /&gt;“Ayo Mas… saya sudah tidak tahan lagi… ah.. ah..!” saya memintanya.&lt;br /&gt;“Mau apa kamu… bilang dong”, dengan nada menggoda.&lt;br /&gt;Saya pegang ujung penisnya yang sedang menempel di mulut vagina, “Ini, mau ini cepat… ah.. ah.. jangan buat penasaran, ah..!” dan lebih membungkuk lagi saya, posisi saya sudah siap untuk dimasukinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelahan-lahan dia mulai memasukinya, dan saya merasakannya, sebuah benda yang hangat mulai masuk ke dalam saya, “Ah… ah… ayo terus Mas… saya mau semuanya.. ah.” Dia hanya memasukkan setengah saja, membuat saya tambah penasaran, pinggulnya mulai bergerak ke depan dan ke belakang dengan berirama. “Ah… terus.. terus Mas… saya mau semuanya… ah.. sampai mentok Mas.. ah.”&lt;br /&gt;“Aah emm nikmat tidak, mau semuanya ya..” dia bertanya, belum sampai saya jawab dia mulai mendorong penisnya jauh lebih ke dalam lagi, dan saya pun merintih dan merasakan sesuatu yang nikmat sekali. Pinggulnya terus bergerak berirama, dan mulai menambah cepat iramanya, tentu saja membuat saya tenggelam kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba dia melepaskan penisnya dari dalam saya, dan menegakkan saya sambil memutarkan tubuh saya sehingga berhadapan dengan dia. Pinggang saya dia pegang dengan kedua tangannya dan mengangkat badan saya dan dia dudukan di meja rias, kemudian dia membentangkan kedua kaki saya. Dia kemudian mulai merapat dan memasukkan kembali penisnya ke dalam saya, “Ah… ah…” saya pun merintih lebih keras karena nikmatnya. Dan dia mulai menggerakkan pinggulnya lagi. Kedua tangannya meremas-remas payudara saya dan juga memainkan puting saya dengan menjepit dengan jari telunjuk dan tengahnya.Dia mulai mencium saya, dan saya langsung menyambutnya dengan membuka mulut saya sedikit, dan lidah dia mulai memasuki mulut saya dan saya sambut dengan lidah saya. Kedua lidah saling bercengkrama dan membuat lebih nikmat. Irama gerakan pinggulnya semangkin cepat, dan saya tahu dia mulai mendekati klimas.&lt;br /&gt;“Tunggu Mas, saya mau sama-sama Mas, ah..!” saya ingin mencapai klimaks bersama-sama, dan saya lebih konsentrasi lagi sambil menjepit penisnya.&lt;br /&gt;“Ah… Mas ayo Mas.. saya sudah mau keluar Mas… ah.. sama-sama… Mas!” Dan seperti pistol meledak, dari penisnya keluar cairan panas yang terasa begitu panas dan kencang dalam tubuh saya, dan saya pun beberapa detik kemudian mencapai klimaks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irama gerakan pinggulnya mulai menurun perlahan-lahan, dan saya memeluk kepalanya dan saya ciumi kuping kirinya sambil berbisik “Ah… nikmat sekali Mas, sudah lama kita tidak begini”, dan pinggulnya sudah berhenti bergerak, tapi penisnya masih tetap di dalam saya, dan dia mengecup bibir saya dengan mesranya. “Aah…” dia merintih sedikit karena penisnya yang masih di dalam saya jepit. Dia mulai mengeluarkan penisnya dari dalam saya, dan saya masih dalam posisi duduk di meja rias, saya merasakan cairan kental putih keluar dari dalam saya membasahi meja rias.&lt;br /&gt;“Mitra kita akan tertarik dengan kecantikan kamu nanti”, katanya dengan penuh arti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar mobil sudah menunggu saya, saya keluar dari rumah dan pamit.Saya memakai onepice merah panjang, potongan di dada sedikit rendah sehingga kelihatan sedikit belahan dada saya dan sedikit menonjol kedua puting saya dari balik gaun merah ini, BH saya hanya menyangga buah dada saya dan puting saya tidak tertutup oleh BH sehingga sepintas seperti tidak memakainya. Supir saya membukakan pintu belakang dan saya masuk, sebelum pintu ditutup saya menarik bagian rok saya yang masih sedikit menempel di bagian pintu karena kancing bagian rok saya yang ada di depan sengaja saya buka sampai pertengahan paha, supaya lebih mudah bergerak dan sedikit terlihat seksi dengan belahan di depan. Supir sepertinya sedikit melirik ke paha saya ketika itu, tapi seperti sudah biasa dia terus menutup pintu.”Jon tolong mampir ke Hotel Hyatt dulu untuk jemput tamu, dan baru kita ke kantor.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lobby hotel tamu saya sudah menunggu, dia bersama wakilnya.&lt;br /&gt;“Wah maaf Pak Robert agak telat sedikit, tadi jalanan sedikit macet.”&lt;br /&gt;Saya berbohong, padahal jalan tidak macet, tentu saya tidak bisa bilang bahwa saya telat karena menikmati seks di pagi hari. Bapak Robert ini sepertinya masih muda dan tampan, badannya tegap dan tinggi. Masih muda sudah menjadi president suatu perusahaan yang lumayan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mobil saya duduk di sebelah kanan, kemudian Pak Robert di tengah dan wakilnya di kanan. Sambil sedikit memiringkan badan masing-masing kami berbincang-bincang tentang kota Jakarta. Sambil berbincang-bincang, sesekali-kali dia mencuri pemandangan dengan melirik ke bagian dada saya yang belahan bajunya sedikit rendah ini. Saya tahu itu, tapi saya berpura-pura seperti tidak sadar dan juga saya tahu bahwa yang dia lihat adalah bagian yang menonjol dari balik baju saya di sekitar buah dada saya.”Pak Robert sudah umur berapa putranya?” saya sengaja menanyakanya untuk memastikan sudah berkeluarga atau belum. Dia tersenyum dan, “Saya belum berkeluarga bu”, sambil tersenyum. “Kalau begitu bisa lebih santai dulu dong di Jakarta setelah kerjaan selesai”, dengan nada memancing saya bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian kami sudah sampai di kantor. Mobil berhenti dan supir membukakan pintu sebelah kiri. Wakil Pak Robert turun dahulu dan kemudian dia, sambil bergeser saya juga menunggu untuk keluar, dan ketika saya memutarkan badan untuk mengambil tas saya yang ada di belakang kursi, belahan rok saya terbuka sampai pangkal belahan, tapi saya tidak sempat membenarkannya dan langsung ke luar. Di depan pintu Pak Robert sudah menunggu saya untuk turun, dan dia pasti telah melihat pangkal paha saya dan bahkan mungkin telah lihat celana dalam saya yang hitam dan agak transparant itu. Pintu lift di loby terbuka dan saya persilakan Tamu saya masuk dahulu dan kemudian saya. Kantor saya ada di tingkat 30, di dalam lift tidak terlalu penuh, tapi di tingkat 3 banyak yang masuk sehingga kami mundur ke belakang. Karena penuhnya, saya terdorong sampai menyentuh pak Robert, “Maaf Pak Robert”, saya minta maaf kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lift saya merasakan tangan Pak Robert yang menempel ke pantat saya, merasa tidak sopan, dia menggeser tangannya agar tidak menyentuh, tapi rupanya justru membuat posisinya semakin tidak enak. Bagian depannya langsung menempel ke bagian belakang saya. Saya merasa ada sesuatu yang keras menyentuh bagian belakang saya, penisnya mengeras rupanya. Belum sampai lebih jauh merasakannya lift terbuka dan kami harus keluar. Ruang rapat sudah siap dan saya persilakan masuk, dan beberapa menit kemudian rapat dimulai. Ada dua hal kontrak yang kami bicarakan dan pada awal rencana kami akan menanda tangani kedua kontrak kerja, tapi setelah satu jam rapat berjalan ada satu hal yang harus di konfirmasikan dan Pak Robert minta ditunda sehari, akhirnya kami menandatangani satu kontrak kerja saja.Untuk menjamu tamu, saya membuat appoitment untuk dinner malam ini di hotel Pak Robert jam 20 malam. Pak Robert dengan diantar oleh mobil saya kembali ke hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore jam 16 saya bersiap-siap untuk pulang ke rumah karena nanti malam ada dinner dengan Pak Robert. Ketika sampai di rumah ternyata ada pesan dari suami bahwa dia harus keluar kota dan baru kembali besok pagi. Saya langsung menuju meja rias dan membuka baju untuk mandi. Setelah buka baju, saya duduk dahulu di kursi meja rias sambil membuka BH saya, dan sedikit istirahat dulu. Saya merasakan kelembaban di celana dalam saya, dan merabanya dari atas celana, ternyata basah, naluri seks saya sedang tinggi. Dari selangkangan kaki, celana dalam saya geser sehingga tangan saya dapat menyentuh bibir bawah yang sudah basah ini, dengan halus saya mengelus-ngelusnya sambil membayangkan tadi pagi, tapi tiba-tiba imajinasi saya berubah seakan-akan pak Robert yang muda dan ganteng itu sedang mencium dan menjilat vagina saya. Cairan yang hangat dan licin semangkin membasahi, dengan tidak sadar jari telunjuk saya sudah masuk ke dalam vagina dan terus saya gerakkan keluar masuk dari vagina saya, “Ah.. ah.. ah..” saya mulai merintih dengan nikmatnya. Seperti kurang puas dengan jari, saya membuka laci meja rias dan mengeluarkan mainan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mainan ini berbentuk penis ukuran orang Eropa dan bisa bergerak-gerak dengan memakai baterai. Mula-mula ujungnya saya tempel di ujung mulut vagina saya, “Ah.. ah!” denyut jantung mulai cepat dan saya mulai memasukkannya perlahan-lahan sambil berimajinasi yang masuk itu penis Pak Robert. Saya masukkan sampai habis, bukan main rasanya, seperti benar-benar melakukan seks, mainan ini bergerak terus di dalam badan saya. Saya mulai menggerakkan mainan perlahan dengan mengeluar-masukan ke vagina dengan berirama, seperti orang laki-laki sedang memasukan punyanya ke vagina wanita.&lt;br /&gt;“Ah… ah… ah ah ah..” irama gerakkan mulai cepat dan cepat, saya pun mulai tidak sadarkan diri, sementara tangan kanan menggerakkan mainan, tangan kiri saya mulai meremas payudara kanan saya dan sambil memainkan puting yang sudah dari tadi mengeras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama lima menit, terus saya mainkan mainan ini dan irama tangan pun semangkin cepat, dan saya sudah mendekati kelimax. “Ah.. ah… keluar.. ah.. ah”, tanpa saya atur pinggul saya bergerak menyentak dan mainan yang di dalam saya jepit. Cairan kental bening keluar banyak dari celah vagina yang masih dimasuki oleh mainan ini. Kepala dan tangan, saya rebahkan di meja rias, sementara mainan penis ini masih bergerak di dalam vagina saya. Kurang lebih tiga menit kemudian saya mulai menarik mainan yang masih bergerak dalam vagina saya, mainan sudah jelas basah dan licin oleh cairan saya. Mainan saya bersihkan dengan tissue dan saya simpan kembali di laci, dan saya baru melepas celana dalam yang sudah basah ini dan melepas gartar, kedua stocking saya, dan menuju kamar mandi.&lt;br /&gt;Saya pilih gaun biru gelap untuk dinner malam ini. Setelah memakai minyak wangi ke seluruh badan, saya mulai mengenakan stocking hitam dari kaki kiri dan terus saya tarik sampai setengah paha dan diteruskan dengan yang kanan. Saya lebih senang stocking model seperti ini dari pada panty socking, lebih praktis apabila ingin ke kamar kecil. Gartar pun saya pilih yang hitam, dan saya jepit tali gartar ke ujung stocking yang ada di pertengahan paha. Saya pilih celana dalam hitam yang berbentuk sangat minim yang hanya pas-pasan menutupi bagian depannya, sedangkan bagian belakang hampir seperti tidak memakai celana dalam, hanya berupa garis yang menutupi belahan bagian belakang, sehingga dari luar baju tidak akan terlihat garis celana dalam. Gaun malam saya bagian bawahnya panjang sampai ke mata kaki dengan dua belahan di samping sampai dua puluh centimeter dari atas lutut. Bagian punggung terbuka, dan bagian depan gaun dari dada terus ke atas dan bersimpul di kuduk kepala, tentu tidak berlengan dan belahan dadanya sampai setinggi bawah payudara, gaun hanya pas menutupi bagian payudara saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaun seperti ini tidak bisa memakai BH yang umumnya, biasanya hanya berupa cup saja. Tapi saya kurang nikmat memakai BH yang hanya cup saja. Malam ini payudara saya langsung ditutup oleh gaun saja, tidak memakai BH. Setelah merapihkan gaun dengan melihat dari kaca setinggi badan kemudian saya memilih sepatu untuk malam ini. Saya pilih warna hitam bludru dan dengan hak yang tinggi. Supaya tidak kelihatan sepi bagian atasnya, saya pakai anting berbentuk bulat seperti gelang yang tipis dan bross bentuk daun di dada kiri. Lipstik saya pilih warna merah rose dan ditambah dengan lips gloss agar lebih kelihatan mengkilat dan tidak kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam sudah menunjukkan pukul 19:00, saya harus berangkat sekarang.Malam ini saya bawa mobil sendiri, supir sudah saya suruh pulang karena besok pagi dia harus jemput suami pulang. Mobil sudah disiapkan dari dalam garasi, mobil ini hadiah dari suami yang bisa di hitung oleh jari di Jakarta ini. Mobil sport warna merah buatan Italy, jarang saya pakai kalau siang karena mencolok. Jalanan tidak terlalu padat, dan sekitar setengah jam sudah sampai di hotel. Dari lobi hotel saya menelepon ke kamar Pak Robert, “Pak Robert saya tunggu di lobi ya.” Pak Robert minta waktu sebentar untuk turun, kira-kira sepuluh menit kemudian dia turun dan menemui saya. “Wah maaf bu menunggu agak lama”, sambil memandang saya dengan mata seorang laki-laki muda yang penuh arti. “Maaf Pak Robert, bapak tidak bisa hadir malam ini karena dia ada urusan penting ke luar kota, salam saja darinya semoga bisnis kita bisa jalan dengan lancar”.&lt;br /&gt;“Oh tidak apa, tapi kasihan juga ya ibu sering di tinggal suami, apa tidak kesepian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya balas dengan senyuman. Kami pilih restoran Jepang Teppanyaki. Dengan kursi yang mengelilingi meja penggorengan yang lebar, kami duduk di bagian tengah, dan memang hanya kami berdua di situ karena sudah di-reserve. Tidak lama koki yang akan meladeni kita datang dan kami memilih menunya. Sementara kami menunggu makanan sampai jadi dan melihat atraksi si koki yang sangat khas ini, kami berbincang-bincang, dari cerita ringan sampai mulai cerita soal bisnis. Tidak lama kemudian masakan siap dan kita mulai makan sambil meneruskan perbincangan kami. “Wah saya kurang mahir memakai sumpit”, dan memang Pak Robert kelihatannya kurang mahir untuk mengambil makanannya. “Cara memegangnya begini pak, jadinya tidak jatuh dan tidak capai tangannya”, sambil membetulkan jarinya memegang sumpit. Sepertinya agak lumayan sekarang tapi dia senang rupanya sekarang, tapi di bagian akhir dia berusaha mau mengambil udang yang sudah matang itu, dan berkali-kali jatuh karena licin. Karena kasihan, saya bantu ambilkan dengan sumpit saya dan suapkan ke mulutnya, mukanya sedikit merah karena malu sepertinya, saya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai makan, Pak Robert saya ajak ke pub yang ada di hotel ini, “Bagaimana kalau kita pindah tempat ke pub di atas untuk berbincang-bincang.”&lt;br /&gt;“Boleh bu”, dia menurut saja. Hari ini sepertinya agak ramai, dan banyak tamu orang barat, sehingga kami tidak dapat meja, terpaksa kami duduk di bar-nya.&lt;br /&gt;“Ibu mau minum apa?” sambil menunjukkan menu ke saya. “Terserah Pak Robert deh, kan anda lebih tahu yang nikmat”, dan akhirnya dia pesan cocktail dengan campuran dasar gin. Agak keras, tapi nikmat rasanya. Sementara kami berbincang-bincang, suasana semangkin ramai, musik berirama cepat terus mengalir dan yang turun untuk berdansa di dance floor semakin ramai, begitu asyiknya berbincang-bincang saya tidak ingat sudah berapa gelas saya tambah minum, yang jelas lumayan banyak, soalnya mulai terasa alkohol naik ke kepala. Mendadak musik berhenti dan disusul dengan alunan musik yang slow, yang berdansa pun sedikit berkurang, pembicaraan kami pun terputus sejenak.”Pak Robert mau turun?” sebelum dia sempat menjawab, saya sudah tarik tangannya. Awalnya kami berdansa dengan sedikit mengambil jarak, tangan kanan saya memegang tangan kirinya, dan tangan kiri saya melilitkan ke pinggang dia, begitu juga dia. Sambil iringan musik yang slow terus mengumandang, kami meneruskan pembicaraan.Ketika kami mulai berhenti berbicara, saya mencoba mendekatkan badan ke dia, dan rupanya dia menyesuaikan diri juga. Dengan perlahan tangan kanan saya lepaskan dari tangannya begitu juga tangan kiri saya lepas dari pinggangnya dan melingkarkan kedua tangan saya ke belakang pinggangnya, dan dia pun mengikutinya, tapi dia melingkarkan tangannya agak ke atas, sehingga terasa sentuhan tangannya yang hangat itu ke bagian punggung saya yang terbuka itu. Suasana semangkin romantis, dan kami makin merapat.Saya merasakan denyut jantungnya yang semakin cepat, saya pun sama, apalagi payudara saya yang tanpa BH itu menempel dengan rapatnya ke dadanya, puting saya terasa mengeras yang hanya ditutupi sehelai kain sutra yang tipis, dia pun pasti merasakannya. Dia pun bereaksi, terutama ketika saya menekankan bagian bawah saya ke dia, penisnya mengeras dan terasa agak besar miliknya. Kepala saya rebahkan ke dadanya, dan kini sementara tangan kanannya tetap diam pada posisi semula, di punggung bawah sekitar pinggang, tangan kirinya mulai naik perlahan-lahan ke atas dan berhenti di pertengahan punggung, terus bergeser ke kanan hingga ujung salah satu jarinya menyentuh bagian payudara saya yang sedikit tidak tertutup dari celah samping belakang gaun saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedikit mendesah sambil menutup mata, tapi sepertinya dia tidak dengar. Sampai beberapa saat terus kami dalam posisi begini, dan tidak ada satu kata pun yang keluar dari kami. Musik berhenti, rupanya waktu istirahat untuk pemain band, dan kami pun kembali ke bar tempat semula kami duduk. Waktu telah menunjukkan pukul 23:30.&lt;br /&gt;Saya kembali berbicara mengenai bisinis, “Saya rasa tidak ada yang kurang lagi dengan kontrak kerja kita yang kedua itu dan percayalah sama saya”, dengan nada meyakini nya.&lt;br /&gt;“Coba kita lihat lagi sama-sama kontraknya, mungkin ada yang saya bisa bantu lebih jelas”, sekali lagi saya meyakinkannya.&lt;br /&gt;“Kalau begitu saya ambil dulu surat kontraknya dan kita ketemu di loby”, ucapnya.&lt;br /&gt;“Kalau Pak Robert tidak keberatan kita langsung saja ke kamar bapak dan kita bahas disana.”&lt;br /&gt;“Boleh, kalau ibu mau silakan.”&lt;br /&gt;Selama perjalanan kami tidak ada pembicaraan. Kamar dibuka dan kami masuk, di dalam keadaannya rapih dan luas dan memang ini sweet room.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menuju tempat tidur dan duduk di tepi tempat tidur sambil mengambil tas kerjanya untuk mengambil dokumen, sementara itu saya mengikutinya dari belakang, dan menyalakan radio yang ada di dekat tempat tidurnya, alunan musik yang lembut memenuhi ruangan, dan saya kemudian duduk di sampingnya. Karena tempat tidur agak rendah posisinya, belahan samping baju saya terbuka lebar, tapi saya biarkan saja. Sambil membuka buka dokumen, sebentar-sebentar dia mencuri pemandangan paha saya yang kelihatan dari belahan gaun. Saya berusaha menerangkan satu persatu pasal-pasal yang dia anggap ragu, tapi sepertinya dia sudah tidak terlalu konsentrasi lagi. Tidak lama setelah saya menjelaskan semuanya tiba-tiba dia mengambil ballpoint dari tasnya dan,&lt;br /&gt;“Saya tandatangan malam ini saja deh”, sambil tersenyum.&lt;br /&gt;“Pokoknya saya percaya deh dengan perusahaan ibu”, dan dia pun menandatanganinya. Saya balas dengan berjabat tangan.&lt;br /&gt;“Ibu mau minum apa? wah hanya ada beer dan wisky saja tapi…” dengan nada kecewa.&lt;br /&gt;“Kalau begitu saya minta scotch saja deh.” Dia mengangguk dan menyiapkan dua gelas dan mengeluarkan es dari kulkas. Sementara itu saya minta izin mau ke kamar kecil. Di dalam kamar kecil yang jadi satu dengan kamar mandi dan dengan kaca yang besar saya merapihkan baju dan merapihkan rambut dan menambah lipstik lagi yang mulai pudar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika selesai saya merasa tidak enak di celana dalam saya, dan ketika saya mau membenarkan, bagian depannya saya pegang, ternyata basah. Mungkin tadi waktu kami dansa dan saya terangsang sampai basah. Saya bingung, bagaimana ya, dipakai terus tidak enak rasanya. Akhirnya saya putuskan untuk melepaskannya dan saya masukkan ke dalam tas kecil saya. Begitu saya keluar, Pak Robert baru selesai membuatkan scotch untuk berdua. Saya ambil gelas yang satu dari tangan dia dan terus berjalan menuju jendela sambil melihat pemandangan di luar, sudah pukul 0:30, jalanan sudah tidak banyak mobil, sementara itu dia duduk di ujung tempat tidur sambil memandang saya dari belakang. Saya baru sadar di depan saya ada lampu dinding yang agak terang, rupanya dia lihat bayangan badan saya yang samar-samar kelihatan dari balik gaun. Tapi saya diam saja tanpa reaksi terus memperhatikan jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama dia melepas jasnya dan berdiri menghampiri saya, tapi di tengah-tengah dia berhenti dan dengan suara agak ragu dia bertanya kepada saya,&lt;br /&gt;“Maukah ibu dansa lagi dengan saya di sini?”&lt;br /&gt;“Emm, nikmat juga ya mungkin, lagunya juga nikmat dan tenang lagi, ya boleh”, saya membalasnya sambil mendekatinya. Minuman saya letakkan dan langsung kami berdansa. Kali ini kami langsung merapat dan saling merangkul pinggang pasangan masing-masing. Semakin lama suasana semankin romantis, kepala saya sudah merebahkan ke dadanya, dan bagian bawah mulai saya tekan ke dia, reaksi sudah kelihatan, punyanya mengeras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puting saya sudah dahulu mengeras dan sangat kencang terasa. Seperti ingin lebih merasakannya, kedua tangannya mulai turun ke bawah dan memegang bagian pantat saya dan mendorongkannya ke badannya sehingga lebih terasa bentuk penisnya yang menekan bagian bawah saya. Tangannya mulai mengelus-ngelus pantat saya dari luar gaun saya sambil terkadang meremasnya, saya tidak menunjukkan reaksi apa-apa, berarti ada lampu hijau dari saya, dia terus melakukannya berkali-kali, dan saya tetap diam sambil merasakan kenikmatan. Tidak lama kemudian kedua tangannya bergeser ke bagian pangkal belahan gaun di pertengahan kedua paha saya, dan dengan cepatnya kedua tangannya menyelinap ke dalam belahan gaun dan mencoba memegang pantat saya dari dalam. Dia mulai meraba-raba pantat saya seakan mencari sesuatu. Sepertinya dia mencari celana dalam saya, padahal saya sudah tidak pakai lagi. Begitu dia sadar bahwa saya tidak memakai celana dalam, wajahnya sedikit kaget, tapi hanya sejenak, bahkan dia lebih berani lagi dengan menggerakkan tangan kanannya ke bagian depan saya, mengelus rambut bawah dan jari telunjuk dan tengahnya turun lebih bawah lagi tepat di bagian belahan depan. Dengan kedua jarinya dia membuaka bibir bawah dan menjepit kacang saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tahu saya sudah banjir. Ketika dia sekali lagi memainkan bagian puting, mendadak kepala saya bangkit dari dadanya dan menghadap mukanya dengan jarak yang sangat dekat dan keluar suara rintihan saya sambil menutupkan mata, “aah…” Belum sempat saya menutup mulut, bibirnya langsung mendarat di bibir saya dan menciumnya. Saya sengaja membuka mulut saya agar dia lebih dalam mengecup saya. Lidahnya mulai memasuki bibir dan terus masuk ke mulut, Saya pun bereaksi dengan mengulurkan lidah saya, lidah saya dan lidahnya saling menyaut dan menghisap. Sampai beberapa saat kami saling bercumbu. Seakan sudah diberi lampu hijau dari saya, dia bertambah agresif. Tangan kananya kembali melingkar ke belakang saya dan bersama tangan kirinya kembali meremas-remas pantat saya sambil terkadang mendorongnya ke depan sehingga menekan bagian depannya, sementara kami tetap saling bercumbu. Tangan yang sejak tadi melingkar di pinggang Pak Robert mulai saya lepas dan tangan kiri saya gerakkan menuju depan celananya, dan meraba-raba seperti mencari sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai juga yang saya cari, ritsluiting celananya saya tarik ke bawah perlahan-lahan, kemudian tangan saya segera menyelinap ke dalam celananya, dan terus menuju ke dalam celana dalamnya. Penisnya sudah tegap dari tadi, ukurannya cukup besar, segera saya genggam dan tangan saya gerakan ke atas dan ke bawah perlahan-lahan secara berirama. Seperti ada reaksi dari tangan saya, dia sedikit menggigit bibir saya, dia mulai terangsang rupanya, sementara tangan kiri saya tetap bergerak berirama menggenggam penisnya. Tidak lama kemudian dari ujung penisnya membasah, terasa dari jari telunjuk saya yang mengusap ujung penisnya, terasa licin dan lengket. Bibirnya mulai bergeser dari bibir saya menuju pipi dan terus ke daun kuping saya. Seperti mengemut permen, daun kuping sekitar anting kanan saya dikulumnya dengan lembut dan suara nafasnya yang memuncak sangat jelas terdengar di kuping saya. Tidak lama kemudian bibirnya pindah mengecup leher sebelah samping di dekat kuduk saya dan terkadang mengecup sambil menyedotnya. “Aah.. ah..” saya berdesah lagi. Ketika asyik mengecup leher saya, dia melihat simpul baju yang persis di kuduk saya, segera kedua tangannya yang berada di pantat saya naik ke atas menuju simpul itu dan dia mulai membukanya, dengan mudah simpul terlepas dan gaun bagian depan dengan sendirinya lepas dan jatuh ke bawah. Buah dada yang sebelumnya tertutup gaun, sekarang terlihat jelas keduanya dan puting yang sudah mengeras dari tadi jelas terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit membungkuk, bibirnya menuju buah dada saya yang kanan dan mengecup putingnya. “Ah… ah…” saya benar-benar terangsang. Tangan kirinya kembali meremas pantat saya dan yang kanan menuju buah dada yang kiri dan meremas dengan lembutnya. Dia memainkan puting kiri dengan bibirnya, menghisap, mengecup, mengkulum dan terkadang menggigit dengan ringan. Saya tidak bisa menjelaskan nikmatnya dengan kata-kata. Lidahnya pun terkadang keluar untuk menjilat puting dan sekitarnya yang berwarna kemerah-mudaan. Jari telunjuk dan tengah tangan kanannya memainkan puting kiri saya dengan menjepitnya. Seperti tidak ingin dihalangi apa-apa, tangan kanannya yang berada di pantat saya segera menarik ke bawah gaun saya yang sudah setengah terbuka itu, langsung saja seluruhnya jatuh ke lantai. Tinggal gartar dan stocking yang melekat pada badan saya. Saya berlutut di depannya dan memberi kesempatan untuk membuka dasi dan kemejanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu saya mulai membukakan celananya, dengan segeranya jatuh ke bawah, dan terus menurunkan celana dalamnya. Sekarang saya dapat melihat jelas penisnya. Saya mendekat dan dengan telapak kanan, kantong di bawah penis saya elus dengan halus, “Oh.. oh..” dia terangsang rupanya. Ujung penisnya saya kecup beberapa kali dan dengan ujung lidah saya jilat belahan yang ada pada ujung penisnya. Memang benar, cairannya mulai keluar sedikit dari ujung penis, terasa asin. Pinggulnya saya pegang dengan kedua tangannya agar lebih mantap melakukan oral. Kepala penisnya saya masukkan ke mulut dan berkali-kali saya kulum dan dihisap. Setiap kali saya hisap dia merintih. Sudah dari tadi dia melepaskan kemejanya, dan sudah tidak ada satu kain pun yang melekat di badannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas memainkan kepala penisnya di dalam mulut, saya mulai lebih memasukkan penisnya ke dalam mulut saya perlahan-lahan sampai ke pangkal penis, masuk semua ke dalam mulut saya. Saya berhenti sejenak untuk menikmatinya dan sementara itu kedua tangannya membelai-belai rambut saya.Saya mulai menggerakan mulut saya dengan mengeluarkan dan memasukan penisnya dari mulut saya dan sekali-kali saya hisap ujungnya. Seakan sedang makan es mambo dengan nikmatnya, terus saya gerakkan berirama. “Aah… ah.. nikmat sekali, ah…” dia merintih. Sekali-kali saya melirik ke atas melihat wajahnya yang sudah hanyut kenikmatan, saya pun sudah terangsang dan benar-benar lupa segalanya. Sepertinya sudah lama dia tidak melakukan seks, tapi saya tahu dia pengalaman. Cukup lama saya melakukan oral, dan dia bertahan rupanya, tapi tidak lama kemudian kakinya mulai gemetar, tidak kuat berdiri lagi rupanya. Dia menarik saya untuk berdiri, dan setelah itu dia mendorong saya sedikit ke belakang dan mendudukkan saya di tepi tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang dia gantian berlutut, saya sudah tahu apa yang akan dia lakukan, tanpa diminta saya membuka kaki lebar-lebar sehingga selangkangan saya terlihat jelas. Kepalanya mulai mendekati selangkangan saya dan terus memendamkan kepalanya tepat di daerah bibir bawah, lidahnya berusaha membuka belahan saya dan terus menjilat kacang saya berkali-kali, “Ah.. ah.. ah!” saya merintih agak keras. Dengan bibirnya, dia mengecup dan mengulum kacang saya beberapa saat. Dari situ dia mula menjilat mulut vagina saya dan mengecupnya. Dia menghisap cairan yang sudah dari tadi membasahi vagina saya dan menelannya seakan meminum air, cairan dari dalam vagina semakin banyak keluar, tanda sudah siap untuk tahap selanjutnya. Lidahnya menjulur memasuki mulut vagina dan terus ke dalam, “Ah.. ah..” saya merintih tidak tahan dan meremas-remas kepalanya. Seakan ada suatu makhluk hidup yang masuk ke dalam vagina dan bergerak-gerak. Dia memang sedang memainkan lidahnya di dalam vagina saya. Saya tidak kuat lagi bertahan untuk duduk, akhirnya saya merebahkan diri, sementara itu dia masih terus memainkan vagina saya dengan lidahnya, saya merintih berkali-kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kepalanya menjauh dari selangkangan, berdiri dan naik ke tempat tidur untuk bergerak lebih jauh lagi. Kami sudah berada di atas tempat tidur, dia mulai menghampiri saya yang sudah telentang dari tadi. Dia mengambil posisi di atas saya dan dengan halusnya mengecup dan kami saling bercumbu, mengkulum lidah saya di dalam mulutnya, saling bertukar air liur seakan menikmati suatu masakan. Bibirnya bergerak ke leher dan terus mengecup, saya merintih tidak henti-hentinya dan dia menikmati rintihan saya. Bibirnya terus mengecup ke bawah sampai ke pangkal belahan buah dada saya, dan kedua tangannya terus meremas dan memainkan buah dada saya, sesekali menjilat puting. Sementara sedang menciumi kedua buah dada saya, salah satu tangannya menyelinap ke bawah bantal dan seperti mengambil sesuatu. Saya tidak begitu sadar saking nikmatnya suasana. Bibirnya kembali bergeser ke atas dan menciumi belakang daun kuping saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu salah satu tangannya yang sedang menggenggam sesuatu dia turunkan ke bawah, tidak lama kemudian saya ada kesempatan melihat ke bawah badan saya. Dia sedang menyobek plastik kecil, dia sedang membuka kondom, dan sedang menyiapkan diri untuk dipakai. Tangannya yang memegang kondom saya tangkap dengan tangan saya. Bibir saya segera menuju daun kupingnya dan saya kecup beberapa kali dan kemudian sambil sedikit merintih berbisik kedia, “Tidak usah pakai itu, tidak apa-apa masukkan saja, ah.. ah..” Dia membatalkan untuk memakai kondom. Penisnya sudah berada di ujung vagina, dan mulai memasukkan kepala penisnya, dan saya merintih keras. Kepala penisnya digerak-gerakkan, membuat saya kehilangan kontrol.&lt;br /&gt;“Masukan semua, ah”, saya meminta.&lt;br /&gt;“Keluarkan di dalam saja”, sekali lagi saya meminta. Saya ingin dia menyelesaikan klimaksnya di dalam, ingin merasakan cairan panas kental itu masuk ke dalam tubuh. Seperti sudah mendapat izin, dia terus menekan penisnya mendorong ke dalam vagina. Saya merasakan penisnya yang besar itu terus masuk lebih dalam. Dia masukkan semua sepertinya, saya merasa ujung penisnya mencapai bagian paling dalam vagina saya. Tentu saya merintih-rintih tanpa henti dan memeluk badannya untuk bertahan. Dia mulai menggerakkan pingulnya dan terasa penisnya bergerak keluar masuk vagina saya. Suara seperti orang jalan di tempat becek, terdengar bunyi dari gesekan penisnya dengan ujung vagina yang banjir. Sambil bercumbu, gerakkannya semakin cepat. Pinggul saya pun ikut menyesuaikan gerakannya. Terus menerus saya merintih. Sesekali dia menjilat dan menghisap puting saya yang berdiri menantang dan keras itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak dia memeluk badan saya agak kuat, dan kami merubah posisi dengan memutar badan kami. Dia telentang dan saya berada di atasnya. Seperti menunggang kuda, saya duduk di atasnya dan penisnya tetap berada di dalam saya. Sekarang saya yang mulai menggerakkan pinggul, dia kelihatan menikmatinya, terlihat dari wajahnya. Sementara pinggul saya bergerak semakin cepat. Saya pun merintih karena nikmatnya. Saya paling senang posisi begini. Terasa penisnya masuk lebih dalam dan memang saya merasakan ujung penisnya berada di bagian paling dalam vagina. Sesekali saya jepit penisnya yang sedang berada di dalam. Beberapa menit kemudian dia merintih agak keras, “Aah.. saya tidak tahan, ah.”&lt;br /&gt;Saya pun sudah mendekat klimaks,&lt;br /&gt;“Keluarkan di dalam, ah cepat sekarang!”&lt;br /&gt;Cairan panas terasa keluar di dalam saya, dan saya pun sampai puncaknya.Kami benar-benar menikmatinya sampai akhir. Saya mulai merebahkan diri ke badannya, detak jantung kami terasa masih kencang, dan penisnya masih di dalam saya. Dia mencium bibir saya yang masih bernafas dengan kencang, saya pun menjawabnya dengan mengecup bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul empat pagi saya terbangun, saya masih bersama Pak Robert di tempat tidur tanpa sehelai baju. Dia masih tidur dengan lelapnya, saya berdiri dan menuju kamar mandi dan mandi. Saya juga membersihkan bagian dalam saya, terasa air maninya sedikit masih tersisa di dalam.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7501232687625531161-4001443886344038357?l=dennythejaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dennythejaya.blogspot.com/feeds/4001443886344038357/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7501232687625531161&amp;postID=4001443886344038357' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/4001443886344038357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/4001443886344038357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dennythejaya.blogspot.com/2011/05/mitra-bisnis.html' title='Mitra Bisnis'/><author><name>denny</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7501232687625531161.post-636882361944235880</id><published>2011-05-06T14:40:00.000-07:00</published><updated>2011-05-06T14:41:24.188-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seks.teman'/><title type='text'>Bandung lautan birahi</title><content type='html'>Oktober 1998 dengan kereta Parahyangan siang aku berangkat ke Bandung, liburan “nostalgia” selalu aku lakukan saat weekday menghindari hingar bingar Bandung saat weekend. Setelah menaruh tas bawaanku, menghempaskan tubuh dibangku dekat jendela dan langsung membuka novel John Grisham kegemaranku. Belum lagi selesai membaca satu paragraph aku dikejutkan sapaan suara halus: “Maaf, apakah tidak keberatan kalau kita bertukar bangku?” aku menengadah, kaget dan terpana! begitu mengetahui si pemilik suara. “ Hmmm…sure…ehhh maaf…tidak, maksud saya tidak apa-apa” jawabku dengan gagap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia cukup tinggi untuk ukuran wanita Indonesia lebih kurang 170, putih, postur yang proporsional dengan rambut hitam lurus sebahu bak bintang iklan shampoo! Umurnya kira-kira sekitar akhir 20an mengenakan baju krem ketat dan celana hitam yang juga ketat sehingga menonjolkan semua lekak-lekuk tubuhnya! Saat aku berdiri bertukar bangku, semilir tercium aroma parfum lembut yang entah apa merknya, yang pasti pas sekali dengan penampilannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf mengganggu kenyamanan Anda tapi saya seringkali tertidur dalam perjalanan, kalau dekat jendela lebih mudah menyandarkan kepala” Ia menjelaskan sambil meminta maaf.&lt;br /&gt;“Ngga apa-apa kok” sahutku, bagaimana mungkin menolak permintaannya gumamku dalam hati. Setelah selesai merapihkan bawaannya Iapun duduk dan membuka Elle edisi Australia yang dibawanya. Kamipun tenggelam dengan bacaan masing-masing. Ingin rasanya aku menutup John Grisham-ku dan memulai pembicaraan dengannya namun melihat Ia begitu asik dengan Elle-nya niat itu pun aku urungkan. Kesempatan itu muncul saat pesanan makanan kami tiba,.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Suka juga roti isi” tanyaku membuka pembicaraan&lt;br /&gt;“Iya, entah kenapa aku suka sekali roti isi di kereta, padahal rasanya biasa-biasa aja” jawabnya&lt;br /&gt;“Mungkin suasana kereta membuatnya enak” lanjutku sekenanya&lt;br /&gt;“Mungkin, oh ya Mas kenalkan saya Vini” sambil menjulurkan tangannya&lt;br /&gt;“Reno, ngga pake Mas” sahutku sambil menyambut tangannya&lt;br /&gt;“Hihihi” tawanya renyah “Kamu lucu juga, dalam rangka apa ke Bandung”&lt;br /&gt;“Main-main aja kangen sama Bandung dan kawan-kawan” jawabku.&lt;br /&gt;“Vini sendiri ke Bandung dalam rangka apa” tanyaku.&lt;br /&gt;“Tugas kantor” jawabnya singkat tegas sepertinya enggan untuk menceritakan pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tinggal dimana Vin di Bandung” Ia menyebutkan salah satu hotel berbintang di Dago&lt;br /&gt;“Lho kok sama? aku juga di kamar 313” suatu kebetulan yg mengejutkan&lt;br /&gt;“Oh ya?!! satu lantai pula” ujar Vini tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Selepas makan kami tidak lagi membuka bacaan masing-masing, obrolan-obrolan mengalir dengan lancar diselingi dengan joke-joke nakal yang ternyata disukainya. Perbendaharaanku yang satu ini cukup lumayan banyak, sisa perjalanan rasanya seperti hanya kami yang ada dikereta. Vini bahkan tidak lagi malu untuk memukul pundak atau mencubit kecil lenganku manakala ada joke yang “sangat” nakal. Tanpa terasa kami tiba di stasiun Bandung tepat jam 16.30, kami naik mobil jemputan hotel sambil terus bercengkerama dengan lebih akrab lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hotel kami berpisah, kamarku dikanan lift sementara Vini dikiri. Dikamar aku langsung merebahkan diri membayangkan Vini dan mengingat-ingat semua kejadian di kereta, di mobil dan di lift aku memutuskan untuk mengajaknya makan malam atau jalan-jalan bahkan kalau bisa lebih dari itu. Karenanya aku urungkan menghubungi kawan-kawanku. Dan terlelap dengan senyum terukir di bibirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 19.00 aku dikejutkan oleh dering telepon, belum lagi ‘napak bumi’ aku angkat telepon&lt;br /&gt;“Hallo” jawabku dengan suara ngantuk.&lt;br /&gt;“Hi Ren tidur ya?…sorry ganggu” terdengar suara halus diseberang.&lt;br /&gt;Vini!!! langsung aku bangkit “Is ok, aku juga niatnya bangun jam segini tapi lupa pesan di front office tadi” jawabku. “Ada apa Vin?”&lt;br /&gt;“Kamu jadi ngga ketemuan sama kawan-kawan Ren?”&lt;br /&gt;“Hmmm…aku belum sempat call mereka, ketiduran”&lt;br /&gt;“Gimana kalau malam ini dating sama aku, soalnya aku ngga jadi dinner meeting”&lt;br /&gt;“Sayangkan dandananku kalau harus dihapus” lanjutnya dengan tawanya yang khas&lt;br /&gt;Aku shock mendengarkan ajakannya sampai-sampai tidak tahu harus berkata apa&lt;br /&gt;“Hallloooo…anybody home? Kok diam sih?” serunya, mengejutkan&lt;br /&gt;“Ooohhh maaf…kaget…soalnya surprise…kaya ketiban bulan, diajak dating bidadari” jawabku. “Dasarrrr…kamu tuh…ketiban aku baru rasa, cepat mandi dong, casual aja ya” menutup pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak usah disuruh dua kali akupun langsung mandi, keramas, berpakaian casual, parfum disemua ‘sudut’ tubuh dan langsung menuju kekamarnya. Saat pintu terbuka aku hanya bisa ‘melongo’ melihat penampilannya yang ‘casual’, Vini mengenakan rok jeans sedikit diatas lutut dengan dengan belahan dipaha kiri depan yang cukup tinggi, atasan kaos melekat ketat ditubuhnya dengan bahu terbuka, sungguh pemandangan yg menyekat kerongkongan. “Hiii…kok bengong lagi sih” tegur Vini menyadarkan aku dan kamipun segera bergegas. Setelah puas menyantap soto sulung dan sate ayam dipojok jl. Merdeka kami lanjutkan menghabiskan malam disalah satu kafe di daerah Gatsu, Vini memilih seat di bar yang agak memojok dengan cahaya lampu yang minim. Aku memesan tequila orange double dengan ekstra es sementara Vini memilih illusion, hentakan musik yg keras membuat kami harus berbicara dengan merapatkan telinga dengan lawan bicara, saat itulah, aku mencium aroma parfum malamnya, ditambah dengan nafas yang menerpa telingaku saat berbicara membuat sensor birahiku menangkap sinyal yang menggetarkan bagian sensitif ditubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu band memainkan lagu yang disukainya Vini turun dari kursi, bergoyang mengikuti irama lagu, sebuah pemandangan yang menakjubkan, gerakan pundak telanjangnya, tangannya dan pinggulnya begitu serasi. Erotis namun tidak memberikan kesan vulgar, dan saat kami ‘turun’ ditempat (bukan di dance floor)—lebih tepat disebut berpelukan dengan sedikit gerakan—buah dadanya sesekali menyentuh tubuhku, aku merasakan getaran-getaran halus dan hangat menjalar diseluruh tubuhku. Entah pada ‘turun’ yg keberapa kali aku memberanikan diri, kukecup lembut lehernya dan…”Ehhh…” hanya itu yg keluar dari bibirnya yang sensual. Seolah mendapat ijin akupun memeluknya lebih erat serta sekilas mengecup lembut bibirnya, setelah itu Vinilah yang memberikan kecupan-kecupan kecil di bibirku…Malam yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum tengah malam kami meninggalkan kafe, dalam taksi menuju hotel Vini menyandarkan kepalanya di dada kananku, kesempatan ini tidak aku sia-siakan, kuangkat dagunya membuatnya tengadah. Sekilas kami perpandangan, bibirnya bergetar, Vini memejamkan matanya seakan mengerti keinginanku segera saja kubenamkan bibirku di bibirnya, kecupan lembut yang semakin lama berganti dengan pagutan-pagutan birahi tanpa peduli pada supir taksi yang sesekali mengintip lewat kaca spion. Lidah kamipun menggeliat-geliat, saling memutar dan menghisap, sementara tanganku meraba-raba dadanya dengan lembut, belum sempat bertindak lebih tidak terasa taksi kami telah sampai di hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamipun bergegas menuju lift dan melanjutkan lagi apa yang kami lakukan di taksi, kusandarkan tubuhnya di dinding lift memagut leher dan pundaknya yg putih telanjang. “Reno…eeehhh…” desahnya. Keluar lift Vini menarik tanganku kekamarnya, begitu pintu kamar ditutup Vini langsung menarik kepalaku memagut bibirku dengan bernafsu, lidahnya kembali menggeliat-geliat di mulutku namun lebih liar lagi. Kusandarkan tubuhnya di dinding kamar agar tanganku lebih leluasa, tangan kananku memeluk pinggulnya sementara tangan kiri mulai meremas-remas buah kenikmatannya yang begitu kenyal. Kejantananku membatu, ingin rasanya segera kukeluarkan dari kungkungan celana tapi kutahan, aku ingin menikmati semua ini perlahan-lahan. Kutarik pinggul Vini sambil menekan pinggulku membuat “perangkat” kenikmatan kami beradu—walaupun masih terbungkus—membuat desiran darah kami meningkat dan semakin memanas saat kami menggesek-gesekannya. “Ahhhhhh…Ren…”desah Vini kembali dan saat itu kurasakan lidahnya yang hangat basah menjalar di telingaku melingkar-lingkar di leherku. “Eeehhh…aahhh…” giliran aku yang mendesah merasakan permainan lidahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidahnya semakin turun kedadaku sementara jari-jari lentiknya membuka kancing bajuku satu per satu. Dan… lidahnya berpindah keputing dadaku, berputar-putar jalang, mengecup, menghisap dan sesekali menggigit-gigit kecil. “Terus Vin….terusss…ahhhhh…” suaraku bergetar meminta meneruskan kenikmatan yang diberikan mulutnya. Kurasakan Vini semakin liar memainkan mulutnya yang semakin turun. Ia berlutut saat lidahnya meliuk-liuk di pusar sambil tangannya membuka celanaku. Vini meremas, mengecup dan menggigit-gigit lembut kejantananku yang masih terbungkus cd dan setelah itu Ia memasukan tangannya kedalam cd dan mengeluarkan milikku yang sudah membatu. Ia menggenggam dan menggosok-gosokkan jempolnya di ujung kepala kejantananku yang sudah basah menimbulkan rasa ngilu yang nikmat…dan…akhirnya…lidahnya berputar-putar disana.&lt;br /&gt;“…aaakhhhhh…ssshhh…”desahku tak tertahan manakala lidahnya semakin kencang bergerak dibawah kepala kemaluanku dan diteruskan keseluruh batang dan buah zakar. “Enakkkk Vin…&lt;br /&gt;aaahhhh…kamu pintar sekaliii…hisap cantik…hisapppp…” aku meracau tidak karuan memintanya melakukan lebih lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vini mengerti betul apa yang harus dilakukannya, dikecupnya kepala kejantananku dan dimasukannya…hanya sebatas itu!…dan mulai menghisap-hisap sambil tetap lidahnya menjilat-jilat, berputar-putar…serangan ganda!!!…sunguh nikmattttt!!! Setelah itu barulah Ia menelan semuanya membuat seluruh tubuhku bergetar hebat dilanda kenikmatan. Kuraih kepalanya memasukan seluruh jari-jemariku dirambutnya yang halus dan menggenggamnya, dengan demikian memudahkan aku mengatur gerakan kepalanya. Namun semakin lama genggamanku tidak lagi berguna, karena ritme gerakan kepalanya semakin cepat mengkocok-kocok kemaluanku membuat tubuhku serasa melayang-layang, semakin aku mengerang kenikmatan semakin cepat Vini menggerakan ritme kocokannya. “Nikmat Vin…ahhhhh…lagi…lebih cepat…ooohhhhh” pintaku diselah-selah erangan yang semakin tidak terkontrol. Dan begitu kurasakan akan meledak segera kutahan dan kutarik kepalanya, aku tidak ingin menyelesaikan kenikmatan ini dimulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuangkat tubuhnya dan kupeluk mesra. “Suka?…”bisiknya bertanya. “Suka sekali…kamu hebat…” jawabku berbisik sekaligus menjilat dan menghisap kupingnya. “Ooooooohhh…” erang Vini. Kubalas apa yang Ia lakukan tadi, kupagut leher dan pundaknya serta membuka atasan dan bra 34b-nya, dua bukit kenikmatannya yang bulat putih itupun menyembul dengan puting kecil pinkies yang sudah mengeras. Lidahkupun segera beraksi menjilat-jilat putingnya “Eeeehhhhh…Reno…” lenguh Vini dan membusungkan dadanya meminta lebih, kuhisap putingnya “Auuhhhhhh…akkhhh…”erangannya semakin keras, hisapanku semakin menggila bukan lagi putingnya tapi sebagian buah dadanyapun mulai masuk kedalam mulutku. “Aaaaghhh… Ren…aaauuhhh…kamu ganaaas….”jeritnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas melumat buah kenikmatannya gilirin aku yang berlutut sambil melepas roknya, tampaklah cd mini putih menutupi kewanitaannya. Kuelus-elus bagian yang terhimpit paha dengan jari tengahku terasa lembab dan kumasukan dari sisi cdnya sehingga menyentuh daging lembut basah.&lt;br /&gt;“Renooooo…uugghhhhhhh…”kembali erangan birahi keluar dari mulutnya waktu ujung jariku mulai bergerak-gerak di mulut kewanitaannya sementara mulutku sibuk mengecup dan menjilat sebelah dalam paha mulusnya. Beberapa saat kemudian penutup terakhir itu kulepaskan, rambut2 halus tipis menghias kewanitaannya dengan klitoris yang yang menyembul dari belahannya. Kuangkat kaki kirinya meletakan tungkainya di bahu kananku sehingga leluasa aku melihat seluruh bagian kenikmatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun mulai sibuk menjilati dan sesekali menghisap-hisap klitorisnya. “Aaaaaaaa…Renoooo…” jerit Vini tertahan sambil menjambak rambutku yang panjang, lidahku bergerak cepat menggeliat-geliat menjilat kewanitaannya yang semakin basah, sementara jariku berputar-putar didalamnya. “Ssshhhh…eeehhhh” desis Vina merasakan hisapanku yang kuat di lubang kenikmatannya. Kubuka bibir kewanitaannya dan menjulurkan lidahku lebih dalam dalam lagi Vinipun membalas dengan menyorongkannya kemukaku, praktis semua sudah dimulutku, kumiringkan sedikit kepalaku sehingga memudahkan aku “memakan” semua kewanitaannya.”Renooooo…stoppp….aaahhhhh…aku ngga tahannnnnn…”aku tidak memperdulikan keingingannya bahkan semakin menggila “My godddd…Rennn…shhhfff…pleasee…stop” tangannya sekuat tenaga menarik rambutku agar mulutku terlepas dari kewanitaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun berdiri mengikuti keinginannya kurebahkan tubuhnya ditempat tidur dan kamipun bergumul saling memagut, menghisap dan meremas-remas bagian-bagian sensitif kami. “Sekarang Ren….sekarang… pleaseeeee…”pintanya berbisiknya. Aku merayap naik ketubuhnya, Vini membuka lebar kedua kakinya Iapun menggelinjang merasakan kepala kejantananku memasuki mulut kewanitaannya, kuhentikan sebatas itu dan mulai menggerakannya keluar masuk dengan perlahan. “Oooohhhh yaaaa…Rennnn…enakkkkk…” Vinipun mulai mengayunkan pinggulnya mengikuti gerakan-gerakanku, sementara mulutku tidak henti-hentinya mengulum buah dadanya.”Aaggghhh…terus Ren…lebih dalammm…aagghhh…” pintanya, kutekan batang kemaluanku lebih dalam dan..”Sssssshhhhh…”desisku merasakan kenikmatan rongga kewanitaanya yang sempit meremas-remas sekujur batang kemaluanku.”Aaaugghhh…punya kamu enak Vin…” akupun semakin kencang memacu tubuhku membuat Vini semakin mengelepar-gelepar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahhh…oucchh…nikmat Ren…sshhhhh…”desahnya merasakan gesekan-gesekan batang kejantananku di dinding kemaluannya. Saat kami merasakan nikmatnya kemaluan masing-masing, tak henti-hentinya kami saling menghisap, memagut bahkan mengigit dengan liarnya…dan… “Ugghhh…Rennn…fuck me…fuck me hard…I’m comingggg honey…” tubuh Vini mengejang dan tangan serta kakinya memeluk tubuhku dengan kencang “Ouchhhh…oooohhhh…aku keluar Rennnnnn….aaaaghhhh…” Iapun kejang sesaat kurasakan denyut-denyut di kewanitaannya dan…tubuh Vinipun lungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf Ren aku duluan…ngga tahan, habis udah lama ngga…” bisiknya, aku masih diatasnya dengan kemaluan yang masih terbenam didalam kewanitaannya. “Ngga apa-apa Vin cewekan multiple orgasm, masih ada yang kedua dan seterusnya kok…” jawabku menggoda. “Memangnya kuat…?” tantangnya. “Lihat aja nanti…”membalas tantangannya. “Ihhhh…itu sih doyan …” seru Vini manja sambil mencubit pinggangku. Kubalas cubitannya dengan memagut lehernya dan menjilat telinganya sementara pinggulku mulai berputar-putar perlahan.”…Mmhhhhhffffff…”kupagut bibirnya, lidah kamipun saling bertaut, meliuk dengan panasnya. Birahi kamipun kembali membara, tekanan pinggulku dibalasnya dengan putaran pinggulnya membuatku melayang-layang. “Shhhhffff….agghhh….ouch…” desahanpun tak tertahan keluar keluar dari mulutku. Dengan bahasa tubuh Vini mengajak pindah posisi, Ia diatas memegang kendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vini menekan kewanitaanya dalam-dalam—sehingga kejantananku menyentuh ujung lorong kenikmatannya—dan mengayunkan pinggulnya mundur-maju. Semakin lama ayunannya semakin cepat, tak kuasa aku menahan hentakan-hentakan kenikmatan yang keluar dari seluruh sendi-sendi tubuhku.&lt;br /&gt;“…teruss Vin…aahhhh….lagi Vin…ooohhh…punya kamu enak…”rintihku. “…punya kamu juga Rennnn…oucchh…want me to fuck you harddd…mmhhhhh…” tidak perlu jawabanku, dengan di topang tangannya Vini membungkuk tambah mempercepat ayunannya. Buah dadanya yang indah berayun-ayun, kuremas-remas dan yang lainnya kulumat dengan rakus. “Ouchh…Rennoooo….nikmatttt…lumat semua Rennn…auuhhhhhh…” jerit Vini sambil merendahkan tubuhnya memudahkan aku melumat buah dadanya membuat ayunan pinggulnya semakin tidak terkendali, tidak berapa lama kemudian tubuhnya kembali mengejang, Vini menekan dalam-dalam kewanitaannya menelan seluruh batang kenikmatanku. “Rennn…aku keluarrrr lagi….AAAKKKKHHHHH…” teriak Vini, tubuhnya pun rubuh diatasku cairan kenikmatannya kurasakan membasahi kejantananku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vini rebah diatasku tubuhnya bagai tidak bertulang, hanya desah napasnya menerpa dadaku. Beberapa menit kemudian suaranya memecah kesunyian “Punya kamu masih keras Ren…belum keluar?…”&lt;br /&gt;“Aku tidak ingin kenikmatan ini cepat berakhir” bisikku sambil mengecup pipinya.&lt;br /&gt;“Mmmmhhh….” Vini bergumam “Aku juga…”bisiknya sambil mengigit mesra leherku lalu mengecup bibirku. Hanya beberapa saat, gigitan dan kecupan mesra itu kembali menjadi pagutan birahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar itupun kembali dipenuhi suara-suara erangan dan desahan kenikmatan duniawi, kejantananku yang masih berada didalam kembali merasakan bagaimana nikmat yang diberikan oleh kewanitaannya. Aku bangun sambil mendorong tubuh Vini sehingga kami berada dalam posisi duduk, satu tanganku memeluk punggungnya, tangan lain meremas-remas buah pantatnya yang bulat padat. Gerakan-gerakan pinggulnya membuat rongga kenikmatannya seakan melumat seluruh batang kejantananku, “Aggghhh….sshhhhh…. Reennn…” rintihannya membuat birahiku tambah memuncak. Kubalas gerakannya dengan menggoyang-goyangkan pinggulku sambil kuhisap putingnya dalam-dalam.”Reennn…achh..shhh…fuck me…hardd…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan gerakan tubuh Vini semakin menggila dan bukan cuma itu bibirnya semakin mengganas memagut bahkan menggigit bibir, telinga dan leherku. Akupun tidak sanggup lagi menahan kenikmatan yang diberikan oleh Vini, kurebahkan tubuhnya dan segera menindihnya, kakinya melingkar di pinggulku dan kamipun kembali mendaki puncak kenikmatan. Batang kejantananku tak henti-henti menikam-nikam lubang kenikmatan Vini dengan keras, Ia tidak tinggal diam, diputar-putar pinggulnya seirama tikaman-tikamanku ”Aghhhh…..ngggg…ssshhhh…Vinnnn…nikmat sekali…putarrrr terusss Vinnn…”pintaku merintih-rintih. ”Auugghhh…Rennn…tekan yang dalammm …” kami tenggelam dalam gelimang birahi yang memuncak…dan…”Vini…akuu mau keluar…”kurasakan kejantanku bertambah besar. ”Yesss…yesss…I’m coming too honey…” kami berpelukan dengan kuatnya dan secara bersamaan mengejang. ”AAAKKKKHHH….punya kamu enak sekaliii Vinnnnn….”pekikku, kutekan dalam-dalam kejantananku dan cairan kenikmatanku pun menyembur keluar membasahi relung-relung kewanitaannya, ”Aauughhhh Rennnn…nikmattttt….sshhhekalliii…AAAAAKKKKGGHHH…” Kamipun terkapar lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah malam panjang yang indah itu kami tak henti-hentinya mengulangi lagi di hari-hari berikutnya, bukan hanya di tempat tidur, tapi semua sudut dikamar hotel itu bahkan kamar mandipun menjadi saksi bisu birahi kami. Bandung kembali memberi coretan khusus dalam hidupku membuat keterikatanku semakin besar yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7501232687625531161-636882361944235880?l=dennythejaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dennythejaya.blogspot.com/feeds/636882361944235880/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7501232687625531161&amp;postID=636882361944235880' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/636882361944235880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/636882361944235880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dennythejaya.blogspot.com/2011/05/bandung-lautan-birahi.html' title='Bandung lautan birahi'/><author><name>denny</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7501232687625531161.post-8936212094441061440</id><published>2011-05-06T14:27:00.000-07:00</published><updated>2011-05-06T14:28:55.196-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pacar Teman.Seks.Binal'/><title type='text'>belenggu rindu</title><content type='html'>Siang itu di sebuah rumah yang cukup asri, seorang gadis yang berambut panjang terurai dengan raut wajah yang manis terlihat sedang menanti kedatangan seseorang. Tiba-tiba datang seorang pemuda yang mengenakan kaos biru di padu dengan jeans warna serupa. Dia berjalan menuju kerumah gadis yang sedang asyik duduk di depan rumahnya, si gadis sesekali mengawasi depan rumahnya kalau-kalau yang di tunggu sudah datang atau belum. Dengan senyum yang manis kemudian gadis itu menyapa sang pemuda yang kelihatan rapi, harum dan segar siang itu. "Hallo Mas Adietya sayang.." sapanya dengan panggilan khas yang mesra ke padaku. "Hallo juga.. Sayang," balasku pendek. "Sudah lama yah nunggunya," lanjutku lagi. Antara aku dan si gadis memang terlihat mesra di setiap kesempatan apa aja. Baik itu melalui panggilan ataupun sikap terhadap masing-masing. Seperti halnya siang itu, yang kebetulan keadaan di rumah sang gadis nampaknya sedang sepi,&lt;div class="fullpost"&gt; dia bilang ortunya lagi ke rumah saudaranya yang pulangnya nanti sore. Dengan masih menyimpan rasa rindu yang tertahan, aku memeluk gadis pujaanku dengan mesra, sambil membisikan kata. "Adiet kangen banget nih sayang," bisikku di telinga nya sambil mencumbu daun telinganya. "aku juga kangen Mas sayang.." jawabnya pelan. Kemudian kita terlibat perbincangan sesaat, yang selanjutnya aku merengkuh bahu si gadis dan mengajaknya masuk ke dalam ruangan tamu. Di sofa kita duduk sangat dekat sekali, sampai-sampai kita bisa merasakan hembusan nafas masing-masing, saat kita bertatapan wajah. "Kamu cantik sekali siang ini sayang.." kataku lembut. Sembari tanganku meremas kedua tangannya dan kemudian aku lanjutkan untuk menarik tubuhnya lebih rapat. Si gadis tak menjawab hanya tersipu raut wajahnya, yang di ekspresikan dengan memelukku erat. Tanganku kemudian memegang kedua pipinya dan tak lama bibirku sudah mengulum bibirnya yang terbuka sedikit dan bentuknya yang ranum, sembari dia memejamkan kedua bola matanya. Lidahku bermain di rongga mulutnya untuk memberikan perasaan yang membuat nya mendesah sesaat setelahnya. Di balik punggungnya jemari tanganku dengan lembut masuk ke dalam kaos warna putihnya dan mencoba membuka kaitan bra dari belakang punggungnya. Dengan dua kali gerakan, terbukalah kaitan bra hitamnya yang berukuran 36b itu. Jemari tanganku langsung mengelus tepian payudaranya yang begitu kenyal dan menggairahkan itu. Dan tak lama setelah itu jariku sudah memilin putingnya yang mulai keras, yang nampaknya dia mulai menikmati dan sudah terangsang diiringi dengan desahannya yang sensual. "Ohh.. Mas sayang.." desahnya lembut. Sambil memilin, bibirku tak lepas dari bibirnya dan menyeruak lebih ke dalam yang sesekali mulutku menghisap lidahnya keluar masuk. Selanjutnya dengan gerakan pelan aku membuka kaos putihnya dan langsung mulutku menelusuri payudaranya dan berakhir di putingnya yang menonjol kecil. Aku menjulurkan lidahku tepat di ujung payudaranya, yang membuat dia menggelinjang dan mendesah kembali. "Ohh.. Mas sayang.. Enak sekali." Sesaat aku menghentikan cumbuanku kepadanya dan memegang kedua pipinya kembali sambil membisikkan kata. "Sayang.. Payudara kamu sungguh indah bentukya," bisikku lirih di telinganya. Sang gadis hanya mengulum senyumnya yang manis sembari kembali memelukku mesra. Dengan mesra aku mengajak si gadis berjalan ke arah kamarnya yang lumayan besar dan bersih. Layaknya kamar seorang gadis yang tertata rapi dan aroma segar wangi bunga-bunga yang ada ditaman depan kamarnya terhirup olehku saat memasukinya. Tak berselang lama kemudian, aku mengangkat tubuh sexy sang gadis dan meletakkannya di atas meja belajar yang ada di kamarnya. Sang gadis masih mengenakan celana jeansnya, kecuali bagian atasnya yang sudah terbuka saat kita berasyik masyuk di ruang tamu. Perlahan aku memeluk tubuh sang gadis kembali, yang aku lanjutkan dengan menjelajahi leher jenjangnya dengan lembut. Bibirku mencumbui setiap senti permukaan kulitnya dan berpindah sesaat ketika lidahku mencapai belakang telinganya dan membuat tubuh sang gadis kembali bergetar pelan. Desahan dan getaran tubuhnya menandakan kalau sang gadis sudah sangat terangsang oleh setiap cumbuanku. Tanganku tak tinggal diam sementara bibirku mencumbui setiap titik sensitif yang ada di tubuh sang gadis. Jemariku mulai mengarah kebawah menuju celana jeans nya dan tanpa kesulitan aku menurunkan resliting celananya yang nampak olehku pinggiran celana dalam warna hitamnya yang sexy. Kemudian aku melemparkan celana jeansnya ke lantai dan seketika tanganku dengan lembut merengkuh bongkahan pantatnya yang padat berisi. Aku mengelus kedua bongkahannya pelan dan sesekali jariku menyelip di antara tepian celana dalamnya yag membuat bibirnya kembali bergetar mendesah lirih. "Oh.. Mas sayang.." desahnya parau. Bibirku yang sejak tadi bermain di atas, kemudian berpindah setelah aku merasakan cukup untuk merangsangnya di bagian itu. Lidahku menjulur lembut ketika mencapai permukaan kulit perutnya yang berakhir di pusarnya dan bermain sejenak yang mengakibatkan tubuhnya menggelinjang kedepan. "Ssshh.." desisnya lirih. Perlahan kemudian aku mulai menurunkan celana dalamnya dan aku membiarkan menggantung di lututnya yang sexy. Kembali aku melanjutkan cumbuan yang mengarah ke tepian pangkal pahanya dengan lembut dan sesekali aku mendengar sang gadis mendesah lagi. Aku mencium aroma khas setelah lidahku mencapai bukitnya yang berbulu hitam dan lebat sekali, namun cukup terawat terlihat olehku sekilas dari bentuk bulu vaginanya yang menyerupai garis segitiga. Dan tak lama lidahku sudah menjilati bibir luar vaginanya dengan memutar ujung lidahku lembut. Kemudian aku lanjutkan dengan menjulurkan lebih ke dalam lagi untuk mencapai bibir dalamnya yang sudah sangat basah oleh lendir kenikmatan yang di keluarkan dari lubang vaginanya. Tubuh sang gadis mengelinjang perlahan bersamaan dengan tersentuhnya benjolan kecil di atas vagina miliknya oleh ujung lidahku. "Ohh.. Mas sayang" jeritnya tertahan. "Aku nggak kuat Mas.." tambahnya lirih. Yang aku lanjutkan dengan menghentikan tindakanku sesaat. Aku menurunkan tubuh sang gadis dari atas meja, kemudian aku berdiri tepat di hadapanya yang sudah berjongkok sambil menatap penisku yang sudah berdiri tegang sekali. Dengan gerakan lincah bibir sang gadis langsung mengulum kepala penisku dengan lembut dan memutar lidahnya di dalam mulutnya yang mungil dan memilin kepala penisku yang mengkilat. Tubuhku bergetar hebat ketika menerima semua gerakan erotis mulai dari jemari tangannya yang lembut mengelus batang penisku serta bibir dan lidahnya yang lincah menelusuri buah zakarku. "Ohh.. Sayang" desahku pelan. Rambutnya yang hitam panjang ku remas sebagai expresi dari kenikmatan yang mengalir di sekujur tubuhku. Setelah beberapa saat sang gadis menjelajahi organ sensitifku, aku merengkuh bahunya serta memintanya berdiri dan kembali aku mendudukkan pantatnya yang padat berisi di tepian meja sementara salah satu kaki jenjangnya menjuntai ke lantai. Dengan gerakan lembut aku mengangkat paha kirinya dan bertumpu pada lenganku, di saat selanjutnya tangan kiriku memegang batang penisku yang sudah sangat tegang sekali menahan rangsangan yang menggelora dan mengarahkannya tepat di bibir vaginanya yang sudah basah oleh lendir birahi. Pada saat bersamaan ujung telunjukku juga mengelus belahan antara anus dan bibir bawah vaginyanya. "Oh.. Mas sayang.. Please.. Aku enggak kuat" jeritnya lirih. Aku masih belum merespon atas jeritan lirihnya, sebaliknya aku menundukkan kepala untuk kembali menjilati kedua payudaranya bergantian dan berakhir di puting payudara yang sebelah kiri. Gerakanku membuatnya menggelinjang dan semakin keras desahannya terdengar. "Ohh.. Mas sayang.. Sekarang yah" pintanya lirih, dengan mata yang sayup penuh nafsu. Perlahan aku mengarahkan batang penisku tepat di belahan vaginanya dan mendorongnya lembut. "Slepp.." irama yang di timbulkan ketika penisku sudah menyeruak bibir vaginanya. Kembali bibir sang gadis mengeluarkan desahan sexynya. "Hekk.. Mmm.." gumamnya lirih. Setengah dari batang penisku sudah masuk ke dalam vaginanya, yang aku padukan dengan gerakan bibirku mengulum bibirnya yang ranum serta memilin dan memutar ujung lidahnya lembut. Untuk menambah kenikmatan buat dirinya, aku mulai memajukan sedikit demi sedikit sisa batang penisku ke rongga vaginanya yang paling dalam dan aku mengarahkan ujung penisku menyentuh G-spotnya. Mulut sang gadis menggumam lirih karena mulutku juga masih mengulum bibirnya. "Mmm.. Mmm" gumamnya. Sambil menahan nikmat, tangan sang gadis menyentuh buah zakarku dan memijitnya lembut yang membuat tubuhku ikut mengelinjang menahan kenikmatan yang sama. Pinggulku membuat gerakan maju mundur untuk kesekian kalinya dan sepertinya sang gadis akan mendapatkan orgasme pertamanya ditandai dengan gerakan tangannya yang merengkuh bahuku erat dan menggigit bibir bawahnya lirih. "Ohh.. Mas sayangg.." jeritnya bergetar. Bersamaan dengan aliran hangat yang kurasakan di dalam, rongga vaginanya menjepit erat batang penisku. Tangannya merengkuh bongkahan pantatku serta menariknya lebih erat lagi. Tak lama berselang sang gadis kemudian tersenyum manis dan mengecup bibirku kembali sambil mengucapkan kata. "Thanks yah.. Mas sayang"ucapnya mesra. Aku membalasnya dengan memberikan senyum dan mengatakan. "Aku bahagia.. kalau sayang bisa menikmati semua ini" ucapku kemudian. Hanya beberapa saat setelah sang gadis mendapatkan orgasmenya, aku membalikkan tubuhnya membelakangiku sembari kedua tanganya berpegang pada pingiran meja. Dengan pelan kutarik pinggangnya sambil memintanya menunduk, maka nampaklah di depanku bongkahan pantatnya yang sexy dengan belahan vaginanya yang menggairahkan. Perlahan aku memajukan tubuhku sambil memegang batang penisku dan mengarahkannya tepat di bibir vaginanya, sementara kaki kananku mengeser kaki kanannya untuk membuka pahanya sedikit melebar. Dengan gerakan mantap penisku menyeruak sedikit demi sedikit membelah vaginanya lembut. "Slepp.." masuklah setengah batang penisku ke dalam rongga vaginanya. "Sss.." sang gadis mendesah menerima desakan penisku. Tanganku perlahan meremas payudaranya dari belakang mulai dari yang sebelah kiri dan dilanjutkan dengan yang sebelah kanan secara bergantian. Sementara pinggulku memulai gerakan maju mundur untuk kembali menyeruak rongga vaginanya lebih dalam. Posisi ini menimbulkan sensasi tersendiri dimana seluruh batang penisku dapat menyentuh G-spotnya, sementara tanganku dengan bebas menjelajahi seluruh organ sensitifnya mulai dari kedua payudara berikut putingnya dan belahan anus dan bagian tubuh lainnya. "Ohh.. Mas sayang" desahnya. Ketika ujung jemariku menyentuh lubang anusnya sambil aku berkonsentrasi memaju mundurkan penisku. Setelah cukup beberapa saat aku menggerakan pinggulku memompa belahan vaginanya. Dengan gerakan lembut aku menarik wajahnya mendekat, masih dalam posisi membelakangiku aku mengulum bibirnya dan meremas kedua payudaranya lembut. "Sayang aku mau keluar nih," bisiku lirih. "Ohh.. Mas sayang aku juga mau" sahutnya pelan. Aku mempercepat gerakanku memompa vaginanya dari belakang tanpa melepas ciumanku di bibirnya dan remasan ku di kedua payudaranya. Pada saat terakhir aku mencengkeram kedua pinggulnya erat dan memajukan penisku lebih dalam. "Creett.. Ohh.. Sayang," jeritku kemudian. Menyemburlah spermaku yang cukup banyak ke dalam rongga vaginanya dan beberapa tetes meleleh keluar mengalir di kedua pahanya. Untuk beberapa saat aku mendiamkan kejadian ini sampai akhirnya penisku mengecil dengan sendirinya di dalam vaginanya yang telah memberikan kenikmatan yang tak bisa aku ungkapkan. Demikianlah rasa rinduku terhadap kekasihku setelah beberapa lamanya tidak saling bertemu. E N D&lt;br /&gt;Home&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7501232687625531161-8936212094441061440?l=dennythejaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dennythejaya.blogspot.com/feeds/8936212094441061440/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7501232687625531161&amp;postID=8936212094441061440' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/8936212094441061440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/8936212094441061440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dennythejaya.blogspot.com/2011/05/belenggu-rindu.html' title='belenggu rindu'/><author><name>denny</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7501232687625531161.post-5078133447343810586</id><published>2011-05-06T13:21:00.000-07:00</published><updated>2011-05-06T13:22:47.614-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puncak.seks.dada.enak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Selingkuh'/><title type='text'>Pak Rt ku perkasa</title><content type='html'>Aku tinggal di kompleks perumahan BTN di Jakarta. Suamiku termasuk orang yang selalu sibuk. Sebagai arsitek swasta, tugasnya boleh dibilang tidak kenal waktu. Walaupun dia sangat mencintaiku, bahkan mungkin memujaku, aku sering kesepian. Aku sering sendirian dan banyak melamun membayangkan betapa hangatnya dalam sepi itu Mas Adit, begitu nama suamiku, ngeloni aku. Saat-saat seperti itu membuat libidoku naik. Dan apabila aku nggak mampu menahan gairah seksualku, aku ambil buah ketimun yang selalu tersedia di dapur. Aku melakukan masturbasi membayangkan dientot oleh seorang lelaki, yang tidak selalu suamiku sendiri, hingga meraih kepuasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sering hadir dalam khayalan seksualku justru Pak Parno, Pak RT di kompleks itu. Walaupun usianya sudah di atas 55 tahun, 20 tahun di atas suamiku dan 27 tahun di atas umurku, kalau membayangkan Pak Parno ini, aku bisa cepat meraih orgasmeku. Bahkan saat-saat aku bersebadan dengan Mas Aditpun, tidak jarang khayalan seksku membayangkan seakan Pak Parnolah yang sedang menggeluti aku. Aku nggak tahu kenapa. Tetapi memang aku akui, selama ini aku selalu membayangkan kemaluan lelaki yang gedee banget. Nafsuku langsung melonjak kalau khayalanku nyampai ke sana. Dari tampilan tubuhnya yang tetap kekar dan kokoh walaupun tua, aku bayangkan kontol Pak Parno juga kekar dan kokoh. Gede, panjang dan pasti tegar dilingkari dengan urat-urat di sekeliling batangnya. Ooohh.., betapa nikmatnya dientot kontol macam itu ..&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kompleks itu, di antara ibu-ibu atau istri-istri, aku merasa akulah yang paling cantik. Dengan usiaku yang 28 tahun, tinggi 158 cm dan berat 46 kg, orang-orang bilang tubuhku sintal banget. Mereka bilang aku seperti Sarah Ashari, selebrity cantik yang binal adik dari Ayu Ashari bintang sinetron. Apalagi kalau aku sedang memakai celana jeans dengan blus tipis yang membuat buah dadaku yang cukup besar membayang. Hatiku selangit mendengar pujian mereka ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu ketika, tetangga kami punya hajatan, menyunatkan anaknya. Biasa, kalau ada tetangga yang punya kerepotan, kami se-RT rame-rame membantu. Apa saja, ada yang di dapur, ada yang ngurus pelaminan, ada yang bikin hiasan atau menata makanan dan sebagainya. Aku biasanya selalu kebagian bikin pelaminan. Mereka tahu aku cukup berbakat seni untuk membuat dekorasi pelaminan itu. Mereka selalu puas dengan hasil karyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggunakan bahan-bahan dekorasi yang biasanya aku beli di Pasar Senen. Pagi itu ada beberapa bahan yang aku butuhkan belum tersedia. Di tengah banyak orang yang pada sibuk macam-macam itu, aku bilang pada Mbak Surti, yang punya hajatan, untuk membeli kekurangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Kebetulan Bu Mar, tuh Pak Parno mau ke Senen, mbonceng saja sama dia', Bu Kasno nyampaikan padaku sambil nunjuk Pak Parno yang nampak paling sibuk di antara bapak-bapak yang lain.&lt;br /&gt;'Emangnya Pak Parno mau cari apaan?, aku nanya.&lt;br /&gt;'Inii, mau ke tukang tenda, milih bentuk tenda yang mau dipasang nanti sore. Sama sekalian sound systemnya', Pak Parno yang terus sibuk menjawab tanpa menengok padaku.&lt;br /&gt;'Iyaa deh, aku pulang bentar ya Pak Parno, biar aku titip kunci rumah buat Mas Adit kalau pulang nanti'. Segalanya berjalan seperti air mengalir tanpa menjadikan perhatian pada orang-orang sibuk yang hadir disitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 10 menit kemudian, dengan celana jeans dan blus kesukaanku, aku sudah duduk di bangku depan, mendampingi Pak Parno yang nyopirin Kijangnya. Udara AC di mobil Pak Parno nyaman banget sesudah sepagi itu diterpa panasnya udara Jakarta. Pelan-pelan terdengar alunan dangdut dari radio Mara yang terdapat di mobil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku jadi ingat kebiasaanku mengkhayal. Dan sekarang ini aku berada dalam mobil hanya berdua dengan Pak Parno yang sering hadir sebagai obyek khayalanku dalam hubungan seksual. Tak bisa kutahan, mataku melirik ke arah selangkangan di bawah kemudi mobilnya. Dia pakai celana drill coklat muda. Aku lihat di arah pandanganku itu nampak menggunung. Aku nggak tahu apakah hal itu biasa. Tetapi khayalanku membayangkan itu mungkin kontolnya yang gede dan panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku menelan ludahku membayangkan apa di balik celana itu, tiba-tiba tangan Pak Parno nyelonong menepuk pahaku. 'Dik Marini mau beli apaan? Di Senen sebelah mana?', sambil dia sertai pertanyaan ini dengan nada ke-bapak-an.&lt;br /&gt;Dan aku bener-bener kaget lho. Aku nggak pernah membayangkan Pak RT ini kalau ngomong sambil meraba yang di ajak ngomong.&lt;br /&gt;'Kertas emas dan hiasan dinding, Pak. Di sebelah toko mainan di pasar inpress ituu..', walaupun jantungku langsung berdegup kencang dan nafasku terasa sesak memburu, aku masih berusaha se-akan-akan tangan Pak Parno di pahaku ini bukan hal yang aneh.&lt;br /&gt;Tetapi rupanya Pak Parno nggak berniat mengangkat lagi tangannya dari pahaku, bahkan ketika dia jawab balik, 'Ooo, yyaa.. aku tahu ..', tangannya kembali menepuk-nepuk dan digosok-gosokkanya pada pahaku seakan sentuhan bapak yang melindungi anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ooouuiihh.. aku merasakan kegelian yang sangat, aku merasakan desakan erotik, mengingat dia selalu menjadi obyek khayalan seksualku. Dan saat Pak Parno merabakan tangannya lebih ke atas menuju pangkal pahaku, reaksi spontanku adalah menurunkan kembali ke bawah. Dia ulangi lagi, dan aku kembali menurunkan. Dia ulangi lagi dan aku kembali menurunkan. Anehnya aku hanya menurunkan, bukan menepisnya. Yang aku rasakan adalah aku ingin tangan itu memang tidak diangkat dari pahaku. Hanya aku masih belum siap untuk lebih jauh. Nafasku yang langsung tersengal dan jantungku yang berdegap-degup kencang belum siap menghadapi kemungkinan yang lebih menjurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Parno mengalah. Tetapi bukan mengalah bener-bener. Dia tidak lagi memaksakan tangannya untuk menggapai ke pangkal pahaku, tetapi dia rubah. Tangan itu kini meremasi pahaku. Gelombang nikmat erotik langsung menyergap aku. Aku mendesah tertahan. Aku lemes, tak punya daya apa-apa kecuali membiarkan tangan Pak Parno meremas pahaku. 'Dik Maarr..', dia berbisik sambil menengok ke aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba di depan melintas bajaj, memotong jalan. Pak Parno sedikit kaget. Otomatis tangannya melepas pahaku, meraih presnelling dan melepas injakan gas. Kijang ini seperti terangguk. Sedikit badanku terdorong ke depan. Selepas itu tangan Pak Parno dikonsentrasikan pada kemudi. Jalanan ke arah Senen yang macet membuat sopir harus sering memindah presnelling, mengerem, menginjak gas dan mengatur kemudi. Aku senderkan tubuhku ke jok. Aku nggak banyak ngomong. Aku kepingin tangan Pak Parno itu kembali ke pahaku. Kembali meremasi. Dan seandainya tangan itu merangkak ke pangkal pahaku akan kubiarkan. Aku menjadi penuh disesaki dengan birahi. Mataku kututup untuk bisa lebih menikmati apa yang barusan terjadi dan membiarkan pikiranku mengkhayal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar. Sesudah jalanan agak lancar, tangan Pak Parno kembali ke pahaku. Aku benar-benar mendiamkannya. Aku merasakan kenikmatan jantungku yang terpacu dan nafasku yang menyesak dipenuhi rangsangan birahi. Langsung tangan Pak Parno meremasi pahaku. Dan juga naik-naik ke pangkal pahaku. Tanganku menahan tangannya. Eeeii malahan ditangkapnya dan diremasinya. Dan aku pasrah. Aku merespon remasannya. Rasanya nikmat untuk menyerah pada kemauan Pak Parno. Aku hanya menutup mata dengan tetap bersender di jok sambil remasan di tangan terus berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali aku nyeletuk,&lt;br /&gt;'N'tar dilihat orang Pak',&lt;br /&gt;'Ah, nggaakk mungkin, kacanya khan gelap. Orang nggak bisa melihat ke dalam', aku percaya dia.&lt;br /&gt;Sesudah beberapa saat rupanya desakan birahi pada Pak Parno juga menggelora,&lt;br /&gt;'Dik Mar.. kita jalan-jalan dulu mau nggak?', dia berbisik ..&lt;br /&gt;'Kemana..?', pertanyaanku yang aku sertai harapan hatiku ..&lt;br /&gt;'Ada deh.. Pokoknya Dik Mar mau khan..'.&lt;br /&gt;'Terserah Pak Parno.., Tapinya n'tar ditungguin orang-orang .., n'tar orang-orang curiga .. lho'.&lt;br /&gt;'Iyaa, jangan khawatirr.., paling lama sejamlah.', sambil Pak Parno mengarahkan kemudinya ke tepi kanan mencari belokan ke arah balik. Aku nggak mau bertanya, mau ngapain 'sejam'??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persis di bawah jembatan penyeberangan dekat daerah Galur, Pak Parno membalikkan mobilnya kembali menuju arah Cempaka Putih. Ah.. Pak Parno ini pasti sudah biasa begini. Mungkin sama ibu-ibu atau istri-istri lainnya. Aku tetap bersandar di jok sambil menutup mataku pura-pura tiduran. Dengan penuh gelora dan deg-degan jantungku, aku menghadapi kenyataan bahwa beberapa saat lagi, mungkin hanya dalam hitungan menit, akan mengalami saat-saat yang sangat menggetarkan. Saat-saat seperti yang sering aku khayalkan. Aku nggak bisa lagi berpikir jernih. Edan juga aku ini.., apa kekurangan Mas Adit, kenapa demikian mudah aku menerima ajakan Pak Parno ini. Bahkan sebelumnya khan belum pernah sekalipun selama 8 tahun pernikahan aku disentuh apalagi digauli lelaki lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang aku rasakan sekarang ini hanyalah aku merasa aman dekat Pak Parno. Pasti dia akan menjagaku, melindungiku. Pasti dia akan mengahadpi aku dengan halus dan lembut. Bagaimanapun dia adalah Pak RT kami yang selama ini selalu mengayomi warganya. Pasti dia nggak akan merusak citranya dengan perbuatan yang membuat aku sakit atau terluka. Dan rasanya aku ingin banget bisa melayani dia yang selama ini selalu jadi obyek khayalan seksualku. Biarlah dia bertindak sesuatu padaku sepuasnya. Dan juga aku ingin merasakan bagaimana dia memuaskan aku pula sesuai khayalanku.&lt;br /&gt;Agu gemetar hebat. Tangan-tanganku gemetar. Lututku gemetar. Kepalaku terasa panas. Darah yang naik ke kekepalaku membuat seakan wajahku bengap. Dan semakin kesana, semakin aku nggak bisa mencabut persetujuanku atas ajakan 'jalan-jalan dulu' Pak Parno ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba mobil terasa membelok ke sebuah tempat. Ketika aku membuka mata, aku lihat halaman yang asri penuh pepohonan. Di depan mobil nampak seorang petugas berlarian menuntun Pak Parno menuju ke sebuah garasi yang terbuka. Dia acungkan tangannya agar Pak Parno langsung memasuki garasi berpintu rolling door itu, yang langsung ditutupnya ketika mobil telah yakin berada di dalam garasi itu dengan benar. Sedikit gelap. Ada cahaya kecil di depan. Ternyata lampu di atas sebuah pintu yang tertutup. Woo.. aku agak panik sesaat. Tak ada jalan untuk mundur. Kemudian kudengar Pak Parno mematikan mesin mobilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Nyampai Dik Mar ..',&lt;br /&gt;'Di mana ini Pak ..?', terus terang aku nggak tahu di mana tempat yang Pak Parno mengajak aku ini. Tetapi aku yakin inilah jenis 'motel' yang sering aku dengar dari temen-temen dalam obrolan-obrolan porno dalam arisan yang diselenggarakan ibu-ibu kompleks itu.&lt;br /&gt;Pak Parno tidak menjawab pertanyaanku, tetapi tangannya langsung menyeberang melewati pinggulku untuk meraih setelan jok tempat dudukku. Jok itu langsung bergerak ke bawah dengan aku tergolek di atasnya. Dan yang kurasakan berikutnya adalah bibir Pak Parno yang langsung mencium mulutku dan melumat. Uh uh uh .. Aku tergagap sesaat.. sebelum aku membalas lumatannya. Kami saling melepas birahi. Aku merasakan lidahnya menyeruak ke rongga mulutku. Dan reflekku adalah mengisapnya. Lidah itu menari-nari di mulutku. Bau lelaki Pak Parno menyergap hidungku. Beginilah rasanya bau lelaki macam Pak Parno ini. Bau alami tanpa parfum sebagaimana yang sering dipakai Mas Adit. Bau Pak RT yang telah 55 tahun tetapi tetap memancarkan kelelakian yang selama ini selalu menyertai khayalanku saat masturbasi maupun saat aku disebadani Mas Adit. Bau yang bisa langsung menggebrak libidoku, sehingga nafsu birahiku lepas dengan liarnya saat ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil melumat, tangan-tangan Pak Parno juga merambah tubuhku. Jari-jarinya melepasi kancing-kancing blusku. Kemudian kurasakan remasan jari kasar pada buah dadaku. Uuiihh .. tak tertahankan. Aku menggelinjang. Menggeliat-geliat hingga pantatku naik-naik dari jok yang aku dudukin disebabkan gelinjang nikmat yang dahsyat. Sekali lagi aku merasa edaann .. aku digeluti Pak RT ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibir Pak Parno melumatku, dan aku menyambutnya dengan penuh kerelaan yang total. Akulah yang sesungguhnya menantikan kesempatan macam ini dalam banyak khayalan-khayalan erotikku. Ohh .. Pak Parnoo .. Tolongin akuu Pakee .. Puaskanlah menikmati tubuhkuu ..Paak, .. semua ini untuk kamu Paak .. Aku hauss .. Paak .. Tulungi akuu Paakk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Kita turun yok Dik Mar .., kita masuk dulu ..', Pak Parno menghentikan lumatannya dan mengajak aku memasuki motel ini.&lt;br /&gt;Begitu masuk kudengar telpon berdering. Rupanya dari kantor motel itu. Pak Parno menanyakan aku mau minum apa, atau makanan apa yang aku inginkan yang bisa diantar oleh petugas motel ke kamar. Aku terserah Pak Parno saja. Aku sendiri buru-buru ke kamar kecil yang tersedia. Aku kebelet pengin kencing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kembali ke peraduan kulihat Pak Parno sudah telentang di ranjang. Agak malu-malu aku masuk ke kamar tidur ini, apalagi setelah melihat sosok tubuh Pak Parno itu. Dia menatapku dari ekor matanya, kemudian memanggil, 'Sini Dik Mar .. ', uh uh .. Omongan seperti itu .. masuk ketelingaku pada saat macam begini ..aku merasakan betapa sangat terangsang seluruh syaraf-syaraf libidoku. Aku, istri yang sama sekali belum pernah disentuh lelaki lain kecuali suamiku, hari ini dengan edannya berada di kamar motel dengan seseorang, yaitu Pak Parno, yang Pak RT kompleks rumahku, yang bahkan jauh lebih tua dari suamiku, bahkan hampir 2 kali usiaku sendiri. Dan panggilanya yang ..'Sini Dik Mar', itu .. terasa sangat erotis di telingaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku inilah yang disebut istri nyeleweng. Aku inilah istri yang selingkuh..uh uh uh .. Kenapa begitu dahsyat birahi yang melandaku kini. Birahi yang didongkrak oleh pengertiannya akan makna selingkuh dan aku tetap melangkah ke dalamnya. Birahi yang dibakar oleh pengertian nyeleweng dan aku terus saja melanggarnya. Uhh .. aku nggak mampu menjawab semuanya kecuali rasa pasrah yang menjalar .. Dan saat aku rubuh ke ranjang itu, yang kemudian dengan serta merta Pak Parno menjemputku dengan dekapan dan rengkuhan di dadanya, aku sudah benar-benar tenggelam dalam pesona dahsyatnya istri yang nyeleweng dan selingkuh, yang menunggu saat-saat lanjutannya yang akan dipenuhi kenikmatan dan gelinjang yang pasti sangat hebat bagi istri penyeleweng pemula macam aku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Dik Mar .. Aku sudah lama merindukan Dik Mar ini. Setiap kali aku lihat itu gambar bintang film Sarah Ashari yang sangat mirip Dik Mar .. Hatiku selalu terbakar .. Kapann aku bisa merangkul Dik Mar macam ini ..'.&lt;br /&gt;Bukan main ucapan Pak Parno. Telingaku merasakan seperti tersiram air sejuk pegunungan. Berbunga-bunga mendengar pujian macam itu. Dan semakin membuat aku rela dan pasrah untuk digeluti Pak Parno yang gagah ini. Pak Parnoo ..Kekasihkuu.. Dia balik dan tindih tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia langsung melahap mulutku yang gelagapan kesulitan bernafas. Dia masukkan tangannya ke blusku. Dirangkulinya tubuhku, ditekankannya bibirnya lebih menekan lagi. Disedotnya lidahku. Disedotnya sekaligus juga ludahku. Sepertinya aku dijadikan minumannya. Dan sungguh aku menikmati kegilaannya ini. Kemudian tangannya dia alihkan, meremasi kedua susuku yang kemudian dilepaskannya pula. Ganti bibirnyalah yang menjemput susuku dan puting-putingnya. Dia jilat dan sedotin habis-habisan. Dan yang datang padaku adalah gelinjang dari saraf-sarafku yang meronta. Aku nggak mampu menahan gelinjang ini kecuali dengan rintihan yang keluar dari mulutku ..Pakee ..Pakee .. Pakee ..ampun nikmattnya Pakee..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya yang lepas dari susuku turun untuk meraih celana jeansku. Dilepasi kancing celanaku dan dibuka resluitingnya. Tangannya yang besar dan kasar itu mendorongnya hingga celanaku merosot ke paha. Kemudian tangan itu merogoh celana dalamku. Aaaiiuuhh.. tak terperikan kenikmatan yang mendatangi aku. Aku tak mampu menahan getaran jiwa dan ragaku. Saat-saat jari-jari kasar itu merabai bibir kemaluanku dan kemudian meremasi kelentitku ..aku langsung melayang ke ruang angkasa tak bertepi. Kenikmatan .. sejuta kenikmatan .. ah .. Selaksa juta kenikmatan Pak Parno berikan padaku lewat jari-jari kasarnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jari-jari itu juga berusaha menusuk lubang vaginaku. Aku rasakan ujungnya-unjungnya bermain di bibir lubang itu. Cairan birahiku yang sudah menjalar sejak tadi dia toreh-toreh sebagai pelumas untuk memudahkan masuknya jari-jarinya menembusi lubang itu. Dengan bibir yang terus melumati susuku dan tangannya merangsek kemaluanku dengan jari-jarinya yang terus dimainkan di bibir lubang vaginaku ..Ohh.. kenapa aku ini ..Ooohh.. Mas Adit .. maafkanlah akuu .. Ampunilahh .. istrimu yang nggak mampu mengelak dari kenikmatan tak bertara ini .. ampunilah Mas Adit .. aku telah menyelewengg .. aku nggak mampuu maass ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Parno terus menggumuli tubuhku. Blusku yang sudah berantakan memudahkan dia merangsek ke ketiakku. Dia jilati dan sedoti ketiakku. Dia nampak sekali menikmati rintihan yang terus keluar dari bibirku. Dia nampaknya ingin memberikan sesuatu yang nggak pernah aku dapatkan dari suamiku. Sementara jari-jarinya terus menusuki lubang vaginaku. Dinding-dindingnya yang penuh saraf-saraf peka birahi dia kutik-kutik, hingga aku serasa kelenger kenikmatan. Dan tak terbendung lagi, cairan birahiku mengalir dengan derasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang semula satu jari, kini disusulkan lagi jari lainnya. Kenikmatan yang aku terimapun bertambah. Pak Parno tahu persis titik-titik kelemahan wanita. Jari-jarinya mengarah pada G-spotku. Dan tak ayal lagi. Hanya dengan jilatan di ketiak dan kobokan jari-jari di lubang vagina aku tergiring sampai titik dimana aku nggak mampu lagi membendungnya. Untuk pertama kali disentuh lelaki yang bukan suamiku, Pak Parno berhasil membuatku orgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat orgasme itu datang, kurangsek balik Pak Parno. Kepalanya kuraih dan kuremasi rambutnya. Kupeluk tubuhnya erat-erat dan kuhunjamkan kukuku ke punggungnya. Aku nggak lagi memperhitungkan bagaimana luka dan rasa sakit yang ditanggung Pak Parno. Pahaku menjepit tangannya, sementara pantatku mengangkat-angkat menjemputi tangan-tangan itu agar jarinya lebih meruyak ke lubang vaginaku yang sedang menanggung kegatalan birahi yang amat sangat. Tingkahku itu semua terus menerus diiringi racau mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat orgasme itu memuncratkan cairan birahiku aku berteriak histeris. Tangan-tanganku menjambret apa saja yang bisa kuraih. Bantalan ranjang itu teraduk. Selimut tempat tidur itu terangkat lepas dan terlempar ke lantai. Kakiku mengejang menahan kedutan vaginaku yang memuntahkan spermaku. "Sperma" perempuan yang berupa cairan-cairan bening yang keluar dari kemaluannya. Keringatku yang mengucur deras mengalir ke mataku, ke pipiku, kebibirku. Kusibakkan rambutku untuk mengurangi gerahnya tubuhku dalam kamar ber AC ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat telah reda, kurasakan tangan Pak Parno mengusap-usap rambutku yang basah sambil meniup-niup dengan penuh kasih sayang. Uh .. Dia yang ngayomi aku. Dia eluskan tangannya, dia sisir rambutku dengan jari-jarinya. Hawa dingin merasuki kepalaku. Dan akhirnya tubuhku juga mulai merasai kembali sejuknya AC kamar motel itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Dik Mar, Dik Mar hebat banget yaa hh.. Istirahat dulu yaa..?!, Saya ambilkan minum dulu yaahh ..', suara Pak Parno itu terasa menimbulkan rasa yang teduh. Aku nggak kuasa menjawabnya. Nafasku masih ngos-ngosan. Aku nggak pernah menduga bahwa aku akan mendapatkan kenikmatan sehebat ini. Kamar motel ini telah menyaksikan bagaimana aku mendapatkan kenikmatan yang pertama kalinya saat aku menyeleweng dari kesetiaanku pada Mas Adit suamiku untuk disentuhi dan digumuli oleh Pak Parno, Pak RT kampungku, yang bahkan juga sering jadi lawan main catur suamiku di saat-saat senggang. Mas Adit .. Ooohh .. maass ..maafkanlah aakuu .. maass..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara aku masih terlena di ranjang dan menarik nafas panjang sesudah orgasmeku tadi, Pak Parno terus menciumi dan ngusel-uselkan hidungnya ke pinggulku, perutku. Bahkan lidah dan bibirnya menjilati dan menyedoti keringatku. Tangannya tak henti-hentinya merabai selangkanganku. Aku terdiam. Aku perlu mengembalikan staminaku. Mataku memandangi langit-langit kamar motel itu. Menembusi atapnya hingga ke awang-awang. Kulihat Mas Adit sedang sibuk di depan meja gambarnya, sebentar-sebentar stip Staedler-nya menghapus garis-garis potlod yang mungkin disebabkan salah tarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin semua ini hanyalah soal perlakuan. Hanyalah perlakuan Mas Adit yang sepanjang perkawinan kami tidak sungguh-sungguh memperhatikan kebutuhan biologisku. Lihat saja Pak Parno barusan, hanya dengan lumatan bibirnya pada ketiakku dan kobokkan jari-jarinya yang menari-nari di kemaluanku, telah mampu memberikan padaku kesempatan meraih orgasmeku. Sementara kamu Mas, setiap kali kamu menggumuliku segalanya berjalan terlampau cepat, seakan kamu diburu-buru oleh pekerjaanmu semata. Kamu peroleh kepuasanmu demikian cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara saat nafsuku tiba dengan menggelegak, Mas Adit sudah turun dari ranjang dengan alasan ada yang harus diselesaikan, si anu sudang menunggu, atau si anu besok mau pergi dan sebagainya. Kamu ternyata sekali sangat egois. Kamu biarkan aku tergeletak menunggu sesuatu yang tak pernah datang. Menunggu Mas Adit yang hanya memikirkan kebutuhannya sendiri. Yang aku nggak tahu kapan itu datangnya .. Sepertinya aku menunggu Godotku .., menunggu sesuatu yang aku tahu nggak akan pernah datang padaku ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Dik Marni capek ya ..', bisikkan Pak Parno membangunkan aku dari lamunan.&lt;br /&gt;'Nggak Pak. Lagi narik napas saja .. Tadi koq nikmat banget yaa .., sedangkan Pak Parno belum ngapa-apain padaku .. Pakee .. Pak Parno juga hebat lhoo .. Baru di utik-utik saja aku sudah kelabakkan .. Hi hi hi ..', aku berusaha membesarkan hati Pak Parno yang telah memberikan kepuasan tak terhingga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya Pak Parno hanya ingin nge-cek bahwa aku nggak tertidur. Dengan jawabanku tadi dengan penuh semangat dia turun dari ranjang. Dia lepasin sendiri kemejanya, celana panjangnya dan kemudian celana dalamnya. Baru pertama kali ini aku melihat lelaki lain telanjang bulat di depanku selain Mas Adit suamiku. Wuuiihh .. aku sangat tergetar menyaksikan tubuh Pak Parno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usianya yang lebih dari 55 tahun itu, sungguh Pak Parno memiliki tubuh yang sangat seksi bagi para wanita yang memandangnya. Bahunya bidang. Lengannya kekar, dengan otot-otot yang kokoh. Perutnya nggak nampak membesar, rata dengan otot-otot perut yang kencang, seperti papan penggilasan. Bukit dadanya yang kokoh, dengan dua putting susu besar kecoklatan, sangat menantang menunggu gigitan dan jilatan perempuan-perempuan binal. Dari tampilan tubuhnya yang kekar dan macho ini, aku lihat Pak Parno adalah sosok penggemar olahraga yang fanatik. Otot-otot di tubuhnya menunjukkan dia sukses berolahraga selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandanganku terus meluncur ke bawah. Dan yang paling membuatku serasa pingsan adalah .. kontolnya .. Aku belum pernah melihat kontol lelaki lain .. Kontol Pak Parno sungguh-sungguh merupakan kontol yang sangat mempesona dalam pandanganku saat ini. Kontol itu besar, panjang, keras hingga nampak kepalanya berkilatan dan sangat indah. Kepalanya yang tumpul seperti helm tentara Nazi, sungguh merupakan paduan erotis dan powerful. Sangat menantang. Dengan sobekan lubang kencing yang gede, kontol itu seakan menunggu mulut atau kemaluan para perempuan yang ingin melahapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah telanjang Pak Parno juga menarik pakaianku, celana jeansku yang sedari tadi masih di separoh kakiku, kemudian blus serta kutangku dilepasnya. Kini aku dan Pak Parno sama-sama telanjang bulat. Pak Parno rebah di antara pahaku. Dia langsung nyungsep di selangkanganku. Lidahnya menjilati kemaluanku. Waduuiihh .. Ampunn .. Kenapa cara begini ini nggak pernah aku dapatkan dari Mas Aditt ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidah kasar Pak Parno menusuk dan menjilati vaginaku. Bibir-bibir kemaluanku disedotinya. Ujung lidahnya berusaha menembusi lubang vaginaku. Pelan-pelan nafsuku terpancing kembali. Lidah yang menusuk lubang vaginaku itu membuat aku merasakan kegatalan yang hebat. Tanpa kusadari tanganku menyambar kepala Pak Parno dan jariku meremasi kembali rambutnya sambil mengerang dan mendesah-desah untuk kenikmatan yang terus mengalir. Tanganku juga menekan-nekan kepala itu agar tenggelam lebih dalam ke selangkanganku yang makin dilanda kegatalan birahi yang sangat. Pantatku juga ikut naik-naik menjemput lidah di lubang vaginaku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, Pak Parno memindahkan dan mengangkat kakiku untuk ditumpangkan pada bahunya. Posisi seperti itu merupakan posisi yang paling mudah bagi Pak Parno maupun bagi aku. Dengan sedikit tenaga aku bisa mendesak-desakkan kemaluanku ke mulut Pak Parno, dan sebaliknya Pak Parno tidak kelelahan untuk terus menciumi kemaluanku. Terdengar suara kecipak mulut Pak yang beradu dengan bibir kemaluanku. Dan desahan Pak Parno dalam merasakan nikmatnya kemaluanku tak bisa disembunyikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi ini membuat kegatalan birahiku semakin tak terhingga hingga membuat aku menggeliat-geliat tak tertahankan. Pak Parno sibuk memegang erat-erat kedua pahaku yang dia panggul. Aku tidak mampu berontak dari pegangannya. Dan sampai pada akhirnya dimana Pak Parno sendiri juga tidak tahan. Rintihan serta desahan nikmat yang keluar dari mulutku merangsang nafsu birahi Pak Parno tidak bisa terbendung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah menurunkan kakiku, Pak Parno langsung merangkaki tubuhku. Digenggamnya kontolnya, diarahkan secara tepat ke lubang kemaluanku. Aku sungguh sangat menunggu detik-detik ini. Detik-detik dimana bagiku untuk pertama kalinya aku mengijinkan kontol orang lain selain suamiku merambah dan menembus memekku. Seluruh tubuhku kembali bergetar, seakan terlempar ke-awang-awang. Sendi-sendiku bergetar .. menunggu kontol Pak Parno menembus kemaluanku .. Aku hanya bisa pasrah .. Aku nggak mampu lagi menghindar dari penyelewengan penuh nikmat ini .. Maafin aku Mas Adit ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjerit kecil saat kepala tumpul yang bulat gede itu menyentuh dan langsung mendorong bibir vaginaku. Rasa kejut saraf-saraf di bibir vaginaku langsung bereaksi. Saraf-saraf itu menegang dan membuat lubang vaginaku menjadi menyempit. Dan akibatnya seakan tidak mengijinkan kontol Pak Parno itu menembusnya. Dan itu membuat aku penasaran,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Santai saja Mar, biar lemesan..', terdengar samar-samar suara Pak Parno di tengah deru hawa nafsuku yang menyala-nyala.&lt;br /&gt;'Pakee .. Pakee .. ayyoo .. Pakee tulungi saya Pakee .. Puas-puasin ya Pakee.. Saya serahin seluruh tubuh saya untuk Pakee ..', kedengerannya aku mengemis minta dikasihani.&lt;br /&gt;'Iyaa Dik Marr .. Sebentar yaa Dik Marr ..', suara Pak Parno yang juga diburu oleh nafsu birahinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala helm tentara itu akhirnya berhasil menguak gerbangnya. Bibir vaginaku menyerah dan merekah. Menyilahkan kontol Pak Parno menembusnya. Bahkan kini vaginakulah yang aktif menyedotnya, agar seluruh batang kontol gede itu bisa dilahapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uuhh .. aku merasakan nikmat desakan batang yang hangat panas memasuki lubang kemaluanku. Sesak. Penuh. Tak ada ruang dan celah yang tersisa. Daging panas itu terus mendesak masuk. Rahimku terasa disodok-sodoknya. Kontol itu akhirnya mentok di mulut rahimku. Terus terang belum pernah se-umur-umurku rahimku ngrasain disentuh kontol Mas Adit. Dengan sisa ruang yang longgar, kontol suamiku itu paling-paling menembus ke vaginaku sampai tengahnya saja. Saat dia tarik maupun dia dorong aku tidak merasakan sesak atau penuh seperti sesak dan penuhnya kontol Pak Parno mengisi rongga vaginaku saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Pak Parno mulai melakukan pemompaan. Ditariknya pelan kemudian didorongnya. Ditariknya pelan kembali dan kembali didorongnya. Begitu dia ulang-ulangi dengan frekewnsi yang makin sering dan makin cepat. Dan aku mengimbangi secara reflek. Pantatku langsung pintar. Saat Pak Parno menarik kontolnya, pantatku juga menarik kecil sambil sedikit ngebor. Dan saat Pak Parno menusukkan kontolnya, pantatku cepat menjemputnya disertai goyangan igelnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian secara beruntun, semakin cepat, semakin cepat, cepat, cepat, cepat, cepat, cepaatt ..ceppaatt. Payudaraku bergoncang-goncang, rambutku terburai, keringatku, keringat Pak Parno mengalir dan berjatuhan di tubuh masing-masing, mataku dan mata Pak Parno sama-sama melihat keatas dengan menyisakan sedikit putih matanya. Goncangan makin cepat itu juga membuat ranjang kokoh itu ikut berderak-derak. Lampu-lampu nampak bergoyang, semakin kabur, kabur, kabur. Sementara rasa nikmat semakin dominan. Seluruh gerak, suara, nafas, bunyi, desah dan rintih hanyalah nikmat saja isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Mirnaa .. Ayyoo.. Enakk nggak kontol padee Mirr, enak yaa.. enak Mirr .. ayyoo bilangg enak mana sama kontol si Adit .. Ayoo Mirr enak mana sama kontol suamimu ayoo bilangg ayyoo enakan manaa ..', Pak Parno meracau.&lt;br /&gt;'Pakee .. enhaakk.. pakee.. Enhakk kontol pakee .. Panjangg .. Uhh gedhee bangett .. pakee.. Enakan kontol Pak Parnoo ..'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi nikmat ini berlangsung bermenit-menit. Tanpa terasa pergumulan birahi ini sudah berjalan lebih dari 1 jam. Suasana erotis tampak sangat indah dan menonjol. Erangan dan desahan erotik keluar bersahut-sahutan dar mulut kami. Kulihat tubuh kekar Pak Parno tampak berkilatan karena keringatnya. Dan hal itu membuat Pak Parno jauh terlihat seksi di mataku. Kulihat keringatnya mengalir dari lehernya, terus ke dada bidangnya, dan akhirnya ke tonjolan otot di perutnya. Dengan gemas kupermainkan putting susunya yang bekilatan itu. Kugigiti, kujilati, kuremas-remas. Dan Pak Parno yang merasakan itu, tambah buas gerakannya. Sodokan kontolnya tambah kencang di memekku dan kurasakan tangan-tangannya yang kasar merambahi payudaraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, setelah hampir 2 jam kami bercinta, aku mendapat orgasmeku 2 kali secara berturut-turut. Itu yang ibu-ibu sering sebut sebagai multi orgasme. Bukan mainn .. hanya dari Pak Parno aku bisa meraih multi orgasmeku inii .. Oohh Pak Parnoo.. terima kasihh .. Pak Parno mau memuaskan akuu.. Sekarangg ayoo .. Pakee biar aku yang memuaskan kamuu .. 10 menit kemudian…&lt;br /&gt;Dan kontol Pak Parno aku rasakan berdenyut keras dan kuat sekali.. Kemudian menyusul denyut-denyut berikutnya. Pada setiap denyutan aku rasakan vaginaku sepertinya disemprot air kawah yang panas. Sperma Pak Parno berkali-kali muntah di dalam vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uhh .. Aku jadi lemess bangett .. Nggak pernah sebelumnya aku capek bersanggama. Kali ini seluruh urat-urat tubuhku serasa di lolosi. Dengan telanjang bulat kami sama telentang di ranjang motel ini. Di sinilah akhirnya terjadi untuk pertama kalinya aku serahkan nonokku beserta seluruh tubuhku kepada lelaki bukan suamiku, Pak Parno. Dan aku heran .. pada akhirnya.. tak ada rasa sesal sama sekali dari hatiku pada Mas Adit. Aku sangat ikhlaskan apa yang telah aku serahkan pada Pak Parno tadi. Dan dalam kenyataan aku mendapatkan imbalan kepuasan dari Pak Parno yang sangat hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di motel ini aku mengalami 3 kali orgasme. Dua kali beruntun aku mengalami orgasme dalam satu kali persetubuhan dan yang pertama sebelumnya, yang hanya dengan gumulan, ciuman dan jilatan Pak Parno di ketiakku sembari tangannya ngobok-obok kemaluanku aku bisa mendapatkan orgasme yang sangat memberikan kepuasan pada libidoku. Hal itu mungkin disebabkan karena adanya sensasi-sensasi yang timbul dari sikap penyelewengan yang baru sekali ini aku lakukan. Yaa.. pada akirnya aku toh berhak mendapatkannya .. tanpa menunggu Mas Adit yang sangat egois.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya aku ingin tinggal lebih lama lagi di tempat birahi ini, namun Pak Parno mengingatkan bahwa waktu bernikmat-nikmat yang pertama kali kami lakukan ini sudah cukup lama. Pak Parno khawatir orang-orang rumah menunggu dan bertanya-tanya. Pak Parno mengajak selekasnya kami meninggalkan tempat ini dan kembali menyelesaikan pekerjaan yang telah kami sanggupi pada Mbak Surti dalam rangka membantu hajatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kami mandi dan membersihkan tanda-tanda yang kemungkinan mencurigakan, kami kembali ke jalanan. Ternyata kemacetan jalan menuju ke Senen ini sangat parah di siang hari ini. Dengan adanya pembangunan jembatan layang pada belokan jalan di Galur, antrean mobil macet sudah terasa mulai dari pasar Cempaka Putih. Mobil Pak Parno serasa merangkak. Untung AC mobilnya cukup dingin sehingga panasnya Jakarta tidak perlu kami rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang kemacetan ini pikiranku selalu kembali pada peristiwa yang barusan aku alami bersama Pak Parno tadi. Lelaki tua ini memang hebat. Dia sangat kalem dan tangguh. Dia sangat sabar dan berpengalaman menguasai perempuan. Dialah yang terbukti telah memberikan padaku kepuasan seksual. Paduan kesabaran, tampilan ototnya yang kekar, postur tegap tubuhnya, serta kontol gedenya yang indah membuat aku langsung takluk secara iklas padanya. Aku telah serahkan seluruh tubuhku padanya. Dan Pak Parno tidak sekedar menerimanya untuk kepentingannya sendiri, tetapi dia sekaligus membuktikan bahwa kenikmatan hubungan seksual yang sebenar-benarnya adalah apabila pihak lelaki dan pihak perempuannya bisa mendapatkan kepuasannya secara adil dan setara. Dan aku merasakannya .. tapi .. Benar adilkah ..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah .. pertanyaan itu tiba-tiba mengganguku. Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku bahwa dari hubungan badan tadi, aku berhasil merasakan orgasmeku hingga 3 kali. Sementara Pak Parno hanya mengeluarkan spermanya sekali saja. Artinya dia meraih kepuasan dalam hubungan seksual dengan aku tadi hanya sekali. Ahh ..adakah hal ini menjadi masalah untuk hubunganku dengan Pak Parno selanjutnya ..? Kenapa dia banyak diam sejak keluar dari motel tadi ..?&lt;br /&gt;Aku menjadi gelisah, aku kasihan pada Pak Parno apabila dia masih menyimpan dorongan birahinya. Apabila belum seluruh cairan birahinya secara tuntas tertumpah. Bukankah hal demikian itu bagi lelaki akan menimbulkan semacam kegelisahan ..? Apa yang harus aku lakukan ..??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Pak, tadi puas nggak Pak..?', aku memberanikan diri untuk bertanya.&lt;br /&gt;'Bukan main Dik Mar, aku sungguh sangat puas', begitu jawabnya.&lt;br /&gt;Suatu jawaban yang sangat santun yang justru semakin besar kekhawatiranku. Jawaban macam itu pasti akan keluar dari setiap 'gentlemen'. Aku harus amati dari sudut yang lain. Kulihat dibawah kemudi Kijangnya. Nampak celananya masih menggunung. Artinya kontolnya masih ngaceng. Aku nekat. Kuraba saja tonjolan celananya itu.&lt;br /&gt;'Ininya koq masih ngaceng Pak? Masih pengin yaa?? Tadi masih mau lagi yaa??', sambil tanganku terus memijiti gundukkan itu. Dan terbukti semakin membesar dan mengeras.&lt;br /&gt;Pak Parno diam saja. Aku tahu pasti dia menikmati pijatanku ini. Aku teruskan. Tanganku meremasi, mengurut-urut.&lt;br /&gt;'Hheehh ..dik Marr .. enak sekali tangan Dik Marr yaa..'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah, biarlah aku akan selalu memberikan yang aku bisa. Dengan berbagai style, tanganku terus meremasi dan mijit gundukkan kontol itu. Tetapi lama kelamaan justru tanganku sendiri makin menikmati kenikmatan memijit-mijit itu. Dan semakin lama justru aku yang nyata semakin kelimpungan. Aku kenang kembali kontol gede ini yang 40 menit yang lalu masih menyesaki kemaluanku. Yang tanpa meninggalkan celah sedikitpun memenuhi rongga vaginaku. Dan ujungnya ini yang untuk pertama kalinya bisa mentok ke dinding rahimku.. ah nikmatnya ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Pakee.. Aku pengin lagii ..', aku berbisik dengan setengah merintih.&lt;br /&gt;'Kita cari waktu lagi Dik Mar .., gampang.., Dik Mar khan bisa bilang pada Mas Adit, mau ke Carrefour atau ke Mangga Dua cari barang apa.. gitu'.&lt;br /&gt;'Iyaa siihh.. Boleh dibuka ya Pak. Aku pengin lihat lagi nih jagoan Pak ..', sambil aku melempar senyum serta melirikkan mataku ke Pak Parno melihat reaksinya.&lt;br /&gt;'Boleehh ..', dia jawab tanpa melihat ke aku, karena keramaian lalu lintas yang mengharuskan Pak Parno berkonsentrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganku sigap. Pertama-tama kukendorkan dulu ikat pinggangnya. Kemudian kubuka kancing utamanya. Selanjutnya kuraih resluitingnya hingga nampak celana dalamya yang kebiruan. Di belakang celana dalam itu membayang alur daging sebesar pisang tanduk yang mengarah ke kanan. Oouu.. ini kali yang namanya stir kanan.. Kalau stir kiri, mengarahnya kekiri tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tidak sabar kubetot kontol Pak Parno dari sarangnya. Melalui pinggiran kanan celana dalamnya, kontol Pak Parno mencuat keluar. Gede, panjang, kepalanya yang bulat berkilatan. Dan pada ujung kepala itu ada secercah titik bening. Oooww ..baru sekarang aku berkesempatan memperhatikan kontol ini dari jarak yang sangat dekat, bahkan dalam genggamanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya precum Pak Parno telah terbit di ujung kepalanya. Precum itu muncul dari lubang kencingnya. Uuuhh .. indahnyaa .. bisakah aku nggak bisa menahan diri ..??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Pak Parno pengin khan..??', kembali aku berbisik.&lt;br /&gt;'Heehh .. Dik Mar mau bantu Pak Parno nih ..??', jawaban yang disertai pertanyaan balik.&lt;br /&gt;'Gimana bantunya Pak.., berhenti duluu .. Cari tempat lagii .. Hayoo..', jawabanku enteng.&lt;br /&gt;'Nggak begitu Dik Mar, kita nggak mungkin berhenti lagi. Ya ini khan macet nih jalanan. Maksudku, apakah .. eehh .. Dik Mar marah nggak kalau aku bilang ini ..??'.&lt;br /&gt;'Nggak pa pa Pak, saya rela koq, dan saya pengin bantu bener-bener, Pak'.&lt;br /&gt;'Dik Mar pernah mengisep punya Mas Adit khan?'.&lt;br /&gt;'Ooo.. Kk.. kaalau ii.. ttuu terus terang aku belum pernah Pak.., kalau lihat punya Mas Adit rasanya aku geli gituu.. jijikk gituu ..'.&lt;br /&gt;'Kalau lihat punya saya inii.?', dia terus mendesak dengan pertanyaan yang terus terang aku nggak bisa menjawab secara cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya aku dihadapkan pada sesuatu hal yang bener-bener belum pernah aku lakukan, bahkan pun dalam khayalan seksualku. Pasti yang Pak Parno inginkan adalah aku mau mengisep-isep kontolnya itu, yaa khan? Tapi aku juga berpikir cepat .. Tadi sewaktu di motel, Pak Parno membenamkan wajahnya ke selangkanganku tanpa risah-risih. Kemudian dijilatinya vaginaku, kelentitku, lubang kemaluanku. Dia juga menelan cairan-cairan birahiku. Aku jadi ingat prinsip adil dan setara yang aku sebutkan di atas tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya aku yaa.. nggak usah ragu-ragu untuk berlaku mengimbangi apa yang telah dilakukan Pak Parno padanya. Dia telah menjilati, menyedoti kemaluanku. Dan aku sangat menikmati jilatan dahsyatnya. Dan sekarang Pak Parno seakan menguji padaku. Bisakah aku bertindak adil dan setara juga pada dia. Aku membayangkan kontol itu di mulutku ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Dik Mar, sperma itu sehat lhoo, bersih, steril.. dan banyak vitaminnya. Itu dokter ahli lho yang ngomong. Cobalah, kontol Pak Parno ini pasti sedap kalau Dik Mar mengulumnya.. ', aku sepertinya mendengar sebuah permohonan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kasihan juga pada Pak Parno. Mungkin dia sudah mengharapkan sejak awal jalan bersama dari rumah tadi. Mungkin bahkan dia sudah mengharapkan jauh beberapa waktu yang lalu. Dan kini saat aku sudah berada disampingnya harapan itu nggak terkabul. Ah, aku jadi iba .. Kulihat kembali kontol indah Pak Parno. Yaa.. benar-benar indah..apa artinya indah itu .. Kalau memang itu indah ..sudah semestinya kalau aku menyukainya ..dan kalau aku menyukainya .. mestinya aku nggak jijik ataupun geli .. Dan lihat precum itu.. Juga indah khan, bening, murni, dan mungkin juga wangi ..dan asin .. Dan.. Banyak lho yang sangat menyukainya .., menjilatinya, meminumnya ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahu-tahu aku sudah merunduk, mendekatkan wajahku, mendekatkan bibirku ke kontol Pak Parno yang indah itu. Dan tanpa banyak tanya lagi aku telah mengambil keputusan .. Ah,.. ujung lidahku kini menyentuh, menjilat dan merasakan lendir lembut dan bening milik Pak Parno. Yaahh .. asinnya yang begitu lembutt..&lt;br /&gt;'Dik Maarr .. Uhh enakk bangett sihh ..', kepalaku dielus-elusnya. Dan dia sibakkan rambutku agar tidak menggangu keasyikanku. Dan selanjutnya dengan penuh semangat aku mengkulum kontol Pak Parno di mobil yang sempit itu. Kemudian Pak Parno sedikit memundurkan tempat duduknya.&lt;br /&gt;'Dik Marr .. Terus Dik Marr .. Kamu pinter banget siihh .. uuhh Dik Marr..', aku terus memompa dengan lembut. Banyak kali aku mengeluarkan kepala itu dari mulutku.. Aku menjilati tepi-tepinya .. Pada pangkal kepala ada alur semacam cincin atau bingkai yang mengelilingi kepala itu. Dan sobekan lubang kencingnya itu .. kujilati habis-habisan ..&lt;br /&gt;'Marr.. enak bangett .. akau mau keluar nihh Dik Marr .. Aku mau keluar nihh ..', aku tidak menghiraukan kata-katanya, mungkin maksudnya peringatan untukku, jangan sampai air maninya tumpah di mulutku. Dia masih khawatir bahwa mungkin aku belum bisa menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi apa yang terjadi padaku kini sudah langsung berbalik 180 derajat. Rasanya justru aku kini yang merindukannya. Dan aku memang merindukannya. Aku pengin banget merasakan sperma seorang lelaki langsung tumpah dari kontolnya langsung ke mulutku. Dan lelaki itu adalah Pak Parno, yang bukan suamiku sendiri. Aku terus menjilati, menyedoti. Batangnya, pangkalnya, pelernya, sejauh bisa bibir atau lidahku meraihnya, disebabkan tempat yang sempit ini, semua bagian kontolnya itu aku rambah dengan mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pengalaman pertama itu akhirnya hadir. Saat mulutku mengkulum batangan gede panjang milik Pak Parno itu, aku rasakan kembali ada kedutan besar dan kuat. Kedutan itu kemudian disusul dengan kedutan-kedutan berikutnya. Kalau yang aku rasakan di motel tadi kedutan-kedutan kontol Pak Parno dalam lubang vaginaku, sekarang hal itu aku rasakan di rongga mulutku. Kontol Pak Parno memuntahkan laharnya. Cairan, atau tepatnya lendir yang hangat panas nyemprot langit-langit rongga mulutku. Sperma Pak Parno tumpah memenuhi mulutku. Entah berapa kali kedutan tadi. Tetapi sperma dalam mulutku ini nggak sempat aku telan seluruhnya karena saking banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sperma Pak Parno berleleran di pipiku, daguku, bahkan juga ke kening dan rambut panjangku. Kontol Pak Parno masih berkedut-kedut saat kukeluarkan dari mulutku. Dan aku raih kembali untuk kuurut-urut agar semua sperma yang tersisa bisa terkuras keluar. Mulutku langsung menyedotinya. Sekali lagi, pengalaman pertama nyeleweng ini benar-benar memberiku daftar panjang hal-hal baru yang sangat sensasional bagiku. Dan aku makin merasa pasti, hal-hal itu nggak mungkin aku dapatkan dari Mas Adit, suamiku tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai rencana, aku diturunkan di Pasar Senen oleh Pak Parno. Sungguh aku keberatan untuk perpisahan ini. Kugenggam tangannya erat-erat, untuk menunjukkan betapa besarnya arti Pak Parno bagiku. Aku berjalan dengan gontai saat menuju toko kertas dekorasi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku turun dari taksi sesampai di rumah, Mbak Surti nampak cemberut. Aku biarkan. Pada temen yang lain aku bilang banyak bahan yang aku cari stoknya habis sehingga aku menunggu cukup lama. Di ujung jalan sana kulihat mobil Kijang Pak Parno. Mungkin sudah lama lebih dahulu nyampai di kompleks. Orang-orang pemasang tenda dan pengatur sound system sudah mulai melaksanakan tugasnya. 2 jam lagi acara akan dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pamit pulang sebentar, untuk menengok rumah. Mas Adit belum pulang. Aku mandi lagi sambil mengenang peristiwa indah yang kualami sekitar 2,5 jam yang lalu. Saat sabunku menyentuh kemaluanku, masih tersisa rasa pedih pada bibirnya. Mungkin jembut Pak Parno tersangkut saat kontolnya keluar masuk menembus memekku. Dan itu biasanya menimbulkan luka kecil yang terasa pedih pada bibir vaginaku saat terkena sabun seperti ini&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7501232687625531161-5078133447343810586?l=dennythejaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dennythejaya.blogspot.com/feeds/5078133447343810586/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7501232687625531161&amp;postID=5078133447343810586' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/5078133447343810586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/5078133447343810586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dennythejaya.blogspot.com/2011/05/pak-rt-ku-perkasa.html' title='Pak Rt ku perkasa'/><author><name>denny</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7501232687625531161.post-5490980894551517014</id><published>2011-05-06T12:47:00.000-07:00</published><updated>2011-05-06T13:07:33.710-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perkosa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Selingkuh'/><title type='text'>skandal kantor</title><content type='html'>Sebut saja namaku Linda (samaran). Aku saat ini bekerja&lt;br /&gt;sebagai seorang senior marketing di suatu perusahaan&lt;br /&gt;multinasional yang berkantor di salah satu gedung di&lt;br /&gt;kawasan Jakarta Selatan. Usiaku saat ini 31 tahun. Aku&lt;br /&gt;sudah berkeluarga dengan satu anak yang baru berumur 2&lt;br /&gt;tahun, Rio. Ia sedang lucu-lucunya. Suamiku, sebut saja&lt;br /&gt;Mas Edi, bekerja sebagai seorang junior manager di salah&lt;br /&gt;satu perusahaan swasta di kawasan CBD dekat Semanggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan suamiku saat ini sudah mampu memiliki rumah&lt;br /&gt;sendiri di kawasan Cimanggis. Dengan kesibukan kami&lt;br /&gt;masing-masing, praktis waktu kebersamaan kami hanyalah&lt;br /&gt;dua hari dalam satu minggu, yakni hari Sabtu dan Minggu.&lt;br /&gt;Untuk itu kami memanfaatkan waktu kebersamaan&lt;br /&gt;sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku hubungan seks dengan suami tidak mengutamakan&lt;br /&gt;kuantitas. Kualitas jauh lebih penting, karena dengan&lt;br /&gt;kualitas hubungan yang baik maka kenikmatan yang aku&lt;br /&gt;peroleh justru sangat maksimal. Jadi dalam hal hubungan&lt;br /&gt;seks, antara aku dan suamiku tidak ada masalah. Yang&lt;br /&gt;menjadi masalah adalah kadang-kadang aku berfantasi&lt;br /&gt;ingin melakukan hubungan seks dengan orang dari kalangan&lt;br /&gt;lower class!! Aku sering berfantasi dan sangat terobsesi&lt;br /&gt;untuk berhubungan dengan orang yang memiliki gairah&lt;br /&gt;liar. Hal ini disebabkan karena suamiku selalu&lt;br /&gt;memperlakukanku dengan lembut. Itulah masalahnya!!&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sering membayangkan bagaimana rasanya berhubungan&lt;br /&gt;badan dengan orang-orang yang kasar. Mungkin ini semacam&lt;br /&gt;fantasi liarku yang terpendam. Ini mungkin timbul dari&lt;br /&gt;keadaanku yang sejak kecil selalu bergaul dengan&lt;br /&gt;perempuan! Soalnya dari keluargaku semuanya terdiri dari&lt;br /&gt;anak perempuan! Dari tiga bersaudara sekandung aku&lt;br /&gt;merupakan anak pertama, kedua adikku perempuan dan sejak&lt;br /&gt;aku berumur 16 tahun ayahku meninggal sehingga praktis&lt;br /&gt;kami berempat termasuk ibuku perempuan semua dalam satu&lt;br /&gt;rumah. Begitu pula saat bekerja, di kantorku jumlah&lt;br /&gt;karyawan terbanyak adalah perempuan! Karyawan laki-laki&lt;br /&gt;hanya beberapa orang termasuk satpam, sopir serta office&lt;br /&gt;boy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata orang penampilanku sangat menarik! Aku tidak&lt;br /&gt;menyombongkan diri memang begitulah kenyataannya.&lt;br /&gt;Kulitku putih bersih. Ukuran tubuhku sangat ideal&lt;br /&gt;menurut pendapatku. Tinggi badanku 165 cm dan berat&lt;br /&gt;badanku 55 kg, dan ukuran dadaku 36B. Dengan keadaan&lt;br /&gt;fisik seperti ini tidak sulit bagiku untuk menaklukkan&lt;br /&gt;lelaki yang kuinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kantorku ada satu orang office boy yang membuatku&lt;br /&gt;tertarik akan kejantanannya. Orang itu namanya Parjo,&lt;br /&gt;berasal dari Tegal, satu kampung denganku. Ia baru&lt;br /&gt;berusia 21 tahun. Orangnya tinggi besar dan wajahnya&lt;br /&gt;lumayan ganteng. Hal yang membuatku kadang terpesona&lt;br /&gt;oleh kejantanannya adalah bau keringatnya yang menyengat&lt;br /&gt;dan asli khas bau lelaki. Aku kerap kali membayangkan&lt;br /&gt;bagaimana bila aku disetubuhi olehnya. Aku sering kali&lt;br /&gt;memimpikan bahwa memekku digenjot oleh batang kontolnya&lt;br /&gt;yang dari luar celananya tampak menggembung menandakan&lt;br /&gt;besarnya isi yang ada didalamnya. Inilah salah satu&lt;br /&gt;fantasi liarku, yaitu disetubuhi oleh orang yang kasar&lt;br /&gt;seperti dia. Aku mudah saja dekat dengannya karena kami&lt;br /&gt;berasal dari satu kabupaten hanya beda kecamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang Senior Marketing aku menempati ruang&lt;br /&gt;khusus sebagai kantorku. Pembaca jangan membayangkan&lt;br /&gt;kalau ruang khusus di kantorku ruangnya tertutup sama&lt;br /&gt;sekali. Tidak, ruang kantorku sebenarnya mirip-mirip&lt;br /&gt;aula yang luas! Cuma disekat-sekat dengan partisi. Ruang&lt;br /&gt;khusus yang kumaksudkan adalah dalam satu ruangan yang&lt;br /&gt;disekat partisi dengan luas kira-kira 2,5 x 2 m hanya&lt;br /&gt;diperuntukkan bagiku. Karyawan lain yang tingkatannya&lt;br /&gt;masih di bawahku biasanya menempati satu ruang yang&lt;br /&gt;disekat secara bersama-sama sekitar 3 atau 4 orang dalam&lt;br /&gt;satu ruangan. Dengan demikian aku mempunyai lebih banyak&lt;br /&gt;privacy di kantorku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kerap kali membuka-buka internet terutama saat-saat&lt;br /&gt;istirahat pada jam-jam menjelang kerja lembur. Salah&lt;br /&gt;satu situs yang menjadi favoritku adalah 17Tahun.com&lt;br /&gt;ini. Soalnya dengan membaca kisah-kisahnya fantasiku&lt;br /&gt;bisa melayang sesuai dengan alur cerita yang dibawakan&lt;br /&gt;si penulis! Aku tak peduli kalau itu kisah nyata atau&lt;br /&gt;cuma karangan si penulis.. Yang penting bagiku bisa&lt;br /&gt;memuaskan imajinasiku, titik! Oh ya.. Karena&lt;br /&gt;kesibukanku, aku kerap kali harus bekerja lembur sore&lt;br /&gt;hari hingga sampai jam 20.00 aku baru keluar kantor.&lt;br /&gt;Dalam satu minggu, mungkin aku kerja lembur selama 3&lt;br /&gt;hari. Bagiku lembur lebih baik dibandingkan harus&lt;br /&gt;terkena macet di jalan yang tiap hari selalu menghantui&lt;br /&gt;Jakarta. Yach.. Dari pada waktu terbuang karena macet di&lt;br /&gt;jalanan, mendingan kerja lembur bisa dapat tambahan uang&lt;br /&gt;belanja, iya kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu sore, seperti biasanya saat menjelang lembur aku&lt;br /&gt;mulai asyik membuka-buka kisah-kisah erotis di situs&lt;br /&gt;ini. Suasana kantor sudah mulai sepi karena karyawan&lt;br /&gt;sudah mulai meninggalkan tempatnya masing-masing. Hal&lt;br /&gt;ini sudah biasa bagiku dan tidak menjadi sesuatu yang&lt;br /&gt;istimewa sehingga aku cuma menyahut kecil saat satu-demi&lt;br /&gt;satu rekan-rekanku pamitan mau pulang duluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai terangsang saat membaca kisah-kisah yang&lt;br /&gt;benar-benar erotis. Ingatanku jadi melayang pada fantasi&lt;br /&gt;liar yang selalu mengobsesiku. Entah karena kebetulan&lt;br /&gt;atau memang nasib sedang mujur.. Ternyata office boy&lt;br /&gt;yang menjadi incaranku saat itu sedang membersihkan&lt;br /&gt;ruang meeting yang besok pagi akan digunakan untuk rapat&lt;br /&gt;evaluasi bulanan. Ruang meeting itu persis berada di&lt;br /&gt;samping ruanganku sehingga saat si Parjo lewat,&lt;br /&gt;keringatnya yang baunya menusuk sempat tercium olehku.&lt;br /&gt;Fantasiku kian menggelora begitu mengendus aroma&lt;br /&gt;keringatnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera mencari akal bagaimana caranya agar si Parjo&lt;br /&gt;mendekatiku. Akhirnya aku punya akal untuk menyuruhnya&lt;br /&gt;membersihkan ruanganku yang sengaja kubuat berantakan.&lt;br /&gt;Ini kumaksudkan agar Parjo berada dekat denganku dan aku&lt;br /&gt;bisa terus mengendus keringatnya yang seksi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan patuh akhirnya Parjo datang juga ke ruanganku dan&lt;br /&gt;mulai membereskan tempatku yang memang berantakan. Aku&lt;br /&gt;masih tetap membuka situs ngeres ini sambil menghirup&lt;br /&gt;aroma keringatnya yang semakin menyengat saat ia mulai&lt;br /&gt;bekerja. Aku sempat meliriknya saat ia mencuri-curi&lt;br /&gt;pandang ke arah pahaku yang setengah terbuka. Aku memang&lt;br /&gt;memakai rok pendek sehingga pahaku yang putih jenjang&lt;br /&gt;kelihatan sangat indah dan sangat kontras dengan rok&lt;br /&gt;pendekku yang berwarna gelap. Parjo memalingkan wajahnya&lt;br /&gt;dengan malu saat kutangkap basah mencuri-curi pandang ke&lt;br /&gt;arah pahaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tetap pura-pura sibuk melihat monitor sambil membaca&lt;br /&gt;cerita erotis yang tersaji di depanku. Parjo yang sedang&lt;br /&gt;berjongkok membersihkan kolong mejaku tampak berhenti&lt;br /&gt;bergerak. Dengan sudut mataku kulihat ia sedang&lt;br /&gt;memperhatikan kedua pahaku dari kolong mejaku. Kubiarkan&lt;br /&gt;saja hal itu terjadi. Iseng-iseng aku menggodanya agar&lt;br /&gt;ia pusing sendiri melihat keindahan pahaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak menduga kalau ternyata Parjo seberani itu.&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku merasa ada benda hangat menyentuh pahaku&lt;br /&gt;yang setengah terbuka. Aku tercekat mendapati ia senekat&lt;br /&gt;itu, padahal sempat kudengar masih ada suara orang lain&lt;br /&gt;yang sedang bercakap-cakap di ruang sebelah. Ternyata&lt;br /&gt;masih ada dua orang kolegaku yang belum keluar. Mereka&lt;br /&gt;sedang bersiap-siap pulang dan sedang berjalan mendekat&lt;br /&gt;ke ruanganku untuk pamitan. Aku tidak berani berteriak&lt;br /&gt;saat tangan Parjo yang nakal mulai menggerayangi pahaku&lt;br /&gt;dari kolong mejaku. Aku hanya berusaha mengatupkan kedua&lt;br /&gt;pahaku agar tangannya tidak bergerak terlalu jauh. Aku&lt;br /&gt;menggigit bibirku menahan geli saat tangannya yang kasar&lt;br /&gt;mengelus-elus paha bagian dalamku dan tangannya yang&lt;br /&gt;terjepit kedua pahaku berusaha bergerak-gerak ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak Linda.. Mau lembur lagi” terdengar suara Ida salah&lt;br /&gt;seorang staf bagian purchasing menyapaku dari luar&lt;br /&gt;ruangan.&lt;br /&gt;“Ehh.. Ii.. Iya habis buat persiapan meeting besok” aku&lt;br /&gt;tergagap menjawab pertanyaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku khawatir kalau-kalau si Ida dan Dewi yang saat itu&lt;br /&gt;belum pulang masuk ke ruanganku dan tahu apa yang&lt;br /&gt;terjadi. Yang kurang ajar lagi, ternyata tangan Parjo&lt;br /&gt;terus memaksa bergerak ke atas hingga aku tak mampu&lt;br /&gt;menahannya lagi. Kini tangannya sudah mulai meraba dan&lt;br /&gt;meremas vaginaku dari luar CD nylonku. Aku yang tadi&lt;br /&gt;sudah terangsang karena bacaan cerita ngeres semakin&lt;br /&gt;terangsang lagi dengan perlakuan Parjo itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita pulang duluan ya Mbak.. Sampai ketemu besok! Salam&lt;br /&gt;buat Rio si kecil”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Dewi sedikit melegakanku, karena kekhawatiranku&lt;br /&gt;kalau mereka akan nyelonong ke ruanganku tidak terjadi.&lt;br /&gt;Mereka berdua langsung keluar ruangan. Kini di kantor&lt;br /&gt;hanya tinggal aku dan Parjo yang saat itu masih sibuk&lt;br /&gt;meremas vaginaku dari luar CD-ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang sudah sangat terangsang tidak dapat menolak&lt;br /&gt;lagi apa yang ia perbuat. Tanpa sadar aku membuka kedua&lt;br /&gt;pahaku agak lebar. Mendapat angin seperti itu, jari&lt;br /&gt;Parjo yang nakal segera menyusup ke dalam CD-ku dan&lt;br /&gt;mulai mengorek-ngorek lubang vaginaku yang sudah mulai&lt;br /&gt;basah. Napasku sudah mulai memburu menahan gejolak yang&lt;br /&gt;mulai mendesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsentrasiku membaca sudah mulai hilang karena&lt;br /&gt;pandangan mataku mulai kabur menerima rangsangan Parjo.&lt;br /&gt;Kini bukan hanya tangannya yang aktif bergerilya di&lt;br /&gt;selangkanganku yang sedikit terbuka. Lidah Parjo pun&lt;br /&gt;mulai bergerak menjilati kedua pahaku sambil bersimpuh&lt;br /&gt;di depan kursiku. Rok pendekku dipaksanya terbuka hingga&lt;br /&gt;pahaku semakin terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidah Parjo yang panas menggelora mulai bergerak-gerak&lt;br /&gt;liar menyapu seluruh permukaan kulit pahaku yang sangat&lt;br /&gt;sensitif. Tubuhku semakin menggigil menahan geli saat&lt;br /&gt;lidahnya menyusuri kulit pahaku disertai dengan&lt;br /&gt;gigitan-gigitan kecil. Gila, Parjo rupanya tahu kalau&lt;br /&gt;aku sedang membuka cerita ngeres saat ia masuk dan&lt;br /&gt;kusuruh membersihkan ruanganku sehingga ia berani&lt;br /&gt;berbuat kurang ajar padaku. Aku sebetulnya tadi cuma&lt;br /&gt;menggoda saja. Aku tidak menduga kalau akan sejauh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jo.. Jang.. anhh” aku mendesis tapi tidak berani&lt;br /&gt;berteriak karena takut kalau ada orang yang mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Parjo rupanya sudah kesetanan. Pantatku ditariknya&lt;br /&gt;ke bawah hingga aku terduduk di ujung kursiku. Hal ini&lt;br /&gt;memudahkan Parjo menyingkap rokku dan menarik CD-ku&lt;br /&gt;hingga ke lututku. Tanpa membuang waktu, Parjo&lt;br /&gt;mengangkat kedua pahaku dan mementangkannya di atas&lt;br /&gt;kepalanya. Wajahnya menyuruk ke selangkanganku dan&lt;br /&gt;lidahnya menghunjam ke dalam lubang vaginaku yang sudah&lt;br /&gt;sangat basah. Aku tak mampu bergerak lagi. Tangannya&lt;br /&gt;yang kokoh memegang erat kedua pahaku hingga tak bisa&lt;br /&gt;lagi bergerak. Aku takut memberontak karena aku sudah&lt;br /&gt;duduk di ujung kursi, jadi kalau bergerak dengan keras&lt;br /&gt;aku mungkin bisa jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya pasrah dan menikmati saja apa yang seharusnya&lt;br /&gt;tidak boleh kulakukan. Aku memang terobsesi bercinta&lt;br /&gt;dengan orang kasar seperti dia, namun itu hanya sebatas&lt;br /&gt;fantasi liarku. Aku tidak ingin mengkhianati suamiku.&lt;br /&gt;Desakan birahi semakin menyergapku saat lidah Parjo&lt;br /&gt;menyeruak masuk ke dalam lubang vaginaku dan bergerak&lt;br /&gt;kasar menggesek-gesek menggelitik lubang vaginaku.&lt;br /&gt;Lidahnya yang kasar bergerak liar semakin dalam ke dalam&lt;br /&gt;lubang kemaluanku. Napasnya yang menggemuruh kurasakan&lt;br /&gt;menghembus bibir vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku mulai berkunang-kunang menahan gejolak nafsuku&lt;br /&gt;yang kian meledak-ledak. Perutku sudah mulai kejang&lt;br /&gt;karena bibir Parjo mulai menyedot-nyedot itilku yang&lt;br /&gt;sudah sangat membengkak. Aku hampir saja mencapai&lt;br /&gt;orgasme saat tiba-tiba telepon di mejaku berdering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jo.. Stop.. Stopp” Seolah-olah tersadar akan keadaanku,&lt;br /&gt;aku segera berteriak keras menghentikan aktivitas Parjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ma.. Maaf Bu..” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena takut aku akan berteriak, Parjo segera&lt;br /&gt;berhenti dan langsung keluar ruanganku serta menghilang&lt;br /&gt;ke dalam meeting room. Aku segera membereskan pakaianku&lt;br /&gt;yang acak-acakan dan mengatur napas sebelum mengangkat&lt;br /&gt;telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halloo..” sapaku di telepon.&lt;br /&gt;“Mah.. Ini aku Edy! Mau pulang sama-sama enggak?”&lt;br /&gt;terdengar suara suamiku di seberang sana.&lt;br /&gt;“I.. Iya.. Aku tunggu Pah..” akhirnya aku memutuskan&lt;br /&gt;untuk jadi lembur hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa bersalah dengan suamiku. Untung saja tadi&lt;br /&gt;suamiku menelepon hingga aku tidak berbuat terlalu jauh&lt;br /&gt;dengan si Parjo. Untuk menutupi rasa bersalahku&lt;br /&gt;sekaligus menuntaskan apa yang tadi telah dimulai oleh&lt;br /&gt;Parjo, malam itu aku mengajak suamiku bermain cinta. Aku&lt;br /&gt;melayani suamiku secara total. Kami yang biasanya&lt;br /&gt;bermain cinta sekali, malam itu aku meminta suamiku&lt;br /&gt;menyetubuhiku hingga tiga kali. Gila! Untung saja&lt;br /&gt;suamiku tidak terlalu curiga dengan keganjilan ini. Hari&lt;br /&gt;ini aku selamat dari perbuatan selingkuh.&lt;br /&gt;Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa sudah hampir&lt;br /&gt;satu bulan sejak kejadian waktu aku hampir saja&lt;br /&gt;mengkhianati suamiku dengan kejadian di ruangan&lt;br /&gt;kantorku. Aku pun sudah mulai dapat melupakan kejadian&lt;br /&gt;itu soalnya selama ini aku juga hampir tidak pernah&lt;br /&gt;melihat Parjo. Aku pun tidak berusaha ingin mengetahui&lt;br /&gt;keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira satu minggu menjelang bulan puasa kegiatanku&lt;br /&gt;semakin bertambah sibuk. Aku harus banyak mempersiapkan&lt;br /&gt;kegiatan promosi menjelang penjualan untuk hari raya&lt;br /&gt;lebaran nanti. Untuk itu aku banyak melakukan lembur&lt;br /&gt;seperti biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat saat itu hari Kamis tanggal 7 Oktober,&lt;br /&gt;aku seperti biasanya lembur di kantor. Saat itu yang ada&lt;br /&gt;di kantor hanyalah aku dan Ida yang juga sedang lembur&lt;br /&gt;menyelesaikan tugasnya. Kira-kira pukul 18.00, Ida&lt;br /&gt;mendatangi ruanganku dan mengajakku pulang bersama-sama,&lt;br /&gt;namun aku yang masih harus menyelesaikan beberapa&lt;br /&gt;laporan memintanya untuk pulang duluan, sehingga praktis&lt;br /&gt;di kantor hanya tinggal aku sendirian. Aku tidak takut&lt;br /&gt;karena sudah terbiasa, lagi pula ada security yang&lt;br /&gt;selalu berjaga-jaga di lobby bawah di lantai satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah karena ruangan AC yang dingin atau mungkin karena&lt;br /&gt;sejak sore tadi aku belum ke rest room maka aku merasa&lt;br /&gt;ingin sekali buang air kecil. Karena desakan itu aku pun&lt;br /&gt;meninggalkan ruanganku dan pergi ke rest room yang&lt;br /&gt;letaknya di luar ruangan kantor namun masih satu lantai&lt;br /&gt;dengan kantorku. Karena aku yakin sudah tidak ada orang&lt;br /&gt;lain, maka aku melepas CD-ku dan memasukannya ke tasku&lt;br /&gt;sebelum ke rest room. Hal ini kulakukan agar mudah&lt;br /&gt;melepas hajatku nanti. Praktis saat itu aku tanpa&lt;br /&gt;mengenakan CD saat pergi ke rest room. Toh rok pendekku&lt;br /&gt;cukup tebal, jadi kalau pun masih ada orang tidak&lt;br /&gt;bakalan ketahuan, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan memang sepi di kantor. Saat aku melewati koridor&lt;br /&gt;di samping kantorku pun tidak tampak ada satu orang pun&lt;br /&gt;di sana. Aku lalu masuk ke rest room dan menutup pintu&lt;br /&gt;kemudian langsung menghambur masuk ke salah satu toilet&lt;br /&gt;yang berjajar di sana. Aku merasa lega sekali setelah&lt;br /&gt;hajatku yang sedari tadi merongrongku terlepas sudah.&lt;br /&gt;Kini aku bisa kembali bekerja dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku sedang merapikan pakaianku di depan cermin&lt;br /&gt;di ruangan rest room. Aku terkejut setengah mati saat&lt;br /&gt;aku tersadar bahwa ternyata di rest room sudah ada orang&lt;br /&gt;lain selain diriku. Yang lebih mengejutkan ternyata&lt;br /&gt;orang itu adalah Parjo yang sedari tadi memperhatikan&lt;br /&gt;diriku saat mematut diriku di depan cermin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat hilang rasa terkejutku, Parjo sudah&lt;br /&gt;mendatangi dan langsung memeluk tubuhku. Aku yang&lt;br /&gt;termasuk sudah cukup tinggi untuk ukuran wanita ternyata&lt;br /&gt;masih terlalu kecil bila dibandingkan dengan Parjo.&lt;br /&gt;Mungkin tingginya sekitar 175-an lebih karena ternyata&lt;br /&gt;tinggi tubuhku hanya sebatas hidungnya saja. Selain&lt;br /&gt;tinggi, tubuh Parjo sangat kekar dan tegap hingga aku&lt;br /&gt;tak mampu bergerak saat kedua tangannya yang kokoh&lt;br /&gt;menyergapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didekapnya tubuhku erat-erat dengan kedua lengannya yang&lt;br /&gt;kokoh. Kemudian sambil sedikit menundukkan kepalanya,&lt;br /&gt;bibir Parjo yang tebal mulai menyentuh bibirku. Lidahnya&lt;br /&gt;mulai menerobos bibirku dan mencari-cari lidahku.&lt;br /&gt;Napasnya mendengus-dengus menggebu-gebu. Aku tidak mampu&lt;br /&gt;menghindar karena tubuhku terjepit lengannya yang begitu&lt;br /&gt;kokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmngghh.. Ughh..”, saat lidah Parjo dapat menemukan&lt;br /&gt;lidahku, ia mulai mengerang dengan suara yang&lt;br /&gt;benar-benar maskulin. Aku yang tadinya berusaha&lt;br /&gt;meronta-ronta, mulai berdesir darahku mendengar erangan&lt;br /&gt;maskulinnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa betapa dekapan Parjo begitu ketat menarik&lt;br /&gt;tubuhku hingga tubuhku dan tubuhnya berhimpitan sangat&lt;br /&gt;ketat. Aku dapat merasakan ada benda yang mengganjal di&lt;br /&gt;perutku dari balik celana Parjo. Tangan Parjo yang&lt;br /&gt;mendekapku mulai bergerak nakal. Satu tangannya mulai&lt;br /&gt;meremas buah pantatku dari luar rok ketatku sedangkan&lt;br /&gt;tangan satunya sangat ketat mendekap punggungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai terangsang saat lidah Parjo yang bergerak liar&lt;br /&gt;di dalam mulutku mulai mendorong-dorong lidahku dan&lt;br /&gt;tangannya yang tadinya meremas-remas buah pantatku mulai&lt;br /&gt;menyingkap rokku ke atas. Rokku ditariknya ke atas&lt;br /&gt;hingga pantatku yang tidak tertutup CD segera tersentuh&lt;br /&gt;langsung oleh telapak tangannya yang kasar. Aku&lt;br /&gt;menggerinjal karena tangannya yang kasar terasa geli di&lt;br /&gt;pantatku yang halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hhsshh.. Oughh..” tanpa sadar aku sedikit melenguh&lt;br /&gt;karena tangan kasar Parjo meremas buah pantatku yang&lt;br /&gt;terbuka dengan gemasnya. Napasku mulai memburu dan&lt;br /&gt;gairahku mulai terusik. Apalagi bau keringat Parjo yang&lt;br /&gt;menusuk sangat maskulin dalam penciumanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ja.. Jangan.. Joo.. Ohh.. Sshh” antara sadar dan tidak&lt;br /&gt;aku masih sempat meronta dan mulutku masih mencoba&lt;br /&gt;mencegah perbuatan Parjo lebih jauh. Namun seolah tak&lt;br /&gt;peduli dengan desisanku atau mungkin karena penolakanku&lt;br /&gt;tidak begitu sungguh-sungguh, Parjo tetap saja&lt;br /&gt;merangsekku dengan serbuan-serbuan erotisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidah Parjo terus saja menjilat-jilat mulutku dan turun&lt;br /&gt;ke daguku. Aku semakin gelisah menerima rangsangan ini,&lt;br /&gt;apalagi tangan Parjo yang tadinya meremas-remasa&lt;br /&gt;pantatku kini bergeser ke depan dan mulai mengelus-elus&lt;br /&gt;daerah perut di bagian bawah pusarku. Tubuhku&lt;br /&gt;bergoyang-goyang kegelian menahan serbuan tangan nakal&lt;br /&gt;Parjo yang sudah mulai merambah daerah selangkanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Joo.. Jang.. Jangannhh.. Ohh..” aku semakin mendesis&lt;br /&gt;antara menolak dan tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Parjo yang nakal semakin liar mengaduk-aduk&lt;br /&gt;daerah sensitifku. Mulutnya kian gencar menyedot-nyedot&lt;br /&gt;leherku. Seolah tak peduli dengan rengekanku, Parjo&lt;br /&gt;terus saja bergerak. Kini tangannya bahkan mulai&lt;br /&gt;meremas-remas labia mayoraku yang sudah mulai basah&lt;br /&gt;berlendir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku tersentak saat jari tangan Parjo mulai menyusup&lt;br /&gt;ke dalam labia mayoraku dan mulai mengorek-korek&lt;br /&gt;tonjolan kelentitku. Digerakannya jarinya berputar-putar&lt;br /&gt;menggesek kelentitku. Kakiku seolah sudah tak bertenaga&lt;br /&gt;hingga tubuhku sudah tersandar sepenuhnya di pelukan&lt;br /&gt;Parjo. Sambil terus memutar-mutar jarinya di tonjolan&lt;br /&gt;kelentitku, Parjo mulai mendorong tubuhku dan diangkat&lt;br /&gt;untuk didudukkan di atas toilet rest room yang dingin&lt;br /&gt;itu. Aku yang sudah mulai pasrah hanya diam saja atas&lt;br /&gt;perlakuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parjo lalu melepaskan jarinya dari selangkanganku dan ia&lt;br /&gt;mulai berjongkok di hadapanku. Wajahnya berada dekat&lt;br /&gt;sekali dengan selangkanganku yang terbuka lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aw.. Ohh..” tubuhku kembali tersentak saat tiba-tiba&lt;br /&gt;Parjo menyurukkan wajahnya ke selangkanganku dan&lt;br /&gt;mulutnya menyedot-nyedot bibir kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidahnya yang panas menerobos masuk di antara labia&lt;br /&gt;mayoraku dan mengais-ngais daging hangat lubang&lt;br /&gt;vaginaku. Tanpa sadar aku meremas rambut Parjo yang&lt;br /&gt;jabrik itu. Tanpa bicara, Parjo terus bekerja! Ya&lt;br /&gt;sedikit bicara banyak bekerja!! Ini benar-benar tepat&lt;br /&gt;untuk keadaan Parjo saat itu. Lidahnya kini mulai&lt;br /&gt;mempermainkan kelentitku yang sudah semakin mengembang.&lt;br /&gt;Perutku mulai kejang karena menahan kenikmatan yang&lt;br /&gt;hampir meledak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shh.. Ouhh.. Shh.. Ter.. Rushh Jo..” bibirku tak&lt;br /&gt;henti-hentinya berdecap menahan kenikmatan yang mulai&lt;br /&gt;naik ke ubun-ubunku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang tadinya berkata jangan, sekarang meminta Parjo&lt;br /&gt;untuk terus! Tanganku tanpa sadar merengkuh kepala Parjo&lt;br /&gt;agar semakin ketat menempel ke selangkanganku. Rupanya&lt;br /&gt;Parjo tahu kalau aku sudah hampir mencapai orgasme.&lt;br /&gt;Lidahnya semakin gila mempermainkan kelentitku. Bibirnya&lt;br /&gt;menyedot seluruh cairan yang semakin membuat vaginaku&lt;br /&gt;basah. Aku hampir saja mencapai klimaks saat tiba-tiba&lt;br /&gt;Parjo menarik kepalanya dari selangkanganku. Aku hampir&lt;br /&gt;saja terjatuh dari dudukku karena pantatku tanpa sadar&lt;br /&gt;bergerak maju mengejar wajah Parjo yang ditariknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parjo benar-benar mempermainkan aku. Saat aku sudah&lt;br /&gt;menjelang orgasme, tiba-tiba ia menghentikan&lt;br /&gt;pekerjaannya yang belum tuntas. Napasku sudah&lt;br /&gt;ngos-ngosan karena didera nafsu. Parjo yang sudah&lt;br /&gt;berdiri di depanku mulai melepas gespernya dan&lt;br /&gt;memerosotkan celana sekaligus CD-nya hingga ke lututnya.&lt;br /&gt;Aku benar-benar terkejut melihat kontol Parjo yang luar&lt;br /&gt;biasa. Besar dan panjang.. Luar biasa. Aku ngeri&lt;br /&gt;melihatnya. Jangan-jangan vaginaku bisa jebol dibuatnya.&lt;br /&gt;Benar-benar sesuai dengan ukuran tubuhnya yang perkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontol Parjo yang perkasa berdiri tegak mengacung ke&lt;br /&gt;arah wajahku yang terpaku melihatnya. Tanpa memberi&lt;br /&gt;kesempatan padaku untuk berlama-lama melihat kontolnya&lt;br /&gt;yang perkasa, Parjo segera menarik tubuhku dan&lt;br /&gt;membaliknya. Kini aku berdiri menghadap cermin. Kedua&lt;br /&gt;tanganku bertumpu di atas toilet yang tadi kududuki.&lt;br /&gt;Tangan Parjo yang kekar mendorong punggungku sedikit&lt;br /&gt;membungkuk hingga pantatku agak menungging. Lalu kedua&lt;br /&gt;kakiku digesernya agar lebih membuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulu-bulu di tubuhku mulai merinding saat ada benda&lt;br /&gt;hangat dan tumpul mulai bergesek-gesek di bibir&lt;br /&gt;kemaluanku mencoba masuk. Lubang vaginaku yang sudah&lt;br /&gt;licin sangat membantu penetrasi yang dilakukan Parjo&lt;br /&gt;dari arah belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oghh..” kudengar Parjo menahan napas saat ujung&lt;br /&gt;kontolnya yang seperti topi baja mulai terjepit labia&lt;br /&gt;mayoraku. Aku pun tak mampu bernapas karena benda itu&lt;br /&gt;terasa sesak sekali mengganjal selangkanganku.&lt;br /&gt;“Hkk.. Hh.. Shh.. Ouchh” aku mendesis tercekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parjo agak kesulitan mendorong kontolnya masuk ke dalam&lt;br /&gt;lubang vaginaku yang agak kesempitan menerima&lt;br /&gt;serbuannya. Aku sendiri heran, aku yang sudah pernah&lt;br /&gt;melahirkan terasa seperti perawan saja saat ditembus&lt;br /&gt;batang kontolnya. Terus terang ukurannya jauh lebih&lt;br /&gt;besar dibandingkan dengan milik suamiku. Aku menjadi&lt;br /&gt;lupa diri saat itu. Yang kutahu aku harus menuntaskan&lt;br /&gt;gairah napsuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali Parjo terus mendorong batang kontolnya.&lt;br /&gt;Tanpa sadar aku ikut membantunya dengan menggeser&lt;br /&gt;pantatku hingga kontol Parjo terdorong masuk. Tubuhku&lt;br /&gt;bergetar karena seluruh lubang vaginaku seperti tergesek&lt;br /&gt;oleh besarnya kontol Parjo yang baru masuk kira-kira&lt;br /&gt;setengahnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ouchh.. Hhahh..” aku berkali-kali pula mendesis menahan&lt;br /&gt;nikmat yang kembali naik ke kepalaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pelan Parjo kembali menarik batang kontolnya dari&lt;br /&gt;jepitan lubang vaginaku. Didorongnya lagi hingga&lt;br /&gt;bertambah dalam batang itu menerobos masuk ke dalam&lt;br /&gt;lubang vaginaku yang sudah mulai bisa beradaptasi dengan&lt;br /&gt;besarnya kontol Parjo. Sekarang gerakan maju mundur&lt;br /&gt;batang kontol Parjo mulai lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hugghh..” kami sama-sama menahan napas saat kurasakan&lt;br /&gt;seluruh batang kontol Parjo sudah masuk ke dalam jepitan&lt;br /&gt;lubang vaginaku hingga ke pangkalnya. Itu aku rasakan&lt;br /&gt;karena pantatku menempel ketat pada kantung biji telur&lt;br /&gt;kemaluan Parjo. Lubang vaginaku terasa berdenyut-denyut&lt;br /&gt;meremas batang kontol Parjo yang memenuhi lubang&lt;br /&gt;vaginaku. Panjang sekali batang kontolnya hingga mulut&lt;br /&gt;rahimku seolah-olah seperti tersodok benda tumpul. Tubuh&lt;br /&gt;kami terdiam seperti terpatok satu sama lain oleh pasak&lt;br /&gt;yang menyumpal lubang kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Parjo yang tadinya memegang kedua sisi pinggulku&lt;br /&gt;mulai menyusup ke dalam gaunku dan bergerak meremas&lt;br /&gt;kedua payudaraku. Tangannya yang kasar membuat tubuhku&lt;br /&gt;menggelinjang saat meremas payudaraku yang sudah&lt;br /&gt;terlepas dari BH-ku. Kait BH-ku memang ada di depan&lt;br /&gt;hingga mudah bagi Parjo melepas penjepitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku terpejam menahan desakan napsu yang mulai&lt;br /&gt;mendesak dari perutku. Dengan pelan Parjo mulai menarik&lt;br /&gt;batang kontolnya dari jepitan lubang vaginaku lalu&lt;br /&gt;mendorongnya kembali. Tubuhku mulai bergetar saat batang&lt;br /&gt;kontolnya menggesek-gesek seluruh dinding vaginaku.&lt;br /&gt;Sambil berpegangan pada kedua payudaraku, Parjo terus&lt;br /&gt;mendorong dan menarik pantatnya. Gerakan batang kontol&lt;br /&gt;Parjo dalam lubang kemaluanku semakin lancar karena&lt;br /&gt;sudah banyak sekali cairan pelicin keluar dari lubang&lt;br /&gt;kemaluanku. Mulut Parjo yang tak henti-hentinya&lt;br /&gt;menjilati kudukku terasa semakin membuatku melayang ke&lt;br /&gt;awan tak bertepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Parjo yang tadinya meremas payudaraku dilepasnya&lt;br /&gt;dan menarik wajahku agar menengok ke belakang. Bibirku&lt;br /&gt;langsung dipagutnya dengan bibirnya yang tebal begitu&lt;br /&gt;wajahku menoleh. Lidah Parjo segera didorong masuk ke&lt;br /&gt;dalam mulutku dan mulai menggelitik rongga mulutku. Aku&lt;br /&gt;jadi ingat saat membaca majalah porno yang dibawa&lt;br /&gt;suamiku dulu. Ini rupanya yang disebut posisi 99. Baru&lt;br /&gt;kali ini aku merasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi 99 dilakukan dengan kedua pasangan menghadap ke&lt;br /&gt;arah yang sama, laki-laki di belakang dan perempuan di&lt;br /&gt;depan. Penis laki-laki menusuk vagina atau anus si&lt;br /&gt;perempuan dari arah belakang, sementara tangan si lelaki&lt;br /&gt;meremas-remas payudara si perempuan dan keduanya saling&lt;br /&gt;berpagutan bibir. Indah sekali!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak pernah membayangkan kalau akhirnya aku&lt;br /&gt;melakukan hubungan seks dengan posisi seperti ini.&lt;br /&gt;Tangan Parjo kembali menyusup ke dalam gaun kerjaku dan&lt;br /&gt;mulai mengerjakan tugasnya meremas-remas kedua&lt;br /&gt;payudaraku. Bibirnya memagut bibirku dengan lidahnya&lt;br /&gt;mendorong-dorong lidahku. Sementara batang kontolnya&lt;br /&gt;terus menghunjam lubang vaginaku tanpa ampun.&lt;br /&gt;Berkali-kali rambut kemaluan Parjo yang kasar seperti&lt;br /&gt;habis dicukur menggaruk-garuk pantatku saat kontolnya&lt;br /&gt;melesak ke dalam lubang vaginaku hingga ke pangkalnya.&lt;br /&gt;Aku pun berkali-kali mengerang tanpa rasa malu-malu&lt;br /&gt;lagi. Aku memang selalu ribut kalau sedang bersenggama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa harus diperintah, aku mulai menggoyangkan pantatku&lt;br /&gt;mengikuti irama tusukan kontol Parjo. Tubuhku mulai&lt;br /&gt;terhentak-hentak dan gerakan pantatku sudah tidak&lt;br /&gt;terkendali. Pantatku semakin cepat bergoyang dan mundur&lt;br /&gt;menyambut dorongan kontol Parjo hingga masuk&lt;br /&gt;sedalam-dalamnya ke dalam jepitan lubang vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ter.. Rushh.. Joo.. Oohh” aku terus mendesis-desis tak&lt;br /&gt;terkendali. Tubuhku seolah melayang dan ringan. Parjo&lt;br /&gt;semakin cepat menarik dan mendorong kontolnya menghunjam&lt;br /&gt;lubang vaginaku. Aku tersentak. Perutku terasa kejang&lt;br /&gt;menahan desakan yang hampir meledak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terushh Linn.. Terushh..” kudengar Parjo menggeram&lt;br /&gt;sambil menusuk-nusuk lubang vaginaku kian kencang. Lalu&lt;br /&gt;mulutnya kembali melumat bibirku dan tanpa dapat kutahan&lt;br /&gt;lagi tubuhku berkelojotan melepaskan ledakan birahi yang&lt;br /&gt;sudah tidak terbendung lagi. Aku menggigit bibir Parjo&lt;br /&gt;yang melumat bibirku. Pada saat yang sama, tubuh Parjo&lt;br /&gt;pun menggeliat dan tersentak-sentak seperti penari&lt;br /&gt;breakdance. Tubuh bagian bawah kami yang saling menempel&lt;br /&gt;menggeliat secara bersamaan. Pantatku yang menempel&lt;br /&gt;ketat dan seperti terpaku pada tulang kemaluan Parjo&lt;br /&gt;memutar tak terkendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Arghh.. Shh..” seperti suar koor, kami berdua menggeram&lt;br /&gt;secara bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otot-otot vaginaku berdenyut-denyut mencengkeram kontol&lt;br /&gt;Parjo yang tertanam sepenuhnya didalamnya. Cratt..&lt;br /&gt;Cratt.. Cratt.. Crat.. Crat.. Akhirnya kontol Parjo&lt;br /&gt;mengedut-ngedut dan hampir lima kali menyemburkan cairan&lt;br /&gt;hangat yang menyiram ke dalam mulut rahimku. Terasa&lt;br /&gt;begitu kencang semburan air mani Parjo menyemprot dalam&lt;br /&gt;lubang vaginaku. Kami terus bergerak hingga tuntas sudah&lt;br /&gt;air mani Parjo terperas denyutan lubang vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami sama-sama terdiam lemas tak berdaya. Napas&lt;br /&gt;kami saling memburu. Denyut jantungku berdentum setelah&lt;br /&gt;bekerja keras memburu kenikmatan. Aku yang kelelahan tak&lt;br /&gt;mampu bergerak lagi dan ambruk di atas toilet. Kubiarkan&lt;br /&gt;saja kontol Parjo yang masih menancap erat dalam lubang&lt;br /&gt;vaginaku. Tubuh Parjo pun ambruk menindihku. Pantatku&lt;br /&gt;tetap menempel ketat pada tulang kemaluannya. Aku&lt;br /&gt;merasakan betapa banyak cairan air mani yang&lt;br /&gt;disemprotkan Parjo ke dalam lubang vaginaku hingga&lt;br /&gt;sebagian meleleh ke pahaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan kontol Parjo mulai melembek dan akhirnya&lt;br /&gt;terlepas dari jepitan lubang vaginaku dengan sendirinya.&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian Parjo bangkit dan masuk ke WC.&lt;br /&gt;Kudengar suara gemericik air, mungkin ia sedang&lt;br /&gt;membersihkan kontolnya yang lengket oleh cairan kami&lt;br /&gt;berdua. Ia juga mengambil tissue dari WC dan kemudian&lt;br /&gt;membersihkan lelehan air maninya yang membasahi pahaku&lt;br /&gt;dengan telaten. Beberapa kali ia mondar-mandir ke WC&lt;br /&gt;mengambil tissue dan membersihkan semua cairan dari&lt;br /&gt;selangkanganku. Geli sekali rasanya saat tangannya yang&lt;br /&gt;kasar dengan nakal meremas-remas vaginaku saat&lt;br /&gt;membersihkan dengan tissue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih Lin.. Sorry aku sudah tidak tahan ingin&lt;br /&gt;menikmati keindahan tubuhmu” ia tidak lagi memanggilku&lt;br /&gt;dengan ibu tapi langsung namaku begitu saja. Aku hanya&lt;br /&gt;terdiam. Aku sebenarnya menyesal juga telah melakukan&lt;br /&gt;pengkhianatan pada suamiku. Tapi semua sudah telanjur.&lt;br /&gt;Aku hanya mengangguk saja saat ia meminta maaf untuk&lt;br /&gt;yang kedua kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merapikan pakaianku dan kembali ke ruanganku dengan&lt;br /&gt;langkah gontai akibat kelelahan setelah bersetubuh&lt;br /&gt;sambil berdiri tadi. Parjo pun segera membersihkan&lt;br /&gt;lantai dari lelehan air maninya yang tercecer di rest&lt;br /&gt;room itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarum jam sudah menunjukkan pukul 19.30 malam saat aku&lt;br /&gt;masuk ruanganku. Jadi hampir satu jam aku bersetubuh&lt;br /&gt;dengan Parjo di rest room tadi. Aku masih sangat lelah&lt;br /&gt;hingga tak mampu lagi berkonsentrasi dengan pekerjaanku.&lt;br /&gt;Aku hanya terpaku di depan mejaku menatap layar monitor&lt;br /&gt;yang tetap menyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersentak dari lamunanku saat HP-ku berdering.&lt;br /&gt;Kulihat di layar ternyata suamiku menelpon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hallo mah.. Kemana saja kamu? Dari tadi kutelepon kok&lt;br /&gt;tidak diangkat?” terdengar suara suamiku di seberang&lt;br /&gt;sana.&lt;br /&gt;“Oh.. Eh.. Anu.. Tadi aku ke toilet.. Habis perutku&lt;br /&gt;rasanya mulas setelah makan siang” jawabku mencari&lt;br /&gt;alasan yang tepat.&lt;br /&gt;“Tapi.. Kamu enggak apa-apa kan?” terdengar suara Mas&lt;br /&gt;Edy agak khawatir&lt;br /&gt;“Enggak apa-apa kok pah..” jawabku.&lt;br /&gt;“Ya sudah kalau enggak apa-apa.. Mau pulang bareng&lt;br /&gt;enggak?” kata suamiku lagi.&lt;br /&gt;“Enggak ah.. Aku masih mau lembur soalnya laporan musti&lt;br /&gt;selesai malam ini juga” aku yang memang berniat mau&lt;br /&gt;meneruskan pekerjaanku meminta suamiku tidak usah&lt;br /&gt;menjemputku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali menatap monitor yang menyala di depanku.&lt;br /&gt;Pikiranku belum bisa diajak berkonsentrasi. Aku sangat&lt;br /&gt;merasa bersalah telah mengkhianati suamiku yang begitu&lt;br /&gt;mencintaiku. Di sisi lain aku merasa ada rasa aneh saat&lt;br /&gt;mengingat kejadian tadi. Pikiranku masih melayang ke&lt;br /&gt;tempat lain saat ada tangan kuat memelukku dari&lt;br /&gt;belakang. Aku kembali tersadar dari lamunanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh.. Su.. Sudah Jo.. Jangan lagi” aku berusaha berontak&lt;br /&gt;setelah aku tahu bahwa pemilik tangan kekar itu ternyata&lt;br /&gt;Parjo yang memelukku dari belakang.&lt;br /&gt;“Enggak apa-apa Lin.. Aku sayang sama kamu..” bisik&lt;br /&gt;Parjo sambil memelukku. Aku tak mampu melawan Parjo yang&lt;br /&gt;sudah mulai bernafsu lagi. Apalagi tubuhku masih terasa&lt;br /&gt;lemas sekali sejak digoyang Parjo di rest room tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Napas Parjo yang memburu terasa panas menghembus di&lt;br /&gt;leherku saat lidahnya mulai menjalar menjilati kudukku.&lt;br /&gt;Aku masih berusaha menghindar saat bibirnya berusaha&lt;br /&gt;mencium pipiku. Tetapi tangan Parjo yang kokoh segera&lt;br /&gt;memaksa wajahku menghadapnya dan bibirnya yang tebal&lt;br /&gt;segera melumat bibirku. Aku hanya mampu menutup bibirku&lt;br /&gt;erat-erat sebagai upaya penolakanku. Namun lidah Parjo&lt;br /&gt;tak putus asa berusaha menggesek bibirku dan&lt;br /&gt;menyusupkannya ke dalam mulutku. Akhirnya pertahananku&lt;br /&gt;bobol juga. Lidah Parjo berhasil menyusup ke dalam&lt;br /&gt;mulutku dan mulai mendorong-dorong lidahku. Tangannya&lt;br /&gt;yang kokoh mulai meremas-remas payudaraku dari luar&lt;br /&gt;gaun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapat rangsangan seperti itu, perlahan-lahan gairahku&lt;br /&gt;mulai bangkit lagi. Lidahku akhirnya membalas dorongan&lt;br /&gt;lidahnya hingga kami saling berpagutan. Sambil tetap&lt;br /&gt;menciumi lidahku, Parjo mengangkat tubuhku dan&lt;br /&gt;memondongku dibawa ke ruang meeting VIP yang khusus&lt;br /&gt;dipakai menjamu tamu VIP. Ruangan itu cukup luas dan&lt;br /&gt;dilengkapi dengan sofa yang empuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku segera dihempaskan ke sofa itu dan kembali Parjo&lt;br /&gt;mencumbuku dengan ganasnya. Dengan sikap posesif, Parjo&lt;br /&gt;terus mencumbuku di ruang meeting VIP itu. Seluruh&lt;br /&gt;tubuhku mulai bergelora dan tergelitik. Tangan Parjo&lt;br /&gt;yang terampil mulai melepaskan kancing gaunku satu&lt;br /&gt;persatu. Sekarang aku hanya mengenakan rok ketat dan BH.&lt;br /&gt;Kembali Parjo menggumuliku di sofa empuk itu. Lidahnya&lt;br /&gt;yang tadinya menggelitik lidahku mulai bergeser turun ke&lt;br /&gt;leherku, sementara itu tangannya segera melepaskan&lt;br /&gt;pengait BH-ku dan melepaskan BH tersebut hingga tubuh&lt;br /&gt;bagian atasku sudah tanpa penutup lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidah Parjo terus bergeser turun dari leher ke bahuku&lt;br /&gt;yang terbuka lebar. Tangan Parjo secara otomatis&lt;br /&gt;bergerak ke dadaku yang sudah terbuka dan bermain-main&lt;br /&gt;di sana. Kedua payudaraku terasa agak sakit karena Parjo&lt;br /&gt;meremasnya dengan kasar dan gemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohh..” tanpa sadar aku menggumam saat kedua puting&lt;br /&gt;payudaraku yang didekatkan satu sama lain dilumat mulut&lt;br /&gt;Parjo dengan rakus secara bersamaan. Lidahnya yang kasar&lt;br /&gt;dan panas mempermainkan kedua puting payudaraku. Tubuhku&lt;br /&gt;terasa bergetar menahan gairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak henti-hentinya mendesis menahan geli dan nikmat&lt;br /&gt;saat mulut Parjo melumat payudaraku dengan gemasnya.&lt;br /&gt;Tangan Parjo lalu melepaskan satu-satunya penutup&lt;br /&gt;tubuhku. Rokku dilepasnya hingga aku betul-betul&lt;br /&gt;telanjang bulat. Aku baru kali ini telanjang bulat di&lt;br /&gt;kantorku sendiri. Aku berbaring telentang di sofa sambil&lt;br /&gt;tanganku berusaha menutupi selangkanganku karena jengah.&lt;br /&gt;Mata Parjo tak pernah lepas dari tubuhku ketika ia&lt;br /&gt;membuka pakaiannya satu demi satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menahan napas melihat Parjo yang sudah telanjang&lt;br /&gt;bulat di depanku. Perutnya datar dan keras. Tungkai dan&lt;br /&gt;lengannya yang kokoh sangat lebat ditumbuhi rambut.&lt;br /&gt;Tubuhnya tegap berotot, urat-urat darah yang kuat&lt;br /&gt;terlihat jelas di lengannya. Parjo lalu duduk di dekat&lt;br /&gt;tubuh telanjangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tubuhmu seksi sekali Lin..” bisik Parjo di telingaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya segera bergerak mengelus dadaku. Ibu jarinya&lt;br /&gt;melakukan gerakan melingkar di atas payudaraku hingga&lt;br /&gt;membuatku menggelinjang kegelian. Tangannya lalu meraba&lt;br /&gt;perutku dan terus bergeser turun dan menyingkirkan&lt;br /&gt;tanganku yang menutupi selangkangan. Ditangkupkannya&lt;br /&gt;telapak tangannya di bukit vaginaku dan ditekankannya&lt;br /&gt;tangannya di sana sambil meremas pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohh..” aku hanya mendesis menahan gairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parjo lalu menundukkan wajahnya dan merangkak di atasku&lt;br /&gt;dengan posisi terbalik. Mulutnya segera menyerbu&lt;br /&gt;payudaraku. Lidahnya menyapu-nyapu seluruh permukaan&lt;br /&gt;kulit payudaraku dan menyedot putingku dengan gemasnya.&lt;br /&gt;Tanpa sadar tanganku bergerak meremas-remas rambut&lt;br /&gt;kepalanya. Parjo pun semakin bersemangat begitu mendapat&lt;br /&gt;respons dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidahnya terus merayap turun hingga ke perutku. Kini&lt;br /&gt;wajahku menghadap dadanya yang bidang. Mulutku yang&lt;br /&gt;menempel ketat di dadanya secara otomatis mulai&lt;br /&gt;merespons. Keringat Parjo yang berbau menyengat menjadi&lt;br /&gt;obsesiku. Aku tak menyia-nyiakan untuk merasakan&lt;br /&gt;keringatnya. Lidahku tanpa malu-malu lagi mulai&lt;br /&gt;menjilati puting dada Parjo yang hitam kecoklatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidah Parjo terus turun ke selangkanganku. Otomatis&lt;br /&gt;wajahku kini menghadap ke arah selangkangannya yang&lt;br /&gt;merangkak di atasku dengan posisi terbalik. Batang&lt;br /&gt;kontolnya yang berukuran super menggantung&lt;br /&gt;bergoyang-goyang di depan mulutku seperti terong. Karena&lt;br /&gt;ujungnya menyentuh-nyentuh mulutku, aku terusik untuk&lt;br /&gt;membuka mulutku dan mulai menjilati ujung topi bajanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ouchh.. Jo..” tubuhku tersentak saat lidah Parjo mulai&lt;br /&gt;menjilati vaginaku dan lidahnya menyeruak ke dalam&lt;br /&gt;lubang vaginaku menjilati dinding-dindingnya. Pantatku&lt;br /&gt;terangkat secara otomatis.&lt;br /&gt;“Arghh..” Parjo pun melenguh saat mulutku&lt;br /&gt;menyedot-nyedot ujung kepala kontolnya yang sudah sangat&lt;br /&gt;keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas saling menjilat dan mencumbu, Parjo&lt;br /&gt;membalikkan tubuhnya menghadap ke arahku. Tangan Parjo&lt;br /&gt;segera menguakkan kedua pahaku lebar-lebar. Ia&lt;br /&gt;menempatkan tubuhnya di antara kedua pahaku dan mulai&lt;br /&gt;menyatukan tubuhnya ke tubuhku. Kulit Parjo yang sudah&lt;br /&gt;licin oleh keringatnya yang berbau menyengat tampak&lt;br /&gt;mengkilap. Titik-titik keringat bermunculan di kening&lt;br /&gt;dan lehernya. Parjo menghunjamkan tubuhnya dalam-dalam&lt;br /&gt;berulang kali ke dalam hingga kedua tulang kemaluan kami&lt;br /&gt;saling melekat satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulut Parjo segera melumat bibirku yang setengah terbuka&lt;br /&gt;karena merasa sesak napas saat selangkanganku terganjal&lt;br /&gt;kontol Parjo yang melesak ke dalam lubang vaginaku&lt;br /&gt;hingga ke pangkalnya. Dalam sekali rasanya hingga mulut&lt;br /&gt;rahimku terasa agak ngilu tersodok ujung kontolnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang sudah sangat terangsang berusaha ikut bergerak&lt;br /&gt;mengimbangi tusukan-tusukan Parjo di selangkanganku&lt;br /&gt;dengan menggerakkan pantatku yang tercengkeram oleh&lt;br /&gt;kedua tangannya. Parjo terus mengayunkan pantatnya&lt;br /&gt;naik-turun di atas perutku dengan seluruh berat tubuhnya&lt;br /&gt;tertumpu di atas perutku. Dadanya yang bidang ketat&lt;br /&gt;menghimpit kedua payudaraku. Napasku terasa sesak sulit&lt;br /&gt;bernapas karena tertindih berat tubuhnya. Apalagi mulut&lt;br /&gt;Parjo yang masuk melumat bibirku berusaha&lt;br /&gt;menyedot-nyedot lidahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bisa bernapas lega saat Parjo melepaskan kontolnya&lt;br /&gt;dari jepitan lubang vaginaku dan bangun. Ia duduk di&lt;br /&gt;tepi sofa dan mengangkat tubuhku agar duduk di&lt;br /&gt;pangkuannya. Tubuhku kembali direngkuhnya dan bibirku&lt;br /&gt;kembali dipagutnya dengan rakus. Aku yang duduk di atas&lt;br /&gt;pangkuan Parjo dengan mengangkangkan kaki di antara&lt;br /&gt;kedua pahanya tidak dapat bergerak karena kedua&lt;br /&gt;tangannya melingkar erat di punggungku dan menariknya&lt;br /&gt;ketat hingga payudaraku kembali tergencet dadanya yang&lt;br /&gt;bidang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontol Parjo yang berukuran super itu tergencet di&lt;br /&gt;antara perutku dan perutnya sendiri. Lalu kedua tangan&lt;br /&gt;Parjo bergeser ke pantatku dan mengangkatnya hingga aku&lt;br /&gt;setengah berdiri menghadap ke arahnya. Kemudian satu&lt;br /&gt;tangannya mengarahkan ujung kepala kontolnya dan&lt;br /&gt;diarahkan ke selangkanganku. Tubuhku diturunkannya&lt;br /&gt;dengan pelan hingga sedikit demi sedikit ujung kontolnya&lt;br /&gt;mulai terbenam kembali ke dalam lubang vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menahan napas saat batang kontol Parjo mulai&lt;br /&gt;terjepit dinding lubang vaginaku dan melesak ke&lt;br /&gt;dalamnya. Seluruh bulu tubuhku merinding karena batang&lt;br /&gt;kontolnya yang begitu besar serasa menggesek seluruh&lt;br /&gt;celah dinding vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahh..” hampir secara bersamaan kami menghela napas lega&lt;br /&gt;saat seluruh batang kontol Parjo akhirnya masuk tertelan&lt;br /&gt;lubang vaginaku. Pantatku terasa geli tertusuk-tusuk&lt;br /&gt;rambut kemaluan Parjo yang agak tajam karena dicukur&lt;br /&gt;cepak. Aku merasa geli karena kantung telur Parjo yang&lt;br /&gt;lunak dan hangat menempel ketat di bawah pantatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dibantu kedua tangannya yang kokoh yang menyangga&lt;br /&gt;kedua buah pantatku, tubuhku bergerak naik turun di atas&lt;br /&gt;pangkuan Parjo. Kontolnya yang terjepit ketat dalam&lt;br /&gt;lubang vaginaku menggesek seluruh relung dinding&lt;br /&gt;vaginaku. Aku harus menggigit bibirku kuat-kuat agar&lt;br /&gt;dapat menahan kenikmatan yang mulai menggerogoti sumsum&lt;br /&gt;tulang belakangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parjo menundukkan wajahnya dan segera menyurukkannya ke&lt;br /&gt;dadaku yang berayun-ayun seiring dengan gerakan tubuhku&lt;br /&gt;yang seperti menari-nari di atas pangkuannya. Kedua&lt;br /&gt;payudaraku dilumatnya dengan bibirnya yang tebal&lt;br /&gt;bergantian. Lidah Parjo yang kasar dan panas&lt;br /&gt;mengilik-ngilik puting payudaraku yang dijepitnya dengan&lt;br /&gt;bibirnya. Aku merasa seperti melayang menerima&lt;br /&gt;rangsangan ganda seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohh.. Joo..” tanganku segera merengkuh kepala Parjo dan&lt;br /&gt;menekankannya ke dadaku. Perutku mulai merasa&lt;br /&gt;kejang-kejang. Gerakanku mulai tak terkendali di atas&lt;br /&gt;pangkuan Parjo. Dinding vaginaku terasa mulai&lt;br /&gt;berdenyut-denyut meremas kontol Parjo yang terjepit di&lt;br /&gt;dalamnya. Gerakanku semakin liar dan kepalaku seperti&lt;br /&gt;tersentak ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terrushh Joo.. Oohh” aku menjerit panjang saat ada&lt;br /&gt;sesuatu yang pecah di dalam perutku. Aku sudah tidak&lt;br /&gt;mampu menahan jebolnya gairahku. Pantatku berputar liar&lt;br /&gt;di atas pangkuan Parjo seperti ingin menggesek dan&lt;br /&gt;menggerus kontolnya yang terbenam di dalamnya. Tangan&lt;br /&gt;Parjo membantuku memutar pantatku. Aku melayang dan&lt;br /&gt;terhempas ke tempat kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Napasku tinggal satu-satu. Lelah sekali rasanya tubuhku.&lt;br /&gt;Aku terkulai lesu di atas pangkuan Parjo. Kedua tanganku&lt;br /&gt;memeluk erat lehernya untuk menuntaskan sisa-sisa&lt;br /&gt;kepuasan yang benar-benar melelahkan. Dinding-dinding&lt;br /&gt;vaginaku mengedut-ngedut selama beberapa saat lalu aku&lt;br /&gt;terdiam dan ambruk di atas pangkuan Parjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parjo memberiku kesempatan untuk mengatur napasku dengan&lt;br /&gt;membiarkan aku terkulai di pangkuannya. Kontolnya yang&lt;br /&gt;masih sangat keras tetap kokoh memaku lubang vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih capai Lin..?” bisik Parjo di telingaku.&lt;br /&gt;“He.. Eh..” aku tak berani melihat wajahnya karena malu,&lt;br /&gt;soalnya tadi aku menolak tetapi akhirnya aku berhasil&lt;br /&gt;ditundukkannya. Aku malu sekali padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan Parjo mengangkat tubuhku dari&lt;br /&gt;pangkuannya. Serr.. Nikmat sekali saat batang kontolnya&lt;br /&gt;yang tadi menyumbat lubang kemaluanku tertarik keluar&lt;br /&gt;menggesek dinding vaginaku. Aku sempat melirik batang&lt;br /&gt;kontol Parjo yang begitu basah dan licin mengkilat&lt;br /&gt;karena hasil orgasmeku tadi. Aku lalu disuruhnya&lt;br /&gt;merangkak dengan menghadap ke sofa. Parjo berlutut di&lt;br /&gt;belakang tubuhku yang membelakanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku menggelinjang saat lidah Parjo mulai menjalari&lt;br /&gt;tulang belakangku. Lidahnya menjelajah seluruh permukaan&lt;br /&gt;kulit punggungku. Bulu romaku dibuat merinding oleh&lt;br /&gt;ulahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ughh..” aku melenguh pelan saat mulut Parjo membuat&lt;br /&gt;gigitan ringan di atas pinggulku. Otot-otot perutku&lt;br /&gt;serasa ditarik karena rangsangan itu. Mulut Parjo tidak&lt;br /&gt;berhenti di situ. Mulutnya terus bergeser turun hingga&lt;br /&gt;kini kedua buah pantatku digigit-gigitnya dengan gemas.&lt;br /&gt;Seluruh tubuhku bergetar menerima perlakuannya. Apalagi&lt;br /&gt;saat lidah Parjo mulai menyapu-nyapu daerah sekitar&lt;br /&gt;lubang anusku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ja.. Jangan Jo..” namun terlambat. Aku tidak mampu&lt;br /&gt;mencegah saat lidah Parjo mulai menusuk-nusuk dan&lt;br /&gt;mengilik-ngilik lubang anusku. Geli sekali rasanya.&lt;br /&gt;Pantatku tidak dapat bergerak karena dicengkeram kedua&lt;br /&gt;tangannya yang kokoh. Aku hanya bisa pasrah dan&lt;br /&gt;menikmati jilatan lidahnya di lubang anusku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas menikmati lubang anusku dengan lidahnya,&lt;br /&gt;Parjo mulai mengarahkan kontolnya ke lubang vaginaku. Ia&lt;br /&gt;menusuk vaginaku dengan kontolnya di antara kedua buah&lt;br /&gt;pantatku. Aku harus menahan napas lagi saat kepala&lt;br /&gt;kontolnya mulai menerobos lubang vaginaku. Agak perih&lt;br /&gt;dan ngilu rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lubang vaginaku mulai mengeluarkan cairan pelicin lagi&lt;br /&gt;saat Parjo mengocoknya dengan ujung kepala kontolnya&lt;br /&gt;yang digesek-gesekkan di antara bibir vaginaku. Hal ini&lt;br /&gt;membuat tusukannya bertambah lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ughh.. Hkkhh” Parjo menggumam saat seluruh kontolnya&lt;br /&gt;berhasil masuk ke dalam lubang vaginaku. Aku pun dapat&lt;br /&gt;bernapas lega setelah seluruh batang kontolnya melesak&lt;br /&gt;masuk. Ia terdiam beberapa saat menikmati denyutan&lt;br /&gt;dinding vaginaku yang melumat kontolnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafsuku kembali bangkit saat Parjo berkali-kali&lt;br /&gt;memaju-mundurkan pantatnya menarik dan mendorong&lt;br /&gt;kontolnya di dalam lubang vaginaku. Aku kembali tergerak&lt;br /&gt;menikmati tusukan-tusukannya dengan ikut menggerakkan&lt;br /&gt;pantatku. Pantatku maju mundur berlawanan arah mengikuti&lt;br /&gt;irama tusukannya. Jika ia menarik mundur aku maju dan&lt;br /&gt;jika ia maju aku mendorong pantatku ke belakang&lt;br /&gt;menyongsong tusukannya. Plok.. Plok.. Plokk.., begitulah&lt;br /&gt;setiap kali pantatku beradu dengan tulang kemaluannya&lt;br /&gt;selalu terdengar suara seperti tepukan. Kedua payudaraku&lt;br /&gt;berguncang-guncang setiap kali vaginaku disodok kontol&lt;br /&gt;Parjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darahku mulai menggelegak terbakar nafsu. Tangan Parjo&lt;br /&gt;yang tadinya mencengkeram kedua buah pantatku sekarang&lt;br /&gt;berpindah dan meremas kedua payudaraku yang&lt;br /&gt;berguncang-guncang. Jari-jarinya memilin kedua puting&lt;br /&gt;payudaraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohh.. Joo.. Ter.. Russhh.. Terushh” tanpa malu-malu&lt;br /&gt;lagi aku mendesis meminta Parjo terus memompakan&lt;br /&gt;kontolnya. Pantatku yang tadinya maju-mundur kini&lt;br /&gt;bergerak memutar seolah hendak memeras. Dinding vaginaku&lt;br /&gt;kembali berdenyut-denyut. Aku memejamkan mataku berusaha&lt;br /&gt;menahan ledakan yang sudah hampir sampai. Aku berusaha&lt;br /&gt;menahan lebih lama lagi. Kelentitku yang sudah&lt;br /&gt;mengembang tergesek-gesek oleh tusukan kontol Parjo yang&lt;br /&gt;perkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohh.. Joo.. Arghh..” aku mengerang panjang. Aku sudah&lt;br /&gt;tidak mampu bertahan lagi. Siksaan gejolak napsu itu&lt;br /&gt;terlalu kuat untuk kutahan. Aku harus menyerah lagi&lt;br /&gt;untuk yang kesekian kalinya, padahal aku yakin Parjo&lt;br /&gt;belum apa-apa. Tubuhku terasa ringan sekali. Otot&lt;br /&gt;perutku mengejang dan tubuhku meliuk melepaskan&lt;br /&gt;orgasmeku. Aku terus bergerak menuntaskan orgasmeku lalu&lt;br /&gt;ambruk di sofa. Kubiarkan saja kontol Parjo menancap di&lt;br /&gt;lubang vaginaku. Aku sudah terlalu lelah untuk bergerak.&lt;br /&gt;Aku hanya pasrah saat Parjo menarik tubuhku dan&lt;br /&gt;membaringkannya di karpet ruang meeting room itu.&lt;br /&gt;Tubuhku ditelentangkannya dan kedua kakiku&lt;br /&gt;dipentangkannya lebar-lebar. Aku berusaha menutupi&lt;br /&gt;lubang vaginaku yang menganga dengan tanganku. Aku risih&lt;br /&gt;juga karena bagian tubuhku yang paling pribadi&lt;br /&gt;dipelototi mata Parjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parjo kembali merangkak di atas perutku dan menindihku.&lt;br /&gt;Kontolnya yang licin karena lendir orgasmeku kembali&lt;br /&gt;ditusukkannya ke lubang vaginaku. Kepala kontolnya agak&lt;br /&gt;mudah tergelincir masuk ke dalam jepitan lubang vaginaku&lt;br /&gt;karena memang sudah sangat licin. Ia terus mendorong&lt;br /&gt;pantatnya hingga seluruh kontolnya amblas ke dalam&lt;br /&gt;vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bertumpu pada kedua lutut dan sikunya, Parjo&lt;br /&gt;mulai mengayunkan pantatnya naik turun di atas tubuhku.&lt;br /&gt;Batang kontolnya dengan sendirinya bergerak keluar masuk&lt;br /&gt;menusuk-nusuk lubang vaginaku. Aku masih belum mampu&lt;br /&gt;bergerak. Kubiarkan saja Parjo sibuk sendiri di atas&lt;br /&gt;tubuh telanjangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibir Parjo yang terus menerus menciumi bibir lalu leher&lt;br /&gt;dan turun lagi ke payudaraku membuat nafsuku kembali&lt;br /&gt;bangkit. Lidahnya yang terus bermain-main di kedua&lt;br /&gt;puting payudaraku dan tusukan-tusukan kontolnya kembali&lt;br /&gt;memaksaku menggerakkan tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmghh.. Ughh.. Ughh..” mulut Parjo terus saja&lt;br /&gt;mendengus seperti kerbau gila. Ayunan pantatnya semakin&lt;br /&gt;kencang menghantam vaginaku. Ia terus bergerak memacuku.&lt;br /&gt;Berkali-kali mulut rahimku tersodok-sodok ujung&lt;br /&gt;kontolnya. Ngilu bercampur nikmat berbaur menjadi satu.&lt;br /&gt;Keringatnya telah semakin membuat tubuhnya licin. Aroma&lt;br /&gt;keringatnya yang maskulin benar-benar membuatku mabuk&lt;br /&gt;karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin tidak mampu bergerak karena berat badan&lt;br /&gt;Parjo seolah bertumpu pada perutku. Kedua tangannya&lt;br /&gt;berpindah mengganjal kedua buah pantatku dan&lt;br /&gt;mencengkeramnya kuat-kuat. Bibirnya kini melumat bibirku&lt;br /&gt;dan lidahnya menggesek-gesek langit-langit mulutku.&lt;br /&gt;Pantatnya kian cepat memompa menghantam vaginaku. Aku&lt;br /&gt;merasa darahku mulai menggelegak. Perutku kembali&lt;br /&gt;mengejang pertanda akan mencapai klimaksku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berusaha memutar pantatku yang dicengkeram kedua&lt;br /&gt;tangan Parjo dengan sisa tenagaku. Gerakan pantatku&lt;br /&gt;memutar menyongsong tusukan kontolnya yang menderu-deru.&lt;br /&gt;Vaginaku mulai mengedut-ngedut dan mataku seolah mulai&lt;br /&gt;terbalik menahan nikmat. Aku terus bergerak menyongsong&lt;br /&gt;nikmat. Gerakanku dan gerakan Parjo semakin liar tak&lt;br /&gt;terkendali. Kami sama-sama mendengus dan mengerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Parjo yang meremas kedua buah pantatku terasa&lt;br /&gt;lebih kuat. Pantatnya terus menghunjam selangkanganku.&lt;br /&gt;Tubuhku menggeliat dan tersentak. Pantatku terangkat&lt;br /&gt;saat aku merasa ada suatu ledakan di dalam perutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Arrgghh.. Ter.. Rushh.. Terushh.. Oughh” mulut Parjo&lt;br /&gt;terus memintaku mempercepat putaran pantatku. Aku terus&lt;br /&gt;berusaha bergerak.&lt;br /&gt;“Ohh” aku merintih panjang bersamaan dengan geraman&lt;br /&gt;Parjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulut Parjo melumat bibirku kencang sekali saat ujung&lt;br /&gt;kontolnya menyemburkan mani ke dalam mulut rahimku.&lt;br /&gt;Crrt.. Crtt.. Crrt.. Crrtt.. Crutt.. Hangat sekali&lt;br /&gt;rasanya saat mulut rahimku tersembur air maninya. Tubuh&lt;br /&gt;Parjo ambruk di atas perutku. Kami sama-sama terkulai&lt;br /&gt;lemah setelah bertempur habis-habisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak jadi lembur hari itu. Aku berulangkali&lt;br /&gt;disetubuhi Parjo dengan berbagai posisi di ruang meeting&lt;br /&gt;VIP itu hingga loyo. Ruang meeting VIP yang biasa&lt;br /&gt;digunakan menemui tamu-tamu VIP sekarang kami gunakan&lt;br /&gt;untuk saling memiting dan menuntaskan gejolak nafsu liar&lt;br /&gt;kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku keluar kantor dan pulang ke rumah hampir jam 23.30&lt;br /&gt;malam itu. Perselingkuhanku dengan Parjo kembali&lt;br /&gt;terulang karena ia mengancamku akan menceritakan&lt;br /&gt;affairku dengannya kepada teman-temannya bila aku tidak&lt;br /&gt;mau melayani keinginannya. Hampir dua minggu sekali&lt;br /&gt;Parjo minta jatah dariku baik itu di kantor saat sepi,&lt;br /&gt;di rest room atau di penginapan yang terdekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu aku menjadi kekasih gelap Parjo, office&lt;br /&gt;boy di kantorku. Ia dan aku telah berjanji untuk&lt;br /&gt;merahasiakan hubungan kami dan akan bersikap wajar di&lt;br /&gt;depan orang lain. Ia juga berjanji tidak akan&lt;br /&gt;menggangguku bila aku sedang di rumah atau sedang&lt;br /&gt;bersama suamiku.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7501232687625531161-5490980894551517014?l=dennythejaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dennythejaya.blogspot.com/feeds/5490980894551517014/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7501232687625531161&amp;postID=5490980894551517014' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/5490980894551517014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7501232687625531161/posts/default/5490980894551517014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dennythejaya.blogspot.com/2011/05/skandal-kantor.html' title='skandal kantor'/><author><name>denny</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7501232687625531161.post-8017001163319903402</id><published>2011-05-06T12:09:00.000-07:00</published><updated>2011-05-06T12:46:56.185-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perkosa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Selingkuh'/><title type='text'>aku nikmati di perkosa supirku</title><content type='html'>Namaku Widuri berumur 25 tahun, aku dilahirkan dalam lingkungan keluarga yang cukup mapan. Karena itu aku terbiasa berhias dan menikmati kehidupan yang lumayan mewah. Kulitku putih dan orang bilang tubuhku cukup ideal. Aku telah berumah tangga, Sandi suamiku mempunyai perusahaan yang bergerak di bidang eksport import. Saat ini dia sedang tidak berada di rumah. Dia pergi keluar kota selama kurang lebih sebulan untuk mengurus keperluan bisnisnya. Aku terbiasa ditinggal sendiri di dalam rumah mewahku. Tapi sebulan yang lalu dia pulang membawa seseorang yang akan dijadikan supir di rumahku. Dia adalah Martono, seorang pria berumur kurang lebih 40 tahunan. Rambutnya botak kulitnya hitam dan wajahnya terlihat buruk keras. Suamiku yang mempekerjakannya sebagai supir kami sebagai balas jasa telah menyelamatkan suamiku dari ancaman perampokan di jalan raya. Meskipun aku kadang-kadang ketakutan melihat matanya yang jelalatan melihatku, tapi aku menghormati keputusan suamiku. Dia memang pintar mengemudi mobil dan mengetahui seluk-beluk kotaJakarta. Seringkali Aku belanja ke Mall hanya diantar oleh Martono karena suamiku betul-betul sangat sibuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari ketika aku sedang memasak di dapur, tiba-tiba aku dikejutkan dengan kehadiran Martono yang menatapku dengan jelalatan.&lt;br /&gt;“Oh Pak Martono…. kaget saya melihat bapak tiba-tiba sudah ada disini.” Aku memanggilnya dengan sebutan bapak karena dia lebih tua dariku.&lt;br /&gt;“Maaf nyonya kalau saya ternyata mengagetkan …..”. Dia menjawab tapi tatapan matanya tidak berhenti menatap dadaku. Aku sedikit risih dengan tatapannya, lalu aku pura-pura menyibukkan diri memasak kembali. Martono masih diam saja di dapur menatap bagian belakang tubuhku.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Ada keperluan apa bapak ke dapur.” Akhirnya aku bertanya setelah sekian lama mendiamkannya.&lt;br /&gt;” Nyonya sangat cantik sekali…..dan seksi” Martono menjawab. Aku terkejut dengan jawabannya itu. Jantungku berpacu semakin cepat, aku mulai was-was.&lt;br /&gt;“Jangan-jangan….ah, tidak mungkin…. Semoga dia cuma berkata sebenarnya, hanya caranya mengungkapkan seperti orang yang terbiasa hidup di jalanan. Tanpa basa-basi.” Aku berusaha menenangkan deburan jantungku.&lt;br /&gt;” Terimakasih…..” aku menjawab dengan sedikit gemetar.&lt;br /&gt;“Sebenarnya Nyonya sangat menggairahkan, setiap kali saya di dekat Nyonya pasti “adik” saya terbangun. Saya masih yakin dapat memuaskan Nyonya.” Martono berkata tanpa basa-basi.&lt;br /&gt;Deg…. Dugaanku ternyata benar, aku takut sekaligus marah dengan Martono. Aku menghadapnya dengan mengacungkan pisau dapur yang sedang kupakai.&lt;br /&gt;” Hei Martono, jangan kurang ajar terhadapku. Ingat aku adalah majikanmu. Aku bisa memecatmu sekarang juga karena kelakuanmu yang tidak sopan terhadapku. Selama ini aku menerimamu karena menghormati suamiku.” Aku membentak tanpa menghiraukan usianya yang lebih tua dariku.&lt;br /&gt;Tanpa-diduga-duga dia memelintir tanganku yang memegang pisau sehingga pisau itu terlempar. Aku mengaduh kesakitan. Tapi tangan kirinya telah memelukku dengan erat. Aku tidak bisa bergerak sama sekali, karena himpitan tenaganya yang kuat.&lt;br /&gt;“Kamu kira aku bisa ditakuti dengan mainan seperti itu…. hah.” Dia sekarang menelikung tanganku dan mendekapkan badanku ke badannya. Aku gemetar ketakutan dan tidak terpikir untuk berteriak saking gugupnya.&lt;br /&gt;“Aku memang mengincarmu dari dulu, karena itu mengatur siasat agar dia dirampok oleh kawa-kawanku. Aku pura-pura datang menolongnya. Sekarang kalau kau berani melawan, maka kau akan tahu akibatnya. Kau dan suamimu bisa kubunuh kapan saja bila kau coba-coba melapor pada pihak yang berwajib. Aku punya banyak kawan preman di jalanan yang bisa dengan mudah kuperintahkan.” Martono mengancamku. Aku semakin ketakutan, hilanglah sudah harapanku.&lt;br /&gt;“Aku akan melepaskan pelukanku kalau kau mengerti kondisimu saat ini.” Martono meneruskan. Aku hanya diam menggigil ketakutan dan mengangguk. Dia menyeringai dan melepaskan pelukannya. Aku langsung terduduk di lantai dan menangis. Martono tertawa penuh kemenangan. Sedangkan hatiku sangat kalut. Martono bisa melakukan apa saja terhadapku. Kalau aku melaporkan dia pada Polisi maka jiwaku dan suamiku akan terancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Kamu tidak perlu menangis… karena aku akan memberikan kepuasan batin yang tak terhingga kepadamu. Aku tahu kebutuhan batinku sangat kurang karena suamimu jarang berada di rumah. Kamu sangat kesepian kan?. Pikirkan saja bahwa suamimu tidak ada disini sedangkan kau merasa sangat kesepian, siapa yang salah sekarang….” Martono berkata dengan tenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil duduk Martono membuka resluiting celananya. Kemaluannya tampak telah membesar dan kini tepat mengarah di depan wajahku. Akupun kembali membuang muka sambil memejamkan mata. Martono mulai memaksa untuk mengoral batang kejantanannya. Tangannya keras segera meraih kepalaku dan wajahnya ke depan kemaluannya. Setelah itu kemudian Martono memaksakan batang kejantanannya masuk ke dalam mulutku hingga sampai pangkal penis dan sepasang buah zakar bergelantungan di depan bibirku.&lt;br /&gt;Dengan agak terpaksa aku membuka mulutku dan mulai menciumi penis Martono, sebenarnya ukuran penis Martono hampir sama dengan milik suamiku tetapi punya Martono sedikit lebih panjang dan agak membesar di bagian kepalanya. Akhirnya perlahan aku mulai menjilati dan mengulum penis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohh.. Nikmat sekali sayaang, kau memang pintar”&lt;br /&gt;Martono mengerang sambil meremas rambutku lalu ia mendorong dan menarik penisnya di mulutku. Aku terus mengutuk diriku yang rela memberikan sesuatu yang lebih pada orang lain daripada untuk suamiku karena selama ini aku selalu menolak kalau Mas Sandi minta untuk memasukan penisnya ke mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku gelagapan karena mulutku kini disumpal oleh kemaluan Martono yang besar itu. Martono mulai mengocokkan batang penisnya dimulutku yang megap-megap karena kekurangan Oksigen. Dipompanya kemaluannya keluar masuk dengan cepat hingga buah zakarnya terasa memukul-mukul daguku. Tak terasa air mataku mengalir deras, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunyi berkecipak karena gesekan bibirku dan batang penis yang sedang dikulum tidak dapat dihindarkan lagi. Hal ini membuat Martono makin bernafsu dan makin mempercepat gerakan pinggulnya yang tepat berada di depan wajahku. Batang penisnya juga semakin cepat keluar&lt;br /&gt;masuk di mulutku, dan sesekali membuatku tersedak dan ingin muntah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama sekali rasanya batang penis Martono kukulum dan membuatku makin lemas dan pucat. Akhirnya tubuh Martono pun mengejan keras dan Martono menumpahkan spermanya di rongga mulutku. Hal ini membuatku tersentak dan kaget, ingin memuntahkannya keluar namun pegangan tangan Martono di kepalaku sangat keras sekali, sehingga dengan terpaksa aku menelan sebagian besar sperma itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaah..,” Martono pun mendesah.&lt;br /&gt;“Akhirnya aku bisa menikmati mulutmu yang indah sayang……..” Terasa sakit rasanya hatiku. Aku seperti wanita yang tidak berharga dan bisa dipermainkan oleh siapa saja. Aku hanya bisa menangis tanpa bisa melawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo ikut aku…..” Martono kemudian menarik tanganku dengan kasar. Dengan setengah menyeretku dia membawaku ke kamar tidurku. Didorongnya tubuhku ke atas ranjangku yang empuk.&lt;br /&gt;“Hmm. Kamar yang bagus dan wangi…. Cocok untuk kita saling melepas hasrat yang sangat nikmat.” Martono mengagumi kamar tidurku yang luas dan bersih. Aku tetap berbaring telungkup dengan menangis. Sia-sia saja aku walaupun berteriak, tidak ada tetangga yang akan mendengarku. Hidup di Jakarta kadang-kadang tidak memperdulikan penderitaan tetanga. Yang paling parah, Martono bisa mencelakakanku, yang paling kutakuti sebenarnya kalau dia sampai mencelakakan suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei… jangan diam saja. Bangun sini.” Martono membentakku. Aku lalu bangun mendekatinya. Dia menyeringai dan berkata. “Lepaskan seluruh pakaianmu dan menarilah.”&lt;br /&gt;“Gila… apakah aku disuruh berstriptease dihadapannya. Terhadap suamikupun aku belum pernah melakukannya.” Aku semakin gemetar….&lt;br /&gt;“Tolong, jangan lakukan ini kepada kami….. kalau pak Martono perlu uang nanti kami beri sesuai permintaan bapak.” Aku memberanikan diri menolak kemauannya dengan suara yang bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan menolak, atau aku telpon temanku sekarang juga untuk mengurus suamimu. Tapi kalau kau memberikan layanan terbaikmu, maka kau jamin dirimu dan suamimu tidak akan binasa. Rahasia diantara kita tidak akan diketahuinya dan kaupun dapat menikmati keperkasaanku. Ha.. ha.. ha..” Martono malah balik membentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan aku mulai melepaskan pakaian yang kupakai. Kubuka kancing bajuku satu persatu dengan tangan gemetar. Nafas Martono nampak sedikit tertahan tegang ketika aku membuka bra warna pink yang kupakai. Aku menggoyang-goyangkan pantatku perlahan-lahan sambil membuka celana dalam yang merupakan bagian terakhir perlengkapan pakaianku. Aku menutupi payudaraku dan bagian kewanitaanku dengan kedua belah tanganku sebisa mungkin. Hatiku makin tidak karuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Martono semakin beringas “Beruntung sekali aku mendapatkanmu……. Tubuhmu yang putih mulus dan kencang sungguh luar biasa indahnya. Mari sini sayang.” Martono menarik tanganku dan membaringkanku telentang. Dia dengan tergesa-gesa melepaskan pakaiannya. Badannya yang hitam menandakan dia terbiasa bekerja di bawah terik matahari. Terlihat beberapa tatto di badannya. Selama ini aku tidak pernah melihat dia mempunyai tatto. Kepalaku terasa berkunang-kunang, rasanya aku hampir tidak sanggup menahan peristiwa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martono perlahan-lahan mendekati aku yang tergolek lemas ditempat tidurku. Diambang kesadaran kurasakan sesuatu yang basah merayap menelusuri kakiku dan terus beranjak naik menuju pahaku, tanganku berusaha mencari tahu apa sebenarnya yang menelusuri kaki dan pahaku.&lt;br /&gt;“Oh.. Martono.. apa yang Bapak lakukan..” aku tersentak kaget ketika kudapati ternyata lidah Martono menempel di belahan pahaku.&lt;br /&gt;“Tenanglah.. nikmati saja..”, aku berontak, aku tak bisa membiarkan kekurang ajaran orang ini, aku harus bisa melepaskan diri dari bajingan ini, tapi tak berdaya aku melakukan semua itu, tubuhku lemas, akan tetapi terasa dorongan hasrat menjalari seluruh tubuhku yang memang jarang mendapatkannya dari suamiku.&lt;br /&gt;“Bajingan kau.. lepaskan!, aku ini majikanmu.” Kali ini timbul perasaan nekatku yang tadi dihimpit ketakutan.&lt;br /&gt;“Kurang ajar.. Bajingan.. lepaskan..!” kembali aku berteriak sambil berusaha menendang, tapi lagi-lagi aku begitu lemah dan tiba-tiba saja lidah Martono yang basah menyeruak menyapu organ tubuhku yang paling sensitif.&lt;br /&gt;“Akhh..” Oh.. Tuhan nikmat sekali rasanya lidah orang ini, tubuhku mengejang, lama lidah Martono bermain dengan Vaginaku dan sesekali ia menyentuh dan menggigit clitorisku yang mulai mengembang dan mengeras. Cairan vaginaku mulai keluar meleleh berbaur dengan air liur Martono yang masih saja menusukan lidahnya ke vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba tubuhku kembali menegang, dan kurasakan sesuatu menjalar diseluruh tubuhku dan seakan berkumpul dirahimku lalu..&lt;br /&gt;“Ohh.. hh.. Akh..” erangan panjang dari mulutku mengiringi semprotan cairan hangat yang keluar dari dalam liang vaginaku dan membasahi mulut Martono. Ohh.. aku orgasme dengan orang selain suamiku dan hendak memperkosaku dengan biadab, tapi rasanya nikmat sekali orgasmeku dari Martono ini dan aku selalu menginginkan lebih dari itu. Kini tubuhku benar-benar lemas sambil kedua pahaku tetap menghimpit kepala Martono dengan nafas yang terengah-engah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan Martono melepaskan kepalanya dari selangkanganku dan merayap keatas tubuhku yang masih belum bisa membuka mataku.&lt;br /&gt;“Apa kubilang.. nikmat kan?” Martono berbisik ditelingaku.&lt;br /&gt;“Ja.. hh.. jangan Pak sudah..” sebentar Martono menghentikan aksinya mungkin untuk memberiku kesempatan mengumpulkan tenaga kembali.&lt;br /&gt;“Nyonya tahu kalau saya udah jatuh cinta saat pertama melihat nyonya, jadi nikmati saja tanda cinta dari saya.&lt;br /&gt;“Tidak Pak.. jangan..” setengah menangis aku memelas agar ia mau melepaskanku dari nafsu bejatnya.&lt;br /&gt;“Pak Sandi sangat beruntung memiliki nyonya.., cantik dan bertubuh idaman lelaki..”&lt;br /&gt;Dengan lembut ia mencium keningku, hidungku, pipiku dan sambil menghembuskan nafasnya ia mencium telingaku membuat gairah dalam tubuhku kembali berkobar dan seluruh bulu-bulu halus di tubuhku berdiri.&lt;br /&gt;“Bibir nyonya indah..” itu yang terdengar sebelum ia melumat kedua belah bibir sensualku, aku berusaha menghindar tapi nikmat sekali rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan aku mulai membalas dengan membuka bibirku membiarkan lidah Martono menyeruak masuk kedalam mulutku. Ia melepaskan ciumannya lalu bergerak menelusuri leherku dan menggigit puting susuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Susu nyonya sungguh menggairahkan.. indah sekali sayang..”&lt;br /&gt;Ia mengulum dan membenamkan wajahnya di belahan dadaku. aku menggelinjang dan hasratku lebih berkobar akhirnya kudekap tubuh yang menindih diatasku, oh.. Tuhan ia sudah telanjang bulat, kurasakan belahan pantatnya di kedua tanganku. Lama ia menelusuri dan meremas payudaraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan.. Pak.. aku mohon jangan.. aku nggak mau menghianati suamiku….!” untuk kesekian kalinya aku memelas sambil berusaha merapatkan kedua kakiku dan mendorong tubuh Martono agar menjauh dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa mempedulikan rintihanku Martono bergerak berusaha membuka kakiku dan menempatkan tubuhnya diantara kedua kakiku. Dengan reflek kedua tanganku bergerak menutupi selangkanganku, tapi kembali tangan Martono menarik kedua tangan ku dan membawanya keatas kepalaku. Langsung saja ia menyapu kedua ketiakku yang mulus tanpa bulu dengan lidahnya, kembali akupun merasakan sensasi kenikmatan sebagai akibat sapuan lidahnya yang basah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohh..” tubuhku bergetar sesuatu yang keras berusaha menyeruak masuk lubang kenikmatanku, dan perlahan benda itu mulai tenggelam dalam selangkanganku. Aku mendongak, mataku terpejam merasakan sensasi kenikmatan yang tiada taranya dan diakhiri dengan satu sodokan kuat akhirnya amblaslah seluruh penis Martono kedalam liang vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku terasa penuh seakan benda itu menancap tepat di rahimku, hilanglah sudah pertahanan terakhir kesucian rumah tanggaku. Tanganku mencengkram erat tubuh Martono dan menancapkan kuku-kukuku di pundaknya, perlahan tetes air mata mengalir disudut mataku yang terpejam. Lalu Martono mulai menggerakan pantatnya dan mulai mengobok-obok isi liang vaginaku.&lt;br /&gt;“Ohh.. Nyonya.. nikmat sekali.. Kau.. kau.. begitu rapat..” Martono terus mengocok vaginaku maju dan mundur dan akupun semakin menikmatinya, hilang rasanya rasa pedih dihatiku terobati dengan kenikmatan yang tiada taranya. Mulutku mulai meracau mengeluarkan desahan dan ocehan.&lt;br /&gt;“Akhh.. Pak.. Aduuh.. ohh..” lama Martono memacu birahinya dan akupun mengimbanginya dengan menggelora, sampai akhirnya kembali aku mengejang dan sambil memeluk erat tubuh Martono aku kembali menyemprotkan cairan yang meledak dalam rahimku, aku orgasme untuk yang kedua dari Martono. Untuk beberapa saat Martono menghentikan gerakannya dan memeluk erat tubuhku sambil melumat bibirku. Aku benar-benar menikmati orgasme yang kedua ini, mataku terpejam sambil kulingkarkan kedua kakiku ke pinggang Martono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama kemudian Martono mencabut penisnya yang masih mengacung kokoh dari dalam rahimku.&lt;br /&gt;“Oh..” ada sesuatu yang hilang rasanya dari tubuhku.&lt;br /&gt;Perlahan ia bergerak menyamping dan membalikan tubuhku, kali ini aku pasrah dan lemah tak berdaya hanya menurut saja. Kembali ia menaiki tubuhku, kali ini dari belakang dan mulai menusuk-nusukan penisnya ke pantatku. Akupun menyambut sodokan benda tumpul itu dengan sedikit membuka kakiku dan mengangkat pantat kenyalku, cairan yang keluar dari rahimku mempermudah masuknya senjata Martono melalui jalan belakang dan kembali menancap di vaginaku. ia bergerak sambil kedua tangannya meremas payudaraku dari belakang dan menggenjotkan pantatnya menghantam liang vaginaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gesekan demi gesekan kurasakan semakin nikmat menyentuh kulit halus liang vaginaku, tanganku mencengkram erat seprei tempat tidurku yang acak-acakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohh.. Nyonya.. Nikmat sekali.. Ohh..”&lt;br /&gt;Martono benar-benar hebat, ia bisa bertahan lama menggauliku dengan berbagai posisi, sedangkan akupun semakin gila saja meladeni nafsu setan Martono. Untuk ketiga kalinya aku mencapai klimaks sedangkan Martono mesih saja berpacu diatas tubuhku. Sekarang pasisi tubuhku duduk dipangkuan laki-laki ini sambil mendekap dengan kepala mendongak kebelakang, leluasa ia mencumbu leherku yang mulai sudah basah dengan keringat yang keluar dari seluruh pori-pori tubuhku. Seakan tak pernah puas terus saja ia mengulum dan menjilati kedua payudaraku, kurasakan penis Martono menghujam telak keliang senggamaku yang mendudukinya. Kocokan demi kocokan yang semakin gaencar kurasakan menggesek kulir vaginaku sebelah dalam, erangan dan cengkraman menghiasi gerakannya. Kali ini aku benar-benar melepaskan seluruh hasratku yang selama ini terpendam, aku tak mempedulikan lagi siapa laki-laki yang menyetubuhiku, yang jelas aku ingin terpuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama posisi duduk itu berlangsung sampai akhirnya tubuh Martono semakin gencar menyodok vaginaku, gerakannya semakin cepat. Martono menghempaskan tubuhku kembali terlentang ditempat tidur, tubuhnya mengejang dan memeluk rapat tubuhku sampai aku hampir tak bisa bernafas. Lalu kurasakan semburan hangat dengan kencang membentur dinding rahimku.&lt;br /&gt;“Akhh..” Martono mengerang panjang sambil menekan pantatnya kebawah dengan keras, kucengkram dan kembali kulingkarkan kakiku kepinggangnya dan akupun melepaskan sisa orgasme yang masih tersisa ditubuhku. Untuk orgasme yang terakhir ini kami berlangsung hampir bersamaan, akhirnya dengan terkulai lemah tubuh Martono roboh menindih tubuhku yang lemas pula. Lama kami terdiam merasakan sisa kenikmatan itu dan akhirnya Martono mulai beringsut menjauh dari tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih Nyonya sayang..” setengah sadar dan tidak kudengar Martono membisikan kata-kata itu sambil mengecup keningku. Lalu ia berdiri mematung di samping tempat tidur. Aku tidak tahu kapan ia pergi karena setelah itu aku tertidur karena lelah dan kantuk yang menyerangku tanpa mempedulikan keadaan kamar tidurku yang acak-acakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore hari aku baru terbangun dari tidurku, tubuhku serasa hancur dan lelah bukan kepalang. Kulihat keadaan diriku terasa sisa sperma yang mulai lengket membanjir di selangkanganku. kulihat banyak sekali cairan sperma Martono keluar meleleh dari dalam vaginaku bercampur dengan cairan rahimku dan membasahi seprei tempet tidur. Setengah merangkak aku menuju kamar mandi membersihkan tubuhku dari bekas keringat dan dosa, guyuran air hangat membuat tubuhku sedikit lebih segar walaupun rasa capek itu masih terasa ditubuhku. Kulihat vaginaku memerah dan bekas cupangan nampak di payudaraku, lama aku berada di kamar mandi menunggu cairan sperma Martono keluar semua meninggalkan liang rahimku. selesai mandi cepat-cepat kubereskan tempat tidurku dan mengganti seprei serta sarung bantal guling dengan yang masih baru..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih termenung memikirkan kejadian siang tadi, aku mengutuk diriku sendiri dan sangat menyesal dengan hal itu. Bajingan benar Martono itu, ia telah menodai kesucian rumah tanggaku yang selama ini kujaga dengan baik. Yang lebih kusesalkan lagi akupun menikmati permainannya yang sangat nikmat. Belum pernah aku merasakan senggama sepanjang itu dengan Mas Sandi, aku bisa mencapai klimax sampai empat kali, kuakui hebat sekali permainan Martono.&lt;br /&gt;———————————————&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam hari bel pintu berbunyi. Kupikir suamiku sudah pulang, aku buru-buru membukakan pintu. Betapa terkejutnya aku melihat Martono datang dengan membawa seorang teman yang berbadan tegap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat malam nyonya….. aku membawakan teman yang akan membuat nyonya merasakan sensasi yang luar biasa.” Martono menyeringai kepadaku sedangkan temannya senyum-senyum menyebalkan.&lt;br /&gt;“Bagaimana nyonya, bukankah sudah saya katakan untuk menikmati saja sensasi kenikmatan yang kami tawarkan daripada melaporkan kami kepada pihak yang berwajib. Saya melihat nyonya begitu bernafsu dan sangat menikmatinya juga, bukan?.” Aku menjadi jengah mengingat kejadian tadi siang. Memang diakui akupun terhanyut dibuai permainan Martono. Aku hanya diam memejamkan mataku dan menarik nafas dalam-dalam sekedar menenangkan perasaanku yang tidak karuan. Tiba-tiba aku mendorongnya maka ia terjatuh, dan kesempatan ini aku melarikan diri menuju pintu kamar mandi. Aku pikir untuk melarikan diri menuju kamar mandi dan mengunci diriku dari Martono dan temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tiba-tiba tangan Martono sudah menangkapku dan memelukku dengan erat.&lt;br /&gt;“Hentikan…….. aku tidak mau melakukannya.” Aku berteriak-teriak tetapi temannya Martono malah mengamati aku dengan napsu.&lt;br /&gt;“Kamu benar-benar membuatku bernafsu, bagaimana mungkin aku membiarkan wanita yang sangat menggairahkan pergi?”.&lt;br /&gt;“Sebaiknya nyonya jangan banyak bertingkah, berteriakpun percuma… lebih baik layani aku dan Bejo. Ha… ha… ha…” Martono menyeringai.&lt;br /&gt;“Lepaskan aku… lepaskan aku…” aku berusaha meronta, tapi Martono mengangkat tubuhku dan membawaku ke kamar tidurku yang telah digunakan tadi siang. Dengan mudahnya dia melemparku ke atas ranjang.&lt;br /&gt;Aku sangat terkejut dengan perkembangan keadaa ini. Mereka akan memperkosa aku seperti ini. Tetapi apa yang aku bisa lakukan? Sekarang kami semua berada di kamar tidurku. Bejo mendekat dan merobek pakaianku dan menarik paksa BH dan CD yang ku kenakan sehingga payudaraku terlihat jelas. Aku menyesal hanya mengenakan pakaian daster sehingga memudahkan mereka melampiaskan nafsunya. Aku malu sekali terlihat bagian- bagian rahasia di hadapan orang-orang selain suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“wow… payudara yang indah, nyonya sungguh mempunyai anugerah yang tak terhingga.” Kata Bejo.&lt;br /&gt;“Aku suka sekali payudara yang besar dan putih mulus tanpa cacat.” Bejo melanjutkan.&lt;br /&gt;“Kita beruntung mendapatkan buruan seperti ini…” Martono menyahut. Kemudian tangan Martono menggerayangi susuku dan meremas-remasnya kedua payudaraku. Martono menisap-isap putting susuku dengan penuh nafsu, dan Bejo mulai menggerayangi perut dan pahaku. Tiba-tiba terasa tangannya yang kasar memasuki celah sempit di vaginaku. Kini aku mengerti mereka akan berusaha merangsangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun….. jangan lakukan ini kepadaku ” aku memohon belas kasih mereka, tetapi mereka tidak menunjukkan sedikitpun rasa simpati, malah wajah mereka menunjukan kebuasan nafsu birahi. Mereka dengan cekatan telah melepaskan pakaian mereka masing-masing. Penis Martono sudah kulihat dan kunikmati tadi siang, tetapi sekarang aku terkejut melihat Penis Bejo yang luar biasa, panjangnya sekitar 18 cm dan kelihatan berurat-urat. Aku makin gemetar ketakutan sekaligus rasa aneh yang menjalar seakan-akan ingin merasakan sensasi penis besar milik Bejo. Wajahku terasa panas. “Ah, Mas Sandi… maafkan aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan ku telah ditangkap oleh Martono dan payudaraku kembali diisapnya. Bejo memegang pinggangku dan menaruh burungnya di lubang pantat ku.&lt;br /&gt;“Jangan… jangan disitu… tolong..” Aku menjerit-jerit kesakitan merasakan dorongan penis Bejo dari belakang.&lt;br /&gt;“Nyonya jangan cemas……. akan sedikit menyakitkan ……..tetapi setelah itu kamu akan menikmatinya.” Bejo berkata kepadaku dengan senyum sinis.&lt;br /&gt;“Bukankah tadi siang memekmu telah dipakai oleh Martono, maka aku ingin mencicipi pantatmu yang kuyakin tidak pernah terpakai, masih perawan… ha.. ha… ha..”&lt;br /&gt;Tak lama aku berteriak kesakitan tetapi secepat aku membuka mulut ku untuk menangis Supir ku memasukkan burungnya di dalam mulutku dan aku tidak bisa menangis.&lt;br /&gt;Sementara itu Bejo menaruh penisnya pada lubang pantat ku dan menarik pinggangku ke arahnya. Dia tetapi tidak bisa memasukkan burungnya ke dalam lubang pantatku yang sakit.&lt;br /&gt;“Martono… apakah kamu punya mentega di dapur sebab lubang nya sangat sempit” Bejo bertanya&lt;br /&gt;“Wah beruntung sekali kau mendapatkan cewek perawan…..ambillah sendiri di dapur.” Martono malah tertawa.&lt;br /&gt;Bejo lalu pergi menuju dapur.&lt;br /&gt;“Martono, tolong lepaskan aku…. Aku tidak sanggup lagi.” Aku memelas pada Martono.&lt;br /&gt;“Nyonya…tenang saja dan nikmati. Bukankah nyonya sudah tahu bahwa nyonya sudah lama kami idam-idamkan untuk dinikmati oleh kami. Aku adalah supirmu dan Bejo adalah seorang supir truk. Dalam hidup kami jarang-jarang memiliki kesempatan mendapatkan wanita menggairahkan seperti kamu! Maka bagaimana mungkin kami akan tinggalkan?” Martono malah menjawab dengan senyum kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kusadari tidak ada cara lain dan tak seorangpun dapat menyelamatkanku. Maka aku berfikir untuk menikmatinya saja seperti yang diucapkan Martono kepadaku. Aku sudah merasa kepalang basah, kenapa tidak dinikmati saja sekalian, toh akupun merasakan kenikmatan yang tiada tara dengan Martono tadi siang. Aku merubah posisiku seperti seorang pelacur, aku tidak peduli lagi.&lt;br /&gt;Martono mulai bertindak dengan pekerjaan nya Martono yang tertunda. Dia meremas-remas payudaraku, kemudian Bejo yang baru datang mengoleskan mentega pada lubang pantatku dan mengolesi burungnya juga. Kemudian ia memposisikan burungnya pada lubang pantatku dan dengan beberapa tekanan dia berusaha menerobos lubang pantatku. Aku merasakan sangat sakit tetapi aku sudah tidak melawan lagi. Bejo mendorong paksa burungnya dan posisi Martono di depanku membuatku terdorong mundur. Aku merasakan sesuatu yang besar dan kuat berada di pantatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Auh… sakit… ampun…” aku melepaskan penis Martono dari mulutku. Bejo sengaja mendiamkan burungnya beberapa saat membiarkanku agar terbiasa. Setelah beberapa menit Bejo mulai mendorong lagi penisnya.&lt;br /&gt;“Auh…. Jangan…” aku berteriak kembali, rasanya sangat sakit. Seluruh penis Bejo telah masuk dan merobek pantatku, terasa ada sedikit darah mengalir dari lubang pantatku. Aduh! Kontolnya itu sangat besar sehingga terasa sangat ketat di lubang pantatku!&lt;br /&gt;“Auhh.. aduh… aduh… tolong.. aku akan mati… Kau merobek pantatku.. rasanya punggungku mau patah… Kau Bajingan!” Aku menjerit dengan suara nyaring tetapi mereka berdua hanya diam dan mulai beraksi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang kontolku sudah masuk, Martono… kamu boleh meninggalkan aku sekarang.” Bejo berkata pada Martono. Martono hanya menganguk.&lt;br /&gt;“Baiklah, aku akan menonton pertunjukanmu…. Nyonya, sekarang anda adalah bagiannya.” Martono sekali lagi mencium payudaraku dan meninggalkanku. Dia duduk di kursi meja hias dan menonton perbuatan Bejo terhadapku. Sekarang aku sepenuhnya dipermainkan oleh Bejo.&lt;br /&gt;“Kau kekasihku sekarang, aku akan membuatmu merasakan sensasi yang sangat menyenangkan… aku akan membuatmu ketagihan… kau akan jadi pelacurku.” Bejo sesumbar.&lt;br /&gt;“Sudahlah… kumohon keluarkan penismu… aku tak tahan lagi…. Sakit…. Rasanya aku hampir mati” terasa air mataku menitik.&lt;br /&gt;“Aku tidak akan membiarkanmu mati…. Nikmati saja… sebentar lagi akan terasa lebih nikmat.” Bejo berbisik sambil menjilat telingaku. Dia lalu meraih payudaraku dan meremasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia mencabut burungnya separuh, lalu mendorong dengan kekuatan besar.&lt;br /&gt;” Jangan…. Tolong hentikan.. aku mau mati…. Hentikan sebentar…. sakit!” Aku mulai menangis tetapi ia tidak mendengarkanku dan tetap menggenjot pantatku dengan penuh nafsu. Aku roboh!&lt;br /&gt;Bejo tetap memperkosaku tanpa mendengarkan aku dan dia memegang pinggul ku dengan tangan nya dan menggenjotku dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama memperkosaku, burungnya menyentuh bagian sensitifku dan membuatku merasakan getaran-getaran lembut dan menyenangkan. Aku mulai berpikir lagi, dalam kondisi tanpa pengharapan dan tak seorangpun dapat menolongku, mengapa aku tidak sekalian saja menikmati penis super ini. Pelan-pelan aku mulai menikmati gesekan penis Bejo pada pantatku, aku mulai menggoyangkan pinggulku. Kelihatannya Bejo menyadari perubahan dalam diriku.&lt;br /&gt;“Ayoo sayang… nikmati…. Auh… enak sekali… betapa sesaknya pantatmu..”&lt;br /&gt;Aku menggoyangkan lagi pinggulku, rasa sakit yang terima tadi kini berangsur-angsur tidak terasa lagi. Bejo kini meningkatkan kecepatannya dan aku juga. Payudaraku menggantung mondar mandir akibat genjotan Bejo. Kurasakan penis Bejo sangat keras dan kuat di dalam pantatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“lihat… sekarang nyonya mulai menyukainya kan.” Martono berkomentar kepadaku.&lt;br /&gt;Bejo terus menggenjot pantatku, aku mulai menyukai permainannya.&lt;br /&gt;“Bejo… kau memang laur biasa.. kau bisa menaklukkan wanita manapun. Aku salut padamu.” Martono malah terkagum-kagum pada Bejo.&lt;br /&gt;“Sebentar lagi, nyonya akan jadi pelacur kami.” Martono tertawa.&lt;br /&gt;“Kurang ajar….” Hatiku berteriak tetapi badanku masih bergerak-gerak mengikuti irama genjotan penis Bejo.&lt;br /&gt;“Auhh… ohh…” aku merintih-rintih tak sadar&lt;br /&gt;Tangan bejo meremas-remas payudaraku dengan lembut. Rabaan tangannya membuatku makin terangsang. Perlahan-lahan tangannya bergeser ke bagian kewanitaanku. Jari-jarinya dengan kasar menyentuh vaginaku.&lt;br /&gt;“Ohh…. Hmmm…….” Tanpa sadar aku menggigil dan merintih. Aku merasakan kenikmatan yang lain dalam diriku. Jari-jarinya bermain-main di clitorisku. Darahku seperti berkumpul di titik sensitif itu.&lt;br /&gt;“Auhh… enak…. Hmmm… Ohh…. Nikmat…” tak tahan aku dibuatnya. Tubuhku rasanya semakin melayang-layang. Setelah beberapa saat, tubuhku menegang dan berkelojotan sesaat. Air maniku tumpah… aku orgasme.&lt;br /&gt;“Teruskan sayang… jangan ditahan… aku akan memberikan kebahagiaan untukmu.” Antara sadar dan tidak akau mendengar Bejo berbisik ditelingaku.&lt;br /&gt;Dalam permainan ini aku berkali-kali aku orgasme, tapi sepertinya Bejo mempunyai stamina yang luar biasa. Aku merasa kelelahan tetapi bahagia, setelah 25 menit kemudian tiba-tiba terasa penis Bejo mengeras. Jari-jarinya makin menekan clitorisku.&lt;br /&gt;“Ohh…. Aku keluar…” akhirnya Bejo berteriak.&lt;br /&gt;“Ohh…nikmatnya… keluarkan didalam saja, teruskan… jangan keluarkan kontolmu.” Aku tak sadar setengah berteriak. Bejo tertawa dengan penuh kemenangan. Cairan hangat memasuki lubang pantatku.&lt;br /&gt;“Auhhh…….” Akupun orgasme bersamanya. Rasanya nikmat sekali. Bejo masih menduduki pantatku beberapa saat lalu mencabut burungnya.&lt;br /&gt;“Ploop….” Terdengar bunyinya. Martono dan Bejo tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghembuskan nafasku dan merasa sangat nikmat. Sekarang jam 3 malam. Tadi siang aku merasakan kenikmatan bersama Martono. Dan malam ini aku merasakan kenikmatan bersama Bejo. Aku menjadi sangat ketagihan. Selma ini aku hanya mendapat kepuasan dari suamiku. Tapi sekarang, aku sepertinya keranjingan berhubungan sex. Aku ingin mendapatkan lebih. Aku ingin yang lebih mengasyikkan….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Martono, aku akan istirahat……. Aku sungguh sangat puas” Bejo berkata.&lt;br /&gt;“Nyonya, anda sungguh sangat mengagumkan….” Aku tersenyum mendengar pujian dari Bejo.&lt;br /&gt;“Istirahatlah…” Martono menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“tunggu dulu….” Setengah berteriak aku kepada mereka berdua. Mereka menatap wajahku dengan heran.&lt;br /&gt;“Kau telah memperkosa lubang pantatku, aku telah memberikannya. Tapi sekarang aku ketagihan… aku ingin merasakan ****** 18 cm itu dalam memekku. Aku ingin merasakan ****** besar punyamu..” Aku telah gila… aku tak peduli lagi siapapun yang akan memperkosaku, malah aku ketagihan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martono berteriak padaku “Nah, lihat…. aku berjanji akan memberimu kesenangan yang terbaik di dunia.”&lt;br /&gt;“Dia benar….tinggalkanlah kami berdua, aku akan menikmati tubuhnya. Dia akan menjadi pelacur bagiku malam ini. Dan besok aku akan tinggalkan nyonyamu sebagai wanita yang sangat haus sex.” Dengan tenang Bejo berkata pada Martono. Martono sambil tertawa pergi ke ruang tamu kemudian Bejo menutup pintu.&lt;br /&gt;———————&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nyonya sungguh seorang nyonya yang cantik dan mempunyai bentuk badan yang ramping dan menggairahkan.” Aku tersenyum. Aku menjadi sangat malu. Aku jadi salah tingkah. Aku malu tapi akupun menikmatinya. Aku begitu berharap pada apa yang akan terjadi berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betapa senangnya saya mempunyai kesempatan untuk mendapatkan nyonya. Nyonya sungguh seorang nyonya yang cantik.” Bejo berkata dan berusaha membawaku dalam pelukannya. Aku gemetar terdiam. Kemudian dia menyibakkan rambutku, kemudian ia menaruh bibirnya pada bibir ku dan mulai mencium dengan sangat bernafsu dan kasar. Sementara itu tangannya diletakkan pada pantatku dan menekan-nekan dengan bernafsu. Bibir mungilku terasa sangat basah olehnya. Kemudian ia menarik blus biru yang kupakai. Dan tangannya terus menjalari badan ku dan aku benar-benar merasakan ketidaksukaan tetapi sekarang aku adalah juga merasakan basah dan tidak sabar untuk mendapatkan kenikmatan darinya. Apa yang telah terjadi denganku….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya suamiku hanya sanggup bertahan selama setengah jam untuk melayaniku. Tapi kini aku berhadapan dengan seorang pria jantan yang mungkin sudah sangat sering menaklukkan wanita-wanita. Sedangkan tadi siang Martono sanggup membuatku orgasme berkali-kali. Setelah agak lama Bejo berusaha merangsangku. Dan aku mulai menggelinjang-gelinjang tak sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berbaring di sampingku dan memintaku untuk merangsangnya. Ini adalah kesempatanku untuk melayani nafsunya walaupun aku merasakan malu awalnya tetapi sekarang aku telah berhasil secara penuh merangsangnya. Dan aku mulai menggerakkan tanganku di sekujur tubuhnya. Bejo menutup matanya dan aku mulai menciuminya. Dadanya berbulu, pahanya adalah sangat kokoh, lebih dari itu ia adalah seorang pria jantan. Aku mencium puting susu nya sekarang ia memulai merintih&lt;br /&gt;“ohhhh….aaahhaaahhhhh .. ternyata nyonya pandai menyenangkan hati pria.”.&lt;br /&gt;Sekarang aku betul-betul ingin lihat burung besar nya. Terlihatlah sesuatu yang luar biasa, seekor burung berukuran 18 cm secara penuh menegang dan dua bola sedang menggantung dengan indah. Aku duduk di dadanya dan mulai m
